
Dua bulan yang terpisah hampir usai.
Dalam beberapa hari lagi Mandala akan kembali.
Waktu benar-benar terlewati dengan cepat ketika aku sibuk mengurus rumah dan kedua anak Melky.
Tapi tidak dengan Melky. Kesadaran Tiara yang belum juga terlihat setelah satu bulan lebih ini, membuat Melky menjadi sedikit kacau.
Wajahnya penuh dengan jenggot.
Berat badannya menurun bahkan lingkar matanya terlihat hitam dan sayu.
Aku beberapa kali mengingatkan Melky untuk merawat dirinya.
Aku mengerti posisi Melky saat ini, di saat dia harus mengurus istrinya, di saat itu juga dia harus mengurus perusahaan.
Aku berharap dengan kepulangan Mandala nanti, bisa mengurangi beban yang ada di pundak Melky.
Keluarga Tiara sudah pulang kembali kekampung halaman. Menyisakan ibu Tiara yang setiap siang menjaga anaknya di Rumah sakit.
Melky masih menempatkan ibu Tiara di guest house dekat rumah sakit dengan alasan transportasi.
Dan setiap melihatku, wajahnya selalu menunjukan kebencian.
Bahkan pernah berkata bahwa aku akan mengambil anak-anak Tiara jika terjadi sesuatu pada Tiara.
Bu..Bu... mereka masih memiliki daddy nya, untuk apa aku mengambil mereka.
Yang pasti aku akan membantu untuk menjaga dan merawat mereka.
"Assalamualaikum"
Aku menerima telpon dari Mandala.
"Waalaikumsalam, ngapain sayang?"
"Terima telpon".
"Sebelumnya lah sayang".
"Lagi siapkan tempat tidur, mau tidurkan anak-anak".
"Bagaimana Tiara?"
"Belum ada kemajuan. Dokter malah berkata bahwa fungsi ginjalnya mulai menurun".
"Bagaimana Melky?"
"Kacau, seperti mayat hidup".
"Apa perlu membawa Tiara ke luar negeri?"
"Melky pernah menanyakan hal itu pada dokter, resikonya sangat berat. Kita hanya menunggu keajaiban".
"Seperti istriku yang menunggu keajaiban selama lima tahun ini?"
"Suamiku pulang dulu, baru keajaiban itu bisa terjadi. Apa aku bisa hamil dengan sendirinya?".
"Sebentar lagi suamimu akan pulang, kami juga sudah mulai berkemas. Paling cepat dalam tiga hari ini".
"Syukurlah, aku tidak akan melakukan hal aneh lagi lewat video call denganmu"
Mandala tertawa.
"Aku di tempat latihan, jika aku di Asrama aku pasti akan melakukan panggilan video".
"Simpan saja, biar berkualitas hasilnya nanti".
"Hasilku selalu berkualitas"
"Iya, rahimku yang tidak berkualitas".
"Sayang.... maaf, aku tidak bermaksud seperti itu".
__ADS_1
"Aku mengerti, semoga dalam dua bulan ini, rahimku menjadi lebih baik dan kita bisa menerima hasilnya".
"Amin ya robbal alamin, kita juga akan mengunjungi Bunda Arin nantinya. Aku akan menemanimu melakukan program dari Bunda Arin".
"Sayang, aku harus menidurkan anak-anak".
"Baiklah, aku akan menelponmu lagi nanti setelah selesai latihan".
"Itu sudah terlalu malam. Aku pasti sudah tidur".
"Aku akan menelpon terus sampai kamu menerimanya".
"Kapteeeennnnn....".
"Baiklah sayangku, istriku yang cantik, aku tutup dulu telponnya. Berikan ciuman dariku buat mereka berdua".
"Tidak ada ciuman untukku?".
"Ciuman untukmu ku simpan sampai aku kembali nanti. Assalamualaikum".
"Waalaikumsalam".
Aku meletakkan handphone. Memanggil Putri dan Utami untuk segera tidur.
Seperti sudah terbiasa dalam sebulan ini, Putri langsung duduk di atas tempat tidur dan mulai melafazkan surah surah pendek tanpa kuperintahkan lagi.
Aku tersenyum bahagia melihat perkembangan Putri. Anak ini cerdas seperti Melky. Wajahnya pun mirip sekali dengan Melky. Berbeda dengan adiknya, Utami cenderung memiliki wajah dan sifat seperti ibunya.
Putri pun tidak pernah bermanja manja padaku. Dia terlihat lebih dewasa sebelum waktunya.
Aku pun terkadang sedih melihatnya.
Anak sekecil ini sudah mengerti akan kondisi dan keadaan yang menimpa mommy dan kesulitan daddy nya untuk menjaga mereka.
"Ade, daddy jaga mommy di lumah sakit. Ade jangan celewet ya".
Kata-kata itu selalu dikatakan Putri jika Utami mulai rewel mencari daddynya.
Sayang, semoga kalian berdua terus saling menjaga dan saling menyayangi.
--------------------
Aku mengajak Putri dan Utami untuk menjemput Mandala di Pangkalan.
Mereka berdua terutama Putri terlihat sangat antusias mendengar Ayah mereka akan pulang.
Dan ketika bayangan Mandala terlihat dari balik kaca ruang tunggu, Putri langsung berteriak.
"Ayah.. ayah.. di sini".
Putri melambai lambaikan tangannya agar Mandala bisa melihat ke arah kami.
Aku hanya tersenyum geli.
"Sayang, ayahnya gak dengar. Putri tunggu saja, sebentar lagi ayah juga akan keluar".
Putri cemberut, merasa kecewa karena mandala tidak mendengar panggilannya.
Setelah menunggu sekian lama lagi, Mandala pun akhirnya keluar menemui kami.
Mandala langsung menurunkan tas ranselnya dan memeluk Putri.
Utami yang berada di gendonganku pun minta di peluk Mandala.
"Anak ayah sudah besar semua. Sudah ndak kuat lagi Ayah gendong".
Putri memeluk Mandala erat di dalam gendongan Mandala.
Orang-orang dipangkalan melihat kami, pemandangan ini seperti seorang istri yang menunggu suaminya bersama dua orang anak perempuannya. Terlihat bahagianya sang anak ketika Ayahnya pulang. Padahal kenyataan yang ada tidak seperti yang terlihat.
Sebagian pandangan orang-orang pun seperti kasian pada Mandala. Karena sebagian itu tau bahwa aku belum bisa memberikan Mandala anak.
Mandala seperti mengerti isi hatiku..
__ADS_1
Dengan masih adanya Putri di dalam gendongan Mandala, dan Utami di dalam gendonganku. Mandala mencium keningku.
"Jangan perdulikan orang lain, yang penting kita bahagia".
Aku hanya mengangguk dan tersenyum kecil.
"Ayo kita pulang, Ayah mau beli es cream yang besaaaarrr".
"Horeeee... es creaaam".
Putri berteriak bahagia yang diikuti oleh Utami.
Kami pun meninggalkan pangkalan TNI AU.
Mandala memintaku untuk membawa mobil, sedang dia asyik bermain dan bercerita dengan Putri.
Aku tersenyum melihat kebahagiaan Putri, walaupun hatiku getir. Seandainya anak kami yang sekarang bercanda di kursi belakang itu bersama ayahya.
"Kita langsung pulang atau mau mampir?"
"Mampirlah ke swalayan, aku ingin membelikan mereka apa yang mau mereka beli".
Aku hanya mengangguk.
Entah kenapa hari ini aku seharusnya bahagia atas kepulangan Mandala. Tapi dari tadi hatiku sangat nyeri. Aku mencoba untuk tersenyum, semoga saja ini semua tidak terlihat di wajahku.
-----------------
Anak-anak tertidur di mobil, Mandala menggendong Putri dan aku menggendong Utami.
"Siapkan tempat tidur mereka".
Mandala memberi perintah pada mbak yang menjaga kedua anak ini.
"Baik Pak".
Kami mengantar Putri dan Utami ke kamar mereka di lantai dua. Meletakkan mereka di kasur.
Mandala mencium keduanya. Menyelimuti mereka sambil terus memandang keduanya.
"Kalo mereka bangun, telpon ke lantai tiga. Berikan dulu cemilan ini ke mereka".
"Baik Pak".
Si Mbak pun mengangguk.
Kami pun keluar menuju lantai tiga.
"Kenapa tidak kita bawa ke kamar kita?"
"Karena aku ingin memelukmu, menciummu, dan menemanimu tidur"
Mandala memelukku di dalam lift.
"Aku kangen sayang. Rindu ini sangat menyiksaku".
"Seperti lirik lagu".
"Terserah lah, yang jelas aku memang sangat merindukanmu".
Mandala mempererat pelukannya.
Keluar lift, Mandala menggendongku.
"Tambah berat sih yang?".
"Kapten yang sudah tidak terbiasa menggendongku. Beratku malah turun dua kilo".
"Temani aku mandi, okey?"
Siang itu terjadilah seperti yang ada dipikiran semua laki-laki yang lama tidak bertemu istrinya.
Aku hanya menurut dengan apa yang dilakukan Mandala pada diriku.
__ADS_1
Aku hanya berdoa. Semoga kali ini aku benar-benar bisa hamil.
-------------------------------