Jodohku

Jodohku
Memiliki hubungan..


__ADS_3

Pagi ini,tidak ada satu pun dari kami berdua yang bergerak. Seolah-olah kami berdua enggan untuk melepaskan pelukan masing-masing.


"Sayang.."


Mandala membelai rambutku.


"Hmmmm"


"kita tidak akan bertemu dulu selama beberapa hari, mungkin satu minggu. Untuk mengurangi kecurigaan orang rumah"


"Kalo begitu, hari ini tidak boleh pergi dulu"


"Sayang, aku harus bekerja"


Aku memeluk Mandala erat, enggan melepaskannya.


"Sayang, kamu nanti akan diantar ke kampus. Usahakan agar kamu berada di tengah orang banyak. Jangan sendirian. Dan harus menemui banyak orang yang kamu kenal"


"Ke rumah sakit juga?"


"Iya, pergilah ke rumah sakit. Dokter Sapto akan menemuimu di rumah sakit"


"Kalo begitu, kita harus bangun sekarang. Jaraknya sangat jauh kan kerumah sakit"


"Emmmm... aku malas melepaskan pelukan ini"


"Kapten, katanya harus bekerja?"


Mandala menarik nafas dengan malas. Melepaskan pelukannya dan membiarkanku untuk bangun lebih dulu ke kamar mandi.


"Aku temani mandi sayang?"


"TIDAK!!! Jangan masuk ke kamar mandi"


Mandala kudengar tertawa.


"Aku masuk ya sayang.."


"Akan terlambat jika kamu masuk"


"Aku masuk... satu..dua.."


Kudengar Mandala berhenti menghitung. Kemana Mandala?


Aku keluar kamar mandi. Mandala tidak ada dikamar. Padahal dia belum mandi.


Aku cepat-cepat bersiap dan keluar kamar.


Tidak ada mandala diruang tamu dan juga di ruang makan. Aku berkeliling rumah. Untung saja rumah ini tidak sebesar rumah yang di kuasai Ama.


Kulihat Mandala berbincang dengan dua orang di teras belakang. Mandala masih memakai kaos singlet dan celana pendeknya.


Salah seorang dari mereka melihat ke arahku. Mandala pun menoleh melihatku juga.


"Sayang"


Mandala memintaku untuk mendekat.


Aku berjalan mendekati mereka bertiga.


"Ini orang-orang yang akan mengawalmu. Mereka mengawasimu dari jauh"


Kedua orang yang berbadan tinggi besar dan berambut gondrong itu mengangguk padaku. Aku pun membalas mengangguk dan tersenyum kecil.


"Pura-pura tidak mengenal mereka. Jangan memandang ke arah mereka. Biar mereka yang terus mengawasimu"


"Bisa aku tau nama mereka?"


"Tidak, kamu cukup tahu kamu ada yang mengawasi. Yang lainnya kamu cukup simpan di dalam kepalamu. Tapi jangan di pikirkan".


Mandala menunjuk jidatku dengan telunjuknya.


"Kalian tunggu saja. Aku bersiap dulu"


Kedua orang itu mengangguk dan pergi. Mandala meraih bahuku dan membawaku kembali masuk.


"Kenapa keluar seperti ini?"


Aku protes pada pakaian yang di kenakan Mandala.


"Tidak ada juga perempuan lain di sini yang melihat kan?"


"Tapi terlihat seksi dari jauh"


"Sungguh suamimu seksi?"


"Tapi bau... sana mandi dulu. Aku siapkan sarapan. Ayah kemana? Tidak kelihatan".


"Berjalan pagi, Ayah harus melatih kedua kaki beliau. Asisten ayah sudah membawa ayah tadi"


"Aku ke dapur dulu"


Aku pun ke dapur membuat sarapan dan Mandala masuk kembali ke dalam kamar. Untuk mandi dan bersiap.


----------------------

__ADS_1


"Kapten, kenapa kamu memilihku bukan Ama?"


"Karena aku kamu menderita"


"Karena kamu?"


"Jika waktu itu aku tidak melihatmu di bandara, aku tidak mengikutimu di pantai, dan aku tidak menyelamatkanmu. Mungkin hidupmu tidak akan seperti ini"


"Kapten, ini sudah jalan hidup kita"


"Dan kenapa waktu itu kamu harus internship di tempat Ama. Aku bersyukur berhasil menemukanmu tapi aku lebih bersyukur lagi jika tidak menemukanmu waktu itu".


"Apa Melky tahu tentang kakekku?"


"Iya, Melky mengetahuinya. Karena itu Melky menyayangimu. Walaupun kakekmu membuat kesalahan. Tapi kamu dan Melky tetap memiliki suatu hubungan"


"Kita pun sebenarnya memiliki hubungan"


"Iya, secara tidak langsung.. terhubung dengan ibunya Melky"


"Bagaimana dengan Ama selanjutnya?"


"Dulunya aku sempat berharap Ama dapat berubah. Tapi ternyata aku salah".


"Kapten, apa kejadian yang menimpa Bapakku ada hubungannya dengan Ama?"


"Awalnya aku berpikir seperti itu. Aku pun sudah bertanya pada Ama. Tapi Ama bersumpah bahwa dia tidak terlibat. Aku pun tidak menemukan bukti bahwa Ama terlibat. Hanya saja Ama terlibat di kematian Tiara".


"Tiara? Jangan bercanda Kapten"


"Aku tidak bercanda. Aku mempunyai buktinya"


"Kenapa tidak lapor polisi?"


"Karena kamu sayang, Ama mengancam akan menyakitimu"


"Apa yang dilakukan Ama pada Tiara"


"Tiara berselingkuh. Ama marah besar. Kemudian meminta orang untuk memukul selingkuhannya Tiara. Tiara tidak terima dan meminta cerai dari Melky"


"Yakin Tiara selingkuh?"


Mandala mengangguk.


"Ama dan Melky menangkap basah Tiara di kamar hotel".


"Kenapa tidak di ceraikan saja?"


"Tiara meminta begitu banyak tuntutan untuk perceraian itu termasuk pembagian harta dan uang tunjangan anak. Kamu tahu kan bagaimana keluarga Tiara?"


"Dua hari sebelum pemukulan Tiara terjadi, Tiara melakukan aborsi di sebuah klinik. Karena itu kondisi Tiara masih lemah dan langsung parah ketika mendapat penganiayaan"


"Kapten, apa Putri dan Utami benar anaknya Melky?"


"Kenapa kamu tanyakan itu?"


"Aku tidak ingin ada kejutan lagi. Aku ingin mengetahui semuanya sekarang. Aku malah berpikir Putri adalah anakmu"


"Sayang, kenapa berpikir begitu. Apa kamu pikir aku gila bermain dengan istrinya Melky? Apa istriku tidak cukup memuaskanku?"


"Itu hanya pikiranku. Karena Putri sangat dekat denganmu. Kalo marah berarti benar"


"Sayaaaannggg. Jika kamu tidak keguguran, Putri akan seumuran dengan anak kita. Karena itu aku menganggapnya sebagai pengganti anak kita"


"Benar hanya itu? Tidak ada rahasia lain lagi untukku?"


Mandala mengangguk.


"Ada satu rahasia lagi. Tapi kamu harus janji untuk merahasiakan ini"


"Aku berjanji"


Aku pun mengangkat ibu jari dan jari tengahku sebagai tanda aku berjanji tidak akan menceritakannya pada siapapun.


"Melky mengidap voyeurisme. Kamu tahu kan apa itu?"


"Suka mengintip orang lain"


"Karenanya aku memasang kode di lift menuju lantai tiga. Aku tidak ingin Melky masuk ke lantai tiga dan mengintipmu".


"Kenapa baru memberitahuku sekarang?"


"Ingat, dulu Melky suka melihat CCTV kita yang sedang bermesraan. Karena itu aku pun mengambil alih semua CCTV di lantai tiga"


"Seberapa parah penyakitnya Melky?"


"Sudah berkurang sejak dia menikah. Tapi masih suka mengintip para asisten mandi. Bahkan Tiara mandi pun di intipnya"


"Melky pernah mengintipku?"


"Tidak pernah, aku sudah mengultimatumnya"


"Keluargamu penuh kejutan"


"Hanya keluarga Ama. Keluargaku baik-baik saja. Ayah, Mama dan Kakak Dali semuanya normal".

__ADS_1


"Apa Ayah dan Mama tidak bisa bersama lagi?"


"Entahlah, mungkin suatu saat nanti. Itu juga keinginanku sebelum mereka benar-benar berpisah karena kematian".


"Berapa lama reaksi minuman yang di berikan pada Ama?"


"Seminggu, sebulan, atau setahun. Minuman itu hanya akan merusak organ tubuh. Tidak berfungsinya organ tubuh tergantung daya tahan tubuh saja".


"Bagaimana dengan kita selanjutnya?"


"Masa suntikan hormonku berakhir bulan depan. Setelah itu kita bisa program punya anak. Karenanya sebelum itu aku mau urusan kuliah dan rumah sakitmu selesai. Kamu bisa tenang di sini".


"Siapa tahu aku tidak daftar kuliah dulu"


"Tidak ada yang tahu apa yang terjadi. Jangan di sesali. Sekarang bersiaplah. Aku pergi lebih dulu. Setengah jam kemudian kedua orang tadi akan membawamu keluar dari sini"


"Mereka juga tentara?"


"Jangan menanyakan itu. Mereka pengawalmu. Itu saja, sudah cukup"


"Iya, iya. Aku mengerti".


Aku memeluk Mandala. Mandala pun mencium pucuk kepalaku, keningku, hidungku, pipiku dan terakhir bibirku.


Aku balas mencium kedua pipi Mandala.


"Jangan merindukanku seperti kemarin. Nanti Ayah akan terus menggodamu"


Aku mengangguk.


"Jangan bersedih, berdoalah untuk keselamatan kita dan agar semua ini cepat berlalu".


"Kamu juga hati-hati. Jangan main perempuan di luar sana"


Mandala tertawa.


"Kenapa berpikiran seperti itu?"


"Hatiku tidak sanggup jika ada kejutan baru lagi yang mengatakan bahwa kamu memiliki istri dan anak di tempat lain"


Mandala terdiam. Aku memandang Mandala.


"Apa pikiranku benar?"


Mandala tersenyum.


"Aku mencintaimu. Kamulah istriku satu-satunya sekarang. Entah di bulan depan"


"Kapteeeennnn"


Mandala tertawa. Aku pun mencubit pinggang Mandala. Mandala kembali memelukku.


"Ayo kita keluar"


Kami keluar kamar bersama. Ayah, para asisten dan kedua orang itu berbincang di teras depan.


"Dala pergi duluan Yah. Ega akan pergi setengah jam kemudian"


"Hati-hati ya nak. Terus hubungi Ayah. Jaga atasanmu"


Ayah memerintah asisten Mandala yang di jawabnya dengan anggukan kepala.


Mandala mencium punggung tangan Ayahnya, memeluk beliau kemudian melihat kearahku.


"Ingat pesanku, jangan sendirian"


Aku mengangguk.


Mandala kemudian pergi. Aku pun pamit pada Ayah untuk bersiap dan mengambil barang-barangku.


Setengah jam kemudian aku pamitan pada Ayah. Mencium punggung tangan Ayah. Ayah mengelus kepalaku.


"Sabar ya sayang.. Ayah selalu berdoa untuk kebahagiaanmu dan Dala".


"Amin. Terima kasih Ayah".


"Ayah tunggu kehadiranmu kembali di sini"


Aku tersenyum dan berdiri bersiap untuk pergi.


"Jaga menantuku. Sekarang dia tanggung jawab kalian. Aku akan menghukum kalian jika terjadi sesuatu pada menantuku"


Ayah berkata kepada kedua orang yang mengawalku.


"Siap"


Kedua orang itu memberi hormat kemudian berlalu bersamaku.


Aaahhhh serasa seorang Ratu di istana. Memiliki bodyguard dan di kawal kemana mana.


Kalian mau memiliki pengawal pribadi???


Jangan lupa votenya yaa


LOVE YOU 😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2