Jodohku

Jodohku
Suka dan Duka


__ADS_3

Jumat pagi yang gerimis. Aku duduk di meja makan seperti biasa menikmati sarapan yang di buat oleh Ibu.


"Mandala jadi datang hari ini?" Ibu bertanya padaku sebelum ikut duduk sarapan bersamaku.


"Katanya sih bu. Kita lihat saja nanti"


"Semua sudah siap Ga?"


"Kalo Mandala benar datang, baru Ega telpon penghulunya bu"


"Baiklah, ibu akan kepasar dulu. Jika benar kalian besok menikah, ibu ingin membuat makan siang bersama di rumah"


"Terserah ibu saja. Ega nurut. Ega berangkat dulu ya bu"


"Ega.."


Aku menghentikan langkahku dan melihat ibu.


"Sepertinya kamu tidak yakin Mandala akan datang"


"Entahlah bu. Biarlah waktu yang berbicara. Kita tunggu saja"


Ibu tersenyum, aku pun kembali melangkahkan kakiku untuk berangkat kerja ke rumah sakit.


------------------


"Dala, jam berapa kita berangkat?"


Ayah bertanya pada Mandala.


"Sehabis jumatan. Ayah sudah berkemas?"


"Hanya dua lembar baju. Sabtu sore Ayah kembali"


"Ayah kembali sendiri?"


"Kau pasti mau malam pengantin kan? jelas Ayah pulang sendiri"


"Ayah pulang minggu saja bersamaku"


"Tidak! terlalu lama di luar, berbahaya untukku"


"Baiklah, Ayah bisa membawa asisten Ayah"


Ayah tertawa.


"Aku memang membawanya"


"Ayaahh"


"Sudahlah, cepat selesaikan urusanmu sebelum kita berangkat. Kita bertemu di bandara saja. Jangan kemari lagi menjemputku"


Mandala hanya mengangguk kemudian berpamitan pada Ayah.


-------------


"Sayang, aku sudah di hotel, aku akan kerumahmu bertemu ibu. Sebentar lagi kami berangkat"


Mandala menelponku. Aku hanya tersenyum.


"Aku akan memberitahukan ibu. Bagaimana Ayah?"


"Baik, selalu tidur di pesawat. Kamu masih di rumah sakit?"


"Hmmm. Sebentar lagi pulang"


"Baiklah, sampai ketemu. Aku mencintaimu"


Setelah panggilanku dan Mandala terputus, Aku menelpon ibu, memberitahukan ibu bahwa Mandala akan segera ke rumah.


"Baiklah, ibu akan bersiap. Kamu segeralah pulang!"


"Sebentar lagi bu. Ini sudah siap-siap"


Aku pun bergegas untuk pulang. Sore ini Mandala langsung menemui ibu sebelum akad nikah kami kembali besok pagi.


-------------------


"Assalamualaikum"


Aku mengucap salam sebelum masuk ke dalam ruang tamu yang sudah di penuhi beberapa orang. Kulihat Mandala sudah berada di sana bersama Ayah dan dua orang asisten mereka. Sedangkan ibu di temani Bapak dan Ibunya Ayu.


Semua orang di dalam ruang tamu serempak menjawab salamku. Dua orang asisten bertubuh tegap itu berdiri dan mengangguk padaku. Aku tersenyum kepada mereka semua.


"Maaf, Ega mandi dulu. Baru pulang dari rumah sakit"


"Mandilah dulu. Kami akan menunggu"


Ibu yang menjawab mewakili mereka semua. Aku pun bergegas menuju kamarku dan segera mandi.


Aku kembali ke ruang tamu dan kembali memasang senyuman manisku.


Sejenak aku ragu, apakah menyapa ayah atau pura-pura tidak kenal. Mandala sepertinya mengerti keraguanku. Kemudian memperkenalkan Ayah padaku sebagai Ayah angkatnya di Angkatan. Aku tersenyum kemudian menyalami Ayah dan mencium punggung tangan Ayah.


"Apa kabarmu nak?"


"Baik, Ayah. Terima kasih sudah mau datang ke rumah kami"


Ayah hanya tersenyum sambil mengelus kepalaku.


"Duduklah di sini Ga!" Ibu menepuk tempat duduk tepat di samping ibu.


"Ega, Mandala berniat melakukan akad nikah malam ini"


Aku mengerutkan dahiku dan menatap Mandala.


"Tadi Melky telpon yang, Ama kritis. Aku harus kembali secepatnya. Kalo bisa mengejar pesawat malam ini"


"Pesawat terakhir jam tujuh malam"

__ADS_1


"Kalo begitu, kita ambil pesawat paling pagi" Mandala menoleh pada asistennya. Yang di jawab dengan anggukan.


"Bagaimana akad nikahnya.Ga? kamu setuju?" Ibu kembali bertanya padaku.


"Bagaimana dengan penghulunya?" Aku balik bertanya pada ibu.


"Bapak tinggal telpon, asal Ega setuju"


Aku menoleh ke bapaknya Ayu.


"Surat-suratnya pak?"


"Beliau yang akan bantu uruskan di KUA besok pagi"


"Kalo sudah beres, Ega setuju saja"


"Baiklah, bapak akan telpon penghulunya. Sehabis Isya malam ini"


Bapaknya Ayu langsung beranjak dari tempat duduk dan melakukan panggilan pada handphonenya.


"Kalo begitu, Dala permisi dulu bu. Malam ini Dala kembali lagi"


"Apa tidak repot bolak balik. Kalian istirahat saja di kamar tamu"


"Pakaian kami ada di hotel bu, biar kami kembali dulu ke hotel".


"Baiklah kalo begitu, bawa sekalian pakaian kalian. Nanti menginap saja di sini"


"Merepotkan ibu nantinya. Biar Dala saja yang tidur di


sini, kami tahu dia ingin menghabiskan waktu bersama Ega nantinya."


Ayah tertawa sambil menepuk pundak Mandala. Kemudian kembali berpamitan pada ibu.


"Kami permisi dulu bu, mau mendandani pengantin pria"


"Ayaaahh"


Aku tersenyum mendengar ayah menggoda Mandala dari tadi. Kami pun mengantar mereka sampai ke pintu. Mandala kembali berpamitan dan mencium punggung tangan ibu sebelum melangkah menuju mobil yang membawa mereka tadi kemari.


"Ega, bersiaplah. Apa kamu tidak berdandan?"


"Tidak bu, Ini pernikahan yang kedua. Tidak usah berdandan, Ega sudah cantik di mata Mandala"


"Kamu terlalu pede"


"Apa ibu tidak percaya kalo putri ibu cantik?" Aku memeluk ibu. Ibu juga memelukku erat.


"Semoga kamu bahagia kali ini Nak, Tidak ada lagi masalah diantara kalian berdua"


Aku menghapus air mata yang jatuh di kedua pipi ibu.


"Doa ibu bersama Ega. Ega pasti akan bahagia"


Aku dan ibu kembali berpelukan. Air mataku pun menetes tanpa suara.


------------------------


Tepat pukul delapan, Mandala kembali mengucapkan ijab kabul untuk menikahiku. Bapaknya Ayu sebagai saksi dari pihak perempuan. Dan Mandala meminta seorang Asistennya untuk menjadi saksi dari pihaknya.


Mandala mengenakan baju koko putih berkerah shanghai dan memakai peci hitam. Seperti biasa, Mandala terlihat sangat tampan di umurnya yang sudah kepala tiga. Sedangkan aku hanya memakai gamis putih dan memakai khimar putih. Bagiku yang penting Sahnya ijab kabul ini. Pakaian yang kugunakan tidak penting bagiku.


Ibu di bantu ibunya Ayu mempersiapkan makan malam untuk kami semua. Setelah Akad nikah selesai, kami pun makan bersama.


Sampai kemudian asisten Mandala membisikan sesuatu.


Mandala mendekatiku.


"Aku harus kembali, apa kamu akan ikut?"


"Kenapa?"


"Ama mencariku. Aku harus kembali malam ini juga memakai helikopter"


"Aku ikut"


Aku pun langsung berdiri dan menemui ibu. Menceritakan semua pada ibu.


"Cepatlah berkemas" Ibu menyuruhku setelah aku selesai bercerita.


"Baik bu"


Aku segera kekamarku untuk berkemas. Hanya membawa beberapa pakaian karena minggu aku juga harus kembali. Mandala mengetuk pintu kamarku yang memang terbuka.


"Aku numpang ganti baju"


"Masuklah. Apa ayah juga akan ikut pulang?"


"Tidak, Ayah pulang besok pagi. Kita berangkat bertiga malam ini"


Mandala tanpa canggung membuka pakaian di depanku. Sekilas aku memandangi Mandala.


"Apa kamu lupa bentuk tubuhku dalam empat bulan ini?"


Mandala tersenyum melihatku yang memandangi tubuhnya.


Aku melempar Mandala dengan handuk kecil yang kupegang sambil menyembunyikan senyumanku.


"Sayang, jika kita tidak buru-buru. Aku akan langsung menyerangmu malam ini" Mandala memelukku dari belakang.


"Aku mau ganti baju. Kita buru-buru kan?"


Aku melepaskan diri dari pelukan Mandala yang tertawa kecil melihat tingkah malu-maluku.


Mandala membawa tasku keluar kamar. Ibu sudah menjelaskan situasinya pada pak penghulu yang masih berada di rumah. Aku dan Mandala pun berpamitan pada ibu.


"Kasih kabar ibu tentang Ama yaa?"


"Tentu bu"

__ADS_1


Aku memeluk ibu. Mencium kedua tangan ibu dan kembali memeluk.


"Minggu kembali kan?"


"Ega kan harus kerja senin bu. Kalo ibu lelah, panggil orang buat bersih-bersih rumah"


"Jangan pusingkan masalah itu. Ibu sudah biasa kan mengurus rumah sendiri"


"Yang, Ayo!"


Mandala memegang bahuku. Aku kembali mencium kedua tangan ibu sebelum keluar rumah.


Ayah pun juga berpamitan pada ibu untuk kembali ke hotel. Tapi ayah dan asisten ayah menggunakan kendaraan yang berbeda, karena tujuan kami yang juga berbeda.


-----------------


Kepalaku berputar putar ketika helikopter ini berhenti. Aku tidak bisa melangkah karena pusing yang kurasakan. Mandala menggendongku keluar dari helikopter. Untung ini sudah tengah malam, hanya beberapa orang yang bertugas di pangkalan saja yang ada dan melihat adegan "pengantin baru" kami.


Jika ini siang hari, wajahku pasti akan memerah karena malu.


"Masih pusing?"


Mandala membelai kepalaku ketika kami sudah di mobil. Aku yang dari tadi memejamkan mata hanya mengangguk.


Kami pun sampai di rumah besar. Aku kembali ke rumah ini. Kembali menjadi Nyonya.Mandala.


"Istirahat di kamar. Biar aku yang menemui Ama sendiri"


Mandala kembali menggendongku ke kamar kami dulu di lantai tiga. Hanya ada dua orang asisten di ruang tengah yang kemudian di minta Mandala membuatkan teh panas untukku.


"Tidurlah, aku usahakan untuk kembali dengan cepat"


Mandala keluar kamar bersamaan dengan masuknya asisten memberiku segelas teh panas.


"Ibu, selamat datang kembali"


Asisten itu tersenyum padaku yang kubalas juga dengan senyuman.


"Bagaimana Ama?"


"Semua orang di dalam kamar Ama menangis dari tadi bu"


"Apa mereka tahu Kapten kemana?"


"Tahu bu. Karena itu mereka terus memaksa Bapak untuk segera pulang. Mungkin supaya ibu tidak jadi menikah lagi"


Asisten itu bercerita sambil tersenyum simpul.


"Kami sudah menikah lagi"


"Saya sudah tahu bu, tidak mungkin bapak mengajak ibu ke kamar ini lagi jika belum menikah"


Aku menghirup teh panas dan menarik nafas panjang.


"Kepala saya pusing naik helikopter. Semua jadi berputar putar tadi"


"Ibu istirahat saja, saya mau lihat keadaan di bawah dulu"


Asisten itu pun berpamitan padaku. Keluar kamar dan menutup pintu kembali rapat-rapat.


Aku berusaha kekamar mandi dengan rasa pusing yang masih ada. Membuka jilbabku dan mencuci muka. Kemudian membaringkan tubuhku di atas tempat tidur milikku dan Mandala dulu dan sekarang.


Mandala membuka pintu, langsung menuju kamar mandi. Membersihkan badan dan berganti pakaian.


Mandala memelukku dan terisak.


"Kapten??"


"Ama.."


"Kenapa Ama?"


"Ama sudah pergi" Mandala kembali terisak. Aku membelai punggung Mandala.


"Innalillahi wainnailaihirojiun.. Ama sudah tenang sayang. Menangislah jika itu membuatmu lega"


"Aku tidak tahu, bahagia atau sedih dengan keadaan ini" Mandala masih saja terisak.


"Semoga ini awal kebahagiaan kita"


Mandala kembali memelukku erat. Sesaat kemudian tangisan Mandala mereda dan memandangiku dengan senyuman manisnya.


"Kenapa? baru habis menangis langsung senyum-senyum"


Mandala membelai wajahku.


"Bisa menghiburku malam ini?"


"Dari tadi aku sudah menghibur dan menenangkanmu kan Kapten?"


"Bukan dengan cara itu. Tapi ini"


Mandala mencium bibirku. Aku mendorong Mandala.


"Kita sedang berduka"


"Hmmmm"


Mandala kembali mencium bibirku. Aku pun akhirnya menyerah pada sentuhan dan ciuman Mandala. Karena aku pun memang merindukan sentuhan Mandala selama empat bulan ini.


Malam ini di lantai tiga menjadi malam yang panas dan bergairah. Kami kembali menikmati malam "pengantin baru" kami di tengah suasana haru dan berduka di lantai satu.


Semoga semua yang terjadi di malam hari ini akan ada hikmahnya dan membawa kebaikan untuk semua orang.


-------------------


Jangan lupa votenya yaa


LOVE YOU 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2