Jodohku

Jodohku
Sahabat kecilku


__ADS_3

Pagi yang cerah. Aku berkunjung ke rumah Ayu sahabat kecilku. Aku bermain dengan anak-anak Ayu. Mereka sangat lucu. Aku jadi teringat Putri dan Utami.


Ayu sebagai sahabat kecilku tentu saja menyadari ada yang salah pada diriku. Aku hanya tersenyum, belum waktunya aku bercerita pada Ayu.


"Berapa lama nih pulang kampungnya?"


"Selamanya"


"Lhooo???"


"Aku minta pindah tugas kemari"


"Kenapa?"


"Kasian ibu, waktuku berbakti pada ibu"


"Tidak berbakti pada suami?"


"Kami akan bercerai"


Ayu terdiam. Memegang tanganku. Aku menatap Ayu dengan mata berkaca-kaca.


"Kenapa?"


"Jodoh kami sudah habis"


"Karena anak?"


"Mungkin itu salah satunya"


Ayu tidak lagi bertanya apa-apa padaku. Ayu tahu, dari jawaban-jawaban singkatku itu berarti aku masih enggan bercerita.


"Nikmati liburanmu di sini. Ayo kita jalan-jalan. Sudah lama kan kita tidak hang out berdua"


"Anak-anakmu?"


"Tenang, ada kakek dan neneknya yang bersedia menjaga. Kuantar ke rumahmu pun, ibumu bersedia menjaga mereka"


"Kasian ibu, di hari tuanya ingin sekali menimang cucu"


"Anak-anakku juga cucu ibu kok. Jangan terlalu lebay ah Ga.. Ibu juga gak pernah protes apapun padamu kan?"


"Oh iya, ada reuni SMP bulan depan. Kamu masih di sini kan? Kita hadir yok!"


"Kenapa? kamu mau CLBK sama cinta monyetmu di SMP itu?"


"Hahahahahha sudah kaya dia sekarang. Bos batu bara"


"Serius?"


"Kamu sih Ga ngak pernah pulang. Setiap buka puasa bersama, selalu dia yang jadi bosnya"


"Masih item gak?"


"Masih lah, itu kan warna aslinya hahahaha. Tapi biar item, ceweknya ganti-ganti"


"Iya, mereka mau duitnya doang"


Aku dan Ayu tertawa bersama. Keberadaanku di rumah Ayu mengurangi sedikit kesedihanku. Apalagi kedua anaknya Ayu mampu membuatku tersenyum dengan tingkah lucu mereka.


"Ingat gak, kalo kita makan di kantin. Amat selalu ngekor di belakang kita minta di bayarin makan. Gak nyangka kalo sekarang jadi Bos"


"Nasib seseorang, mana kita tahu"


"Udah, gak usah sedih lagi. Tadi udah ketawa-ketawa eh melow lagi"


Aku kembali tersenyum sambil menyandarkan kepalaku di bahu Ayu.


"Foto Yu, kirim ke Ari. Biar dia pulang juga"


"Bapak dan ibunya sekarang ikut pindah juga kesana. Ari kemari buat datangin siapa?"


"Datangin kita lah. Kita kan sahabatnya"


"Ayo kita WA Ari. Kita lihat, apa komentarnya dia"


Aku dan Ayu berfoto berdua. Kami kirim foto itu ke grup chat sahabat kecil kami. Kami tinggal menunggu reaksinya Ari ketika melihat foto kami.


Tak berapa lama, handphoneku dan Ayu berbunyi. Itu tandanya Ari sudah membalas chat di grup kami.


"Ayu, kenapa manusia tanpa kabar itu sekarang ada bersamamu?"


Ari berkomentar tentangku. Karena memang selama ini, aku tidak pernah menghubungi mereka berdua. Jelas saja, kalo Ari yang memang bertempramen keras itu marah padaku. Beda dengan Ayu yang memang lembut. Ayu pun tidak pernah berbicara kasar padaku.


"Wahai ibu Polwan yang tersayang. Maafkanlah diriku yang hina ini"


Aku membalas chatnya Ari di grup.


"Dia mengetuk pintu rumahku sambil membawakanku mie pangsit. Bagaimana aku bisa menolaknya?"


Ayu pun ikut berkomentar.


Ari mengetik..


"Apa yang terjadi? Aku tahu dari wajah dokter itu kalo dia mempunyai masalah"


Aku membalas.


"Bu Polwan, kau memang polisi sejati. Pantas saja penjahat takut padamu"


Ari mengetik...

__ADS_1


"Aku bisa membaca raut wajah seseorang, jangan kalian membohongiku"


Ayu mengetik..


"Pulanglah, kami butuh dirimu"


Ari mengetik...


"Siapa yang harus ku tembak ketika aku pulang"


Aku membalas


"Mandala"


Ari dan Ayu mengetik...


"??????"


Ayu yang berada di dekatku membelai kepalaku yang masih memakai hijab.


"Sabar"


Aku hanya tersenyum.


Ari mengetik..


"Pangkatnya sudah Mayor, bagaimana aku bisa menghukumnya"


Aku membalas.


"Kamu takut dengan pangkatnya? Kamu tidak menyayangiku?"


Ari mengetik..


"Ceritakan semuanya. Biar setelah itu aku bisa memutuskan. Menembaknya atau memutilasinya"


Aku dan Ayu mengetik...


"hahahahhahaha"


Ari mengetik..


"Malam ini, jam delapan malam. Sekarang aku masih dinas. Kutunggu kalian berdua"


Aku dan Ayu mengetik..


"SIAP BU POLWAN"


Ari mengetik..


"Aku apel dulu"


"Ada apa Ga?"


"Nanti malam jam delapan. Aku tidak ingin bercerita ulang nanti pada Ari"


"Huh"


Ayu mendorong pundakku dengan kesal.


"Aku tidurkan anak-anak dulu yaa"


"Aku pulang aja Yu. Aku juga mo tidur. Ngantuk!"


"Baiklah, hati-hati dijalan. Sampai ketemu nanti malam".


Aku melambaikan tanganku pada Ayu sebelum melajukan sepeda motor matic milikku dulu yang masih ada sampai sekarang.


-------------------


Pukul delapan malam teng. Aku berada di kamarku sendiri. Kamar masa kecilku. Kamar ketika aku belum mengerti dunia luar.


Notifikasi di handphoneku berbunyi. Aku tahu itu pasti grup sahabat kecilku.


Kubuka grup chat sahabat kecilku. Ari yang lebih dulu berada di dalam obrolan.


"Halo.. halo... Apa kalian masih hidup?"


Ayu mengetik..


"Ari, tidak bisakah dirimu berubah lebih lembut. Bagaimana anakmu melihat sikapmu yang seperti itu"


Ari mengetik..


"Hanya kepada kalian aku begini. Aku lemah lembut untuk anak dan suamiku"


Aku mengetik...


"icon muntah"


Ayu mengetik...


"uweeekkkk... dokter tolong aku mo muntah"


Ari...


"Dokter Ega yang budiman, mulailah dongengmu sebelum aku tertidur"


Aku..


"Kita video bertiga. Okey?"

__ADS_1


Ayu...


"Kondisikan anak-anak dulu kalo begitu"


Ari..


"Sama, ini rahasia kita bertiga. Jangan sampai terdengar orang lain"


Aku menunggu mereka berdua siap. Ketika mereka berdua sudah mengkondisikan keadaan di rumah mereka masing-masing. Mereka memberitahuku. Aku pun memulai panggilan video untuk kami bertiga.


"Aku akan bercerita, jangan di potong ceritaku"


Ari dan Ayu mengangguk.


"Aku akan menuntut cerai Mandala"


"Apa alasanmu Ga?" Kali ini Ari yang bertanya.


Aku menceritakan semua pada Ayu dan Ari. Aku tidak perduli walaupun Mandala atau siapapun marah karena aku menghamburkan cerita aib keluarga mereka.


Begitu aku menarik nafas menyelesaikan ceritaku. Ari langsung marah-marah dan mengeluarkan semua sumpahannya.


Ari..


"Beritahu di mana alamat Ama. Aku akan langsung memberinya suntikan mati"


Aku...


"Kamu dong yang akan di penjara. Apa aku harus menggantikanmu menjadi istri dari suamimu?"


Ari...


"Jangan bercanda. Aku serius. Ingin ku tembak kepala mereka semua"


Kali ini Ari berkata sambil terisak. Sedangkan Ayu dari tadi sudah terisak menangis tanpa berkata apa-apa.


"Aku perlu dukungan kalian. Jika sesuatu terjadi padaku. Kalian sudah mengetahui semua ceritanya"


"Kami berdua mendukung semua keputusanmu. Kenapa baru sekarang kamu bercerita Ga?"


"Aku tidak bebas bergerak. Karena di kotaku sendiri, aku merasa bebas sekarang"


"Apa kamu tidak merasa masih diikuti?"


"Aku tidak perduli, aku serahkan nyawaku pada yang Kuasa. Yang penting, aku sudah berada di sini. Aku juga sudah menulis semuanya pada sebuah buku. Itu bisa jadi bukti jika aku mendapat masalah di sini"


"Kamu hebat Ga. Aku akan meminta rekanku di sana untuk mengurus perijinan senjata api untukmu. Kamu perlu itu untuk berjaga-jaga"


"Mendiang Bapak dulu punya Ri"


"Jangan, gunakan atas namamu sendiri. Tenanglah, aku akan mengurus itu untukmu. Dan aku akan memintanya untuk mengajarimu"


"Rekanmu itu laki-laki?"


Akhirnya Ayu bersuara dengan suara seraknya.


"Kenapa? ingin kau jodohkan dengan Ega?"


"Tidak, aku tidak ingin lagi berurusan dengan Polisi, Tentara atau abdi negara lainnya. Aku sudah kapok"


"Hahahahha. Ega, tidak semua Abdi Negara kan seperti Amamu itu. Semuanya baik-baik saja"


"Temanmu itu siapa?"


"Ayu, kenapa kamu menjadi kepo?"


"Seorang Jaksa" Ari menjawab pertanyaan Ayu.


"Tidaaakkk, aku juga takut terhadap Jaksa. Banyak orang yang dendam pada jaksa dan hakim"


Mereka berdua kompak tertawa.


"Jadi kamu ingin mencari suami seorang dokter juga?"


"Hei, kalian berdua. Aku belum bercerai. Kenapa kalian sangat antusias mencarikanku suami baru?"


"Begitu akta ceraimu keluar dan habis masa tunggu. Kamu harus langsung menikah. Biar Mandala tahu kalo kamu masih laku"


"Jika aku tidak bercerai dengan Mandala, bagaimana tanggapan kalian?"


Keduanya menarik nafas panjang.


"Jangan ada rahasia lagi" Ayu berkata dengan lembut


"Ama harus mati" Ari berkata dengan geram.


Aku tertawa melihat perbedaan mereka berdua. Seperti langit dan bumi. Tapi itulah sahabatku. Karena sifat kami yang berbeda, yang membuat persahabatan kami menjadi unik.


Aku menyayangi mereka berdua. Mereka pun menyayangiku.


Kami tidak pernah saling menjatuhkan atau pun merasa paling di atas. Tapi kami selalu berada di depan setiap sahabat kami kesusahan.


Aku bahagia melihat mereka bahagia walaupun kehidupanku tidak bahagia.


------------


Apa kalian juga memiliki sahabat masa kecil?


Jangan lupa votenya yaa


LOVE YOU 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2