
Suara ketokan di pintu membuyarkan tatapan Mandala dari layar handphonenya.
"Kenapa Ega tidak lagi membalasnya"
Ketokan di pintu kembali terdengar.
"Masuk!"
Terlihat seorang prajurit masuk memberi hormat pada Mandala dan melaporkan sesuatu.
"Semua sudah siap Pak!"
"Saya akan kesana"
"SIAP"
Prajurit itu keluar dari ruang kerja Mandala. Mandala pun kembali memandangi foto di layar handphonenya sebelum menon aktifkan dan beranjak kelapangan pacu tempat awan-awan muda berlatih.
Asyik memberi komando dan perintah yang harus dilaksanakan calon penerbang baru. Seseorang menepuk punggung Mandala.
"Kapten"
Mandala menoleh kearah suara yang menepuk punggungnya.
"Apa kau tidak tahu kalo aku sudah menjadi Mayor?"
"Bagi kami, kau tetap Kapten Penerbang di angkatan kita"
Mereka berdua tertawa dan saling berpelukan.
"Ada apa mencariku?"
"Ada dua hal. pertama ada pesan rahasia yang masuk untukmu. Setelah istirahat kau diminta untuk melihatnya"
"Yang kedua?"
"Ibu-ibu dharma wanita ingin bertemu denganmu"
"Untuk apa? apa mereka ingin aku ikut kegiatan mereka?"
"Bukan kau lah. Tapi istrimu. Mereka mungkin bertanya tentang istrimu"
"Istriku? Ega?"
"Memang kau punya istri lain?"
Mandala tersenyum sambil berpikir. Mandala memang belum melaporkan pada pimpinan bahwa dia dan Ega sudah bercerai. Karenanya belum ada yang mengetahui tentang itu.
"Dimana ibu-ibu itu?"
"Ada di kantor. Mereka menunggumu"
"Baik, lima belas menit lagi"
"Okey, aku akan memberitahu mereka"
----------------
Mandala menemui para ibu-ibu dharma wanita.
"Pak, kami mau minta ijin untuk menghubungi ibu"
"Mau ada acara?"
"Iya pak, ibu dokter masuk kedalam sepuluh istri prajurit yang berprestasi tahun ini. Akan ada acara dalam rangka ultah Angkatan Udara nanti. Kami ingin mengundang ibu untuk hadir"
"Tapi sekarang, Istri saya bertugas di kalimantan"
"Kami sudah tahu pak, karena itu kami minta ijin bapak"
"Kalian hubungi saja. Saya mengijinkan. Saya tergantung ijin dari istri saya saja."
"Baik pak, kami nanti akan menghubungi istri bapak. terima kasih pak"
Para ibu-ibu itu pun pamit dan berlalu dari hadapan Mandala. Seiring kepergian mereka Mandala berpikir, jika Ega mau hadir, ini kesempatannya untuk bertemu Ega. Dan berharap keinginannya itu terwujud.
---------------
Sudah waktunya pulang. Aku membereskan barang-barangku dan bersiap untuk pulang ketika seorang perwira polisi mengetok pintu ruang kerjaku dan dokter Syarif.
"Sore dokter"
"Sore Pak, ada yang bisa saya bantu?"
"Dokter Syarif ada?"
"Maaf Pak, dokter Syarif sudah pulang lebih dulu"
Polisi itu tampak melihatku yang bersiap untuk pulang.
"Apa dokter masih ada waktu sebentar?"
"Oh silahkan pak. Silahkan duduk"
Aku kembali duduk di belakang meja kerjaku dan perwira polisi itu duduk di depanku.
"Dokter baru?"
__ADS_1
"Saya baru pindah dari ibu kota pak, persiapan untuk dokter Syarif yang akan pensiun".
Tak lama handphoneku berdering. Aku melihat sekilas ke handphoneku.
"Silahkan bu dokter angkat dulu"
"Maaf pak, sebentar yaa. Ini dari bos dharma wanita saya"
Polisi tersebut mengangguk. Aku pun menerima panggilan di handphoneku.
"Selamat sore bu... Baik bu... Iya, saya pindah ke kalimantan. - Menemani ibu saya yang sudah tua. - - - Kapten masih di akademi bu. - Iya bu, berpisah sementara ---- Ulang tahun angkatan kita bu? Saya?? kapan bu acara?? kalo sabtu atau minggu saya masih bisa ijin bu ---- Baiklah, saya akan menghubungi beliau nanti... baik bu, saya usahakan untuk datang... Terima kasih bu.. selamat sore"
Aku menarik nafas panjang. Rupanya Mandala belum memberitahu orang-orang di asrama ataupun di angkatan jika kami sudah bercerai.
"Bu dokter, suaminya juga angkatan? seorang Kapten?"
Perwira polisi yang berada di depanku bertanya langsung. Rupanya sebagai polisi dia mendengar ucapanku tadi dan menyimpulkannya. Sikapnya padaku pun sedikit lebih hormat. Tidak santai seperti awal ketika datang. Dari pangkatnya kulihat memang lebih tinggi pangkat Mandala.
Aku tersenyum sebelum menjawab pertanyaannya.
"Iya, Mayor di Angkatan Udara. Dulunya Kapten penerbang. Sudah terbiasa memanggil Kapten. Jadinya Kapten terus"
"Wah hebat, suami penerbang istrinya dokter. Jadi sekarang LDR an bu dokter?"
Aku hanya tersenyum.
"Jadi, apa yang ingin bapak bicarakan dengan saya?"
Polisi itu melihatku. Mengerti bahwa aku tidak ingin membicarakan tentang rumah tanggaku.
"Apa hasil DNA sudah keluar?"
"Mungkin beberapa hari lagi pak"
"Tulisan tangan tidak ada yang cocok satupun bu, yang wanita maupun pria. Tidak ada CCTV di sekitar TKP. Apa kemarin bu dokter ada menemukan sesuatu yang janggal?"
Aku terdiam sesaat.
"Bisa bapak meminta sampel rambut semua anggota keluarga terdekat mereka berdua? juga teman-teman dekat mereka?"
"Apa bu dokter ada menemukan sesuatu?"
"Iya, ada rambut di rok si wanita dan di tangannya. Saya sudah menyimpannya. Tinggal mencari sampel pembanding itu rambut siapa".
"Baiklah bu dokter, terima kasih informasinya."
"Pak, cari tahu juga. Siapa di antara mereka semua yang sudah tahu bahwa si wanitanya hamil"
Polisi itu kembali mengangguk.
Polisi itu pun berdiri dan berniat untuk pergi.
"Kita keluar sama-sama pak, saya juga akan pulang"
"Baik, mari bu dokter"
Kami berbincang-bincang sampai menuju parkiran. Kami pun kemudian saling berpamitan dan menuju ke mobil masing-masing.
"Sebentar bu dokter"
Polisi itu membuatku menghentikan langkahku.
"Apa bu dokter putri mendiang gubernur?"
Aku tersenyum dan mengangguk.
"Pantas saya tidak asing dengan wajah bu dokter. Kita pernah ketemu dulunya. Salam buat ibu ya bu dokter"
Aku kembali mengangguk.
"Terima kasih, akan saya sampaikan nanti"
Kami pun menuju mobil dan pulang ketujuan masing-masing.
--------------
Karena kedatangan polisi tadi sore ke rumah sakit, aku tidak sempat mengecek chat yang masuk. Entah kenapa aku terus mengharapkan Mandala mengirimiku chat setiap hari.
Mandala? jika aku hadir di acara dharma wanita Angkatan Udara berarti aku nanti akan bertemu Mandala. Kenapa aku tidak memikirkan itu ketika menyanggupi untuk hadir tadi. Aku menepuk jidatku.
"Astaga!! dimana pikiranmu Ega"
Tapi biarlah, toh aku juga memang merindukan Mandala. Mungkin ketika bertemu nanti akan mengurangi sedikit rasa rinduku.
Aku pun memeluk guling dengan erat, seolah olah memeluk Mandala. Dan akhirnya aku terbang ke alam mimpi.
--------------
"Bang "
Melky memanggil Mandala ketika Mandala baru melangkahkan kaki di ruang tamu.
"Bagaimana Ama?"
"Seperti biasa bang. Abang yang bagaimana?"
"Aku? kenapa?"
__ADS_1
"Abang berubah sejak kakak ipar pergi"
"Kamu sudah tahu kan?"
Mandala berniat untuk naik keatas.
"Bang, aku dengar ibu akan mencarikan abang istri lagi"
Mandala menoleh kembali ke arah Melky.
"Jangan coba-coba melakukan hal yang tidak aku suka. Kali ini aku tidak akan diam. Aku lelah ky, aku ingin tidur. Aku sudah makan, tidak usah memanggilku nanti makan".
Mandala pun beranjak pergi menuju lantai tiga. Masuk kedalam kamar yang luas namun sepi.
Membaringkan tubuhnya di atas kasur. Kemudian kembali bangun dan menuju ruang kerjanya.
Mengambil handphone yang lainnya dan kembali menuliskan kata-kata.
"Semoga kali ini Ega membalas pesan dariku"
-----------------------
Subuh yang gerimis. Aku sudah selesai melaksanakan kewajibanku sebagai seorang muslim. Berniat untuk berbaring kembali sebelum berangkat kerja. Aku memainkan handphoneku yang tadi malam tidak sempat ku cek karena aku keburu tidur.
Mataku tertuju tajam pada layar handphone ketika kulihat lagi-lagi Mandala mengirimiku sebuah pesan.
Kidung sunyi mengalun.
Dendangkan nyanyian anak pipit.
Suara-suara yang berlari, berkejaran.
Lagukan tidurku.
Denting gitar yang mengalun temani sepiku.
Mencarimu...
Oh damai.. datanglah... Tutupi lukaku..
Oh damai... datanglah untukku.
Yang lelah dalam ruang.. dalam waktu..
Sampai lagu untukmu ku dendangkan.
Aku kembali mengulang kata-kata itu. Apa Mandala begitu puitisnya ketika berpisah denganku? Apa ini bukan Mandala yang membuatnya?
Aku mencoba untuk merangkai kata-kata juga.
Mengetik pada keypad handphoneku.
**After love has gone.
You comeback to me.
Never you say goodbye.
If you know
My heart is very white
Never change, dear**!!
Aku pun menekan tombol kirim. Meletakkan handphone begitu saja sambil memejamkan mataku mencoba untuk tidak berpikir macam-macam.
Ting.. notifikasi kembali masuk.
Sepagi ini Mandala pun sudah bangun dan langsung membalas chatku. Atau Mandala memang belum tidur??
Maaf... Maaf... Maaf...
Maaf telah menyakitimu.
Maaf membuatmu berpikir untuk melupakanku.
Maaf membuatku menjadi laki-laki tak berguna di hadapanmu.
Itu chat balasan dari Mandala.
Aarrgghhh apa yang harus ku balas.
Aku memaafkanmu??
Aku tidak melupakanmu??
Ah Mandala, kau mengacaukan pagi hariku.
Aku pun beranjak bangun dan menuju kamar mandi.
Aku harus cepat beraktifitas dan melupakan handphoneku sebelum pagiku menjadi hilang kendali.
-----------
Jangan lupa votenya yaa
LOVE YOU 😘😘😘
__ADS_1