
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana..
Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu...
Dengan Isyarat yang tak pernah di sampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada....
Hariku di awali dengan kata-kata dari Mandala.
Aku tersenyum kecil membacanya. Kami berdua benar-benar merasakan jatuh cinta lagi.
Sambil sarapan, aku membalas chat dari Mandala.
"Sejak kapan jadi pintar merangkai kata?"
Tak lama Mandala kembali mengirim chat melalui nomornya sendiri. Bukan nomor sekali pakai yang biasa di lakukannya dalam empat bulan ini.
"Sejak merana di tinggal pergi wanita yang kucintai"
"Kalo begitu merana saja terus biar tambah pintar merangkai kata. Siapa tahu besok-besok, jadi pintar merangkai bunga"
Mandala mengetik...
"Tidak, harga diriku akan turun jika orang-orang tahu aku pernah menjadi jomblo. Aku akan terus merangkai kata untukmu mulai sekarang. Aku juga akan memberikanmu bunga setiap kali kita bertemu"
Aku membalas..
"Hahahahha Kaptenku sekarang sudah menjadi budak cinta"
Mandala mengetik...
"Aku rela menjadi budak cintamu ratuku"
Aku membalas..
"Apakah nomor handphone ini di hack orang? Aku tidak yakin kalo ini adalah Kaptenku"
Tak lama handphoneku berdering tapi kali ini panggilan video. Mandala benar-benar menjadi budak cinta.
Aku mengarahkan handphone ke tempat duduk ibu.
"Assalamualaikum ibu"
Mandala memberi salam ke ibu ketika tahu bahwa wajah yang tampak di layar handphone adalah wajah ibu.
"Waalaikumsalam Nak. Apa kabarmu?"
"Alhamdulillah baik bu. Ibu juga apa kabarnya?"
"Ibu lagi merana tidak pernah dikirimi kata-kata"
Mandala dan aku tertawa bersamaan.
"Ibu, Mandala minta maaf. Mandala sudah membuat putri ibu menjadi sedih"
"Bukan hanya sedih, tapi juga merana dan menderita"
"Ibuuu.." Aku protes pada ibu.
"Maafkan Mandala bu"
"Cepatlah kemari jika tidak ingin membuatnya tambah menderita"
"Jumat ini bu, Mandala masih menunggu seseorang"
"Baiklah, kami tunggu"
"Ibu, bisa Mandala berbicara dengan calon istri Mandala"
"Kalian berdua sama-sama lebay. Ega, bicaralah pada Mandala. Ibu akan bersih-bersih"
Aku mengarahkan kembali kamera kepadaku.
"Sayang, sedang apa?"
Aku mengarahkan kamera pada sarapan yang sedang ku makan.
"Belum berangkat kerja?"
"Kalo masih di rumah, berarti belum berangkat kan?"
"Sudah yakin kalo nomor handphoneku tidak di hack?"
__ADS_1
"Masih tidak percaya. Diambil dari buku atau lagu yaa?"
"Sayaaanngg"
"Kalian seperti remaja saja, padahal sudah duda dan janda" Ibu kembali muncul di belakangku.
"Masih ada ibu di situ sayang?"
"Kamu suruh ibu pergi kemana Dala? Kalian yang pacaran di tempat umum. Ini daerah kekuasaan ibu"
Aku dan Mandala kembali tertawa.
"Sudah, aku harus berangkat kerja. Bersiaplah, kamu juga harus berangkat kan?"
"Sayang, jangan lupa untuk ke KUA. Apa saja yang harus kubawa nantinya buat rujuk kembali"
"Aku akan kesana besok, hari ini ada perpisahan buat dokter Syarif, aku tidak bisa ijin"
"Baiklah, hati-hati di jalan. Love you"
Aku hanya menjawab "Hmmmm" sambil tersenyum dan memberikan ciuman jauh buat Mandala.
Panggilan video ku putus, aku segera bersiap untuk berangkat kerja. Sebuah paper bag berisi cinderamata buat dokter Syarif segera ku bawa bersama tas kerjaku sebelum tertinggal.
Hari ini aku seperti punya semangat baru. Aku merasa muda kembali. Aku jatuh cinta yang kedua kalinya pada Mandala. Semoga cinta kami kali ini murni tanpa adanya cerita masa lalu yang membayangi kami.
---------------
Aku menyerahkan paper bag pada dokter Syarif sambil menyalami beliau.
"Jangan membuat tempat ini menyeramkan. Jadikan ruang kerja forensik kita menjadi tempat favorit pilihan para dokter coas dan intership nantinya"
"Baik dokter, saya berjanji"
"Berkerja samalah dengan dokter Irawan. Dia memang suka bicara ngawur, tapi hatinya baik"
Aku hanya tersenyum.
"Dokter Irawan kemarilah"
Dokter Syarif memanggil rekan kerja satu ruanganku yang lain.
Dokter Irawan tertawa.
"Saya mengerti dokter, mana tega saya membiarkan dokter Ega dinas malam ditemani bayangan putih yang berterbangan"
"Dokter Irawan jangan bercanda" Aku protes pada dokter Irawan.
"Tenang, dokter Ega. Bayangan putih itu hanya ada di malam hari"
"Jangan membuat dokter Ega takut. Dia hanya bercanda dokter Ega. Kuserahkan ruang forensik ini pada kalian berdua"
"Jangan khawatir dokter. Pensiunlah dengan tenang. Jaga juga kesehatan dokter. Jangan sampai dokter kembali ke ruang forensik dengan tubuh membeku"
"Eeehhh, anak didik sialan. Kau doakan aku mati dengan tidak wajar?"
Dokter Syarif memukul pundak dokter Irawan yang membuat kami semua tertawa sambil menggelengkan kepala.
Dokter Syarif dan dokter Irawan adalah dua dokter nyentrik bagian forensik yang terkenal di rumah sakit ini suka berbicara semaunya bahkan suka berkata yang aneh-aneh. Karenanya ketika aku masuk ke ruang forensik sebagai dokter yang kalem, manis juga cantik (kata orang-orang di rumah sakit lho) membuat pihak rumah sakit berharap kedua dokter nyentrik itu akan berubah mengikuti gayaku yang kalem. Tapi nyatanya, kelakuan keduanya masih sama seperti yang mereka tunjukkan hari ini.
Acara perpisahan untuk dokter Syarif berakhir di ruang kerja kami. Aku membantu dokter Syarif mengumpulkan barang-barang beliau. Kami para dokter, perawat dan karyawan rumah sakit bagian forensik pun berfoto bersama. Foto itu nantinya akan kami pajang sebagai kenang-kenangan di ruang administrasi kamar jenazah dan forensik.
------------------------
Malam ini Mandala menelponku kembali.
"Sayang, aku di tempat Ayah. Pulang kerja langsung kemari. Ayah titip salam buatmu"
"Salam balik buat Ayah"
"Ayah akan menemaniku ke rumahmu dan menghadiri pernikahan kita yang kedua"
"Tidak takut terlihat orang?"
"Tenanglah, penampilan Ayah nanti akan berubah"
"Apa ayah akan menjadi saksi dari pihakmu Kapten?"
"Tidak sayang, tidak bisa. Ayah menggunakan identitas lain. Pernikahan kita tidak sah jika saksinya menggunakan identitas palsu"
"Kamu benar Kapten. Siapa saksi dari pihakmu nanti?"
__ADS_1
"Entahlah, aku hanya berdua dengan Ayah nanti. Karena tidak ada orang lain yang tahu kita sudah bercerai"
"Aku bisa meminta suaminya Ayu nanti. Tenang saja, masih ada orang lain disini"
"Sayang, apa kita akan berbulan madu lagi nanti?"
"Kapteeennnn. Hari minggu kamu harus kembali pulang"
"Aku akan menyiksamu malam minggu itu sayang, bersiaplah"
"hmmmmm. Apakah aku takut?"
"Jangan menggodaku sayang. kamu tahu, aku tidak bisa kau goda"
"Bagaimana keadaan Ama?" Aku berusaha mengalihkan topik pembicaraan yang membangkitkan nafsunya Mandala.
"Masih sama seperti saat kamu datang melihatnya"
"Ibunya Melky?"
"Masih suka beradu mulut denganku. Karenanya aku tidak lagi ikut makan bersama mereka. Aku yang menghindari bibi. Aku malas ribut. Kasihan Putri dan Utami"
"Iya benar, kasihan mereka melihat orang dewasa bisanya hanya ribut saja"
"Sayang, jangan lupa besok ke KUA."
"Iya iya. Ibu sudah meminta bapaknya Ayu tadi kesana. Tapi aku belum bertemu beliau, aku akan bertanya besok"
"Baiklah, aku akan berbicara dulu dengan Ayah. Kamu istirahatlah. Malam ini aku menginap di tempat Ayah"
"Aku juga sudah mengantuk. Di sini satu jam lebih cepat. Sudah sangat malam di sini"
"Tidurlah, jangan lupa mimpikan aku. Love you"
"Love you too"
Aku pun langsung meletakkan handphone di samping tempat tidurku dan mulai mempersiapkan diri untuk berlayar ke pulau mimpi.
--------------
Di tempat terpencil yang tidak ada orang tahu apa nama tempat dan daerahnya. Berbincang dua orang laki-laki. Seorang Ayah dan putra laki-lakinya.
"Ayah yakin tidak ada lagi yang akan mengganggu Ega?"
"Tidak ada lagi. Semuanya sudah tertangkap dan sudah di musnahkan"
"Bagaimana dengan Ama?"
"Amamu hanya bisa bertahan kurang dari satu bulan ini. Waspada hanya pada bibimu. Mulutnya pintar mengadu domba"
"Ayah, apa Ega harus pindah kerja lagi?"
"Tidak, biarkan dia di sana. Kasihan Ega, seperti bola yang di oper kesana kemari. Biarkan dia di sana menemani ibunya sampai kalian mempunyai anak nanti"
"Dala harus berpisah lagi dengannya Ayah"
"Dala, cinta itu perlu pengorbanan kan? berkorbanlah untuk kebahagiaan kalian. Kamu bisa menemui Ega kapan pun kamu mau, asal kamu mau berkorban uang tiket"
Mandala tersenyum.
"Aku akan meminta uang tiket pada Ayah nantinya. Tabungan Ayah kan masih banyak"
"Hahahahaha, Mayor di Angkatan Udara masih meminta uang pada Ayahnya. Malu pada pangkatmu"
Ayah menepuk pundak Mandala.
"Ayo tidur, Ayah mau kamu memijit punggung Ayah malam ini"
Mandala pun mendorong kursi roda ayah masuk kedalam kamar. Memberi Ayah obat, membaringkan Ayah di tempat tidur dan memijit punggung Ayah. Setelah Ayah tertidur, Mandala pun beranjak ke kamarnya untuk beristirahat.
Mayor Tua purnawirawan dan Mayor Muda pun malam ini terlelap dalam pikiran dan mimpi mereka masing-masing.
--------------
Ini Episode tambahan hari ini, menyegarkan otak sebelum pernikahan kedua Mandala dan Ega 😄😄
Jangan lupa Votenya yaa
LOVE YOU
😘😘😘
__ADS_1