
"Ada apa? Kok rame di depan ruang jenazah?"
Aku bertanya pada seorang karyawan rumah sakit bagian kebersihan yang berdiri tak jauh dari ruang jenazah. Karyawan tersebut melihatku dengan seksama. Mungkin merasa bahwa baru melihatku beredar di rumah sakit ini.
"Itu dok, keluarga pasien".
Sahutnya masih tetap memandangiku dengan logat daerah banjar yang sangat kental.
"Keluarga pasien kenapa begitu ramai?"
"Korban pembunuhan dok, masih sakulah" (sekolah)
"Oh ya? Ini korban atau pembunuhnya?"
"Kaduanya dok, eh dokter siapa ya? Ulun balum pernah malihat" (Kaduanya \= kedua duanya)
(ulun\=saya)
Aku hanya tersenyum.
"Berarti sekarang saya di perlukan. Saya harus lewat mana yaa?"
"Berarti pian ini dokter forensik?" (pian\=kamu untuk yang lebih tua/dihormati)
Aku mengangguk sambil tersenyum.
"Ulun antar dok, Ulun tahu jalan tikusnya"
"Gak muat dong kalo saya harus lewat jalan tikus"
"Umaai dokter, maksud ulun tu jalan pintas"
"Nah, gitu dong. Saya kan gak paham"
Si bapak cengar cengir sambil pakai bahasa daerah. Kami berjalan bersampingan ke arah jalan tikus yang di sebut si bapak.
"Saya ngerti lho pak. Saya juga asli sini"
"Bujuran kah bu dokter pian urang sini?"
(Betul ibu orang sini?)
"Iya, orang tua saya asli sini. Saya dari kecil sampai SMA juga sekolah di sini"
"Logat pian kadak kayak urang sini"
(Cara bicara tidak seperti orang sini)
"Saya kuliah, menikah, dan kemudian bekerja tinggal di luar kota. Mungkin karena itu jadi logatnya berubah pak"
"Inggih bu" (iya bu)
"Pian bisa bahasa lain juwa lah bu dokter"
(Bu dokter bisa bahasa yang lain juga)
"Insya Allah kalo bahasa asli sini, saya paham pak"
"Bahasa luar maksud ulun tu bu"
(Bahasa daerah lainnya maksudnya bu)
"Ooo gak pak, di luar kota saya pakai bahasa Indonesia"
"Pian lurus lewat sini bu. Kaina di ujung belok ke kiwa. Sampai dah di belakang ruang forensik. Pian katuk aja kacanya. Di bukainya kena pian lawang"
(Ibu lurus lewat sini. Nanti di ujung belok kiri. Sampai di belakang ruang forensik. Ibu ketuk aja kacanya. Nanti di bukain pintunya)
"Memang sudah sering orang lewat sini pak?"
"Inggih bu, mun kayak kejadian tadi tuo di ruang jenazah. Lewat sini am dokter wan perawat tu"
(Iya bu, kalo ada kejadian seperti tadi di ruang jenazah. Lewat disini para dokter dan perawat)
"Terima kasih ya pak"
"Inggih bu, sama-sama"
Aku pun langsung berjalan dengan cepat. Sampai dipintu belakang ruang forensik, aku langsung mengetuk pintu kaca. Perawat yang bertugas di sana melihatku, kemudian membuka pintu kaca.
"Dokter Chintya?"
"Iya" aku menjawab sambil mengangguk.
"Dokter tahu dari mana jalan belakang ini?"
"Seorang karyawan bersih-bersih tadi yang memberitahu jalannya"
Aku masuk kedalam mengikuti langkah kaki perawat itu.
"Di depan masih rame bu?"
"Ada apa itu? Kenapa keluarga korban seperti mau perang"
"Anak SMA di bunuh pacarnya bu. Pacarnya juga mati bunuh diri. Kedua keluarga bertemu di sini dan adu mulut saling menyalahkan"
"Anak zaman now. Masih sekolah sudah berani berbuat aneh-aneh"
"Cinta di tolak, pisau bertindak bu"
__ADS_1
Aku hanya tersenyum sambil masuk ke dalam ruangan yang pintunya sudah di bukakan oleh perawat tadi.
"Dokter Syarif ada?"
"Ada bu dokter"
"Terima kasih ya.."
"Sama-sama bu"
Aku pun lalu masuk. Di dalam terdapat dua perawat lagi yang begitu melihatku masuk langsung berdiri.
"Bu dokter, di tunggu di dalam"
Aku mengangguk sambil mengucapkan terima kasih. Lalu masuk ke dalam ruangan yang diatasnya bertuliskan "Ruang Forensik". Kamar operasi khusus untuk manusia yang sudah tak bernyawa.
"Pagi dokter"
"Ega, kemari"
Dokter Syarif memanggilku Ega karena mengikuti Dokter Ridwan yang juga memanggilku Ega.
"Maaf terlambat dok. Terhambat di depan"
"Itulah, keluarga terlalu emosi"
Dokter tua yang sebentar lagi pensiun ini gaya bicaranya sangat mirip dengan Pak JK. Mantan orang nomor dua di negara kita. Gaya bicara khas dari celebes.
"Ini keduanya dokter?"
Aku menunjuk dua kantong yang terletak di atas brankar.
"Ini korban, ini pembunuhnya menurut polisi berdasarkan surat yang ditemukan di TKP. Tapi menurut kita dokter forensik belum tentu seperti itu. Yang terjadi dan terlihat belum tentu seperti itu kenyataannya"
"Saya mengerti dokter"
"Kau pilih yang mana? Yang wanita atau yang pria?"
"Yang wanita saja dokter"
"Baiklah, ayo cepat. Kita di kejar polisi"
Aku tersenyum dan mengangguk. Segera mengganti pakaianku dan mengenakan atribut lengkap sebelum aku menyentuh jenazah.
Aku senang kembali ke rutinitasku di rumah sakit. Ada rasa yang lain ketika aku sudah mengganti pakaianku dan berada di depan sosok membeku yang akan ku bedah dan ku teliti.
----------
Di kota lain di dalam kamar yang luas namun sepi. Mandala berbaring berusaha memejamkan matanya. Kesepian yang di rasakannya membuat wajahnya tak pernah lagi tersenyum. Terus memandangi foto seseorang yang selalu ada di bawah bantalnya.
"Sayang, maafkan aku"
Mandala membelai wajah di foto itu.
Mandala masuk ke ruang kerjanya. Membuka laci, mengeluarkan satu handphone yang lain lalu mulai menelpon.
"Halo" suara laki-laki yang menerima telepon dari Mandala.
"Ayah, Dala tidak bisa begini terus. Dala tidak tahan ayah. Dala ingin bertemu Ega"
"Dala, sekian tahun ayah tidak bertemu mamamu. Ayah bisa saja. Kenapa kamu menjadi cengeng seperti itu?"
"Ayah, Dala mohon. Sudahi semua ini. Dala sanggup kehilangan semuanya asal Dala bersama Ega".
"Baiklah, ayah akan mengatur agak semuanya bisa di percepat"
"Dala tunggu kabar dari ayah"
Panggilan terputus. Mandala pun mengetikkan sesuatu pada handphonenya. Membacanya kembali sebelum mengirimnya pada seseorang.
"Sayang, aku merindukanmu"
-----------------------
Aku sudah menyelesaikan pekerjaanku hari ini. Tanpa makan dan istirahat siang. Dokter Syarif pun sudah menyelesaikan tugas beliau.
"Ega, buat laporannya. Saya istirahat dulu"
"Baik dokter"
Aku mengerti bagaimana tubuh tua dokter Syarif harus di porsir sampai malam untuk menyelesaikan sebuah kasus.
Aku pun membuat laporan hasil forensik.
Satu jam lamanya aku membuat laporan.
Kurasa sudah cukup untuk membangunkan dokter Syarif yang sedang beristirahat karena pihak kepolisian sudah mengutus seseorang untuk mengambil hasil forensik.
"Apa hasilnya dokter"
Polisi yang datang bertemu dokter Syarif bertanya langsung. Sebelumnya sempat melirik dan bertanya padaku.
"Dokter baru?"
Aku hanya mengangguk.
"Dokter lama, baru pindah tugas di sini. Banyak kasus di ibu kota yang sudah di bantunya" dokter Syarif yang menjawab
"Kemaren tugas di ibu kota dokter?"
__ADS_1
"Iya"
"Jadi tanya apa hasilnya ini?" dokter Syarif kembali menyela.
"Eh, iya dokter. Jadi apa hasilnya?"
Polisi tersebut terkekeh, mengalihkan pandangannya dariku ke dokter Syarif.
"Mereka berdua sama-sama minum racun. Waktu kematian yang laki-laki lebih dulu dari yang perempuan"
"Apa dokter? jadi surat itu?"
"Kalian harus mencari contoh tulisan tangan. Itu tulisan tangan yang laki-laki atau yang perempuan..Racun yang mereka minum berdua tidak menyebabkan kematian. Yang laki-laki meninggal karena gantung diri. Yang perempuan karena tusukan di dada yang mengenai jantung. Ada CCTV di sekitar TKP?"
"Nanti saya cek dokter"
"Cek CCTV sekitar TKP. Kemungkinan ada orang ketiga di antara mereka berdua"
Polisi itu mengangguk sambil mencatat di buku kecil yang di bawanya.
"Satu hal lagi. Ega katakan!" dokter Syarif memintaku kali ini yang menjelaskan.
"Si wanita sedang dalam keadaan hamil 8 minggu. Sudah di ambil sampel janin dan si korban laki-laki. Tinggal menunggu hasil DNA"
"Berapa lama hasilnya keluar?"
Polisi itu kembali menatapku. Dan aku menatap dokter Syarif, karena aku memang belum mengetahui berapa lama hasil DNA akan keluar di rumah sakit ini.
"Dua minggu. Dalam dua minggu kalian harus mencari jejak yang ketiga"
"Baiklah dokter, saya mengerti. Saya bawa laporan ini. Terima kasih"
Polisi itu pun pamit pada kami.
Akhirnya tugas pertamaku di rumah sakit yang baru ini selesai. Aku membereskan barang-barangku dan berniat untuk pulang kerumah.
Aku membersihkan diriku lebih dahulu sebelum pulang. Mengganti kembali bajuku dan meletakkan baju operasi di dalam tong sampah medis.
Perutku pun sangat lapar. Untung tadi pagi aku sempat makan nasi goreng buatan ibu. Jika tidak, mungkin aku akan pingsan dari tadi.
Seperti biasa, aku tidak pernah mengaktifkan handphoneku selama aku bekerja. Ketika semuanya selesai, baru aku membuka kembali handphoneku.
Dan saat ini, ketika handphoneku kembali aktif. Sebuah notifikasi chat masuk. Dari nomor yang tidak ku kenal kembali.
Walau jarak memisahkan aku dan kau.
Walau kejauhan membenamkan rinduku.
Namun ku tetap percaya.
Kau selalu di hatiku...
Aku membiarkan chat itu terbaca. Aku sangat lelah. Aku ingin cepat pulang dan mencari tempat tidur untuk meluruskan pinggangku.
------------
Di dalam kamarku. Di saat aku ingin mengistirahatkan tubuhku. Aku kembali teringat dengan chat dari Mandala. Aku kembali membacanya. Mungkin kali ini aku harus membalasnya.
Aku pun mengetikkan kata-kata.
Sepi, menyadarkanku saat ini.
Sepi sayangku.
Aku Rindu pada semua, padamu..
Tapi tak usah kau risau.
Aku sedang mencoba untuk melupakanmu.
Chatku terkirim dan langsung terbaca.
Rupanya Mandala memang selalu menunggu balasan dari ku. Dan Mandala pun kembali membalas.
Jangan melalukan sesuatu yang tak sanggup kau lakukan. Karena aku pun tak sanggup jika kau melakukan itu.
Aku menarik nafas panjang.
Mandalaaaaa.... jangan membuatku gila.
Tentukan sikapmu. Jangan seperti ini padaku.
Aku bisa gilaaaaaaa.
----------------
Di dalam kamar yang luas namun sepi, Mandala membaca balasan chat dari seseorang.
Rasanya dia ingin langsung pergi menemuinya. Memeluknya dan mengatakan padanya "jangan melupakanku"
Mandala mengirimkan kembali chat balasan. Berharap akan mendapatkan respon balasan kembali. Namun sayang, sampai di pagi harinya, Mandala hanya terus memandangi wajah di layar handphone itu tanpa adanya lagi chat balasan yang masuk.
-----------
Setelah membaca chat dari Mandala. Aku pun memutuskan untuk tidak membalasnya lagi. mencoba untuk memejamkan mataku. Akhirnya aku memang benar-benar tertidur, tanpa kusadari seseorang disana menunggu balasan chat dariku hingga pagi hari.
----------
Maaf ya lambat UP...
__ADS_1
menulis ini hobby saya, bukan prioritas utama saya. Jika saya lambat UP itu bukan karena di sengaja tapi memang karena saya ada kesibukan lain. mohon di maklumi. Terima kasih.
LOVE YOU 😘😘😘