
Pihak Rumah Sakit mengijinkan kami untuk berjaga di dalam ruangan ICU...
Berbekal ambal tebal dan bedcover yang dikirim dari rumah, aku dan Mandala membuat tempat di ujung ruangan...
Mandala memintaku untuk beristirahat tapi mata ini susah untuk dipejamkan...
Mataku terus memandang ke arah Bapak dan Ibu, aku seorang dokter... aku tau arti dari semua angka yang tertera di layar monitor...
"Yang, sini... "
Mandala memintaku untuk duduk disampingnya..
"Rebahkan kepalamu.. "
Mandala memintaku berbaring dipahanya...
"pejamkan mata.."
mandala membelai kepalaku..
"Sayang..." aku kembali membuka mataku..
Mandala melihatku...
"perhatikan layar monitor itu, jika angkanya terus menurun, bangunkan aku"
Mandala mengangguk... mencium keningku...
"Ayo pejamkan lagi matanya.."
Entah berapa lama aku tertidur, kemudian mandala membangunkanku...
"Yang, ayo bangun dulu.."
Aku membuka mataku, memandangi Mandala...
"Coba lihat bapak"
Aku langsung bangun dan berdiri...
Melihat ke layar monitor bapak dan ibu bergantian...
"tolong panggilkan perawat"
Aku menggenggam tangan bapak...
Membaca semua ayat ayat Qur'an yang ku bisa..
Mandala masuk bersama seorang perawat...
"Tolong panggilkan dokter.."
Aku meminta kepada perawat...
"sudah bu, sebentar dokter akan datang"
perawat berkata sambil mengecek dan mencatat semua yang terjadi..
Aku memberi kode pada Mandala untuk berada di kepala bapak...
Mandala berbisik di telinga bapak...
Mandala juga membimbing bapak dengan lafaz lafaz Qur'an di telinga...
Aku tidak menangis..
Aku tidak ingin di saat ingin pergi bapak melihatku menangis...
Aku Ikhlas Pak...
Putrimu ini Ikhlas...
Dokter masuk, mengatakan bahwa kondisi bapak mulai menurun...
"Lepaskan seluruh alatnya dokter... biar bapak saya pergi dengan mudah..."
Aku tidak menangis.. tapi suaraku bergetar...
Mandala merangkul pundakku...
perawat melepas semua alat yang dipasang di tubuh bapak... termasuk detak jantung...
mandala kembali berada di samping telinga bapak...
terus membimbing bapak..
sampai aku melihat ada sesuatu yang bergerak di tenggorokan bapak.. kemudian bapak mengeluarkan suara dari hidungnya... setelah itu hilang...
Aku dan Mandala saling memandang... kami berdua melihat dan mendengar semuanya...
Aku segera memeriksa nadi bapak...
Dan Bapak memang telah pergi...
Sesaat aku terdiam..
Mandala meminta dokter untuk memeriksa ulang nadi bapak.. dan dokter pun mengatakan bahwa bapak telah pergi..
__ADS_1
Aku berlari menuju tempat tidur ibu..
Mencium tangan ibu dan menangis...
"Ibu... bapak sudah pergi... bapak sudah pergi"
Aku terus mengulang kata kata itu sambil mencium tangan ibu...
Mandala meraihku.. melepaskan tanganku dari tangan ibu... membawaku kedalam pelukannya..
Aku menangis di pelukan Mandala...
Aku terus menangis ketika orang orang mulai berdatangan ke rumah sakit..
Para Asisten bapak dan pejabat di kota ini memintaku untuk segera memutuskan.. dibawa kemanakah jenazah bapak...
"Saya akan melakukan otopsi.. ini tanggung jawab saya pribadi, saya hanya akan meminjam peralatan di rumah sakit ini.."
Kepala rumah sakit mengangguk, meminta orang untuk mempersiapkan ruangan...
"Sayang, ama dimana? aku perlu bantuan ama"
"Ada di luar, ama juga bilang akan membantumu"
"Titip jaga ibu..."
Mandala mengangguk.. membelai kepalaku..
Aku menuju ruang otopsi yang dipersiapkan..
Ama membantuku...
Tidak lama kemudian jenazah bapak diantar keruang otopsi...
Aku dan Ama mulai melakukan otopsi..
sesekali aku mengeluarkan air mata...
Tapi aku harus tahu, apa yang terjadi dengan bapak
Setengah hari penuh aku dan Ama berada di dalam ruangan..
jenazah bapak pun sudah kujahit kembali dengan rapi..
Aku memutuskan untuk langsung memandikan dan mengkafani bapak di rumah sakit ini saja...
Ama pun menyetujuinya...
Aku meminta pihak keluarga yang sudah mempersiapkan kain kafan di rumah untuk di bawa ke rumah sakit...
Untuk proses memandikan dan mengkafani, kami di bantu oleh rukun kematian di dekat rumah sakit ini...
Semuanya selesai... hanya bagian kepala bapak yang belum di tutup...
keluarga dan kolega bapak yang lain, katanya juga ingin melihat bapak... aku menghormati maunya mereka juga...
"Ega, kamu pulang bersama mandala untuk proses penguburan.. aku tinggal di sini untuk melakukan uji sampel yang kita ambil"
Ama memberikan perintah padaku dan Mandala...
"Baik ama.."
Sebelum membawa bapak untuk proses penguburan, aku kembali ke ruangan ibu...
"Bapak sudah akan di kuburkan bu, Ega akan menjalankan tugas terakhir Ega.. ibu tunggu Ega.. Ega tidak mau kehilangan lagi.. tolong ibu tunggu ega.."
Aku kembali mencium tangan ibu dan menangis..
Mandala lagi lagi merangkulku...
"Ayo yang, kita sudah di tunggu"
selama proses mengkafani tadi, aku sempat mandi dan membersihkan diriku serta berganti pakaian...
cuma memang tidak berdandan muka...
Aku pun tidak tega melihat wajahku di cermin yang merah karena tangisan..
Tapi kata Mandala, aku tetap cantik 🙈
Mandala pun hari ini memakai setelan Tentaranya..
Entah kapan dia membawa pakaian itu, aku tidak memperhatikan..
Kata Mandala, sebagai seorang tentara, ini lah penghormatan terakhirnya untuk bapak...
Sebagai pejabat daerah, banyak prosesi yang dilakukan... Mandala mewakiliku untuk melakukan semua prosesi itu..
Serah terima jenazah dari keluarga ke pemerintah...
untuk kemudian di laksanakan penguburan secara militer karena bapak seorang pemimpin daerah..
Mandala juga mewakiliku sebagai menantu bapak untuk masuk ke liang kubur menyambut jenazah bapak...
Pada saat mandala masuk ke liang kubur, pakaian militernya di buka, untungnya mandala selalu menggunakan kaos di balik pakaian militernya..
Aku bertugas untuk menaroh tanah yang pertama kalinya dari pihak keluarga, kemudian menaroh bunga di pusara bapak...
__ADS_1
Pemerintah menyerahkan bendera merah putih yang tadi menutupi keranda bapak, pakaian dinas bapak dan topi padaku...
Aku kembali meneteskan air mata...
Pengabdianmu sudah berakhir hari ini pak...
Negara berterima kasih padamu...
Satu demi satu orang orang menyalamiku dan Mandala...
Karena banyaknya orang, aku meminta asisten bapak yang menggantikan kami..
Aku meminta maaf pada semuanya, karena memang aku harus kembali ke rumah sakit untuk menemani ibu...
beberapa keluarga meminta ijin padaku untuk melaksanakan tahlilan di rumah...
Aku hanya tersenyum dan mengangguk...
Kemudian bersama Mandala kembali ke rumah sakit...
Aku sempat tertidur di pundak mandala selama perjalanan ke rumah sakit...
Sampai diparkiran rumah sakit pun mandala tidak membangunkanku.. menyuruh supir untuk tidak mematikan mobil dan AC...
Membiarkanku terus tidur...
"Bapak boleh keluar, biar istri saya istirahat dulu sebentar"
Pak supir mengangguk... meninggalkan aku dan mandala di dalam mobil...
Mandala meletakkan kepalaku di pahanya... membiarku untuk tidur lebih lama...
Dan Mandala pun juga memejamkan matanya...
Sampai suara pak supir yang pelan membangunkan mandala...
"Pak Kapten, di suruh ke ruangan ibu segera"
Mandala membangunkanku...
Kami pun segera menuju ruangan ibu...
Aku melihat mata ibu terbuka...
Aku langsung memeluk ibu.. kembali menangis...
Mulut ibu bergerak..
"Egaa..." ibu bersuara pelan, tapi aku mendengarnya..
"iya bu... ibu jangan bicara dulu, ibu istirahat dulu, ega akan menjaga ibu.."
suaraku bergetar dan terputus putus...
"Bapaak.."
Tangisku kembali pecah ketika ibu bertanya tentang bapak...
Ibu mengangguk sambil terdiam..
Dengan tangisanku seperti nya ibu mengerti akan keadaan bapak...
Ibu pun menangis..
Kami, Ibu dan Anak sama sama menangis dipandangi tatapan banyak mata di luar ruangan yang melihat kami dari jendela kaca...
Mandala membersihkan dirinya dan berganti pakaian..
Mandala langsung masuk kedalam ruangan..
memeluk dan juga mencium ibu...
Mandala memintaku untuk membersihkan diriku juga dan membiarkannya yang menjaga ibu..
Aku mengerti maksud Mandala, karena aku harus kembali ke ruang forensik untuk menguji beberapa sampel yang kuambil tadi di tubuh bapak...
Aku pun bergegas menuju ruang forensik...
masih ada Ama di sana...
Melihatku datang, ama pun mulai berdiskusi padaku tentang hasil uji sampel yang didapat ama dengan keadaan luka di tubuh bapak...
Kami pun mulai melakukan hipotesa dan reka ulang kejadian dengan menggunakan boneka...
Aku ingin tahu, apa yang terjadi malam itu dengan kedua orang tuaku...
Setelah aku yakin, baru aku akan bertanya lebih lanjut pada ibu.. kondisi ibu sekarang pun belum bisa bicara banyak...
Entah kenapa aku sangat yakin, bahwa mobil bapak malam itu tidak di rampok...
semoga keyakinanku ini membuahkan hasil dengan otopsi yang ku lakukan...
-----------------
Jangan lupa votenya yaa
LOVE YOU 😘😘
__ADS_1