
Hari demi hari terlewati.
Bulan ke bulan terlampaui.
Tahun demi tahun pun berganti.
Hubunganku dan Mandala masih sama.
Di tahun ke lima pernikahan kami, Mandala tetap sama seperti di awal pernikahan.
Tetap memegang tanganku di saat kami berjalan.
Masih mengatakan "Aku merindukanmu" setiap kali pergi bertugas kedaerah bencana.
Selalu menulis "LOVE YOU" di akhir chating kami.
Yang berubah adalah..
Melky dan Tiara sudah memiliki dua orang putri.
Kondisi tubuh Ama sudah tidak memungkinkan lagi untuk pergi jauh dari tempat tidur.
Sahabatku Ayu sudah memiliki dua orang anak putra dan putri.
Sahabatku Ari sudah menikah dan memiliki satu orang putra.
Sarah sudah pergi meninggalkan kami semua menyusul suami dan anaknya.
Dan kenyataan lima tahun ini yang tidak berubah sama sekali adalah bahwa aku belum memberikan Mandala satu pun keturunan.
Aku mulai gelisah, biarpun Mandala tetap tidak mempermasalahkan itu, tapi aku tetap gelisah.
Umurku juga sudah tidak muda lagi jika aku terus berdiam diri.
"Yang.." Aku memanggil Mandala yang sedang memperbaiki sepeda di teras asrama.
"hmmm bentar, masih perbaiki sepeda. Minggu pagi mau Gowes".
Sekarang Mandala mengikuti club sepeda dan aktif bersepeda seminggu sekali.
"Kemana? boleh ikut gak?"
"Ini ke bukit sayang, nanti kamu capek. Medan nya agak sulit ini".
"Kalo Medan sulit, yaa ke Padang aja".
"Hmmmmm..ketawa nya kutunda nanti malam ya"
"Kapteeeeennnnn"
Akhirnya Mandala ketawa bukan karena candaanku, tapi karena aku ngambek dan masuk kedalam rumah dengan menghentakkan kakiku.
Menjelang Maghrib baru Mandala masuk rumah.
Aku masih memasang wajah anti bicara.
Mandala menuju kamar mandi sambil melewatiku dan mengacak ngacak rambutku.
Di saat makan malam pun aku masih melakukan aksi diam pada Mandala, walaupun Mandala selalu mencoba menggangguku.
"Sayang.. masih marah?"
Mandala memelukku yang duduk menonton televisi.
Aku masih dengan aksi diam.
"Apa yang ingin kamu bicarakan tadi? katakan sekarang".
__ADS_1
"Kapten, aku mencari seorang ibu pengganti".
Aku berkata dengan pelan, takut Mandala marah.
"Ibu pengganti??"
"Kamu sudah tahu apa kata dokter Yasmine kan? Kandunganku lemah, rahimku tidak dapat mengandung seorang anak. Aku akan mencari seorang wanita yang bersedia mengandung anak untuk kita".
"Bagaimana caranya wanita itu mengandung anakku?"
"dokter Yasmine bilang bisa memasukannya melalui suntikan, atau kamu ingin cara normal?"
"Cara Normal? aku tidak mengerti". Mandala memandangiku. Matanya terlihat marah. Aku sedikit takut memandang matanya.
"Dengan melakukan hubungan suami istri." Aku berkata dengan suara lirih.
"Kamu menyuruhku berzina?"
"Kamu bisa menikahinya. Aku bisa memberikanmu ijin".
"Lalu apa yang terjadi selanjutnya?"
"Kita akan memiliki anak. Anak kandungmu sendiri".
"Yakin bahwa dia akan memberikan anaknya padamu? yakin bahwa dia akan melepaskanku, sedangkan dia memiliki anak yang bisa mengikatku dengannya. Kamu yakin ada wanita seperti itu?"
Aku terdiam, menundukkan wajahku.
"Aku sudah tidak muda lagi, aku tidak bisa berdiam diri. Bagaimana jika aku selamanya tidak bisa memberikanmu anak?"
"Kita akan hidup berdua".
"Kapteeeennnn.."
"Cukup.. aku bukan Kapten lagi, pangkatku sudah naik. Aku tidak ingin mendengar hal konyol seperti ini lagi darimu. Tidak ada ibu, wanita atau istri pengganti apa pun itu. Kamu mengerti?"
Itu yang di lakukan Mandala jika aku mulai menyinggung masalah anak dengannya.
Kapten, aku tahu ini tidak mudah bagi kita.
Tapi Kapten, aku melihat semuanya.
Bagaimana Mama ketika datang kemarin dengan bahagia menggendong anaknya Melky.
Dan aku mendengar kata kata yang di ucapkan Mama padamu waktu itu.
"Dala, Mama tahu kamu menyayangi Istrimu. Mama pun menyayanginya. Tapi Dala, kamu satu satunya anak laki laki di keluarga kita. Pamanmu tidak memiliki anak. Kamu lah penerus kami. Jika kamu tidak memiliki anak, bagaimana selanjutnya semua usaha ini".
Aku memegang erat ujung bajuku. Menahan tangis ketika mendengar percakapan Mama dan Mandala.
"Mama, anak Kakak Dali juga bisa menjadi penerus, Mama tidak usah khawatir. Rezeki itu ada yang mengatur, termasuk rezeki anak".
"Kenapa kamu tidak ingin menikah lagi? kamu bisa menikah di Turki. Kita bisa menyembunyikannya dari Ega".
"Tidak, Mama salah. Dala bisa menikah di mana pun jika Dala menginginkannya. Tapi Dala memang tidak ingin menikah. Istri Dala adalah Ega, sampai takdir yang memisahkan kami. Dala tidak akan mengkhianati Ega".
"Kalo takdir membuat kalian berpisah?".
"Berarti jodoh Dala dan Ega memang berakhir. Tapi tidak dengan pengkhianatan".
"Dala, kenapa kamu begitu mencintai Ega?"
"Karena Ega istri Dala Mom. Dala berjanji menikahinya, menjaganya, dan Dala juga mencintainya melebihi cinta Dala pada diri sendiri. Dala tidak bisa menyakiti Ega,karena itu sama saja menyakiti diri Dala sendiri".
Mama memeluk Mandala.
"Mama akan berdoa semoga Alloh cepat memberikan kalian anak. Cinta kalian belum lengkap tanpa adanya anak. Maafkan Mama Dala".
__ADS_1
Mandala tersenyum.
"Mama kembali salah, Cinta kami lengkap walaupun tanpa anak".
Semua percakapan itu terus menghantui pikiranku.
Sekarang Mandala masih bisa bertahan, tapi tidak dengan satu atau dua tahun kedepan. Mandala pasti akan kembali mendapat desakan dari keluarganya.
Dalam satu tahun ini aku terus berkonsultasi pada dokter Yasmine. Dokter spesialis kandungan.
Dokter Yasmine sudah banyak menangani pasangan pasangan yang belum memiliki anak. Sudah banyak pasangan yang berhasil melakukan operasi bayi tabung pada dokter Yasmine.
Kenapa aku tidak melakukan operasi bayi tabung juga? Aku dan Mandala tidak ada masalah dalam hal menujunya ****** ke sel telur. Yang menjadi masalah adalah rahim atau kandunganku yang lemah, Rahimku tidak bisa menampung bayi di dalamnya. Jika aku hamil, dengan mudahnya aku akan keguguran.
Hal ini lah yang akan terus di pelajari oleh dokter Yasmine.
Setelah perbincanganku malam ini dengan Mandala. Aku pun terus berpikir, sampai aku tertidur di dalam pikiran pikiranku.
Entah jam berapa Mandala pulang, Aku hanya merasa ada yang memelukku dan kemudian suara nafas yang tenang.
Itulah Mandala, semarah apa pun dia padaku, tapi tetap memelukku di saat tidur. Dan melupakan semuanya di keesokan paginya, sama seperti dengan pagi ini.
"Sayang, aku sudah beli nasi pecel depan Asrama, cepat pake baju dan sarapan".
Itulah pemandangan yang kulihat ketika aku keluar dari kamar mandi. Mandala menyusun piring untuk kami sarapan, memanggilku dengan senyumannya.
Aku pun duduk di meja makan berhadapan dengan Mandala.
"Ngantri gak?".
Aku berusaha bersikap senormal mungkin.
"Lumayan, tapi siapa yang berani antri jika aku sudah datang. Para prajurit itu langsung menyingkir".
"Sombong, menggunakan pangkatnya".
Mandala tertawa.
"Itulah di dalam militer, pangkat tinggi akan selalu di segani. Aku berangkat lebih pagi hari ini".
"Ada kegiatan?"
"Persiapan upacara, kami harus berlatih".
"Setiap tahun, masih harus berlatih juga?"
"Tahun ini ada perbedaan formasi, ada beberapa penerbang muda yang ikut".
"Jadi sadar nih sudah jadi penerbang tua?"
"Eh bukan, penerbang junior".
Aku mentertawakan Mandala yang tidak terima ku sebut tua.
Itulah Mandala, dengan mudahnya melupakan semua obrolan yang membuatnya marah tadi malam, dan kembali bercanda denganku.
Mandala memang benar, cinta kami lengkap walaupun tanpa anak.
Tapi aku tidak sempurna tanpa anak Kapteeennn....
------‐--‐-------
Maaf yaa, tidak bisa sering sering up.
Tapi di usahakan untuk tetap Up..
Jangan lupa Votenya..
__ADS_1
LOVE YOU