Jodohku

Jodohku
Peri dan Hantu


__ADS_3

Setiap Hari aku meluangkan waktuku untuk pergi ke rumah sakit merawat Sarah... sering kali aku datang sendiri tanpa Mandala...


Ketika melihatku datang, Sarah akan berteriak kemudian memelukku...


Seperti halnya hari ini...


"Ibu peri..."


Teriak Sarah ketika aku baru membuka pintu kamar...


Aku tersenyum... kemudian membalas pelukannya..


"Baru di mandikan mbak?" tanyaku pada perawat...


"Iya bu.. "


Sarah terlihat sudah rapi dengan piyamanya... bersih dan harum...


"Hari ini habis makannya?"


Aku bertanya pada Sarah sambil mengajaknya duduk..


Sarah mengangguk sambil memberikan ibu jempolnya...


Aku menatap Sarah... Wajahnya yang masih muda dan Imut... Aku hanya bisa menggenggam tangannya... Aku pun bingung, apa yang harus kubicarakan lagi dengannya...


"Ibu peri, Sarah ketemu anak..."


"????" Aku mengerutkan dahiku..


"Sarah tidur terus ketemu anak di tidur"


"Itu namanya Sarah lagi mimpi... mimpi punya anak.."


Sarah sedikit melamun...


"Sarah sebentar lagi memang mau punya anak.. ini anaknya ada di perut Sarah.. karenanya Sarah harus makan, supaya anaknya sehat.."


"Tapi anak Sarah diambil hantu"


lagi lagi aku mengerutkan dahiku..


"Ada darah.. ada anak.. ada hantu"


Aku berusaha mencerna omongannya Sarah..


Apakah di dalam mimpinya Sarah, anak di dalam kandungannya itu meninggal...


"Sarah.. itu cuma mimpi.. tidak apa apa.. anak Sarah baik baik saja.. tidak di bawa hantu..."


Aku memikirkan kata kata Sarah...


Semoga tidak ada yang terjadi dengan anak di dalam perut Sarah...


----------


Mandala berangkat bersama Ama menemui Amantua...


Jadilah aku sebagai pengasuhnya Sarah..


Setiap hari aku mengunjunginya..


Bertanya kabarnya..


Mengajaknya berbicara..


Terkadang aku juga ikutan depresi meladeni semua tingkah dan ucapannya Sarah 🤭🙈


"Assalamualaikum...."


Aku menerima telepon dari Mandala..


Baru satu hari Mandala pergi menemui Amantua.. Aku hanya merasa Mandala sedang berangkat tugas... jadi bagiku keberangkatan Mandala kali ini biasa saja..


"Waalaikumsalam... dimana yang?"


"Masih di Rumah sakit... "


"Apa kabarmu?"


"Kenapa tidak menanyakan kabar Sarah?"


"Kalo aku menanyakan kabar Sarah terlebih dulu.. aku takutnya handphone barumu itu akan jatuh di lantai... jadi aku harus menanyakan kabarmu terlebih dahulu.."


Aku tertawa...


"Aku baik baik saja... Sarah juga.. sudah mau makan dan tidak berontak lagi dengan perawat.."


"Baguslah.. apa dia sudah mau bercerita.."


"Bertahap sayang... aku saja depresi mendengar semua ocehannya hahahha"


Aku kembali tertawa...


"Sabarlah menghadapinya.. akan menjadi pahala untuk kita semua"


"Baiklah suamiku... jika aku tidak sabar, aku tidak akan kembali lagi kesana.. bagaimana Amantua"


"Sudah kritis... hanya menunggu.."


"Kamu baik baik saja?"


"Tenanglah.. aku dan amantua tidak dekat, ini hanya kewajibanku sebagai seorang cucu laki laki.. mungkin aku akan terpukul jika Ama yang sakit..."


"Jaga kesehatanmu.. juga Ama... jangan lupa pakai jaket.. kudengar di sana dingin"


"Aku merindukanmu yang.. aku ingin cepat pulang"


"Gak usah lebay.. berkumpul lah dengan paman dan bibimu yang di sana..."


"Mereka mencarimu.. bertanya kenapa aku tidak mengajakmu?"


"Apa jawabanmu?"


"Aku bilang istriku lagi bekerja mencari uang, dia terlalu pelit untuk mengeluarkan uangnya sendiri membeli handphone... dia bekerja agar dia mempunyai uang banyak dan siap untuk meninggalkanku..."


Aku tertawa..


"Penjelasanmu masih kurang.. seharusnya kamu katakan kalo istriku bersiap jika aku nantinya menikah lagi"


Kali ini Mandala yang tertawa..


"Hampir saja aku berkata.. bahwa istriku menjaga calon istri keduaku yang lagi hamil.."

__ADS_1


Aku tau Mandala bercanda dan bermaksud menggangguku.. tapi perkataan Mandala tetap membuatku tidak suka dan aku terdiam beberapa saat...


"Yaaangg... maaf "


Sepertinya Mandala menyadari kalo aku tidak suka dengan ucapannya...


Aku tertawa kecil...


Jika Mandala mengatakan ini di saat dia di sampingku.. aku pasti akan membuat tubuhnya menjadi sepuluh bagian...


Untung nya saat ini Mandala jauh dariku...


"Aku harus pergi sekarang... jika tidak akan kemalaman nanti pulang... jangan lupa untuk istirahat.. jaga Ama jangan sampai beliau lelah.."


"Sayaaanngg... "


"I am fine captain.... fokuslah untuk merawat amantua... kabari aku terus... cepat tidur.. di sana malam kan... Love you.."


"Love you too bu dokter.... Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam..."


Kami mengakhiri panggilan internasional beda waktu itu...


Aku pun bergegas untuk ke rumah sakit menemui Sarah...


Perkataan Mandala tadi..


Aku kembali memikirkannya...


Jika memang takdirku memiliki "madu" aku tidak akan bisa menolaknya..


Kuserahkan semuanya pada sang Kuasa...


--------------


Bersama Sarah...


Sarah terlihat lebih segar...


Mulai terlihat wajah muda dan cantiknya..


Aku memandangi wajah di depanku..


Jika kelak Sarah sembuh.. akan banyak laki laki yang terpesona dengan wajah ini..


Akankah suamiku juga terpesona dengannya??


Pernikahanku sudah hampir tiga tahun...


Aku belum memberikan anak pada Mandala...


Mungkinkah Mandala akan berpaling dariku ketika kelak melihat Sarah sembuh dan bayi kecilnya....


Aaaaarrrgggghhhhh.... kenapa sih Ga...


Kamu terlalu banyak berpikir...


Terlalu banyak yang kamu hayalkan...


Sarah sembuh.. kamu yang depresi karena pemikiranmu sendiri 😄


Sudah seminggu aku menjadi pengasuhnya Sarah...


Aku lagi mengajak Sarah untuk duduk di taman rumah sakit...


"Iya..."


"Sarah ingat bu...."


"Ingat??"


"Waktu itu malam, Sarah lagi nonton tivi.. hantu itu datang"


"Sarah ingat kejadian waktu itu?"


"Sarah masuk kedalam air.. mamak dan abang juga"


Sarah mulai menangis.. aku memeluknya..


"Tidak usah cerita lagi.. besok saja... sekarang Sarah istirahat dulu"


"Ibu, waktu abang dan mamak di bawa.. aku di tarik bu..."


"Siapa yang menarikmu?"


"Seorang peri cantik..."


Aku menarik nafasku.. ternyata Sarah belum pulih seutuhnya...


Cerita ibu peri itu masih di kepalanya..


Aku membawa Sarah kembali ke kamar..


Dan memintanya untuk beristirahat...


Aku berkonsultasi pada dokter Irawan dan menceritakan semua yang dikatakan Sarah padaku...


"Bisa jadi itu betul..."


Dokter Irawan berkata padaku...


"Hah?"


"Mungkin benar.. saat itu mereka bertiga tenggelam di gulung air... suami dan ibunya hilang.. dan Sarah berhasil di selamatkan tim SAR... di dalam bayangan Sarah.. ibu dan suaminya hilang di bawa hantu dan dia di selamatkan peri cantik.. bagus, Sarah sudah mulai mengingatnya.."


Aku terdiam memandangi dokter Irawan...


Untung saja aku tidak mengambil spesialis kejiwaan ini dulunya ketika masih kuliah...


Jika tidak, aku juga akan seperti dokter Irawan... menghayal seperti pasien pasiennya...


Ega...Itu bukan hayalan dokter Irawan..


Tapi dokter Irawan itu mencoba untuk mendalami jiwa pasiennya... berpikir seperti pasiennya...


Aku tertawa kecil sambil tersenyum...


"Kenapa? Kamu pikir aku juga depresi seperti pasienku?"


Dokter Irawan berkata padaku juga sambil tertawa..


Aku tersenyum malu.. ternyata dokter Irawan bisa membaca pikiran dan gerak gerikku...

__ADS_1


"Ketika kamu memeriksa tubuh seorang korban pembunuhan... apa yang kamu pikirkan? Kamu pasti membayangkan bagaimana dia di bunuh dan bagaimana korban melawan sehingga terciptanya luka luka di tubuhnya... begitu juga denganku.


Bedanya, apa yang kamu pikirkan berupa fakta.. dan yang kupikirkan berupa khayalan.. itulah pekerjaan dokter kejiwaan"


"Banyak orang bilang.. dokter yang menangani orang sakit jiwa, lama lama akan ikut gila juga"


Lagi lagi dokter Irawan tertawa dan aku ikut tertawa kecil sambil tersenyum...


"Sarah sudah semakin membaik.. makin hari ingatannya makin bagus... setelah dia ingat semuanya.. masalah hantu dan ibu peri, otomatis akan hilang di kepalanya... semoga dia membaik sebelum bayinya lahir"


"Sarah masih muda, kenapa dia menikah begitu cepat?"


"Dari umur kehamilan dan waktu nikahnya, sepertinya kecelakaan... dan kudengar suaminya juga harus sekolah lagi, karena itu mereka harus cepat menikah"


"Bagaimana Sarah jika kelak ingat semuanya.. bagaimana responnya.."


"Yang pasti.. jika Sarah ingat bahwa suaminya sudah meninggal, dia tidak akan lagi menganggap suamimu adalah suaminya hahahhaha"


Aku tersenyum kecut...


"Kamu cemburu?" Dokter Irawan menggodaku...


"Awalnya aku marah.. aku tidak tahu cerita sebenarnya... tapi sekarang tidak lagi... aku malah kasihan pada Sarah... kasihan pada bayinya.."


"Jadikan dia temanmu bila kamu kasihan.."


"Teman?? Kami sekarang sudah berteman kan..."


"Jadikan teman hidup suamimu hahahahha"


"Hatiku belum selapang itu..."


"Tidak ada wanita yang mampu berbagi... bagaimana dengan suamimu?"


"Entahlah.. laki laki mana yang menolak jika di suguhkan sesuatu yang menarik"


"Hahahhahaha... kamu tidak percaya pada suamimu? Dia bahkan tidak pernah masuk sendiri ke dalam ruangan Sarah... selalu minta di temani perawat atau diriku.."


"Aku percaya pada suamiku.. bahkan aku pun percaya pada takdirku... apapun yang terjadi, itu pasti adalah takdirku.."


"Jadi besok kembali lagi kemari?"


"Aku sudah berjanji pada Sarah untuk datang setiap hari... Suamiku dan Ama juga belum kembali..."


Dokter Irawan menelpon perawat dan menanyakan keadaan Sarah sekarang...


"Sarah sudah beristirahat... kamu bisa pulang..."


"Iya, sudah malam juga... penjagaan di asrama sangat ketat bila suamiku tidak ada.. mereka takut aku berselingkuh... aku pulang dulu yaa.. titip Sarah.."


"Hati hati di jalan..."


Aku mengangguk dan keluar dari ruangan dokter Irawan...


------


Aku baru selesai mandi dan bersiap untuk tidur ketika Mandala menelponku... di sana siang hari tentunya...


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam... Yang, amantua meninggal pagi tadi..."


"Innalillahi Wainnailaihi Rojiun... di kubur hari ini juga?"


"Iya, ini bersiap untuk penguburannya..."


"Secara Islam?"


"Iya, tapi tidak ada pemakaman muslim di sini.. ada tapi sangat jauh..."


"Yang penting laksanakan dulu kewajiban terhadap si mayit... untuk pemakaman tidak masalah.. itu hanya sekedar tempat untuk mengubur... yang penting kan doa kita anak cucu beliau"


"Itu juga yang aku dan ama pikirkan..."


"Kamu baik baik saja?"


"Iya, tenanglah... semakin cepat urusan amantua.. aku dan ama semakin cepat kembali..."


"Aku akan mengirim doa dari sini untuk amantua... sekarang laksanakan kewajibanmu sebagai cucu beliau..."


"Baiklah... setelah pulang aku akan melaksanakan kewajibanku sebagai suamimu.."


"Hahahhaha... sudah sana..


Aku juga harus tidur... hari ini sangat melelahkan..."


"Istirahatlah... Love you..."


"Love you too... jangan lupa jaga Ama...


Assalamualaikum.... "


"Waalaikumsalam..."


Ternyata Amantua memang menunggu Mandala dan Ama... Setelah kedua penerus beliau datang, beliau langsung pergi meninggalkan dunia ini.. padahal beliau sudah terbaring sakit selama satu bulan ini...


Mandala berniat untuk pergi dari dulu melihat Amantua.. tapi karena musibah yang menimpa keluargaku dan juga masalah ijin visa...


Mandala dan Ama baru bisa berangkat dua hari yang lalu...


Bagi Mandala semua sangat melegakan...


Kewajibannya sudah terpenuhi...


Dia pun tidak harus bolak balik kembali ke sana jika suatu saat amantua sakit kembali...


Sekarang semua sudah tenang...


Kembali ke kehidupan masing masing...


Aku mengambil air wudhu, melaksanakan sholat ghaib dulu untuk amantua sebelum aku tidur...


semoga amantua di berikan kelapangan dan kemudahan....


Dan semoga suamiku di berikan keselamatan dan kesehatan sampai kembali berkumpul lagi bersamaku...


---------------


LOVE YOU...


jangan lupa vote dan likenya yaa


😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2