Jodohku

Jodohku
BAB 177


__ADS_3

Doni dan Tami mendekat ke arah pak Farhan dan duduk di sofa yang sama.


" Ayah mau membicarakan untuk acara pernikahan kalian tiga bulan lagi", ucap pak Farhan to the point.


" Ayah harap kalian bisa bersabar sebentar lagi, tiga bulan bukan waktu yang lama, kalian mengerti kan apa maksud ucapan ayah?", tanya Pak Farhan pada Doni dan Tami.


" Doni mengerti Yah, ayah tenang saja, Doni menyukai Tami sudah lama, dan selama itu juga Doni berusaha untuk menjaga nama baik keluarga", ucap Doni menjelaskan.


" Ayah juga pernah muda, jadi Ayah sangat paham dengan apa yang sedang kalian alami", Pak Farhan kembali menyesap teh manis hangat mikiknya.


" Ayah mau pernikahan kalian diadakan di desa dan secara sederhana, menggunakan pakaian adat seperti pengantin di desa kami pada umumnya, apa kalian setuju?", tanya Pak Farhan.


" Ayah tidak mau mengundang terlalu banyak orang, cukup keluarga dan teman yang masih berhubungan dekat saja, Ayah nggak mau acara akad kalian seperti pesta yang di hotel tadi, begitu banyak tamu undangan, justru menurut ayah itu menghambur-hamburkan anggaran", ucap pak Farhan kembali.


" Baiklah kalau itu mau ayah, Tami dan Kak Doni akan setuju, apa ayah sudah mencatat siapa saja yang akan ayah undang?, biar nanti sekalian Kak Doni yang urus undangannya", ucap Tami.


" Tidak perlu repot-repot, ayah punya teman yang punya percetakan, ayah bikin sendiri undangan untuk teman-teman ayah dan ibu. Lagian tidak terlalu banyak. Kamu dan Doni bikin undangan untuk teman-teman kalian saja", ucap pak Farhan.


" Ooh, kalau begitu baiklah, ayah dan ibu jadi bisa pilih sendiri mau seperti apa undangan pernikahan kami, karena untuk yang kami pesan itu modelnya sudah kami tentukan",ujar Tami.


Mereka bertiga terus mengobrol mendiskusikan untuk acara pernikahan Doni dan Tami yang akan di selenggarakan 3 bulan lagi.


***

__ADS_1


Rafa dan Lisa terus memperhatikan perkembangan putra mereka, dari bentuk badannya yang semakin montok dan kecerdasannya yang semakin meningkat.


Hari ini tepat tiga bulan usia Sultan, sudah dua kali juga Lisa membawanya ke rumah sakit untuk di beri vaksin dan ditimbang, Sultan yang tergolong bayi yang sehat dan montok memiliki berat badan 7,1 kg.


" Duh gemesh banget sama Dede Sultan, tiap kali datang kesini sudah tambah montok dan ganteng", ucap salah satu perawat yang membantu Bu dokter.


" Benar sekali, dede Sultan ini termasuk yang meningkat cepat, baik pertumbuhan fisik, maupun kecerdasannya, pasti nurunin dari gen papa atau mamanya", puji Bu dokter.


"Iya, mamanya pinter bisa dapetin papa Sultan yang ganteng, hihihi", tawa kedua perawat yang menggoda Lisa.


" Papanya Sultan juga pinter bisa dapetin mama Sultan yang sangat cantik", ucap Rafa saat mendengar percakapan para perawat, Bu dokter dan Lisa.


" Loh Papa lagi kerja kok ke sini?, kan Sultan sudah diantar sama Pak Jono, jadi nggak perlu di jemput", ucap Lisa yang kaget melihat suaminya selalu meluangkan waktu dan datang ke.rumah sakit tiap kali Sultan hendak di vaksin.


Selama dua bulan pertama Rafa selalu datang ke rumah sakit, dan menyuruh Pak Jono untuk pulang terlebih dulu, sedangkan dia yang mengantar Lisa sampai di rumah dan meliburkan diri seharian itu.


Kadang Lisa menyuruhnya kembali ke kantor, tapi Rafa selalu mengeluarkan kata-kata yang membuatnya tidak bisa menjawab.


" Kantor sendiri ya semau gue mau libur atau berangkat, memangnya siapa yang berani protes?", ucap Rafa saat Lisa merasa tidak enak dan menyuruhnya kembali ke kantor.


Akhirnya Lisa memilih diam dan menikmati kebersamaan mereka selama sehari full.


Beberapa hari yang lalu saat tengah bermain di ruang tengah di atas kasur yang di letakkan di lantai, Sultan yang sedang menggapai mainan tiba-tiba menggulingkan badannya, membuatnya berada pada posisi tengkurap.

__ADS_1


Dan tepat di usianya 3 bulan, Sultan sudah bisa tengkurap sendiri dengan enteng.


" Wah pinternya cucu nenek, sudah bisa tengkurap sendiri ya?, ayo mau nenek hadiahi apa karena sudah bisa tengkurap?, oh iya besok nenek belikan mainan yang baru ya, yang bisa bunyi dan menyala, biar Sultan suka", ucap Nyonya Meisi saat menghampiri Sultan dan Lisa yang tengah bermain-main di ruang tengah.


Padahal baru beberapa hari yang lalu Nyonya Meisi membelikan begitu banyak mainan untuk Sultan, bahkan ada mainan yang masih terbungkus rapi di kardus, Lisa belum sempat membukanya, tapi ini bunda bilang mau membelikan Sultan mainan lagi, tidak bisa dibayangkan jika dibiarkan terus, mungkin Lisa akan membuka toko mainan dan menjual mainan-mainan Sultan yang masih baru dan tidak sempat di bukanya.


Lisa kembali fokus pada Sultan setelah beberapa menit yang lalu pikirannya berjalan-jalan entah kemana.


" Bunda baru pulang?", tanya Lisa sambil sungkem, mencium tangan bunda.


" Iya, sudah nyempetin mandi dan sholat asar tadi, sana kalau kamu mau sholat dulu, biar Sultan sama bunda, mau bunda ajak jalan-jalan sore ke taman belakang", ucap Nyonya Meisi sambil menggendong tubuh gempal Sultan.


" Ya sudah Lisa mandi dan sholat dulu, titip Sultan ya Bun", ucap Lisa sambil berjalan ke dalam kamarnya.


Nyonya Meisi keluar dari pintu samping dan berjalan menuju gazebo yang ada di taman belakang.


" Cucu nenek sudah gede, sebentar lagi di tinggal mama kuliah, Sultan yang anteng ya sama bi Rumi di rumah", ucap nyonya Meisi mengajak ngobrol Sultan, dan Sultan terus memanyunkan bibirnya, seolah seperti tahu apa yang sedang di bicarakan neneknya, jika dia mau di sebentar lagi akan di tinggal mamanya untuk mulai kuliah.


Beberapa hari yang lalu memang Rafa dan Lisa sengaja menemui ayah dan bundanya untuk mendiskusikan tentang rencana Lisa yang akan melanjutkan kuliahnya, karena sudah mengambil cuti selama dua semester, Lisa takut jika terlalu lama di rumah, dia akan malas untuk berangkat kuliah kembali.


Setelah mengobrol bersama akhirnya di ambil keputusan jika, Lisa akan memulai kuliahnya di semester depan, Lisa yang harusnya tahu depan semester tiga, harus mengulang dari semester awal, tapi pihak universitas tidak mengharuskannya mengikuti ospek ulang, karena Lisa sudah mengikuti semua rangkaian acara penerimaan maha siswa baru tahun lalu. Lisa hanya perlu mengikuti dan masuk di kelas yang mata kuliahnya tertinggal.


Lisa sangat berterima kasih karena, ayah, bunda dan Rafa mendukung keinginannya, mungkin akan sedikit berbeda dan melelahkan, karena kini status Lisa sudah menjadi ibu muda yang memiliki bayi kecil, tapi bukan Lisa namanya kalau dia menyerah hanya karena hal sepele seperti itu.

__ADS_1


Jiwa pejuang yang sudah melekat dan mendarah daging pada diri Lisa, membuatnya selalu semangat melanjutkan perjuangannya untuk menggapai cita-citanya.


__ADS_2