Jodohku

Jodohku
Episode 24


__ADS_3

Azizah terlihat segar selesai mandi. Kemudian dia langsung mau mengajakku makan. Namun aku tolak karena dari kejauhan terdengar suara adzan isya.


"Kita sholat isya dulu yuk Zah!" pintaku pada Azizah.


"Kamu nggak lapar Sa?" tanyanya padaku.


"Lapar sih Zah, tapi masih bisa di tahan kok," jawabku.


"Ya udah, ambil wudhu sana!" perintahnya padaku. Aku segera berlalu meninggalkan Azizah menuju kamar mandi. Ku usap wajahku dengan air wudhu. Rasanya begitu segar. Kami sholat Isya berjamaah. Selesai sholat kami segera ke depan untuk makan. Masakan ibu Azizah enak juga.


"Ayo nak Khansa, jangan sungkan. Kalau mau nambah, nambah aja," ucap Ibu Azizah padaku


"Iya buk, masakan ibu enak," ucapku. Ibu Azizah tersenyum padaku.


"Anggap aja rumah sendiri nak Khansa, nanti kalau terlalu malam, mending nginep aja," ucap bapak Azizah.


"Iya pak," balasku. Azizah terlihat sangat menikmati makanan yang di sajikan ibunya tanpa banyak bicara.


"Zah, laper apa doyan?" tanyaku sambil tersenyum.


"Laper plus doyan Sa," jawab Azizah sambil ketawa.


Selesai makan saat hendak mau pamit pulang, tiba-tiba ada tetangga Azizah masuk ke rumah. Seorang ibu-ibu terlihat gelisah.


"Sa, jangan pulang dulu. Itu ada mama Rara," ucap Azizah.


"Memang kenapa dengan mama Rara Zah?" tanyaku.

__ADS_1


"Lihatlah, jika dia gelisah pasti dech bakal mau kesurupan," ucap Azizah. Benar saja yang di ucapkan Azizah, belum sampai 15 menit mama Rara berteriak tak karuan.


"Sa, bantu pegangin!" pinta Azizah yang terlihat memegangi badan mama Rara bersama ibunya. Jujur, menyaksikan mama Rara kesurupan aku hanya bisa duduk mematung tanpa bereaksi. Ada ketakutan menelusup dalam hati. Secara reflek aku segera berdzikir. Tapi tetap saja mama Rara berteriak tak karuan.


"Ayo Sa, bantuin. Kasihan dia kalau nggak dipegangin, pas dia sadar badannya sakit semua," pinta Azizah padaku.


"Nggak Zah, kamu aja," ucapku kemudian aku ambil ponsel yang ada dalam tasku. Segera ku ambil ponselku dan mencari aplikasi Al-Quran. Dengan cepat aku membaca ayat-ayat ruqyah, 3 surat pendek Al Ikhlas, Al Falaq, dan An Naas. Terus aku lanjutkan membaca Ayat kursi, 5 ayat awal surat Al Baqarah dan 3 ayat akhir surat Al Baqarah juga. Ketika aku sedang membaca, mama Rara berteriak memakiku sambil bilang kepanasan. Habis itu dia muntah dan sadar. Setelah sadar, ibu Azizah mengantarnya pulang. Jujur, aku masih panik melihat semua ini.


"Sa, makasih ya," ucap Azizah padaku.


"Untuk apa?" tanyaku


"Biasanya mama Rara kalau kesurupan lama. Dia kalau mau kesurupan nyari teman agar ada yang mau bantuin," ucap Azizah.


"Emang sudah sering seperti itu Zah?" tanyaku.


"Zah, aku pamit ya. Sudah malam," ucapku.


"Nginep aja Sa," pinta Azizah.


"Maaf Zah, besok harus berangkat pagi-pagi. Anak-anak lagi ujian semester," ucapku. Segera aku pesan ojek online dan pamit pada Azizah serta kedua orang tuanya.


*****


Pagi-pagi aku sudah bersiap di depan rumah menanti ojek online untuk mengantarkan aku ke sekolah. Tapi entah kenapa ojek online yang aku pesan tak muncul juga."Bisa terlambat aku," gumamku. Aku mulai gelisah. Dalam kegelisahanku tiba-tiba muncul mobil mewah yang tak asing bagiku. Benar saja, wajah gadis kecil Nayla muncul dari balik kaca.


"Ustadzah, ayo naik," pinta Nayla padaku. Aku bingung mau naik atau tetap menunggu ojek online pesananku yang tak kunjung datang. Jika aku terus menunggu, aku bisa terlambat. Tapi jika naik bersama Nayla, aku tak enak terhadap pandangan guru-guru padaku. Ah, bagaimana ini.

__ADS_1


"Ayo ustadzah, nanti keburu telat," suara Nayla membuyarkan kebingunganku. Dengan terpaksa aku naik ke mobil Nayla. Aku hanya duduk terdiam dikursi belakang. Sesekali kulihat papanya Nayla tersenyum padaku. Aku jadi salah tingkah. Ya Allah, apa aku jatuh cinta pada papa Nayla. Kenapa dia begitu baik dan perhatian padaku. Disisi lain, dalam hatiku yang paling dalam, aku masih takut untuk memulai hubungan yang baru. Aku takut gagal lagi.


Kurang lebih 30 menit kami sampai di sekolah. Aku dan Nayla keluar dari mobil. Tak lupa kuucapkan terimakasih pada papa Nayla. Saat aku jalan bareng Nayla, terlihat rekan kerjaku memandangiku.


"Waduh ustadzah Khansa, serasi sekali. Sudah terlihat seperti keluarga," ucap ustadzah Dewi padaku. Nayla tampak gembira mendengarkan ucapan ustadzah Dewi. Sementara aku, aku jadi serba salah.


"Kenapa nggak disahkan saja ustadzah," lanjut ustadzah Dewi sambil tersenyum. Aku hanya bisa membalas dengan senyuman.


"Jangan sampai jadi fitnah. Nggak enak di lihat wali murid." Ustadzah Dewi segera meninggalkan aku setelah berkata seperti itu. Aku jadi bingung harus bagaimana.


*****


Aku sedang sibuk dengan lembaran-lembaran soal dan jawaban ujian anak-anak. Sedangkan bapak dan ibu sibuk dengan warung nasi uduk nya. Tiba-tiba terdengar salam dari depan rumah. Segera aku ke depan untuk melihat siapa yang datang. Ternyata papa Nayla yang datang.


"Silakan masuk pak," ucapku. Kemudian papa Nayla masuk dan duduk di kursi.


"Maaf ya pak saya tinggal dulu ke belakang," ucapku yang dibalas dengan anggukan. Aku segera ke belakang untuk mengambil minuman dan sedikit camilan. Sesaat setelah aku hidangkan papa Naylapun bicara.


"Ustadzah, maaf jika kedatangan saya mengganggu kesibukan ustadzah. Saya hanya ingin bicara sama bapak dan ibu," ucapnya.


"Oh begitu, baiklah saya panggilkan bapak dan ibu sebentar ya pak," ucapku langsung menuju ke warung ibu. Ibu dan bapak bingung ketika papa Nayla mau bicara sama mereka. Akhirnya warung di titipkan dulu sama mpok Leha tetangga kami. Kami pun pulang ke rumah bertiga sedangkan papa Nayla duduk sendirian di dalam rumah.


Bapak dan ibu duduk di kursi. Aku ingin melangkah ke belakang karena papa Nayla ingin bicara kepada kedua orang tuaku. Mungkin ada urusan pekerjaan atau apa yang hendak mau di bicarakan.


"Ustadzah, saya juga ingin bicara sama ustadzah," ucapan papa Nayla menghentikan langkahku untuk ke belakang. Kemudian akupun ikut duduk.


"Bapak, ibu, ustadzah, kedatangan saya kesini sebenarnya saya bermaksud meminang ustadzah Khansa untuk menjadi istri saya sekaligus mamanya Nayla," ucapan papa Nayla membuatku kaget. Sedangkan bapak dan ibu hanya saling pandang. Disisi lain ada perasaan bahagia karena laki-laki yang baik seperti papa Nayla mau menjadikan aku seorang istri, tapi di sisi lain ada ketakutan untuk melangkah ke jenjang pernikahan lagi.

__ADS_1


__ADS_2