
Ketika kami keluar dari hotel, waktu sudah menunjukan jam dua belas siang 🙈
Aku pun keluar dengan cemberut...
Mandala pagi ini kembali menggangguku...
Membuatku harus mandi dua kali pagi ini...
"Senyum dong.. kan mo shopping"
Mandala merangkul bahuku...
"Belanjanya harus banyak.. awas kalo bohong"
"Tenaaanggg... uang ampau dibawa kan?"
Mandala berkata sambil tersenyum.
"Kapteeennn... katanya itu uang milikku"
"Yaaa, belanjanya pake uang itu"
Mandala menyentil hidungku yang kembang kempis jika kesal..
"Curang, sama aja belanja sendiri.. gak di belanjain"
Mandala terus tertawa... senang membuatku kesal..
Kami menuju kesebuah hotel yang lebih mewah dari hotel tempat kami menginap..
"Kenapa kemari?"
Aku terus memegang lengan Mandala
Mandala berbisik di telingaku...
"Mo coba main di toilet sini.. enak apa enggak"
Aku menghentikan langkahku...
Apa benar Mandala mau melakukan itu..
Mandala melihatku.. kembali menepuk jidatku..
"Sudah dibilang, jangan berpikiran macam macam.. ayo ikut masuk, aku mau bertemu seseorang"
Aku mengikuti Mandala masuk... menuju restoran hotel.
Kearah meja yang di duduki oleh tiga orang laki laki...
Ketika melihat kami datang, dua orang laki laki berperawakan tinggi besar berwajah bule itu pun berdiri...
Mengangguk hormat menyapa Mandala menggunakan bahasa inggris..
"Sir..."
Mandala juga mengangguk dan tersenyum..
Kemudian beralih pada laki laki yang masih duduk dengan santainya menikmati makanan..
"Amantua..."
Lelaki itu berdiri... memeluk Mandala.. kemudian beralih melihatku...
Mandala menarik tanganku..
"Ini Amantua..."
Aku mencium tangan tuanya amantua dan amantua mencium keningku...
"Ayo duduk, kita makan siang bersama"
Aku dan Mandala duduk di depan Amantua...
Kedua laki laki yang merupakan pengawal amantua duduk di meja yang lain...
"Bagaimana pemakaman istri farid"
"Lancar.. sesuai keinginan Ina.. dikuburkan di kampung halaman"
"Sayang aku tidak bisa pulang.. bagaimana farid?"
"Ama cukup tegar.. Ina juga sudah lama sakit, jadi ama sudah siap mental menghadapi kemungkinan bahwa Ina akan meninggal"
Amantua menghela nafas panjang..
"Sekarang farid dimana?"
"Ada di rumah.. Melky yang mengurus ama"
"Baguslah kalo begitu.. aku tidak suka jika farid sendirian dikampung"
"Dala juga tidak akan membiarkan Ama sendirian"
Amantua melihat ke arahku..
"Kenapa makanmu sedikit sekali"
Amantua meletakkan beberapa daging dan sayur menggunakan sumpit kepiringku...
"banyak makan daging, biar aku dapat cicit laki laki"
Mandala tersenyum.. aku senyum dengan terpaksa..
"Cucuku merepotkanmu?"
"Tidak, malah saya yang merepotkannya"
"Dia senang kamu repotkan... setelah mencarimu lama.. dia senang melakukan apapun untukmu"
Mandala menjadi batuk tiba tiba...
Aku memberikan air putih kepadanya..
__ADS_1
"Ada masalah apapun diantara kalian, selesaikan dengan baik baik.. jangan dibawa emosi... jangan nantinya seperti amantuamu ini... sudah tua tapi jauh dari keluarga"
"Amantua bisa kembali pulang.."
Mandala berkata kepada kakeknya
"Tidak, kasian kalian... hidup kalian sudah aman.. jika ada yang mengorek masa lalu.. hidup kalian tidak akan aman... biarlah amantua terus di luar negeri.. lebih baik dengan identitas seperti ini"
"Kami tidak bisa merawat amantua.."
"Tidak masalah, melihat kalian semua bahagia, aku pun bahagia.. aku akan mengunjungi kakakmu setelah ini.. aku kangen dengan cicit perempuanku.."
Amantua melanjutkan bicara sambil terus makan...
Wajah tuanya terlihat lelah.. tapi masih terlihat juga kewibawaan dari wajah tuanya itu...
"Sayang... ini hadiah untukmu.."
Amantua memberikanku sebuah kotak kecil..
Aku melihat ke arah Mandala...
Mandala mengangguk..
Aku membuka kotak hitam di hadapanku dan melihat sebuah gelang..
"Bibimu mendesain khusus untukmu... tidak di perjual belikan..."
Bibi?? nanti akan aku tanyakan pada Mandala..
"Terima kasih Amantua.."
"Dala, jika ada waktu, ajaklah istrimu berkunjung... Bibimu sangat ingin bertemu.."
"Nanti akan Dala pikirkan.."
"Baiklah.. aku sudah selesai makan... aku akan beristirahat.. besok aku akan kembali.. jika kalian berbelanja, belilah beberapa barang untuk bibimu dan putrinya.. berikan padaku besok"
"Baik amantua..."
Amantua berdiri... Mandala dan aku pun berdiri..
Amantua menepuk punggung mandala..
"Jika aku mati, aku mau kamu dan farid yang menguburkanku.."
Mandala memandang kakeknya..
"Amantua.. jangan lupa jaga kesehatan dan minum obatnya.."
Amantua mengangguk.. kemudian berbalik dan berjalan meninggalkan kami..
"Ayo, kita juga pergi... kita ke islamic center yang di dekat sini.. sebentar lagi zuhur.."
Mandala menarik tanganku..
Dan bergegas mencari taksi...
-----------------
Ketika Mandala keluar dan melihatku.. Mandala mengajakku duduk di sebuah kursi taman..
"Kamu pasti bertanya tanya tentang amantua kan?"
Mandala melihatku dan aku mengangguk..
"Kamu sudah tau amantua ada disini?"
Kali ini Mandala yang mengangguk..
"Amantua ingin bertemu denganmu... aku mengambil jalur yang aman untuk bertemu di sini... seharusnya kita bertemu di turki... tapi ke turki melalui beberapa transit.. waktunya sangat panjang"
"Ceritakan tentang Amantua... bibi yang dimaksud itu?"
"Amantua menikah lagi.. memiliki seorang putri yang disebutnya bibiku itu... amantua juga memiliki seorang putra angkat yang di rawat dan di didik amantua dari kecil... bibi menikah dengan putra angkat amantua.. dan memiliki seorang putri.. putrinya dulu akan di nikahkan denganku.. tapi aku menolak"
"Kenapa kamu menolak?"
"Karena aku yakin jodohku adalah seorang dokter yang cantik.."
Mandala menyentuh hidungku..
Aku menepis tangan Mandala..
"Apa usaha Amantua.."
"Berlian... bibi yang mendesain semua perhiasan yang dibuat, kemudian di jual"
"Jadi, gelang yang diberikan padaku ini berlian?"
"Iya, berlian asli afrika..."
"Lumayan, buat simpananku jika nanti kamu sudah pensiun.."
Mandala menepuk jidatku...
"Ayo jalan... katanya mo belanja.."
"Dibelanjain kan??"
"Seluruh Atmku denganmu... bagaimana caranya aku untuk membayar belanjaanmu nanti?"
Aku tersenyum...
"Bearti dapat ijin nih buat menggunakan ATMnya??"
Mandala merangkul pundakku dan berbisik..
"Tapi ada imbalannya kan nanti malam?"
wajahku langsung memerah...
"Enggak.. pinggangku sudah mau patah"
__ADS_1
"Namanya juga Bulan madu.."
Mandala mengecup pipiku.. menggenggam tanganku dan pergi mencari taksi ..
--------------------------
Mandala menemaniku berbelanja..
Aku membeli tiga pasang sepatu.. dua tas bermerk.. membeli gincu yang sudah kuincar sejak lama..
Aku tidak membeli pakaian.. karena pakaian disini jenis pakaian yang kekurangan bahan semua...
Mandala membelikan paman, bibi, dan sepupu perempuannya.. masing masing dua buah barang..
Kami mengantar barang barang untuk bibinya mandala ke hotel tempat amantua menginap.
Amantua sedang tidur, jadi barang hanya di terima oleh pengawal amantua...
Kami pun pergi kembali...
Kami pergi ke pusat perbelanjaan orang orang arab di singapore...
Disinilah baru aku membeli beberapa jilbab, dan beberapa pakaian muslim...
"Capek? masih ingin belanja?"
Mandala melihatku.. dan tentu saja melihat wajahku yang memerah karena kepanasan..
Dan ketika aku melihat belanjaanku aku baru sadar bahwa Mandala tidak membeli satu pun barang.. dia hanya menemaniku saja...
"Kamu tidak membeli apa apa?"
"Istriku asyik sendiri berbelanja, dia melupakan diriku"
Aku tersenyum malu..
"Ayo, kita pergi lagi... apa yang mau kamu beli?"
"Tidak, aku tidak ingin membeli apa apa..."
"Serius, kenapa gak mau beli?"
"Sepatuku masih bagus, baju juga masih banyak.. aku tidak suka memakai tas ganti ganti seperti wanita.. dan aku juga tidak memakai make up... jadi apa yang harus kubeli?"
Aku merasa tersindir dengan ucapan Mandala..
Sepatuku juga masih bagus, tapi aku membeli tiga pasang sepatu.. bajuku juga masih banyak.. tapi aku tetap membeli baju...
Aku memandang Mandala dengan wajah bersalah..
kemudian memandangi belanjaanku...
"Jangan berfikir macam macam.. yang sudah di beli ya sudah.."
Mandala mengelus kepalaku..
"Maaf, aku menghamburkan uang"
"Asal kamu senang... bagiku tidak masalah"
"Lain kali aku akan berhemat.."
"Tidak perlu mengubah dirimu karena diriku.. jika memang ada uangnya belilah.. jika tidak ada, maka jangan memaksakan kehendak"
Aku mengangguk...
"Nanti ketika kembali, barang barang ini di tukar dengan barang yang lama.."
"Maksudnya?"
"Jika kamu membeli dua lembar baju.. sumbangkan empat lembar baju lamamu pada orang lain.. begitu juga dengan barang yang lainnya.."
"Baik, aku mengerti"
Mandala tersenyum...
"Semua barang yang kita miliki ini, nantinya akan di hisab dan di hitung.. semakin banyak barang.. semakin lama perhitungannya... bayangkan berapa lama kita menunggu malaikat menghitung harta kita?"
Aku tersenyum dan mengangguk...
"Rumah mewah yang kamu tempati?" aku berkata sambil sedikit mengejek..
"Itu milik amantua.. aku tidak mengakuinya.. hanya memanfaatkan fasilitas yang ada saja.. biarkan itu nanti menjadi milik Melky atau di sumbangkan.. terserah pada Ama"
Aku memandangi laki laki di depanku ini...
Terselip rasa kagum padanya..
"oia, mau kalo kita pindah ke komplek TNI AU"
"Tinggal di komplek?"
"Iyaa, tinggal di komplek... aku memiliki jatah rumah dikomplek, tapi aku pikir selama ini untuk apa tinggal disana jika sendirian... sekarang sudah ada istri.. lebih aman juga tinggal disana.. kamu mau??"
Aku mengangguk dengan cepat.
"Mauuu... pasti disana bakalan banyak punya teman.. dari pada di rumah sekarang... ga ada tetangga"
"Okey, aku akan urus prosedurnya nanti setelah kita pulang... sudah istirahatnya? ayo kita pulang... nanti malam kita jalan lagi... menikmati malam di negara orang"
Aku lagi lagi mengangguk... berdiri... membawa belanjaanku dan mengikuti Mandala mencari Taksi untuk kembali ke hotel tempat kami menginap..
Aku terus bersyukur pada Allah SWT...
Mempertemukanku dengan laki laki ini..
Tidak pernah mengguruiku tapi selalu mengajarkanku melalui kata katanya...
Mungkinkah Aku sudah mulai jatuh cinta pada laki laki ini ðŸ¤ðŸ™ˆ
------------
Jangan lupa vote nya...
__ADS_1
Tetap Stay di rumah yaa
LOVE YOU 😘😘😘