Jodohku

Jodohku
Apa yang terjadi??


__ADS_3

Aku melangkahkah kakiku menuju tempat parkir kampus. Bekerja sambil kuliah lagi sungguh menguras otak dan tenagaku.


Mandala berjanji untuk menjemputku karena memang berangkat kerja tadi pagi aku tidak mengendarai mobil sendiri. Tapi menumpang pada Melky.


"Capek Sayang?"


Begitu aku membuka pintu mobil, kata itu yang diucapkan Mandala.


"Lumayan,sehabis ini pun aku masih harus menghadiri acara d IDI".


"Sekarang?"


"Iya, tolong antarkan. Acaranya satu jam lagi".


Mandala tidak menjawab, kulihat raut wajahnya berubah. Mungkin Mandala marah, tapi Mandala tidak pernah marah secara langsung padaku.


Mandala pun mengantarku ke sekretariat IDI.


Hari ini, ada rapat pengurus yang harus ku ikuti.


Walaupun Mandala tidak senang, tapi tetap memberikan senyuman dan ciuman di kening ketika aku pamit turun dari mobil.


"Dokter Chintya" dokter Heru yang bertemu denganku di parkiran tersenyum dan menyalamiku.


"Apa kabar dokter?"


"Baik, diantar suami?"


"Iya, dokter".


Kami melangkah masuk sambil berbincang.


"Seorang Tentara?"


"Iya dokter, di Angkatan Udara".


"Aku seperti pernah bertemu, tapi lupa dimana. Siapa nama suamimu?"


"Mandala, dokter"


"Mungkinkah dia pasienku?"


"Dokter bercanda, saya pasti tau kalo suami saya ke praktek dokter"


Dokter Heru tertawa.


"Aku akan memberitahumu jika suatu saat aku ingat dimana pernah bertemu suamimu".


"Baik dokter, akan saya tunggu".


Aku pun tertawa kecil menanggapi perkataan dokter Heru.


Dokter Heru adalah spesialis Andrologi. Spesialis khusus reproduksi pria.


Apa mungkin Mandala pernah ke praktek dokter Heru tanpa sepengetahuanku??


Jangan berpikir terus Ega.


Hentikan itu.


------------------


Ikatan Dokter Indonesia akan mengadakan pemilihan Ketua baru, sehingga kami para pengurus, terutama dokter junior sepertiku di buat sibuk untuk sementara waktu ini.


Alhasil, rute perjalananku setiap hari adalah rumah sakit - ruang forensik - kampus - sekretariat IDI.


Aku pulang selalu larut malam. Kadang Mandala menjemputku. Kadang aku pulang sendiri. Untunglah pekerjaan di rumah sakit bisa ku kondisikan dengan dokter Herman, sehingga aku sering kali datang ke rumah sakit hanya untuk numpang tidur sebentar.


"Ega, di cari dokter Heru".


Dokter Lia, yang seangkatan denganku kuliah memberitahuku ketika aku membuka pintu sekretariat.


"Dimana dokter Heru?".


"Di ruangan Ketua".


"Banyak orang?"


"Belum ada yang datang".


"Aku kesana dulu".


Aku pun melangkah ke ruangan Ketua IDI, dimana dokter Heru sebagai Bendahara di IDI.


Aku mengetuk pintu yang transparan.


Dokter Heru memberi kode lewat tangannya memintaku untuk masuk.

__ADS_1


"Sore dokter".


Aku membuka pintu sambil mengucapkan salam.


"Masuk, dokter Chintya"


"Dokter mencari saya?"


"Duduklah"


Dokter Heru memandangiku.


"Sudah berapa lama kamu menikah?"


"Enam tahun dokter"


"Aku sudah mencari tahu tentangmu dari dokter Herman. Dokter Herman sangat mengagumimu sebagai rekan kerja".


Aku hanya tersenyum kecil.


"Kamu pernah melakukan program kehamilan?"


Aku hanya mengangguk, bingung kenapa seorang dokter Andrologi membahas masalah kehamilan denganku.


"Kamu ingat, bahwa aku berkata pernah melihat suamimu?"


"Iya dokter, saya ingat".


"Dia memang seorang pasien di Andrologi".


Dokter Heru berkata sambil terus memandangku.


"Pasien di klinik Andrologi? Suami saya tidak pernah bercerita pada saya".


"Percuma kamu melakukan program kehamilan jika suamimu tidak bisa membuatmu hamil".


"Dokter?? Apa maksud dokter?"


Aku terkejut dan tanpa sadar mengeluarkan suara yang lebih tinggi.


"Aku ingat sekitar empat tahun yang lalu, suamimu datang bersama seorang laki-laki tua keruangan praktek dokter Faisal, saat itu aku masih asisten dokter. Ini berkasnya, kamu boleh melihatnya".


Aku mengambil berkas yang ada di hadapanku. Membuka dan membacanya.


Air mataku seketika turun tanpa kusadari.


Aku terisak di depan dokter Heru. Kenapa Mandala tega melakukan ini padaku. Apa yang sebenarnya terjadi.


"Bicarakan ini dengan baik pada suamimu, pulanglah sekarang. Aku tahu kondisimu sekarang tidak memungkinkan untuk mengikuti rapat di sini. Aku akan mengatur semua di sini, kamu kan bawahanku juga di sini".


Aku terus terisak. Dokter Heru memberikanku segelas air putih.


"Tenanglah, Aku dan dokter Herman berinisiatif untuk memberitahumu hal ini, karena aku tahu dari dokter Herman bahwa kamu selalu menyalahkan dirimu sendiri. Padahal kesalahan sebenarnya ada di suamimu".


"Terima kasih dokter, saya sangat menghargainya. Saya akan mencari tahu kenapa suami saya melakukan ini".


"Berhati-hatilah. Menurut pengamatanku empat tahun yang lalu. Yang berbahaya itu bukan suamimu. Tapi laki-laki tua yang bersamanya".


Aku tertekun. Laki-laki tua??.


Aku membuka ponsel. Mencari foto Ama di dalam galeri handphoneku.


"Ini dokter, apa ini orangnya".


Dokter Heru memperhatikan foto yang kuperlihatkan.


"Iya benar, beliau seorang dokter juga kalo tidak salah".


Aku tertunduk lesu. Ama?? Apakah Ama yang menjadi dalang dari semua ini.


Tapi kenapa?


Bukankah Ama sangat baik padaku sejak aku menjadi dokter internship bersama beliau.


Bukankah Ama sudah menganggapku seperti Putri beliau sendiri.


Air mataku kembali menetes.


Dokter Heru menenangkanku dan mengingatkanku untuk tidak bertindak gegabah, karena takut akan keselamatan diriku.


Aku hanya bisa mengangguk, mengusap air mataku dan minta ijin untuk segera pulang.


----------------


Di dalam mobil air mataku kembali tumpah.


Aku tidak mengerti ada apa dengan ini semua.

__ADS_1


Aku kembali ke Asrama.


Mengambil beberapa pakaian dan menaruhnya di bagasi mobil.


Dokumen-dokumen yang kumiliki semua ada pada Mandala termasuk surat nikah kami.


Aku harus mendapatkan semua dulu sebelum aku bertindak.


Aku tidak tahu, seberapa besar kendali Ama pada Mandala dan Melky. Yang kutahu saat ini, aku hanya bisa waspada dan menjaga diriku sendiri.


Aku menelpon dokter Herman. Satu-satunya dokter yang bisa kupercayai dan mengetahui semua cerita dokter Heru.


Aku tidak mungkin mencari dokter lain. Aku juga tidak ingin aib rumah tanggaku terungkap pada semua orang.


"Dokter Chintya, ada apa mencariku".


Dokter Herman masuk kedalam rumah makan tempat ku membuat janji bertemu.


Aku memberikan amplop coklat besar pada dokter Herman dan tas yang berisi pakaianku.


"Saya titip ini dokter, ini adalah buku tabungan dan perhiasan pribadi saya juga tas berisi pakaian. Saya mempersiapkan ini jika suatu hari saya harus kabur".


"Dokter Chintya sudah menyelidikinya?"


"Belum dokter, saya hanya bersiap saja. Saya harus mendapatkan buku nikah dan dokumen kepemilikan klinik saya dulu. Baru saya bertindak".


"Jangan gegabah dokter, kamu tidak tahu siapa yang kamu hadapi ini".


"Saya mengerti dokter, saya hanya berharap suami saya pun korban seperti saya".


"Suamimu sangat baik dan sayang padamu. Aku pun berharap yang sama. Kalian berdua adalah korban".


"Terima kasih dokter Herman untuk dukungannya. Doakan saya agar saya bisa mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi".


"Sudah ku bilang, sesama rekan kerja harus saling membantu".


"Saya permisi dulu dokter, sudah larut. Saya pulang dulu"


"Hati-hati dokter Chintya"


-------------


Aku membawa mobil kembali pulang ke rumah besar. Kulihat mobil Mandala pun sudah ada terparkir di halaman.


Memasuki rumah kulihat mereka semua sedang duduk di ruang tengah.


Melky bersama Nia istri barunya duduk bersama Utami. Dan Mandala seperti biasa, bermain bersama Putri.


Ama juga duduk di sana bersama ibunya Melky. Keduanya tersenyum manis sambil memperhatikan kedua cucu mereka.


"Bunda"


Putri yang lebih dahulu melihatku dan berlari mengejarku.


Aku menahan putri.


"Bunda dari luar sayang, Putri tidak boleh memeluk Bunda. Bunda mandi dulu ya cantik".


Putri terlihat kecewa tapi tetap mengangguk. Mandala menghampiri Putri dan memandangku.


"Kamu baik-baik saja sayang? Wajahmu sedikit pucat".


Aku tersenyum kecil.


"Lelah, aku naik dulu"


Mandala melihatku berlalu begitu saja di ruang tengah tanpa menyapa siapa pun dan langsung naik kelantai tiga.


Sebelum menutup pintu lift, aku sempat mendengar ibunya Melky berbicara dalam bahasa daerah yang aku sendiri tidak tahu artinya apa.


Apa mereka membicarakanku.


Aku tidak perduli. Aku benar-benar lelah jiwa dan ragaku.


Aku hanya ingin segera membersihkan diriku dan tidur. Berharap semua ini hanya mimpi.


---------------


Jangan marah pada author yaa.


tidak semua cerita itu harus indah dan manis kan 😉✌✌


penggemar Mandala jangan sedih dulu.


kebenarannya belum terungkap. tetap setia yaa


jangan lupa votenya

__ADS_1


LOVE YOU 😘😘😘


__ADS_2