Jodohku

Jodohku
Pengecut


__ADS_3

****Jika malam yang sunyi serasa menyesakkan dada.


Dan beban serasa mengiris-iris hati dan bercampur baur dengan segala perasaan yang tidak dapat di lukiskan walau hanya dengan angan-angan.


Jika mimpi-mimpi indah seakan hancur dengan hadirnya sebuah bayangan yang juga seakan menghiasi mimpi-mimpi.


Walaupun aku sendiri tak tahu apakah mimpi ini kuharapkan atau tidak.


Apakah mimpi ini yang di katakan para pujangga


sebagai mimpi orang yang sedang jatuh cinta???


Cinta??


Apakah sebenarnya kata itu??


Apakah ini hanya sebuah perasaan yang timbul dari hati yang kosong yang mana hanya sebuah perasaan untuk memiliki dan di miliki.


Atau??


Sebuah perasaan untuk saling mengisi kekurangan masing-masing.


Jika ini memang benar, mampukah sebuah mimpi saling mengisi kekurangan itu??


Jelas tidak!!!


Karena memang mimpi hanya sebuah fatamorgana.


Tapi di dunia ini, hanya fakta yang berbicara.


Seperti halnya sekuntum mawar.


Terkadang ia berkhayal di datangi seorang "Pangeran Kumbang"


Tetapi, pernahkah kau saksikan kumbang yang datang?


Dia bukanlah seorang pangeran.


Biarpun demikian, Kumbang yang datang itu ternyata juga mampu berikan arti dalam hidupnya.


Hidup adalah sebuah kenyataan yang harus kita hadapi walaupun getir, karena hidup adalah perjuangan yang selalu membutuhkan pengorbanan termasuk.... "Pengorbanan tuk kubur segala kepahitan hidup dan segala kenangan"


Biarlah kenangan itu sebagai suatu pelajaran dan pengalaman yang akan membuat kita lebih matang dan siap tuk songsong masa depan yang lebih cerah.


Walaupun kenangan bukanlah sesuatu yang harus di lupakan.


Tapi, bukan juga sesuatu yang membuatmu harus larut dalam kenangan. Yang membuatmu semakin jauh tuk gapai "kasih sayang" yang selama ini adalah sesuatu yang sangat kita harapkan. Yang harus kita raih dengan segala perjuangan keras dan di baluti dengan sejuta pengorbanan.


Yah.. itulah hidup.


Sesuatu yang kita harapkan belum tentu kita raih.


Karena ada yang lebih menentukan dari segala-galanya.


Dia.. Sang Pencipta dan Penentu akhir perjuangan kita.


Aku berharap dan berdoa


Kita akan mendapatkan kasih sayang seperti yang kita inginkan.


Aku yang masih menjadi suamimu.


Adzhkan Mandala Putra Adibima**.


Inilah kata-kata yang di tulis Mandala pada sebuah kertas yang kuterima bersama sebuah bingkisan.


Pagi ini, aku mendapatkan sebuah bingkisan yang di kirim melalui kurir hotel.


Isinya adalah perhiasan pemberian Amantua dan barang pribadiku lainnya., termasuk test pack dan USG kehamilanku yang pertama yang kuberikan sebagai kado di ultah kami. Selain itu terselip juga dua buah kertas. Kertas pertama bertulisan.

__ADS_1


"Aku ingin memberi ini kemarin padamu. Maaf, aku tidak bisa bertamu ke rumahmu. Ini untuk kebaikan kita bersama"


Kertas kedua adalah surat yang kubaca tadi.


Aku terdiam, kembali mengulang kata-kata dari Mandala.


Sejak kapan Mandala pintar meuntai kata seperti itu? Apa memang aku tidak mengenal laki-laki yang enam tahun ini bersamaku?


Mandala, Apakah kita hanya akan bertemu di pengadilan esok hari?


Aku tidak mempunyai saksi. Dokter Heru tidak berkenan untuk datang dengan alasan tidak berani ikut campur, dan tidak berani membawa berkas pasien keluar klinik.


Sidang pertama kami besok, kuserahkan semuanya pada takdirku.


-----------


Pukul tujuh pagi aku sudah bersiap. Memakan habis sarapan yang di buat ibu. Entah kenapa hari ini sepertinya energiku terisi penuh. Aku sangat bersemangat. Mungkin karena aku akan bertemu Mandala hari ini. Tapi bagaimana sikap Mandala nanti pas melihatku? Apa dia akan cuek padaku karena penolakanku padanya waktu itu?


"Ega, bersikap lah sopan pada Mandala. Dia masih suamimu sampai ketok palu. Silaturahmi pun masih harus di jaga, bagaimana pun itu"


Kata-kata ibu membuyarkan pikiran-pikiranku.


"Iya ibu, Ega tahu itu"


Aku menyiapkan berkas-berkas pribadiku. Siapa tahu akan di minta kembali di pengadilan. Setelah melihat kembali penampilanku di cermin, aku pun beranjak dari kamar dan berpamitan pada ibu.


"Tenang, yang sabar. Apapun yang terjadi, kamu harus kuat"


Aku tersenyum dan memeluk ibu.


"Doakan Ega ya bu"


"Doa ibu selalu bersamamu nak"


----------


Aku sudah berada di ruang tunggu pengadilan Agama. Tidak terlihat Mandala di sana.


Seorang laki-laki mendekatiku dan menjulurkan tangannya padaku.


"Selamat pagi bu, saya Rizal. Saya pengacara keluarga Pak Mandala. Saya di utus untuk mewakili Pak Mandala"


"Pengacara Keluarga? kenapa saya belum pernah melihat bapak?"


"Karena memang belum pernah ada masalah di dalam keluarga. Saya biasa di perusahaan bersama Pak Melky"


Aku tersenyum. Inikah kenapa Mandala tidak hadir? Karena masih ada pengaruh kuat Ama di masalah ini. Ama benar-benar harus yakin bahwa Mandala akan bercerai denganku.


Kami masuk ke ruang sidang.


Pak Hakim membacakan tuntutanku pada pengacara Mandala. Pengacara mandala mengeluarkan sebuah surat. Hakim memanggilku. Aku melihat surat pernyataan yang di tanda tangani oleh Mandala. Tertulis di sana bahwa Mandala mengakui semua tuntutanku dan bersedia bercerai denganku.


Dadaku tiba-tiba sesak. Inikah yang harus terjadi pada pernikahan kami. Mana janji Mandala padaku??


Aku menarik nafas panjang dan berusaha tersenyum pada Pak Hakim. Lucu jika aku sekarang menangis. Sedangkan aku yang mengajukan tuntutan.


Di pernyataan juga tertulis bahwa Mandala menyerahkan kepemilikan Klinik sepenuhnya padaku. Memberikan sejumlah uang, membelikanku satu unit rumah di kota ini, dan memberikan mobil yang selama ini kupakai untuk diriku. Dengan bantuan pengacara, semua itu nantinya akan di serahkan kepadaku melalui proses hukum yang sah.


Jika di lihat secara utuh seluruh harta itu, maka aku bisa di bilang sebagai janda yang kaya. Mandala meninggalkanku dengan banyak harta sehingga aku mungkin tidak perlu repot bekerja lagi.


Akhirnya ketok palu itu terjadi di persidangan yang pertama. Aku resmi bercerai dengan Mandala. Yang membuatku sesak adalah, kenapa Mandala tidak berani menghadirinya? Dimana jiwa prajuritnya Mandala. Kenapa Mandala menjadi pengecut seperti ini.


Aku keluar dari ruang sidang dengan membawa satu lembar kertas keputusan pengadilan. Akte cerai akan di terbitkan kemudian.


Sebelum aku membawa mobilku pulang kerumah. Handphoneku berbunyi. Sebuah notifikasi chat masuk. Dari nomor yang tidak ku kenal. Nomor yang selalu berubah setiap menghubungiku.


"Maaf, aku tidak berdaya"


Aku tahu itu chat dari Mandala. Setelah itu sebuah chat kembali masuk.

__ADS_1


**Saat jabat tangan mulai merenggang.


Tanda perpisahan datang menjelang.


Tanpa senyummu, tanpa air mata.


Aku pun harus melepaskanmu.


Saat bulan jatuh dan semua ikut luruh


Terbayang jelas dalam benakku.


Saat kita sering luangkan waktu.


Menikmati sesuatu yang kita dambakan bersama.


Diatas cakrawala cinta...


(Dari Mantan suamimu**)


Seketika air mataku luruh. Aku menangis di dalam mobil. Aku terisak. Sesak di dadaku makin terasa.


Aku berusaha untuk menenangkan diriku sendiri.


Ega, bukankah kamu yang mengajukan tuntutan?


Ini salahmu sendiri Ega. Terlalu percaya pada Mandala. Bukankah Rini sudah memperingatkanmu?


Tidak Ega, jangan menyesal dengan apa yang sudah terjadi. Ini adalah takdirmu. Inilah jalan hidupmu. Inilah kisahmu. Kamu harus bisa menerimanya dengan ikhlas.


--------------------


Aku langsung merebahkan tubuhku di kasur dan kembali menangis. Ibu yang masuk kedalam kamar mengelus rambut dan punggungku.


"Sabar sayang, kamu harus kuat. Kamu harus ikhlas"


Aku menjawab ibu dengan tangisan yang makin keras.


"Ega, jangan seperti ini. Semua harus di jalani. Ibu yakin anak ibu kuat. Kamu harus mulai bekerja kembali menata hidupmu yang baru. Kamu harus membiasakan diri mulai sekarang untuk tidak memikirkan Mandala"


Kali ini aku mengangguk walaupun masih terisak. Besok aku harus mengubah statusku. Dari menikah menjadi Janda cerai. Mengingat itu, air mataku kembali jatuh.


Ibu kembali membelai rambutku sebelum meninggalkan ku sendiri. Kudengar ibu menelpon Ayu. Pasti ibu meminta Ayu untuk datang. Dan benar saja, tak lama kemudian Ayu datang menemuiku di kamar.


"Sayangku, ayo kita pergi belanja. Kita lupakan semua kesedihan ini. Kita habiskan semua uang yang di berikan Mandala padamu wahai janda kayaku"


Aku tahu Ayu hanya bercanda. Kulempar bantal padanya.


"Ayu, Mandala pengecut, dia tidak berani datang. Dia tidak berani menghadapi ini. Dia tidak berani menemuiku"


"Karena Mandala tidak ingin melihat luka di matamu"


"Apa maksudmu Yu?"


"Seperti chatnya Mandala kan, dia tidak berdaya"


Aku merenungi kata-kata Ayu. Apa benar Mandala tidak ingin melihatku terluka? karena itu dia tidak berani hadir.


Aku menarik nafas lega. Aku memang harus ikhlas. Biarkan waktu yang berbicara. Biarkan waktu yang mengubah segalanya.


Kapten, terima kasih untuk kasih sayangmu selama ini. Seperti katamu, aku tidak akan melupakan kenangan tentang kita, biarkan kenangan itu terus ada menjadi pemacu untuk masa depan kita. Masa depan yang mulai esok kita jalani masing-masing.


---------


Jangan Baper dan Marah ma Author yaa 😁


Ikuti saja terus ceritanya.


Perceraian bukan akhir dari segalanya dalam sebuah hubungan kan??

__ADS_1


Jangan lupa votenya yaa


LOVE YOU 😘😘😘😘


__ADS_2