
Aku menunggu setengah jam ketika kemudian laki-laki muda itu memanggilku.
"Dokter Chintya?"
"Iya Mas" Aku pun berdiri dari dudukku dan menghampiri si mas muda.
"Maaf dokter lama menunggu. Saya masih nunggu konfirmasi dari atasan dulu. Silahkan dokter duduk"
Aku duduk kembali di kursi depan meja kerja di Mas muda.
"Surat lamaran permohonan pindah dinas dari Ibu dokter saya terimakan dulu. Untuk keputusannya tunggu dari direktur rumah sakit bu. Nanti kami akan hubungi ibu"
"Baik, terima kasih"
Aku berdiri dari tempat duduk ku dan memutar badan berniat untuk pergi ketika seorang laki-laki tua masuk ke dalam ruangan. Kami saling berpandangan.
"Ega??"
"Om Ridwan" Aku mengangguk dan menyalami laki-laki tua itu.
"Kamu di sini? ada urusan apa?"
Aku tersenyum. Laki-laki muda tadi tampak salah tingkah melihat keakrabanku dengan dokter Ridwan.
"Ega mau pindah tugas om"
"Kenapa tidak bilang sama om"
"Ega tidak mau merepotkan"
"Kamu ini, ayo masuk ke ruangan om"
Om Ridwan mengajakku masuk ke dalam ruangan yang di depan pintunya tertulis Direktur. Berarti Om Ridwan adalah direktur rumah sakit ini.
"Bulan lalu Om mengunjungi ibumu. Tidak cerita kalo kamu akan pindah tugas"
Om Ridwan adalah ade sepupu ibu yang memang sangat dekat dengan ibu.
"Saya memang tidak memberitahu ibu Om. Saya juga baru satu minggu lebih pulang"
"Kenapa kamu pindah?"
"Saya ingin menemani ibu, kasian ibu".
"Suamimu?"
"Untuk sementara LDR dulu om"
Aku berkata sambil tersenyum. Aku tidak akan memberitahukan permasalahanku dengan om Ridwan. Cukup hanya orang-orang terdekatku saja.
Laki-laki muda di depan tadi masuk ke dalam ruangan Om Ridwan dan memberikan berkasku pada Om Ridwan. Tersenyum dan mengangguk padaku sebelum melangkah keluar.
"Kamu dokter forensik ya?"
Om Ridwan membaca data-dataku sambil manggut-manggut.
"Iya Om, apa ada tempat buat Ega di sini Om?"
"Pasti ada. Dokter forensik ada dua di sini. Tapi dokter Syarif akan pensiun enam bulan lagi. Tenang saja, Om akan bicara dengan dokter Syarif"
"Terima kasih banyak Om. Sekarang saya perlu surat pemberitahuan bahwa saya di terima di sini biar bisa saya kirim ke rumah sakit saya terdahulu"
"Nanti saja, tiga bulan kan waktunya. Biarkan mereka terus mengirimkan gajimu. Sementara saya akan mengatur dulu administrasi kepindahanmu di BKD. Sudah dapat SK baru kamu kirimkan kepada mereka"
Aku mengangguk. Sungguh Administrasi kepindahan seperti ini tidak pernah terbayangkan olehku sebelumnya.
"Terima kasih sebelumnya Om"
"Jangan sungkan, kamu sudah seperti Putri Om sendiri".
"Om, apa boleh Ega magang dulu di sini sambil mengisi waktu?"
"Kamu ini. Sudah dokter spesialis masih minta magang. Kemaren Co-as mu kurang?"
Om Ridwan tertawa. Aku pun hanya tersenyum menanggapi perkataan beliau.
"Om bicara dulu dengan dokter Syarif. Jika beliau berkenan, kamu bisa membantu beliau di jam dinas beliau sekalian kamu bisa mencuri ilmu dari beliau"
"Dengan senang hati Om, tidak usah di gaji juga saya senang"
"Hahahaha. Kamu tunggu kabar dari Om ya"
"Baik Om, terima kasih. Boleh Ega permisi pulang?"
Aku dan Om Ridwan sama-sama berdiri. Om Ridwan mengantar sampai di ruangan tunggu di luar. Semua mata yang tadi menganggapku remeh sekarang hanya bisa tersenyum manis penuh malu.
Aku mencium punggung tangan Om Ridwan
__ADS_1
"Hati-hati di jalan. Salam buat ibumu. Om akan berkunjung nanti"
"Terima kasih om. Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Aku pun melangkah keluar gedung bagian Administrasi rumah sakit milik pemerintah daerah ini.
Kembali aku melihat kebelakang, sedikit menarik nafas lega. Semoga saja aku bisa menjadi bagian dari rumah sakit ini, doaku di dalam hati.
--------------
Aku sudah bersiap untuk keluar dari parkiran rumah sakit ketika handphoneku berdering. Nomor yang tidak tertera di kontakku.
Aku ragu untuk menerimanya, tapi akhirnya aku jawab juga panggilan itu.
"Halo"
Terdengar sepi di seberang telpon
"Halo" ulangku lagi.
"Sayang"
Aku mendengar suara seseorang yang aku kenal.
"Kapten?"
"Kamu bisa kemari? aku ada di hotel xx"
Aku terdiam sesaat.
Mandala ada di kota ini?
"Sayang, aku merindukanmu"
"Datang ke rumah, jika memang ingin bertemu".
Entah kenapa, kata-kata itu yang keluar dari mulutku.
"Sayang..."
"Kapten, aku sudah mengajukan tuntutan. Kita tidak boleh tidur bersama lagi"
"Tapi kita belum bercerai"
"Lucu, mengajukan tuntutan. Tapi masih bersama. Apa kata pengadilan nanti"
"Sayang.."
"Aku seperti wanita pemuas nafsumu. Ketika merindukanku maka kamu datang. Aku seperti istri simpanan"
"Sayang, ada apa denganmu?"
"Aku hanya berusaha bersikap realistis. Aku tidak ingin lagi hidup dalam sandiwara. Jika memang kamu ingin menemuiku. Temui aku di rumah orang tuaku. Tidak diam-diam seperti kita sedang berselingkuh"
"Sayang, kenapa kamu berubah? kamu tidak lagi mencintaiku?"
"Aku masih menyayangimu. Aku masih mencintaimu Kapten. Sudah ku bilang, aku berusaha untuk realistis. Jika kamu masih menginginkanku menjadi istrimu. Aku ingin kejujuran dan keterbukaan. Jika tidak, setujui nanti perceraian kita di pengadilan"
Mandala terdiam, mungkin Mandala tidak menyangka bahwa aku akan bersikap seperti itu.
"Baiklah, jika memang itu maumu. Aku tutup dulu".
Mandala mengakhiri panggilan. Aku tertekun sesaat.
Tepatkah perkataanku? Inikah jalan terbaik yang harus kami jalani?
Aku selalu mengikuti apa maunya Mandala. Aku seperti wanita simpanannya. Yang selalu bertemu diam-diam. Aku tidak mau lagi seperti itu. Jika Mandala memang ingin meneruskan pernikahan kami, Aku ingin Mandala memberitahukan hal ini secara terang-terangan pada keluarganya. Apa pun resiko bahaya yang ada, aku akan menghadapinya.
Akhirnya aku keluar dari parkiran rumah sakit dan pulang kerumah. Di parkiran rumah kulihat sepeda motor milik Rama.
"Assalamualaikum"
Aku mengucap salam ketika sampai di depan pintu.
"Waalaikumsalam"
Ibu dan Rama menjawab serentak.
"Sudah lama?"
Aku duduk di samping ibu.
"Belum, baru saja. Ini, pilih mana yang kamu mau. Kalo perempuan bagusnya yang model ini".
Rama memberiku beberapa gambar senjata api.
__ADS_1
"Terserah saja ma, yang penting ringan dan mudah penggunaannya"
"Lusa wawancara. Ini alamatnya. Kamu datang sendiri atau kujemput?"
Aku berpikir sejenak. Ingat kalo Mandala ada di kota ini. Jika Mandala melihatku bersama Rama. Akan kacau nantinya.
"Pergi sendiri saja, kita ketemu di sana ya"
"Baiklah. Kalo begitu, aku permisi dulu. Sampai jumpa lusa ya Ga"
Aku mengangguk sambil berdiri mengantar Rama kedepan pintu.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
"Hati-hati nak Rama"
Rama hanya mengangguk kemudian melajukan motornya menjauh.
"Ibu..."
Aku merangkul ibu masuk kedalam rumah. Ibu pun langsung menutup pintu dan menguncinya.
"Jangan suka terima tamu kalo ibu sendirian di rumah"
"Kan ibu sudah kenal sama nak Rama. Apa yang ibu takutkan"
Aku duduk di ruang keluarga sambil menghempaskan tubuhku.
"Ega kerumah sakit. Ternyata direkturnya Om Ridwan. Titip salam buat ibu"
"Ibu tahu kalo Ridwan direktur rumah sakit. Kamu tidak minta bantu ibu, jadi ibu diam saja"
Ibu membentuk gerakan mengunci pada bibir beliau.
Aku tersenyum geli.
"Om Ridwan janji akan mencarikan tempat buat Ega bu"
"Ridwan itu baik. Kalo dia berjanji, pasti akan di tepatinya"
Ibu berdiri, berniat untuk pergi kedapur.
"Ibu..."
Ibu menghentikan langkahnya dan kembali melihatku.
"Tadi Mandala menelpon"
"Trus?"
Ibu kembali duduk dan menatapku dengan serius.
"Mandala ada di kota ini, mengajak Ega bertemu di hotel, tapi Ega menolak"
"Baguslah jika kamu menolak. bertemu di rumah ini"
"Ega juga berkata begitu bu. Kita tunggu saja Mandala datang atau tidak"
"Kamu jangan plin plan. Tegas sama pendirianmu"
"Iya Ibu, Ega sudah sadar. Ega tidak ingin lagi menjadi pion mereka. Kemaren Ega mengalah karena Ega di kota mereka. Sekarang Ega sudah pulang. Ega merasa aman di kota sendiri".
"Jika memang Mandala ingin meneruskan pernikahan kalian. Mandala harus tegas terhadap Ama. Jika tidak maka datanglah kepengadilan"
"Ega juga berkata seperti itu pada Mandala bu"
"Sudah, ibu mau masak dulu. Kamu mau tidur atau bantu ibu?"
"Boleh gak Ega nonton dulu?"
Aku nyengir kuda pada ibu.
"Bilang saja gak mau bantu"
Ibu pergi kedapur meninggalkan ku sendiri menonton televisi serial india yang selama ini tidak pernah aku tonton lagi.
"Love you ibu"
Aku setengah berteriak yang hanya di jawab ibu dengan mendehem ringan.
---------
Sabar yaa yang mau cerita tentang Mandala.
LOVE YOU 😘😘😘
__ADS_1