
Mandala mendapat libur satu hari sebelum kembali masuk kerja. Dan hari ini Mandala berjanji untuk mengajak Putri dan Utami bermain di Mall.
Sejak tadi malam, Putri sudah meminta untuk tidur dengan kami. Tapi sepertinya mbak yang menjaga mereka mengerti bahwa kami perlu waktu berdua setelah dua bulan terpisah. Karenanya Mandala berjanji untuk membawa mereka bermain hari ini.
Pagi di saat sarapan, Putri sudah bergantungan di badan Mandala. Menagih janji Mandala padanya.
"Sabar ya sayang, tempat bermainnya belum buka. Putri sekolah dulu, pulang sekolah kita langsung ke Mall".
"Janji?"
Wajah Putri langsung cemberut.
"Iya, Ayah janji".
Mandala mencium kening Putri. Merapikan baju seragam Putri.
"Ayah yang antar?"
Putri langsung mengangguk.
Setiap melihat kedekatan Putri dan Mandala. Hatiku terasa perih. Pemandangan ini menyadarkan ketidakmampuanku memberikan seorang anak pada Mandala.
"Sehabis antar Putri kita ke asrama".
Aku hanya mengangguk sambil memasukkan Putri ke dalam mobil.
------------------
"Sayang, kamu kenapa?"
"Kenapa denganku?"
"Apa kamu tidak senang melihatku dekat dengan Putri?"
"Kenapa aku harus tidak senang?
Kamu aneh Kapten".
Mandala menarik nafasnya.
"Wajahmu menunjukkan sesuatu. Aku mengerti setiap perubahan di wajahmu".
"Aku baik-baik saja. Aku hanya berfikir, jika aku tidak keguguran waktu itu, anak kita pasti sebesar Putri".
Mandala mengelus kepalaku.
"Jangan terlalu banyak pikiran"
Kami hampir sampai di Asrama ketika aku mendapat telepon dari ibunya Tiara melalui handphone Melky.
"Baiklah, kami akan segera kesana".
Aku memberi kode pada Mandala untuk berputar melalui tanganku.
"Ibu tenang, semua akan baik-baik saja. Kami dalam perjalanan".
Aku menutup telepon dan memandang Mandala yang sejak tadi berusaha bertanya padaku tentang apa yang terjadi.
Aku menarik nafas terlebih dahulu sebelum memberitahu Mandala.
"Tiara kritis".
Mandala mempercepat laju mobil. Karena memang jarak dari Asrama ke rumah sakit sangat jauh.
Ketika kami tiba di rumah sakit, aku sudah melihat Ibu Tiara yang menangis histeris.
Aku memeluk beliau, berusaha menenangkan.
Mandala pun masuk kedalam ruangan menemani Melky.
"Apa anakku akan meninggal?"
"Ibu sabar, semua di tangan Alloh. Kita berdoa saja bu".
"Siapa yang akan membiayai hidup kami jika Tiara meninggal?"
Subhanallah, aku hanya bisa menarik nafas.
Itu kah yang ada di dalam pikiran mu ibu.
Bukannya berdoa yang terbaik untuk anaknya, tapi malah mempertanyakan kelangsungan hidup dirinya sendiri.
Ketika Mandala keluar memberi kabar padaku. Tangisan sang ibu makin pecah dan nyaring.
Ya, Tiara telah pergi. Dokter sudah memberikan yang terbaik, tapi memang inilah jalan terbaik buat Tiara yang di berikan oleh Allah SWT.
Melky memutuskan untuk langsung mengurus jenazah Tiara. Aku menelpon asisten di rumah untuk membersihkan rumah dan bersiap.
Melky meminta asisten di kantor untuk menemani ibu Tiara kembali ke Guest House agar bisa membersihkan dirinya terlebih dulu sebelum membawa Tiara ke rumah besar.
Sedangkan aku kembali ke sekolah Putri untuk menjemputnya kembali, lalu pulang ke rumah untuk membantu mempersiapkan sesuatu sebelum jenazah Tiara datang.
__ADS_1
Mandala tinggal di rumah sakit menemani Melky mengurus segala sesuatunya.
Ketika jenazah Tiara tiba. Tangisan Putrilah yang membuatku membatu. Aku seperti dihantam puluhan balok es sehingga tubuhku menjadi beku tidak bisa bergerak.
Melky memeluk kedua anak perempuannya di depan jenazah mommy mereka.
"Mommy bangun, Putri janji gak nakal lagi. Mommy bangun".
Putri terus merengek di samping jenazah ibunya yang membuat setiap orang yang melihatnya menangis.
Mandala memintaku untuk membawa Putri. Tapi aku pun tidak bisa bergerak. Kakiku seperti terpaku di atas lantai ini.
Akhirnya Mandala sendiri yang menggendong Putri sambil mendekatiku.
"Kamu baik-baik saja sayang?"
Aku tidak menjawab Mandala, malah memeluk Putri dan menangis terisak.
Mandala memberikan Putri padaku.
Aku terus memeluk anak kecil yang malang ini.
Melky meminta pemakaman di lakukan hari ini juga. Walaupun ibunya Tiara meminta agar menunggu saudara Tiara dari kampung.
"Ibu maaf, jika menunggu mereka. Waktunya akan terlewat banyak. Ibu tidak kasihan dengan anak ibu yang sudah meninggal. Tiara juga sudah lama sakit bu, kasian jika jenazahnya harus menunggu lagi?".
Mandala berusaha memberi pengertian pada Ibunya Tiara.
"Terserah kalian, kalian orang kaya memang bisa berbuat semau kalian. Orang miskin seperti aku ini mana mau di dengar suaranya".
Itulah kata-kata yang keluar dari mulut ibunya Tiara yang membuatku terus menggelengkan kepala.
Melky sepertinya sudah masa bodoh dengan apa yang di gumamkan oleh ibunya Tiara.
"Aku suaminya, aku yang berhak memutuskan".
Untunglah Mandala sudah ada di sini, sehingga bisa menjadi penengah di antara mereka. Jika hanya ada aku, mana bisa menangani perselisihan pendapat diantara mereka.
Pemakaman di lakukan sore hari dan selesai menjelang maghrib.
Mandala menggendong Putri dan aku menggendong Utami menuju mobil.
Di perjalanan, keduanya tertidur.
Aku memandangi wajah keduanya.
Janji Mandala hari ini pada mereka telah gagal. Mereka pun pada hari ini kehilangan mommy mereka.
"Tidur di mana mereka?"
Aku bertanya pada Mandala ketika akan menggendong Utami turun dari mobil.
"Di lantai dua, mungkin Melky ingin bersama dengan kedua anaknya".
Aku mengangguk.
"Ganti baju mereka mbak"
Aku menyerahkan Utami pada si Mbak, Mandala pun menyerahkan Putri pada Mbak yang lain.
Aku merebahkan tubuhku di sofa ketika sampai di dalam kamar.
"Mandi yang, sudah mau maghrib"
"Iya".
Aku pun melangkah menuju kamar mandi dan kembali menangis. Aku bukan menangisi kepergian Tiara, karena bagiku itu semua adalah takdir Allah SWT. Tapi yang kutangisi adalah kedua anak kecil yang telah kehilangan ibunya itu.
Bagaimana jika nanti Melky menikah lagi?
Bagaimana kehidupan mereka dengan ibu yang baru?
Jika aku mengambil mereka berdua, Melky pasti tidak mengijinkanku.
Ah, liat saja lah nanti. Melky dan Mandala pasti akan membicarakan hal ini.
Dan semoga apa yang mereka putuskan adalah yang terbaik untuk semuanya.
-----------------------------
Di malam hari, ketika saudara-saudara Tiara datang dari kampung. Kehebohan terjadi. Mereka berteriak sambil menangis.
"Kenapa tidak menunggu kami, apa kamu menyembunyikan sesuatu pada kami. Apa ada yang terjadi pada mayat ade kami".
"Tanya pada ibu, ibu ada disana. Ibu lah yang menjaga pada saat istriku kritis".
Melky pun tidak kalah berteriaknya. Sepertinya kesabaran Melky sudah habis menghadapi keluarga dari mendiang istrinya.
Mandala menepuk pundak Melky, memintanya untuk tenang.
"Jika kalian tidak bisa berpikir rasional dan tidak bisa tenang, maka aku akan memanggil polisi kemari agar memaksa kalian untuk pulang".
__ADS_1
"Ancam saja terus kami. Orang miskin memang mudah di permainkan".
"Baiklah, aku akan melaksanakan ancamanku"
Mandala pun berdiri, mengambil handphonenya dan mengetik sesuatu. Tidak berapa lama, muncul lah Asisten Mandala di pangkalan memberi hormat pada Mandala.
"Telpon lah polsek terdekat, katakan bahwa ada yang berbuat onar di rumah Mayor Mandala".
Si asisten mengangguk dan bersiap untuk menjalankan perintah.
"Tunggu, tenanglah. Aku akan berbicara dengan Putraku. Tidak usah menelpon ke siapa pun."
Ibu Tiara bersuara.
Kulihat Mandala tersenyum dan kembali berkata pada Asistennya.
"Pesankan kamar di hotel terdekat, biarkan mereka istirahat lebih dulu. Siapkan apa yang mereka perlukan, dan besok jika mereka ingin ke makam saudara mereka. Siapkan transportasinya".
"Siap, laksanakan".
Asisten memberi kode pada keluarga Tiara untuk pergi bersamanya.
"Ayo, kita beristirahat dulu di hotel".
Ibu Tiara lah yang lebih berinisiatif dan menarik tangan kedua anak laki-lakinya untuk mengikutinya.
Ketika mereka sudah keluar dari pagar rumah, kulihat Mandala menarik nafas lega.
"Naiklah, beristirahat dan tidurlah. Ada yang harus kubicarakan dengan Melky".
Mandala mencium keningku dan mengelus kepalaku.
Aku mengangguk.
"Jangan terlalu malam".
Mandala kembali mencium keningku sebelum aku masuk ke dalam lift. Para Asisten di rumah ini sudah biasa dengan perlakukan Mandala padaku. Ataupun perlakuan Manja Melky pada Mendiang Tiara.
Jadi pemandangan seperti ini, hanya seperti adegan film bagi mereka.
Aku mengganti pakaianku, membersihkan diri dan naik ke atas tempat tidur.
Berusaha untuk tidur, tapi tetap tidak bisa tertidur.
Aku menelpon Ibu dan menceritakan semuanya pada Ibu.
Ibu hanya mendengarkan ceritaku dan berusaha membuatku untuk bersabar menghadapi semua yang terjadi.
Mandala sedikit terkejut ketika melihatku masih duduk di atas tempat tidur sambil memainkan handphoneku.
"Kenapa belum tidur sayang?"
Mandala masuk kekamar mandi, dan mengganti pakaiannya.
"Pasti ini kepala mulai berpikir yang macam-macam lagi".
Mandala menekan jidatku dengan telunjuknya.
Aku masuk kedalam pelukan Mandala.
Dan mulai memejamkan mataku.
Mandala mulai membelai rambutku.
"Kapan, panggilanmu menjadi Mayor? aku senang memanggilmu Kapten".
"Kamu bisa memanggilku Kapten sampai kapan pun. Aku sudah menjadi Mayor sebelum berangkat tugas ke luar negeri. Dan sekarang pun aku tidak bertugas di pangkalan dan menjadi penerbang lagi".
Mandala terus membelai rambutku.
"Aku sekarang menjadi bagian dari sekolah penerbang. Aku mengajari penerbang-penerbang muda yang ingin jadi penerbang handal".
"Di basarnas?"
"Kesibukan di akademi penerbang sangat padat, tapi aku akan tetap membantu jika di perlukan".
"Aku ingin tidur di peluk".
"Baiklah, sini aku peluk, jangan salahkan aku jika aku tidak hanya memeluk malam ini"
"Aku lelah Kapten, biarkan aku tidur"
"Bukan sekarang, tapi nanti menjelang pagi"
Mandala tertawa kecil, mencium rambutku dan mendekapku erat.
Dengan cepat aku tertidur di dalam pelukan Mandala. Dan Melupakan semua kejadian hari ini.
Esok hari biarlah terjadi esok hari. Biarkan malam ini aku merasakan kebahagian di dalam pelukan suamiku.
---------------
__ADS_1