
Dua hari sudah berlalu. Mandala tidak kunjung datang. Aku merasa ada yang hilang dari hidupku. Kenapa Mandala tidak menghubungiku.
Pagi ini kulewati dengan wajah sendu.
Ayah tersenyum melihatku yang terus menekuk wajah dari kemarin.
"Kenapa? Kangen suamimu?"
Aku mengangguk dengan lesu.
"Kenapa Mandala tidak datang?"
"Berarti ada suatu hal yang harus dilakukan Dala. Tenang saja, dia akan datang. Ayah yakin dia juga tidak akan tahan berpisah lama darimu".
Aku berusaha tersenyum.
"Ikut Ayah hari ini ke klinik. Ayah sudah bicara pada dokter di sana. Kamu bisa membantu di klinik".
"Baik Ayah"
"Habiskan sarapanmu. Makanan itu di dapat dengan uang rakyat. Kasian kalo kamu buang-buang".
Aku tersenyum. Ayah kalo bicara memang sesuka hati beliau.
Kamp tentara ini khusus untuk penelitian dan persembunyian para agen khusus. Karenanya fasilitas di sini di biayai oleh pemerintah. Seluruh sandang dan pangan pun di suplai langsung oleh pemerintah. Tidak ada yang bisa keluar masuk dengan bebas di sini tanpa ijin atau tanda pengenal khusus.
Sudah sejak kemarin Ayah mengajakku berkeliling. Tidak banyak orang yang bisa kujumpai di sini. Karena memang tidak banyak orang yang keluyuran di luar rumah seperti di Asrama pada umumnya.
Ada beberapa areal tertentu dimana Ayah melarangku untuk datang kesana. Aku mengerti, ini daerah militer. Pasti banyak rahasia yang tidak bisa di ungkapkan di depan umum.
Klinik yang ada di sini lumayan besar. Fasilitasnya pun lengkap. Karena orang-orang yang ada disini di larang untuk keluar, maka semua fasilitas di dalam pun harus memadai dan sesuai standar.
Semua dokter yang bertugas adalah dokter tentara.
"Dia istrinya Dala?" Seorang dokter yang sudah beruban melihatku. Dokter ini sepertinya sudah mengenal Ayah cukup dekat.
"Iya, dia tinggal bersamaku sekarang"
"Adikmu bertingkah lagi? Sudah ku bilang, perbanyak dosisnya. Biar cepat matinya".
"Nanti timbul kecurigaan. Biar pelan asal pasti. Yang penting dia tidak menyakiti anakku".
"Dia suka menghajar Dala. Jika aku ayahnya, aku tidak akan terima".
"Dia adikku. Bagaimana aku bisa setega itu"
"Kamu lihat mertuamu ini" dokter itu mengalihkan pandangannya padaku dan kembali berbicara.
"Jika sudah menyangkut tentang adiknya itu, dia akan menjadi lemah. Bukan lagi seorang serigala"
"Serigala itu sudah kehilangan kakinya. Mana bisa lagi berlari cepat mengejar musuh. Menghindar saja sekarang susah".
"Tapi otak serigala itu masih bekerja. Jika tidak bisa pake kaki, pakailah otak untuk mengalahkan musuh"
"Seorang serigala pun tidak akan memakan anaknya sendiri. Bagaimana aku tega melakukan itu pada adikku"
"Tapi sang adik memakan anak serigala. Bagaimana serigala itu tetap diam?"
Aku hanya diam mendengarkan pembicaraan mereka tentang serigala hehehehe.. padahal aku tahu maksud mereka sebenarnya.
"Siapa namanya?"
Dokter kepala di klinik ini kembali menoleh padaku.
"Saya Ega, dokter"
Aku lebih dulu menjawab sebelum mertuaku yang menjawab.
"Dokter apa?"
"Saya dokter forensik"
"Di sini tidak ada mayat yang bisa kamu ajak bicara. Karena mertuamu, kamu bisa membantuku"
"Terima kasih dokter"
Aku berusaha tersenyum, ini dokter senior yang paling irit bicara yang pernah kutemui.
Bicaranya pun semaunya. Dan tulisannya itu. Dokter memang suka menulis asal, tapi gak juga lah seperti cacing tanpa kepala dan buntut.
"Kapan menantuku mulai membantumu?"
Ayah yang kali ini berbicara.
"Kamu dinas di rumah sakit mana?"
"Rumah sakit umum pemerintah"
"Tuliskan nama lengkap dan rumah sakitmu"
Dokter itu menyerahkan kertas dan pena padaku. Aku pun langsung menuliskan identitas lengkapku, termasuk nomor identitas pegawaiku.
"Beritahu Dala, aku akan membantu kepindahan tugas istrinya. Akan timbul kecurigaan jika istrinya terus tidak masuk kerja"
"Terima kasih To. Aku hargai kebaikanmu"
Ayah menjabat tangan dokter Sapto.
"Jangan lupa terapimu. Aku ingin serigala ini kembali memiliki kakinya"
"Hahahaha.. baiklah, aku akan terapi besok. Ada menantuku sekarang yang menemani aku terapi. Kami permisi dulu"
Ayah mengajakku untuk pulang. Kami pulang berjalan kaki seperti kami pergi tadi. Aku mendorong kursi roda Ayah.
"Biar Ayah kendalikan sendiri, pakailah payung. Cuacanya sangat terik. Kulitmu akan memerah nantinya"
"Ayah bisa?"
"Aku sudah sering kali menggunakannya. Tenang saja"
Kami pun berjalan sambil berbincang kecil. Ayah menanyakan tentang kabar ibuku, juga tentang kuliahku yang baru saja ku mulai.
Kami tiba di rumah tempat Ayah tinggal ketika ku lihat sebuah mobil terparkir di sana. Seketika senyuman lebar terlihat di wajahku. Asisten Mandala menyapaku dan juga Ayah. Kemudian mengambil alih kendali kursi roda ayah dan aku berlari masuk ke dalam rumah mencari sosok pemilik mobil itu.
"Kenapa berlari seperti itu?seperti anak kecil saja".
Mandala menarik tubuhku ke pelukannya setelah aku tiba di depannya,dan mencium pucuk kepalaku.
Aku mengatur nafasku di dada Mandala.
"Kenapa baru datang?"
Suaraku sedikit serak menahan tangis.
Mandala terus mendekapku erat.
"Banyak pekerjaan, baru bisa sekarang"
"Sudah makan?"
"Belum, aku bawa makanan kesukaanmu. Kita makan sama-sama Ayah"
Ayah?? Aku baru ingat kalo ini di rumah ayah. Apa ayah melihat tingkahku tadi? Yang berlari seperti anak kecil mengejar mainan barunya.
Aku melepaskan diri dari pelukan Mandala.
"Aku siapkan dulu"
__ADS_1
Aku hendak beranjak, tapi Mandala menahan tanganku.
"Gak usah malu, Ayah pergi ke ruang kerja. Tidak melihat kita di sini".
"Siapa yang malu.."
Aku mengerutkan bibirku.
"Pipimu merah, dan kamu langsung melepaskan diri dariku setelah aku menyebut Ayah"
Mandala kembali memelukku sambil mencium pipiku.
"Jangan menggodaku terus".
"Cepat siapkan makannya, aku lapar. Aku akan menemui Ayah. Kita bertemu di meja makan ya sayang"
Akhirnya Mandala melepaskanku dan pergi ke ruang kerja ayah.
Aku mempersiapkan makanan yang dibawa mandala di atas meja.
Tak lama kemudian, kedua pria tampan yang dua-duanya ku cintai itu datang dan keduanya kompak menggodaku.
"Sudah bisa tersenyum?"
Ayah yang lebih dulu menggodaku.
"Apa istri Dala dua hari ini tidak tersenyum, Ayah?"
"Matahari tidak muncul di siang hari dan bulan pun menghilang di malam hari. Yang terlihat hanya kesuraman di wajah".
"Ayaaahhh"
"Apa ayah berkata bohong? Ayah, kenapa Dala tidak datang?"
Ayah meniru kata-kata yang pernah kuucapkan. Aku yakin wajahku saat ini memerah karena bukan hanya Ayah dan Mandala yang ada di ruang makan ini, tapi juga asisten Mandala dan Ayah.
Keduanya hanya tersenyum melihat Ayah menggodaku.
Mandala tertawa sambil meraih bahuku.
"Ayo kita makan, kamu harus tahan menghadapi ayah, karena sekarang ayah yang akan terus berada di dekatmu"
Aku menuruti Mandala untuk duduk. Aku melayani Mandala dan juga Ayah. Kedua Asisten memilih untuk mengambil makanan mereka sendiri.
"Kamu akan tinggal malam ini Dala?"
"Iya, Ayah".
Mandala berkata dengan santai sambil melahap makanannya, sedangkan hatiku bersorak gembira.
"Baguslah, jika tidak maka malam ini bulan akan kembali menghilang"
"Ayaahhh"
"Hahahaha.. ayo makan, ayah tidak akan menggodamu lagi.
Dala, ada yang harus ayah bicarakan nanti denganmu"
"Baik ayah"
Kemudian kami makan dengan berbincang ringan tentang makanan yang kami lahap saat ini.
Aku membersihkan meja makan sedangkan Mandala bersama ayah menuju ruang kerja. Kedua Asisten sudah menghilang entah kemana.
Aku bingung apa harus menyusul Mandala ke ruang kerja atau menunggu mandala di ruang tamu atau dikamar. Akhirnya aku memutuskan untuk kekamar saja sekalian meluruskan kakiku yang pegal karena di ajak ayah berjalan tadi pagi.
Tanpa sadar aku pun tertidur.
Aku terbangun karena ada sesuatu yang menggangguku. Kucoba untuk membuka mata. Seketika mataku langsung bertatapan dengan mata seseorang.
"Kenapa ganggu?"
Aku memeluk pinggang Mandala yang memang sedang duduk di atas tempat tidur. Dan kembali memejamkan mataku.
"Sayang, cuci muka dulu. Ada yang harus kita bicarakan".
Aku beranjak dengan malas kekamar mandi, sebenarnya aku juga kebelet buang air kecil. Jika tidak, aku tidak akan mau menuruti Mandala.
Mandala masih duduk di atas tempat tidur sambil bersandar. Ketika aku keluar kamar mandi, Mandala menepuk tempat di sebelahnya, aku pun duduk dengan posisi yang sama dengan Mandala.
"Ayah cerita, bahwa dokter Sapto akan mengurus perpindahan tugasmu".
Aku mengangguk.
"Aku juga akan minta tolong dokter Sapto untuk mengurus kuliahmu. Dokter Sapto adalah dokter senior yang di segani semua dokter"
Aku kembali mengangguk.
"Aku berkata di rumah kalo kamu pergi. Kita bertengkar dan kamu memutuskan untuk pergi"
"Mereka percaya?"
"Entahlah percaya apa tidak. Tapi Ama sudah memerintahkan orang untuk mencarimu"
"Apa Ama akan menyakitimu?"
"Tidak masalah, pangkatku sudah Mayor. Apa masih bisa di hajar oleh Ama?. Tenanglah, tidak usah memikirkan aku. Aku akan baik-baik saja"
"Bagaimana dengan ibu?"
"Inilah yang akan aku bicarakan. Apa yang harus kamu katakan ke ibu?"
"Aku akan menelpon ibu, aku akan bilang kalo akan di tugaskan rumah sakit ke luar negeri."
"Terserah padamu, asal ibu percaya"
"Sayang, apa yang sebenarnya terjadi pada Ama?"
"Kamu sudah di ceritakan Ayah tentang keluarga kami?"
Aku mengangguk.
"Aku pernah mengajak Ama terapi kejiwaan. Sepulang dari sana, Ama menghajarku dengan cambuk peninggalan Amantua"
"Sakit?"
"Berbekas hingga sekarang. sakitnya sampai sebulan"
"Kenapa kamu tidak pernah melawan Ama"
"Karena aku telah membuat Dewa pergi"
"Bukan salahmu, itu takdir"
"Aku tidak berhasil menyelamatkan Dewa. Ama menganggap aku lebih mementingkanmu dari pada Dewa".
"Apa pendapat dokter kejiwaan tentang Ama?"
"Ama mengalami trauma karena kejadian masa lalu. Ama merasa bahwa dirinya harus melindungi orang-orang terdekatnya. Dia tidak ingin orang terdekatnya pergi jauh darinya. Mereka semua harus aman dari siapa pun. Ama menganggap, aku tidak aman bersamamu. Jadi kamu, harus di singkirkan".
Aku memandang Mandala dengan tajam.
"Ketika Dewa melihatmu, Dewa pergi. Aku pun terluka cukup parah ketika menyelamatkanmu. Ama menganggap, kamu lah mala petaka itu".
Mandala memelukku ketika melihat mataku mulai berkaca-kaca.
"Tunanganmu meninggal. Setelah kita menikah, Inaq meninggal. Semua rangkaian itu dianggap Ama karena kesialanmu"
__ADS_1
"Astaghfirullah alazim"
Kali ini air mataku benar-benar menetes.
"Bagaimana dengan vasektomi?"
"Ayah sudah ceritakan? Aku tidak melakukannya. Setelah keguguranmu yang kedua, Ama memaksaku untuk pergi menemui dokter Faisal. Setelah mengantar Ama pulang, aku kembali menemui dokter Faisal dan membuat kesepakatan".
"Apa keguguranku ada hubungannya dengan Ama?"
Mandala mengelus pundakku dengan lembut.
"Ibunya Melky yang memberimu minuman di saat acara pernikahan Melky. Keguguran yang kedua aku tidak tahu penyebabnya"
"Bagaimana dengan Melky?"
"Melky hanya pion Ibunya dan Ama. Tapi Melky kadang kala membantuku. Melky lah yang menyarankan ku untuk menyimpan ****** di Bank ****** di luar negeri tapi Melky juga yang memberitahu Ama"
"Bagaimana ****** itu sekarang?"
"Ama sudah mengambilnya dan menyuntikkannya pada Sarah"
"SARAH??"
Aku membelalakkan mataku.
"Iya, Sarah adalah seorang mahasiswi di luar negeri yang di bayar oleh Ama untuk mengandung anak dari Spermaku"
"Jadi, yang dikandung Sarah benar anakmu?"
Mandala mengangguk.
"Bagaimana Sarah bisa stres?"
"Sarah mengungkap kisahnya pada sebuah media di luar negeri. Semua nama di samarkan, tapi Ama sangat marah. Ama mengajak Sarah kembali ke Indonesia sebelum Sarah menjadi terkenal karena kisahnya. Dan membuat Sarah menjadi lupa ingatan"
"Ama yang membuat Sarah stres?"
"Ama sangat pintar meracik berbagai suntikan obat. Tapi prediksi Ama salah. Obat itu terlalu keras. Tapi aku bersyukur, dengan stresnya Sarah, anak itu pun tidak bisa di selamatkan".
"Kamu terlihat sedih ketika anak itu meninggal"
"Sayang, bagaimana pun juga, anak itu ada hubungannya denganku. Dan sebagai manusia yang memiliki hati, tentu aku juga merasa sedih".
Aku memeluk Mandala kembali.
"Sama sedihnya ketika aku keguguran?"
"Aku merasa bersyukur janinmu gugur waktu itu. Tidak bisa di bayangkan jika Ama menyakiti anak kita ketika sudah lahir. Bagaimana hancurnya hatimu kalo itu terjadi".
"Kenapa nasibku begitu sial"
"Hust, tidak boleh bicara begitu. Sekarang kita harus berpikir bagaimana kita selanjutnya"
"Apa rencanamu Kapten?"
"Ayah ingin membuat kematian palsu untukmu".
"APAA??"
"Ayah berkata, biarkan orang-orang Ama berhasil menemukanmu. Tapi aku menolak, aku tahu bagaimana Ama. Karenanya Aku ingin membuatmu kecelakaan dan meninggal"
"Kapten, memikirkannya saja membuatku takut"
"Aku tahu, akhirnya aku memilih untuk mengikuti saran dokter Sapto walaupun itu sulit"
"Dengan suntikan juga?"
"Tidak,.dengan minuman"
"Bagaimana meminumnya?"
"Nia akan membantuku"
"NIA?"
Mandala malam ini benar-benar penuh kejutan.
"Nia tahu semua cerita kita. Nia malam itu juga mendengar pembicaraan kami di kamar Ama bahkan lebih banyak yang dia dengar dari pada yang kamu dengar"
"Apa Nia tidak akan bercerita pada Melky dan ibunya?"
"Nia sendiri yang berkata akan membantuku. Semoga saja Nia tidak membohongi kita"
"Kapten, aku takut".
"Tenanglah, bagiku sekarang yang penting kamu sudah aman bersama Ayah disini"
"Oh iya, sejak kapan kamu tahu kalo Ayah masih hidup?"
"Ketika aku lulus dari penerbang. Aku ditugaskan ke daerah sini. Ada seseorang yang menepuk pundakku ketika aku selesai menerbangkan pesawat dan beristirahat di hanggar".
"Ayah yang datang?"
"Bukan, dokter Sapto yang saat itu masih menjabat. Beliau lah yang mengajakku bertemu Ayah. Dengan banyak sumpah dan persyaratan bahwa aku harus menutup mulutku rapat-rapat"
"Kenapa ayah memilih untuk memberitahumu?"
"Karena Ayah takut, Ama akan terus menyakitiku"
"Mama dan Kakak Dali tahu?"
Mandala menggeleng.
"Hanya aku, dan akhirnya kamu yang tahu"
"Apa ayah yakin aku akan menutup mulutku juga?"
"Apa kamu mau keselamatanmu terancam?"
Aku tersenyum menatap Mandala.
"Aku akan menutup mulutku rapat-rapat juga sepertimu Kaptenku sayang"
Mandala mencium keningku.
"Ayah juga bilang ingin cucunya lahir disini."
Mandala mencium leherku.
"Memang bisa? Bukannya kamu sudah di vasektomi?".
"Sayaaaangggg....."
Aku tertawa kecil berusaha menghindar dari ciuman Mandala. Tapi Mandala lebih cekatan dariku. Langsung menangkap tanganku dan menindih tubuhku.
"Aku merindukanmu sayang"
Aku pun membalas semua serangannya Mandala.
"Jangan terlalu berisik, kamar ini tidak kedap suara. Dan ada Ayah dikamar sebelah"
Aku pun menutup mulutku. Aku tidak ingin mertuaku kembali menggodaku ketika bertemu karena mendengar suara berisik kami.
Ssstttttt diam yaa.. jangan berisik
-----------------
__ADS_1
Jangan lupa votennya
LOVE YOU 😘😘😘😘