Jodohku

Jodohku
BAB 166


__ADS_3

Pukul 09.00 WIB, Doni dan Tami baru sampai di rumah Rafa, karena tadi setelah Doni menjemput Tami di depan asrama mereka berdua mampir membeli bubur ayam untuk sarapan. Sebenarnya Tami sempat marah saat Doni baru saja sampai, karena waktu janjian mereka yang seharusnya jam 7 molor sampai jam 8 lebih.


Tapi Doni terus meminta maaf dan membujuk Tami dengan rayunya, sehingga emosi Tami sedikit mereda. Saat mereka sampai di rumah Lisa, Tami dan Doni langsung di persilahkan masuk oleh Bi Rumi, mereka diantar menuju ke kamar Lisa , tapi suasana di dalam kamar terdengar ramai.


" Bi apa sepagi ini sudah ada tamu?", tanya Tami pada Rumi.


" Ada Non, dari tadi juga non Tami sudah di tanyakan sama bapak dan ibu, mari silahkan masuk Non, Tuan", ucap bi Rumi.


Deg....


Betapa terkejutnya Tami saat melihat kedua orang tuanya dan juga mertua Lisa berada di kamar Lisa sambil bersenda gurau bersama Lisa dan Rafa.


" Assalamualaikum ", ucap Doni dan Tami serentak.


" Wa'alaikum salam, sini masuk Tam", seru Lisa tersenyum sumringah melihat Tami datang. Tami pun masuk diikuti Doni di belakangnya.


" Loh ada kamu juga Don, kok kalian bisa kebetulan sampai disini bareng", ujar tuan Johan.


Doni dan Tami bingung harus berkata apa, karena mereka berdua bukan kebetulan sampai disini bareng, tapi mereka berdua memang datang kesini bareng. Doni berpikir cepat agar mereka tidak terlihat mencurigakan.


" Tadi Tami ikut di mobil saya Tuan, kebetulan saya melihat Tami di depan asrama waktu mau ke sini, jadi saya ajak, biar sekalian", ucap Doni mencoba mencari alasan tapi juga berusaha untuk tidak berbohong.


" Ayah, ibu, kapan kalian sampai disini?", tanya Tami sambil sungkem.


" Beberapa menit yang lalu, belum terlalu lama, ibu kira kau tidak pulang ke asrama dan tidur menemani Lisa, makanya ibu sengaja datang kesini lebih awal", ucap Bu Soraya.


" Kemarin rencananya seperti itu Bu, tapi sudah ada yang menjaga Lisa selama 24 jam nonstop, yang sepertinya keberatan kalau aku terus menempel pada Lisa", sindir Tami sambil melirik ke arah Rafa.


Bu Soraya mangerti dengan maksud ucapan Tami, dia dan orang tua yang lain tertawa mendengar ucapan Tami.

__ADS_1


" Jadi seperti itu, putri ibu ini pulang ke asrama karena nggak mau jadi setan di antara Lisa dan Rafa?", gurau Bu Soraya.


" Benar sekali Bu Soraya, kemarin Tami juga mengatakan persis seperti itu", ucap Rafa sambil berjalan mendekati Doni.


" Apa kau sengaja pagi-pagi datang kemari untuk menjenguk istriku?", tanya Rafa sambil menepuk bahu Doni.


" Hah, iya, eh tidak, maksudku aku mau menyampaikan hasil pertemuan dengan pihak hotel tentang pengunduran jadwal booking ballroom di hotel Dream night kemarin", ucap Doni mencoba mencari alasan yang tepat.


" Oh iya, bagaimana apa boleh jadwal mundur begitu lama? sampai 5 atau 6 bulan kedepan?", tanya tuan Johan yang juga mendekat pada Doni dan Rafa.


" Bagaimana kalau bapak-bapaknya ngobrol di depan saja, disini terlalu ramai, Lisa kan butuh oksigen yang banyak, kalau terlalu banyak orang dikamar, akan membuat kita berebut oksigen yang kita hirup", ujar Nyonya Meisi.


" Betul juga, mari silahkan duduk di depan saja, biar lebih nyaman", ajak Tuan Johan pada para tamunya.


Tuan Johan, Pak Farhan, Doni, dan Rafa keluar dari kamar dan mereka duduk di ruang tamu, samar-samar dari kamar terdengar suara gelak tawa mereka yang entah tengah membahas apa.


" Bu Soraya, maaf saya tinggal ke belakang sebentar, mau minta bi Ati buatkan kopi untuk bapak-bapak di depan", ujar Nyonya Meisi dan keluar dari kamar Lisa.


" Hei kau ini, seenaknya saja naik ke tempat tidur orang, nggak sopan kamu Tam", ucap Bu Soraya.


" Ini kan tempat tidur Lisa Bu, lagian cuma ada kita disini, kalau tadi ada yang lain juga Tami nggak berani naik kesini", jawab Tami membela diri .


" Kau ini seperti anak kecil saja, lihatlah tingkah temanmu ini Lis, dia sudah menjadi mahasiswa tapi tingkah lakunya masih sangat kekanak-kanakan, bagaiman mungkin akan ada pria yang tertarik padanya, sebentar lagi usianya 19 tahun, dan dia masih saja sendiri", ucap Bu Soraya merasa gemas pada putrinya.


" Ibu, kau ini bukannya memuji putrimu sendiri, malah kau mengatakan semua hal yang tidak baik tentangku", gerutu Tami.


Lisa menengahi perdebatan antara ibu dan anaknya, " keadaanku sudah lebih baik sekarang, Tam ", Lisa menjawab pertanyaan Tami.


Kemudian menatap Bu Soraya dan kembali berkata, " Tami itu gadis yang masih polos, bukan kekanak-kanakan bu, dia masih terlalu lugu untuk bertindak, tapi ada kok beberapa cowok di kampus yang coba mendekatinya, Lisa tahu itu, pernah ada teman kami sampai mengikuti kami ke parkiran demi bisa ngobrol sama Tami lebih lama, tapi Tami yang terlalu cuek pada mereka", ucap Lisa sedikit menceritakan tentang kehidupan di kampus.

__ADS_1


" Benarkah?, apa kau itu tidak tertarik pada lawan jenis Tam?, carilah laki-laki yang baik, biar ibu tenang di rumah, setidaknya jika kau sudah punya pacar, ibu tidak khawatir lagi kamu pergi dengan siapa dan kemana, dulu si ibu tenang karena Lisa yang selalu bersamamu, tapi sekarang Lisa harus selalu dirumah, siapa yang akan menemanimu lagi, ibu harap ada pria baik yang mau denganmu", ucap Bu Soraya.


Mereka bertiga pun terus ngobrol membahas bermacam-macam hal.


Dari luar kamar nyonya Meisi memanggil Tami untuk membantunya mengeluarkan minuman dan cemilan untuk bapak-bapak.


" Maaf ya jadi merepotkan, bi Ati dan bi Rumi sedang masak untuk makan siang nanti, mereka sangat sibuk, jadi Tami bantu bunda ya", ucap nyonya Meisi.


" Iya nggak papa , Tami juga nggak lagi ngapa-ngapain, aku keluar dulu ya Lis", ucap Tami. Lisa mengangguk mempersilahkan.


Bu Soraya juga keluar untuk membantu membawa nampan berisi pisang lumer, klappertaart, beberapa kue kering, dan emping melinjo.


" Waduh banyak sekali suguhannya, apa sedang lebaran?", ucap Pak Farhan bercanda.


" Lebaran masih lama Yah, puasa saja belum", ucap Bu Soraya.


" Masih lama lebarannya, lima bulan lagi, dan saat itu mungkin kami sudah jadi kakek dan nenek, benar kan Yah?", ucap nyonya Meisi meminta persetujuan suaminya. Tuan Johan pun mengangguk dan meng-amini ucapan istrinya.


Yang lain pun ikut meng-amini, termasuk Tami


" Aamiin, semoga saja Rafa junior yang lucu sudah lahir saat lebaran dan aku sudah menjadi Tante", Tami ikut saja berbicara.


" Tante yang rempong, hobi makan dan tidur, calon keponakanmu pasti malu mengakuimu sebagai tantenya", ucap Bu Soraya menggoda pada Tami.


" Ibu, tega banget bilang seperti itu di depan semua orang", Tami cemberut sambil merangkul pundak ibunya.


" Coba lihat kan tingkahmu itu masih seperti anak kecil, Lisa sudah mau punya anak sebentar lagi, sedangkan kau bahkan pacaran saja belum", ujar Bu Soraya pada putrinya.


" Tami kan mau fokus kuliah dulu, itu juga pesan ayah dan ibu, jadi kenapa sekarang ibu berubah pikiran?", tanya Tami penasaran.

__ADS_1


" Karena kau ini seorang gadis, saat kau menjadi orang tua kelak dan mempunyai anak gadis seumuranmu pasti hatimu tidak bisa tenang, apa lagi anak gadisnya tinggal jauh, tidak tinggal bersama", ucap Bu Soraya.


" Tami itu bisa jaga diri, ayah dan ibu tenang saja, kalian masih ingatkan kalau aku sudah berlatih karate dan tekuondo, dan sudah mempunyai sabuk hitam, jadi kalau ada orang yang akan macam-macam, Tami akan menghajarnya", ucap Tami sambil melirik ke arah Doni, Doni hanya terdiam sambil menelan salivanya.


__ADS_2