Jodohku

Jodohku
Episode 7


__ADS_3

Aku terbangun dari tidurku karena suara merdu Khansa yang membaca alquran. Sepagi ini dia sudah bangun dan duduk di atas sajadah dengan berbalut mukena pink. Jujur, aku masih ngantuk sekali. Lelah dengan acara kemarin yang seharian. Menjadi raja yang tak kuinginkan.


"Mas nggak sholat, bangunlah sudah adzan subuh, " pinta Khansa padaku.


"Yuk kita sholat berjamaah," lanjutnya lagi.


"Sholatlah sendiri, aku masih ngantuk," jawabku sambil menarik selimut kembali. Dan akhirnya aku terlelap kembali dalam buaian mimpi.


*****


"Pagi mi, pi... " sapaku pada kedua orang tuaku yang lagi menikmati sarapan. Kulihat Khansa sedang membantu bik Iyem memasak.


"Pagi pengantin baru," jawab mami.


"Tumben siang bener bangunnya," ucap mami.


"Capek banget mi, " jawabku.


"Asyik pi, sebentar lagi kita akan dapat cucu," ucap mami sambil tersenyum


"Iya mi," jawab papi ikut tersenyum. Aku hanya tersenyum kecut. Bagaimana akan ada seorang baby sementara aku tak menyentuhnya. Kuambil roti, ku oles dengan selai stroberi. Perlahan aku mengunyahnya.


"Mau honeymoon kemana Arkan?" ucap papi yang membuat aku hampir tersedak. Aku bahkan tak pernah memikirkan untuk bepergian.


"Bagaimana kalau ke Bali? Gimana Khansa? Apa kamu setuju?" tanya mami. Kami yang baru menikah kenapa mami yang bersemangat, gerutuku.


"Terserah mas Arkan saja mi, " jawab Khansa


"Nggak usah mi, nanti sore kita pergi saja ke villa kita yang di puncak," jawabku. Sengaja aku pilih villa keluarga karena aku malas untuk bepergian jauh.


"Kok ke villa, bukannya kamu sudah sering kesana, emang nggak bosan?" tanya mami


"Iya memang aku sudah sering kesana, tapi kan Khansa belum pernah," jawabku sambil melirik Khansa.


"Ya udah, terserah kamu sajalah. Yang penting mami segera dapat cucu, " ucap mami sambil tersenyum.


"Bukankah sudah ada Zea dan Zio," ucapku


"Zea dan Zio ada di Australia, sedangkan disini sepi," jawab mami sedih. Aku hanya bisa menghela nafas. Mungkinkah itu akan terwujud. Rasanya sulit sekali.

__ADS_1


*****


"Apakah barang-barangnya sudah siap," tanyaku pada Khansa


"Sudah mas," jawab Khansa.


Aku segera turun dengan tas bawaan di tanganku. Dibelakangku ada Khansa yang mengenakan jilbab birunya. Dia tampak cantik. Cantik natural tanpa make up. Berbeda sekali dengan Maria yang kini sudah jadi kakak iparku. Maria selalu ber make up. Bajunya juga seksi.


"Kami berangkat dulu ya mi,pi" pamit ku pada kedua orang tuaku sambi kucium punggung tangan mereka. Kulihat Khansapun melakukan hal yang sama.


"Hati-hati ya nak," ucap mami sambil memelukku dan Khansa. Aku segera melangkah menuju mobil. Kubukakan pintu untuk Khansa, biar terlihat romantis dihadapan mami walaupun hatiku belum bisa menerima Khansa sebagai istriku.


Mobil Pajero hitamku melaju membelah kemacetan kota Jakarta menuju ke puncak. Kami hanya terdiam. Bingung mau bicara apa. Rasanya begitu canggung duduk di samping seorang wanita walaupun secara agama dan negara dia sudah sah bergelar seorang istri.


"Masih lamakah kita sampai mas?" ucap Khansa tiba-tiba yang memecah kesunyian diantara kami.


"Paling 1 jam lagi," ucapku.


"Kamu kenapa seperti itu, dari tadi goyang-goyang kaya cacing kepanasan," lanjutku.


"Kebelet pipis mas," jawab Khansa.


"Aih, merepotkan saja. Mana sekarang lagi di jalan tol," ucapku


"Ini juga udah ngebut, awas kalau ngompol," sewot ku. Akhirnya ketemu juga rest area. Segera kubelokkan mobil untuk masuk ke dalam. Khansa segera turun dan berlari ke toilet. Ah, benar-benar ini perempuan. Masih bocah banget.


*****


Mobil kami segera melaju dijalanan. 30 menit kemudian kami sampai di villa. Segera ku turunkan barang-barang bawaan kami. Kulihat bik Mimin datang membantu membawa barang-barang bawaan kami.


"Gimana kabarnya mas Arkan, lama tak jumpa, mas tambah ganteng aja," ucap bik Mimin sambil ngegombal.


"Bik Mimin bisa aja," jawabku


"Itu biniknya mas, cantik juga. Nggak nyangka mas Arkan yang begajulan dapat istri solehah," ucap bik Mimin lagi. Sementara Khansa hanya tersenyum mendengarkan ucapan bik Mimin.


"Ayuk masuk mas, mbak.., kamarnya sudah bibi bersihkan," ucap bik Mimin lagi.


"Tolong bersihkan kamar sebelah juga ya bik," pintaku pada bi Mimin.

__ADS_1


"Lho mas, ngapain dibersihin juga. Kan nggak dipakai kamarnya. Hemat tenaga bibi."


"Buat Arkan tidur bik," ucapku.


"Kok nggak sekamar sama biniknya mas?" tanyanya lagi kaya wartawan.


"Lagi tanggal merah bik, takut khilaf," ucapku berbohong.


"Oh, begitu." Sementara Khansa hanya terdiam. Mungkin dia kelelahan setelah perjalanan jauh.


*****


Malam menjelang. Kunikmati malam sambil menatap bintang. Dari kejauhan tampak lampu-lampu bertebaran memenuhi bukit. Angin malampun terasa menusuk kulitku. Tiba-tiba Khansa datang dan duduk di sampingmu.


"Indah sekali ya mas," ucapnya.


"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan dalam silih bergantinya siang dan malam, terdapat tanda-tanda bagi orang-orang berakal, " lanjutnya.


"Puitis sekali," ucapku.


"Bukan mas, itu hanya petikan surat cinta," ucap Khansa.


"Surat cinta? kamu punya pacar? Zaman modern begini masih pakai surat cinta," ledek ku.


"Bukan mas, itu surat cinta dari Allah. Al-quran, " jawabnya. Aku hanya terdiam. Aku segera masuk kedalam. Ternyata gadis kecil yang sudah bergelar istriku itu begitu unik. Aku duduk di sofa sambil menyalakan televisi. Oh, ternyata ada acara bola kesukaanku.


"Gol, " teriakku girang. Dan lagi-lagi gadis kecil itu tiba-tiba duduk disampingku dengan baju tidur tipis berwarna pink. Rambutnya yang bergelombang tergerai.


"Mau apa kamu? Apa kamu mau menggodaku?" tanyaku merasa terganggu. Ya, acara nonton bolaku jadi ambyar.


"Apakah aku salah kalau mau menggodamu?Bukankah aku istrimu? Bukankah seorang suami itu wajib memberikan nafkah lahir dan batin untuk istrinya," ucap Khansa. Entah kenapa perempuan kecil ini tiba-tiba menjadi cerewet sekali.


"Aku akan memberimu nafkah lahir, tapi untuk nafkah batin, aku tak bisa," ucapku.


"Tapi kenapa mas? Apakah kamu nggak normal?" tanyanya lagi


"Aku normal, tapi maaf aku nggak bisa. Pergilah ke kamarmu. Jangan lupa dikunci. Aku tak ingin terjadi apa-apa denganmu, " ucapku lagi.


"Apakah itu semua karena Maria mas?" tanyanya dengan marah.

__ADS_1


"Pergilah! " perintahku. Aku segera berlalu meninggalkannya duduk terdiam sendirian.


"Maafkan aku Khansa, " gumamku sambil masuk kamar dan merebahkan badan ini di atas kasur.


__ADS_2