
Mandala menepati janjinya. Menelpon Rita dan menjemputku malam ini.
"Kita kemana?"
Aku bertanya ketika sudah duduk manis di dalam mobil.
"Villa"
"Tidak takut ada yang mengikuti kita?"
"Sayang, kamu tidak lihat aku menggunakan mobil lain. Mereka juga tidak tahu jika kamu keluar kost malam ini"
"Baiklah, terserah padamu Kapten"
----------
Kami tiba di villa yang di sewa Mandala. Petugas Villa memberikan kunci pada Mandala.
"Semua sudah beres?"
"Beres pak, sesuai perintah"
Kami masuk kedalam villa.
Di meja makan villa terdapat berbagai makanan yang kusukai, dari makanan berat sampai makanan ringan.
"Kita makan dulu ya sayang"
Mandala membawaku ke meja makan.
"Kenapa kamu mempersiapkan ini Kapten?"
"Aku ingin berdua denganmu sebelum kamu kembali ke daerah"
"Hanya itu?"
"Tidak bolehkah aku makan malam berdua dengan istriku?"
"Tapi ini terlalu jauh, kita bisa makan di hotel seperti waktu itu"
"Aku ingin suasana yang berbeda"
Aku tersenyum dan membiarkan Mandala melayaniku malam ini. Setelah Makan, Mandala membawaku ke rooftop Villa. Di sana terdapat sebuah kursi panjang untuk menatap langit.
"Ayo.."
Mandala menarik tanganku untuk duduk dan mendekatkan teleskop padaku.
"Kita bisa melihat benda langit malam ini. Cuaca cerah, kita juga bisa berbaring di sini menatap langit"
"Kapteeennn...."
"Iya sayang?"
"Aku curiga.. apa kamu akan memberitahuku suatu rahasia lagi?"
"Sudah ku katakan, aku hanya ingin berdua denganmu sebelum kamu pulang"
"Baiklah, aku percaya"
Mandala merangkul bahuku. Kami melihat bintang bersama dan saling bercanda.
Tiba-tiba langit menjadi terang. Berbagai sinar muncul dan suara kembang api yang memecah kesunyian malam.
"Kapteeenn?"
"Kamu menyukainya sayang?"
"Ah, sok romantis. Tapi aku suka"
Aku memeluk Mandala dan mengecup bibirnya sekilas.
"Terima kasih, Kapten"
Mandala tersenyum dan balas mencium bibirku.
"Aku gendong yaa?"
Mandala mengedipkan mata padaku.
"Katanya mau memandang langit?"
"Setelah itu kita akan memandang langit"
"Langit-langit kamar yang ada tu Kapten"
Mandala tertawa sambil mengendongku turun.
Hari masih belum terlalu malam. Tapi kesunyiannya mulai terusik dengan suara nafas dan desahan yang makin memburu.
Mandala membelai rambutku dan terus memandangi wajahku.
__ADS_1
"Ada apa? kenapa melihatku seperti itu?"
"Ada yang ingin aku bicarakan"
"Sudah kuduga. Tindakan romantismu ini pasti ada alasannya"
Mandala menarik nafas dan terus memandangiku.
"Setelah pulang nanti, kamu harus mengajukan gugatan ke pengadilan agama"
"Harus??"
"Sayang, Ama terus mengawasi kita. Kamu harus melakukan itu agar mereka semua yakin".
"Lalu? apa kita harus bercerai juga?"
"Tidak sayang, aku akan datang kepengadilan. Kita akan berdamai nantinya di sana. Mengajukan gugatan belum tentu akan bercerai"
"Baiklah, aku akan melakukan apa yang kamu minta. Tapi berjanji padaku, bahwa kamu akan datang di setiap panggilan"
"Aku berjanji, percayalah padaku".
Mandala memelukku erat. Entah kenapa aku merasa ini terakhir kalinya kami tidur bersama. Aku merasa ada sesuatu yang disembunyikan Mandala lagi dariku. Tapi aku berusaha meyakinkan diriku bahwa aku bisa mempercayai Mandala.
--------------
Esok paginya Mandala mengantarku kembali ke kost, masih sama melalui pintu belakang kost.
Tidak ada yang kulakukan hari ini, jadi aku memutuskan hanya berdiam diri di kamar. Mencoba merenungi apa yang di katakan Mandala tadi malam.
Ku dengar Rini memanggilku dari luar kamar.
"Bu dokter, apa ibu baik-baik saja?"
"Iya, aku hanya lelah. Aku ingin istirahat"
"Apa semalam kalian bergadang?"
Kudengar suara Rini tertawa mengejekku.
"Aku akan mengadukanmu pada big boss"
Suara tawa Rini makin terdengar nyaring.
"Baiklah bu.. istirahatlah. Aku ada di kamar jika ibu membutuhkan sesuatu. Rita sudah berangkat ke rumah sakit"
"Iya, terima kasih"
Kenapa aku tidak memikirkan itu semua.
Enam tahun bersama Mandala hidup di kota ini. Tidak sedikit barang-barang yang aku punya.
Aku kembali bangkit dari tidurku dan memanggil Rini.
"Ada apa bu?"
"Temani aku ke asrama untuk merapikan barang-barangku. Dimana aku bisa mendapatkan kardus untuk mengepak barangku"
"Saya coba hubungi Mayor dulu bu, boleh apa tidak kita ke asrama"
"baiklah, hubungi saya setelah itu"
Rini mengangguk, aku kembali masuk dan berbaring di kamarku.
Lima menit kemudian Rini kembali mengetuk kamarku.
"Apa yang dikatakan bosmu?"
Aku langsung bertanya pada Rini begitu wajah Rini muncul dipintu.
"Big Boss mengijinkan, jika orang-orang di asrama bertanya, katakan bahwa kalian pindah ke rumah Ama karena ama sedang sakit".
"Aku mengerti, aku juga tidak akan pernah membuka aibku sendiri. Apa semua barang harus di bawa?"
"Iya, kata Mayor rapikan semua barang. Nanti Mayor yang akan membawanya kerumah besar. Jika ada barang yang akan ibu bawa pulang, Mayor juga mengijinkan".
Aku hanya mengangguk. Kami suami istri, tapi perbincangan kami harus melalui perantara orang lain. Sungguh menyedihkan rumah tangga kami.
-------
Akhirnya aku dan Rini ke asrama. Kehadiranku di sambut beberapa ibu-ibu asrama.
"Aduh bu dokter, saya kangen"
"Bu dokter, kemana aja? Anak-anak di sini menunggu ibu dan bapak"
Aku tersenyum.
"Maaf, kalian tahu kan kalo istrinya Melky sudah meninggal. Kasian kedua anaknya, dan sekarang Ama juga sedang sakit"
"Jadi bu dokter tidak tinggal di asrama lagi?"
__ADS_1
"Kemungkinan tidak. Saya juga akan pulang dulu menjenguk ibuku. Karena itu aku merapikan barang-barang. Takut berdebu kelamaan di tinggal"
"Kalo lantai setiap hari di sapu bu. Bapak meminta orang untuk membersihkan rumah setiap hari".
"Iya saya tahu. Saya masuk dulu ya".
Aku pamitan pada para ibu-ibu itu.
Benar saja, lantai rumah bersih tidak berdebu.
Semua masih sama seperti dulu aku meninggalkan rumah ini untuk tinggal merawat anak-anak di rumah besar.
Kuperintahkan Rini untuk mengemasi peralatan dapur sedangkan aku membereskan barang-barang yang ada di kamarku.
Menjelang sore semuanya selesai. Kardus-kardus bertumpuk di depan televisi.
Barang yang akan kubawa pulang sudah kupisahkan. Akan aku kirim saja nantinya, dari pada aku repot membawanya di bandara
"Rin, lapar gak?"
"Dari tadi bu"
"Kok gak bilang?"
"Ibu asyik melamun di kamar. Gak enak lah bu ganggu orang melamun"
"Kamu ngejek atau apa?"
"Menurut ibu?"
Rini tertawa kecil.
"Mau makan apa? sekalian kita pulang"
"Yang dekat sama kost aja bu, dari pada kita naik taksi dua kali"
"Masih tahan tu perut kalo kita pulang ke kost dulu?"
"Hehehehe, di usahakan bu"
Aku dan Rini bersiap untuk pergi ketika ku dengar suara tok tok bakso langganan asrama lewat. Kami berdua berpandangan dan serempak bersuara.
"Baksooooo"
"Baksooooo"
----------------
Di kamar kost aku kembali membongkar barang-barang yang kubawa dari asrama. Beberapa baju ku pilih untuk kusumbangkan, begitu juga dengan beberapa barang.
"Rita, nanti tolong antarkan baju-baju ini ke panti asuhan atau ke korban bencana ya"
"Terserah aja bu kemana?"
"Iya, asal tidak kamu jual"
Rita hanya tersenyum. Kalo Rini, pasti dia akan menjawab panjang lebar. Rita memang lebih pendiam.
"Gimana di rumah sakit ta?"
"Besok terakhir saya dinas di forensik bu. Saya akan pindah"
"Pindah ke bagian lain?"
"Pindah tugas karena ibu sudah tidak ada di situ untuk saya jaga lagi"
"oooo, mereka tidak curiga?"
"Mereka pikir saya pindah ke bagian lain"
"Jadi, kamu pindah kemana?"
"Kembali ke pasukan bu. Menjadi perawat di sana"
"Kita tidak akan bertemu lagi?"
"Kalo jodoh, kita bertemu lagi bu"
Aku memandangi Rita dan bergumam mengulangi kata-kata Rita.
"Benar, kalo jodoh"
Iya, kalo jodohku dan Mandala masih panjang, maka kami akan terus bersama. Semua tergantung pada jodoh yang telah di tentukan Sang Maha Kuasa.
Jika memang Mandala adalah Jodohku yang sudah di tentukan Sang Kuasa, tidak akan ada seorang pun yang dapat memisahkan kami.
-----------
Bagaimana dengan jodoh kalian??
Jangan lupa Votenya ya
__ADS_1
LOVE YOU 😘😘