
Rafa berjalan ke kamar memindah Lisa ke kursi roda untuk makan siang bersama dengan yang lain. Di ruang makan Doni, Tami, kedua orang tua Rafa dan Tami sudah duduk mengelilingi meja makan. Lisa dan Rafa bergabung dengan mereka.
Berbagai macam masakan sudah tersaji di meja makan, bi Ati dan bi Rumi hampir tiga jam sibuk masak-masak di dapur.
" Mari silahkan di cicipi menunya seadanya, soalnya nggak tahu mau kedatangan tamu jauh", ucap Nyonya Meisi.
" Wah ini sudah banyak sekali makanan yang ada, sampai kami bingung mau makan yang mana dulu", ujar Bu Soraya.
Mereka semua mulai menikmati makan siang dengan lahap, suasana hening sejenak, setelah selesai makan bi Ati dan bi Rumi membereskan meja makan, dibantu Bu Soraya, Tami dan Nyonya Meisi.
" Apa kau mau kembali lagi ke kamar sayang ?", tanya Rafa pada Lisa.
" Tidak, aku ingin duduk di gazebo taman belakang, bisakah kau membawaku ke sana?, aku ingin melihat pemandangan yang hijau, sejak pagi aku terus di kamar, tapi sebelumnya kita sholat Dzuhur dulu berjamaah bersama yang lain", ucap Lisa .
" Baiklah , nanti kakak akan membawamu ke sana", ujar Rafa sambil mendorong kursi roda Lisa ke ruang seluas 6x6 meter, yang biasa dijadikan tempat untuk sholat.
Usai sholat Dzuhur berjama'ah Rafa mendorong kursi roda Lisa ke taman belakang.
" Kita kebelakang ayo Tam", ajak Lisa pada Tami.
" Bolehkah aku bersama kalian?, aku tidak tahu harus ngobrol apa dengan para orang tua itu", ucap Doni lirih.
" Hahahaha, tentu saja, ayo ke belakang", ucap Rafa.
" Apa hari minggu kau tidak bersantai di apartemenmu Don?, biasanya kau akan tidur seharian setelah semalaman menghabiskan waktu di club", ujar Rafa merasa aneh dengan sikap Doni yang masih bertahan di rumahnya.
Sorot mata Tami menatap Doni tajam seperti mata elang yang melihat anak ayam dan ingin menerkamnya.
" Itu kan dulu, kau jangan membicarakan masa laluku yang kelam", ucap Doni sambil meringis, melirik ke arah Tami.
" Memangnya kenapa?, hanya ada aku, Lisa dan Tami, kau berkata seperti itu seperti seolah aku sedang menjatuhkan namamu dengan menceritakan masalalumu yang kelam pada kekasihmu", ujar Rafa yang melirik ke arah Doni yang sedang meringis menatap wajah Tami.
Mereka sampai di gazebo dan Lisa turun dari kursi roda berpindah duduk di gazebo.
__ADS_1
" Hati-hati sayang, pelan-pelan saja", ucap Rafa mengingatkan. Lisa langsung tersenyum sambil mengangguk.
" Tam, aku perhatikan dari tadi bibirmu seperti bengkak, aku kira tadi salah lihat karena dari jauh, tapi setelah kita duduk berdekatan seperti ini justru tampak lebih jelas", ucap Lisa menyelidik.
" Eh, benarkah?, atau mungkin aku salah makan apa ya?", ucap Tami mencari alasan.
" Memang kamu makan apa tadi pagi?", tanya Lisa.
" Aku cuma makan bubur ayam di pertigaan yang dari asrama ke timur itu yang mangkal di depan pertokoan", ucap Tami jujur.
" Bukankah sebelumnya kamu nggak masalah memakan bubur ayam?, kenapa sekarang jadi alergi seperti itu bibirnya, atau mungkin di bubur ayam ada semutnya", Lisa mengira-ngira.
" Semut raksasa", batin Tami. " Mungkin, tapi aku tidak sadar", Tami melirik Doni.
" Sekarang memang semut suka berkeliaran dan masuk ke dalam makanan", ucap Doni nimbrung.
" Semut raksasa yang suka nongkrong di club malam", seloroh Rafa meledek.
" Lah ini, semut yang ngajak Tami makan bubur ayam, bukankah tadi pagi kau bilang makan bubur ayam di tempat yang sama dengan yang Tami bilang Don?, apa kalian kebetulan juga ketemu disana?, sejak tadi kuperhatikan tingkah kalian sungguh mencurigakan", ucap Rafa.
" Jadi apa yang terjadi di hotel kemarin saat Tami menemanimu ke sana?, siapa diantara kalian yang mau menjelaskan?", tanya Rafa yang bertingkah seperti detektif dan memberikan kesempatan mereka untuk klarifikasi.
Sikap Tami dan Doni sama-sama salah tingkah.
" Apa kamu sejenis dukun yang bisa tahu apa yang terjadi pada orang lain?", tanya Doni.
" Makanya jangan apa2 dibuat seratus Wa, lihat, saat Tami bikin status kemarin lagi makan di coffee shop bareng sama kamu, nggak ada foto wajahmu, tapi bajumu itu aku paham, dan ini kemarin malam Tami bikin status ' ngapel malam mingguan pertama' ,ini kan pemandangan yang bisa di ambil dari balkon apartemen milikmu, aku sangat paham. Jadi apa kalian mau menjelaskan pada kami apa yang sebenarnya terjadi?", selidik Rafa.
" Cerita saja, kita kan bukan orang lain, kalau kalian terbuka sama kami, justru kita berdua bakalan seneng dan bisa bantu kalian, iya kan Kak?", ucap Lisa, sambil menatap Rafa.
" Betul, apa kalian suka main rahasia- rahasiaan, kaya anak SD yang malu ketahuan sama temen-temennya kalau sudah punya pacar", Rafa sengaja menyindir.
Tami dan Doni saling memandang, dan memberi isyarat satu sama lain.
__ADS_1
" Tebakanmu memang benar Raf, feeling kamu itu memang selalu tepat, itu kenapa kamu sangat pantas menjadi seorang pemimpin dan pengambil keputusan di perusahaan", ucap Doni memuji.
" Jadi kapan kalian jadian, atau jangan-jangan sudah lama ya?", tanya Lisa tersenyum menggoda Tami.
" Baru resmi kemarin serius, sebenarnya aku juga belum terlalu yakin dengan hubungan ini, kak Doni terlalu menyebalkan", ucap Tami polos.
" Wah... kan kemarin aku sudah minta maaf, dan kau bilang sudah memaafkan ku", ujar Doni protes.
" Memang tuan Doni membuat kesalahan apa yang membuatmu begitu marah ?", tanya Lisa.
" Kesalahan karena sudah menjadi semut di dalam bubur, hahahaha", Rafa tertawa terbahak mendengar kalimatnya sendiri.
" Apa?, jadi semut yang membuat bibirmu bengkak itu...", Lisa menatap kearah Doni, kemudian menyuruh Rafa untuk membuat perhitungan dengan Doni.
" Kak, tolong beri perhitungan pada laki-laki di sampingmu itu, dia sudah merampas moment yang sangat berharga bagi Tami sahabatku. Tami kan selalu bilang, ingin ciuman pertama di tempat yang romantis, entah di pantai di pegunungan atau di tempat romantis yang lain, kau pasti sangat kecewa karena kau melakukan ciuman pertamamu di sembarang tempat", ucap Lisa merasa iba pada Tami, sekaligus menahan senyum karena sahabatnya diam-diam sudah mempunyai kekasih dan orang itu ada dihadapannya.
" Kenapa kau tidak bilang padaku lebih awal?, seandainya aku tahu keinginanmu, pasti semalam kau sudah ku bawa ke pantai atau kafe yang ada di taman yang penuh dengan lampu warna-warni yang sangat indah", ucap Doni .
" Udah telat !", ujar Tami kesal.
" Tenang saja, meski bukan yang pertama, tapi besok-besok aku janji akan membawamu ke tempat yang sangat romantis", ucap Doni berjanji.
" Kalian berdua jadi saksi janji yang di ucapan kak Doni ya, coba kita lihat, dia mau mengajakku ke mana?", ucap Tami.
" Mending bilang dulu sama ayah dan ibu kalau kalian pacaran, biar mereka tenang" , saran Lisa.
" Kau berniat untuk serius atau main-main dengan Tami?", tanya Lisa menatap Doni.
" Aku tidak mau jika kau hanya membuat Tami sebagai pelampiasan olehmu", ucap Lisa kembali.
" Tentu saja serius, tapi aku tidak mau mengatakan pada orang tua Tami sekarang, aku berniat akan meminta ijin dan memperkenalkan diri secara baik-baik saat bermain ke rumah Tami besok-besok, mungkin aku akan langsung melamarnya, atau bahkan meminta restu untuk menikahinya", ucap Doni yakin.
" Widih... ternyata tuan Doni ini sangat gentleman, aku bangga punya teman sepertimu", ucap Rafa menepuk bahu Doni.
__ADS_1