
Aku kembali menemui manajemen rumah sakit. Direktur rumah sakit memanggilku ke dalam ruangannya.
"Selamat pagi dokter"
Aku masuk ke dalam ruangan direktur rumah sakit.
"Silahkan duduk dokter Chintya"
Aku pun menuju sofa dan mendudukkan diriku. Direktur rumah sakit menelpon seseorang sebelum berdiri dari tempat duduknya di belakang meja kerja dan duduk di depanku.
"Kita tunggu kepala biro kepegawaian dulu yaa"
"Baik, dokter"
Tak lama pintu ruangan di ketok. Seseorang yang di tunggu memberi salam dan duduk bersampingan dengan direktur.
"Dokter Chintya, dengan status kepegawaian dokter, sangat di sayangkan jika dokter mengundurkan diri. Karena untuk menjadi dokter dengan status pegawai pemerintah itu sangat sulit".
Aku mendengarkan penjelasan dari kepala biro. Akankah mereka tidak menyetujui keinginanku?.
"Akan sangat di sayangkan jika dokter Chintya keluar kemudian hanya menjadi dokter di rumah sakit swasta atau hanya bekerja di praktek saja".
"Jadi kami mencari solusinya. Bagaimana jika dokter Chintya pindah tugas ke rumah sakit milik pemerintah di daerah?"
"Tapi Pak, belum tentu daerah memiliki tempat kosong buat saya. Saya juga belum mencari rumah sakit mana yang bisa menerima saya di sana"
"Kami mengerti. Karena itu surat pindah ini tidak kami isi tujuannya. Kami beri waktu tiga bulan. Dalam tiga bulan dokter Chintya harus memberikan laporan pada kami. Setelah tiga bulan, surat pindah tugas ini akan tidak berlaku lagi".
"Saya berpikir untuk tidak langsung bekerja. Saya ingin menenangkan diri dulu"
"Silahkan dokter berpikir lebih dulu. Sangat di sayangkan dengan status pegawainya dokter".
"Baiklah, untuk sementara saya akan menerimanya. Jika dalam tiga bulan saya tidak kembali bekerja di rumah sakit pemerintah?"
"Kami akan mengeluarkan SK pengunduran diri yang dokter minta"
"Mendiang bapaknya dokter dulunya orang nomor satu di daerah. Masa dokter tidak bisa mencari posisi di sana?"
"Saya hanya ingin menenangkan diri dulu. Belum mau kembali bekerja".
"Dalam tiga bulan, kami harus mendapatkan jawaban. Untuk hak dokter Chintya akan kami penuhi dan kami transfer ke rekening seperti biasanya".
Aku hanya mengangguk dan bingung akan berkata apa lagi. Kenapa mereka melarangku untuk berhenti. Yang rugi di sini hanyalah aku, pihak rumah sakit tidak akan rugi sama sekali dengan kepergianku.
"Ini surat pindah tugasnya, semoga dokter Chintya dapat berpikir dan memutuskan dengan tepat".
"Terima kasih banyak dokter"
Aku pun mengambil map coklat yang diberikan kepadaku. Dan pamitan untuk pergi.
Di luar ruangan aku menarik nafas panjang.
Apa ini ada hubungannya dengan Ama?
Apa Ama menginginkan aku untuk tetap dalam pengawasannya?
Jika aku berkerja di rumah sakit milik pemerintah di daerah, mereka masih bisa memantauku. Mereka tidak akan kehilangan jejakku.
Mungkin itu memang maunya mereka.
Aku akan mendiskusikan hal ini pada Mandala nantinya. Aku tidak akan bisa bersembunyi di tempat Ayahnya Mandala karena hal ini.
Jika aku pindah tugas ke klinik dokter Sapto pun tidak akan mungkin. Karena harus ada laporan yang kumasukan ke pihak rumah sakit kemana aku pindah.
"Bu dokter, kenapa melamun?"
Rita sudah berjalan di sampingku sambil memberiku air mineral botol.
"Masalah resign. Hanya di beri surat pindah tugas".
"Itu supaya dokter bisa di pantau".
"Kamu berpikiran yang sama denganku?"
"Yang jelas saya sudah menduganya. Mereka tidak akan semudah itu melepaskan dokter".
"Bisa kamu hubungi big bosmu? Saya harus mendiskusikan ini dengannya".
"Baiklah, saya akan memberitahukan big bos tentang hal ini".
---------------------
Malam hari di kamar kosnya Rita. Seperti biasa, Mandala menelponku melalui handphone Rini.
"Sayang, ada apa? Rita bilang kamu minta aku menghubungimu"
"Kita tidak bisa bertemu?"
"Aku ingin, tapi sekarang Ama lagi drop. Melky membawa Ama ke rumah sakit. Aku akan segera menyusul ke rumah sakit"
"Bisa kamu meminta Nia untuk menghubungiku. Memberitahuku kalo Ama sakit. Jadi aku bisa dengan tenang ke rumah sakit melihat Ama".
"Baiklah, aku akan meminta Nia nantinya".
"Kapten,mereka hanya memberiku surat pindah tugas"
"Sudah ku duga. Kamu bisa pulang dulu menemui ibu supaya mereka yakin kamu pulang ke daerah. Rini akan ikut denganmu".
"Kita benar berpisah?"
"Sayang, banyak cara untuk ku bisa pergi kesana. Tenang saja, aku bisa menemuimu kapan pun aku mau"
"Kapan aku harus pulang?"
"Diskusikan saja dengan Rini. Beritahukan padaku kapan kalian akan berangkat. Pesanlah tiket secara terpisah. Rini sudah mengerti itu".
"Baiklah. Jangan lupa meminta Nia memberitahuku tentang Ama yang sekarang di rumah sakit".
"Iya sayang, aku tutup dulu. Aku harus ke rumah sakit sekarang".
"Hati-hati Kapten"
Mandala mengakhiri panggilan. Aku memanggil Rini dan Rita untuk masuk kembali ke dalam kamar.
__ADS_1
"Big bos kalian memintaku untuk pulang ke daerah bersamamu Rin".
"Saya mengerti maksud Mayor, kapan kita akan berangkat?"
"Akhir minggu saja Rin. Aku ingin tahu keadaan Ama dulu. Ama ngedrop. Di bawa ke rumah sakit".
Rini mengangguk.
"Boleh aku bertanya dengan kalian?"
"Tentang gaji lagi?"
Rini yang memang sedikit lebih lincah dan supel dari pada Rita, Seringkali menjawab spontan setiap pertanyaanku.
"Apa kalian bisa menjamin padaku bahwa big bos kalian itu setia?"
"Maksud bu dokter?"
"Aku tidak ingin ada rahasia lagi. Aku takut jika suatu saat mengetahui jika suamiku memiliki istri lain"
Aku memandangi keduanya. Berharap keduanya berkata jujur.
"Bu dokter, percayalah pada Mayor. Bu dokter adalah istri Mayor satu-satunya".
"Ijin untuk poligami sangat sulit di dalam angkatan. Ibu dokter ingat bagaimana dulu proses ketika akan menjadi istri big boss? prosesnya sangat sulit kan? Karena itu untuk memiliki istri baru pun tidak akan mudah"
"Itu kalo mau poligami yang resmi. Kalo tidak resmi kan bisa?"
"Maksud bu dokter bermain-main dengan wanita lain hanya untuk kesenangan?"
Aku mengangguk.
"Big boss sangat serius dalam hal apapun. Bekerja saja sangat serius, apa lagi dalam berumah tangga".
"Jika tidak serius dalam bekerja, maka pesawat yang dikendalikannya akan jatuh"
Aku tetap berusaha mengorek keterangan dari kedua orang di hadapanku ini.
"Bu dokter meminta kami untuk mengkhianati big bos kami?"
"Apa ini artinya Bos kalian memang ada affair?"
"Bu dokter, jangan berpikir macam-macam. Jika Mayor tidak mencintai bu dokter. Bagaimana Mayor meminta kami untuk menjaga bu dokter".
"Mencintai bukan berarti tidak memiliki affair kan?"
"Kami akan bicara dengan Mayor. Supaya memiliki affair di luaran sehingga tebakan bu dokter benar dan tidak salah"
"Kalian yaaaaa"
Aku melempar bantal pada mereka berdua yang di sambut dengan tertawanya Rini. Jelas mereka tidak bisa membalasku dengan melempar bantal kembali. Secara, aku adalah istri bos mereka hahahhaha.
---------------
Di pagi hari, handphoneku berdering. Dari Melky. Aku sedikit malas menerimanya. Tapi aku ingat, tadi malam aku sendiri yang meminta Mandala untuk melakukan ini.
Dering handphoneku sempat berhenti. Ketika berdering kembali, aku langsung menekan tombol hijau.
"Hallo, Melky"
"Jika aku masih tidur, aku tidak akan berbicara denganmu".
Kudengar Nia tertawa kecil.
"Maaf, kakak ipar. Saya hanya ingin memberitahukan bahwa Ama masuk rumah sakit".
"Di rumah sakit mana?"
"Rumah sakit seperti biasa di ruangan VIP 3".
"Baiklah, aku akan meilhat Ama setelah sarapan nanti".
"Kami tunggu kakak ipar".
Nia mengakhiri panggilan. Aku pun tersenyum simpul. Kemudian bergegas ke kamar mandi dan bersiap-siap.
------------
Tidak ada yang kukerjakan hari ini. Jadi, setelah sarapan aku berniat untuk ke rumah sakit melihat Ama. Aku memberitahukan hal ini pada Rini dan Rita.
"Kami tidak bisa menemani bu dokter"
"Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Yang membuntutiku pasti juga tahu bahwa aku datang untuk melihat pimpinan mereka"
"Tapi bu dokter harus tetap berhati-hati"
Aku mengangguk.
"Terima kasih. Kalian beristirahatlah yang baik hari ini"
"Jika kami melakukan Spa, medicure dan pedicure. Apa Mayor akan mengijinkan kami?"
Aku tertawa mendengar kalimat Rini.
"Tunggulah, kita akan melakukannya nanti bertiga. Sekarang aku pergi dulu. Rita, taksinya?"
"Standby bu.."
"You are the best.. Terima kasih..muach..muach"
Aku memberikan kecupan ringan di udara buat mereka berdua. Aku pun menuju gerbang kost dan masuk ke dalam taksi yang sudah dipesan Rita.
------------
Di depan pintu VIP nomor 3.
Aku menarik nafasku sejenak sebelum mengetuk pintu.
Aku membuka handle pintu, seluruh mata langsung tertuju padaku.
Putri yang berada di pangkuan Mandala, dan Utami yang di pangku Melky langsung berlari menyambutku.
"Bundaaaa.."
__ADS_1
Suara teriakan keduanya menggema di dalam kamar.
Aku langsung memeluk keduanya. Sungguh, aku sangat merindukan dua malaikat kecil ini.
"Bunda bawa coklat buat kalian, mau?"
Keduanya mengangguk. Aku pun mengeluarkan dua batang coklat yang kubeli di mini market tadi.
Keduanya tersenyum bahagia dan langsung memberikan ciuman di pipiku.
"Terima kasih bunda"
"Sama-sama sayang"
Utami menjauh, tapi putri tetap memegang tanganku.
Melky dan Nia menghampiriku.
"Kakak ipar, Apa kabar?"
Melky memelukku sesaat. Kurasakan jika Melky sedikit terisak. Aku membalas pelukan Melky dan membelai punggungnya.
"Aku baik-baik saja, jangan khawatir".
Kemudian Nia pun memelukku.
"Kakak, kami sangat merindukan kakak"
Aku kembali membalas pelukan Nia. Aku beranjak mendekati tempat tidur Ama. Mandala berdiri mendekatiku yang di ikuti oleh pandangan mata Melky dan Nia.
"Sayang, apa kabarmu?"
Mandala memelukku sesaat tapi aku tidak merespon pelukannya, bahkan sedikit mendorong tubuhnya menjauh. Mandala menjauh dariku dan duduk kembali di tempatnya semula.
Nia menemaniku melihat Ama. Putri kembali duduk di samping Mandala dan memakan coklatnya.
"Apa kata dokter tentang kondisi Ama?"
"Tekanan Ama naik, kata dokter mungkin ada yang di pikirkan Ama. Gula darah turun naik. Kaki membengkak, kemudian ada kegagalan fungsi ginjal. Masih menunggu hasil laboratorium"
"Amanya masih sadar?"
"Masih kakak, tapi sekarang mungkin sedang tidur"
Melky menggerakkan tangan Ama.
"Ama, ada kakak ipar datang"
"Biarlah Melky, beliau sedang tidur"
Ama terlihat bergerak. Tapi matanya tidak terbuka.
"Kalian jagalah Ama. Aku tidak bisa lama. Jika ada yang perlu kubantu, kabari saja aku. Aku permisi dulu".
Aku kemudian menyentuh tangan Ama sebelum melangkah keluar. Nia mengikutiku keluar kamar.
"Kakak, kami benar-benar merindukan kakak. Apa kakak tidak bisa kembali ke rumah?"
"Maafkan Aku Nia"
"Melky dan saya harus menjaga Ama di rumah sakit. Kasian juga Putri, dia selalu menanyakan Kakak pada Ayahnya. Kakak lihat, bagaimana putri merindukan kakak"
"Sekali lagi maafkan aku Nia"
Mandala keluar kamar, sepertinya akan berangkat bekerja. Mandala berdiri bersama kami.
"Ada yang ingin kubicarakan, kita keluar bersama"
"Aku masih berbicara dengan Nia"
"Sayang, tolonglah. Jangan bersikap keras kepala"
"Kakak ipar, pergilah dengan abang. Aku akan kembali masuk ke dalam"
Nia pun meninggalkan kami.
Mandala mendekatiku.
"Kamu menolak pelukanku tadi. Mau ku cium disini?"
Aku melototkan mataku pada Mandala. Mandala pun berjalan menjauh dan aku terpaksa mengikuti Mandala.
Kami duduk di bangku taman rumah sakit.
Kami berbicara seperti berbisik.
"Apa keadaan ama serius?"
"Iya, obatnya mulai berkerja. sekarang gagal ginjal. Entah besok akan menyerang organ tubuh yang mana lagi"
"Berapa lama lagi?"
"Sayang, bersabarlah. Tidak akan secepat yang kita pikirkan"
"Aku pulang di akhir minggu ini"
"Nanti malam, minta Rita membuka pintu belakang kost. Aku akan menjemputmu disana"
"Mau kemana?"
"Menghukummu karena menolak pelukanku tadi".
Mandala berdiri dan mencium keningku sekilas.
"Aku harus berangkat kerja. Jangan lupa nanti malam. Pake baju yang seksi ya sayang"
Hah seksi? apa maunya Mandala? sejak kapan aku keluar rumah memakai baju seksi kecuali berada di dalam kamar.
Aku memandangi punggung Mandala yang semakin menjauh dengan heran.
-------
Kenapa Ega harus memakai baju seksi??
__ADS_1
Jangan lupa votenya yaa
LOVE YOU 😘😘😘😘