Jodohku

Jodohku
Mengurus perceraian


__ADS_3

Aku menatap pintu masuk kantor pengadilan Agama. Sesaat langkahku terhenti. Ayu yang menemaniku juga ikut menghentikan langkahnya.


"Bismillah Ega. Serahkan semua pada Alloh"


Aku tersenyum.


"Ayooo.."


"Bismillahirrahmanirrahim. Beri hamba jalan yang terbaik ya Alloh" Ucapku dalam hati.


Kami menuju loket pendaftaran. Aku harus mengisi beberapa blanko data terlebih dahulu. Jika aku memakai pengacara, tentunya hal ini tidak harus kulakukan sendiri. Tapi aku ingin mengisi waktuku sebelum aku kembali bekerja. Aku bosan di rumah. Dengan begini aku bisa keluar rumah sekalian menghibur hatiku.


Sudah satu minggu aku pulang. Mandala tidak ada menghubungiku sama sekali. Aku pun enggan menghubunginya lebih dulu. Aku harus biasa untuk menahan diriku jika suatu saat kami memang benar-benar berpisah.


Dua hari yang lalu Rini di tarik pulang oleh Mandala.


Rini tidak lagi bertugas mengawalku.


Di luar dugaan, Rini datang ke rumah untuk berpamitan padaku dan sempat berkata


"Ibu, lakukan apa yang hati ibu ingin lakukan. Jangan ragu, Jangan dengarkan kata orang lain. Jangan percaya dengan siapa pun. Walaupun orang itu berkata menyayangi dan mencintai ibu"


Mandala kah yang di maksud Rini?


Air mataku menetes ketika aku mengisi blanko ini. Sesaat aku tertekun. Apa alasan yang harus ku buat di sini sebagai pengajuan cerai?


Aku belum mendiskusikannya dengan Mandala.


Akhirnya kutulis bahwa kami berpisah karena tidak memiliki anak. Tepatkah alasan itu? Terserah lah, Hakim percaya atau tidak, itu urusan nanti.


Setelah menulis data, menyerahkannya di loket pendaftaran. Aku kembali menunggu. Karena setelah ini aku akan di panggil untuk di wawancarai oleh Hakim.


Sambil menunggu aku bermain handphone. Ayu sudah mengingatkanku untuk melihat chat dari Ari. Karena sibuk menulis, aku mengabaikannya untuk sementara waktu.


Aku membuka chat dari Ari.


"Dokter Ega yang budiman, sore nanti Pak Jaksa akan menemui dokter untuk tanda tangan perijinan senjata api. Mohon di temui"


Aku tersenyum kecil, kemudian membalas chat dari Ari.


"Bu Polwan yang terhormat, apakah Pak Jaksa sudah mengambil nomor urut untuk menemui Dokter sore nanti?"


Lama, belum ada balasan dari Ari. Mungkin lagi sibuk atau lagi di lapangan. Maklum, Polisi Wanita yang satu itu sekarang bertugas di bagian kriminal. Jadi waktunya lebih banyak di luar kantor untuk penyelidikan.


Tiba-tiba terdengar namaku di panggil oleh seseorang. Aku menoleh ke arah suara yang memanggilku. Seorang wanita paruh baya kembali memanggil namaku. Aku berdiri mendekatinya, kemudian mengikutinya masuk ke dalam suatu ruangan.


Di dalam ruangan, terdapat satu orang laki-laki memakai pakaian Hakim. Kuperkirakan beliau seumuran dengan mendiang Bapak. Beliau tersenyum ketika aku masuk dan mempersilahkanku untuk duduk.


"Chintya Rismawati Marega?"


"Benar Pak"


"Menggugat cerai suamimu Adzkan Mandala Putra Adibima karena belum memiliki anak?"


"Benar pak hakim"


"Suamimu mengeluh kamu tidak punya anak?"


Aku menggeleng.


"Tidak Pak"


"Suamimu selingkuh atau menikah lagi?"


"Saya tidak tahu, Saya tidak pernah memergokinya"


"Jadi, apa masalah? Suamimu tidak mengeluh, tidak pernah ketahuan selingkuh. Ini hanya masalah rezeki dari Alloh. Kalian belum di beri kepercayaan itu. Banyak yang sudah menikah lebih lama dari kalian juga belum di karuniai anak".


Aku memandangi Pak Hakim yang juga memandangiku dengan pandangan tajamnya.


"Suami saya melakukan vasektomi tanpa sepengetahuan saya"


"Suamimu??"


Aku mengangguk.


"Bagaimana kami akan punya anak jika begitu pak hakim? beritahu saya caranya"


Aku mulai meneteskan air mata.


"Darimana kamu tahu suamimu melakukan itu?"


"Dari rekan seprofesi saya"


"Suamimu tahu kalo kamu sudah mengetahuinya?"


"Tahu Pak Hakim, saya sudah bertanya"


"Dia mengakuinya?"


"Dia berkata itu hanya catatan medis, cerita sebenarnya tidak seperti itu. Tapi saya tidak tahu harus percaya pada siapa"


"Dia tahu kamu mengajukan tuntutan padanya?"


"Tahu Pak Hakim. Dia mengizinkan saya"


"Kamu bisa mendatangkan saksi untuk hal ini?"


"Rekan seprofesi saya di ibukota. Saya akan bertanya dulu, apa beliau bisa datang dengan membawa rekam medisnya"


"Pertemuan selanjutnya dua minggu lagi. Siapkan saksinya"


"Baik Pak Hakim".


"Baiklah, kami akan mengirimkan surat pemanggilan untuk suamimu. Kami akan mendengarkan dulu pendapatnya. Setelah itu baru bisa ambil keputusan"


"Baik Pak Hakim. Terima Kasih"


Aku pun permisi untuk keluar ruangan. Kulihat Ayu sudah menungguku di depan pintu.

__ADS_1


"Bagaimana?"


"Harus ada saksi. Bagaimana mungkin aku meminta dokter Heru untuk datang kemari? Aku tidak ingin melibatkan orang lain"


"Mandala berkata bahwa dia tidak benar-benar vasektomi kan?"


"Tidak ada bukti untuk kata-katanya itu. Suntik hormon yang di katakannya pun tidak pernah di perlihatkannya padaku catatannya. Bukti yang pernah ku lihat hanya yang ada pada dokter Heru"


"Jadi bagaimana sekarang?"


"Kita makan mie ayam dulu. Aku lapar. Nanti saja kita pikirkan yang lainnya. Ayo!"


Aku merangkul lengan Ayu membawanya ke mobil. Kemudian menuju mie ayam favorit masa SMA kami dulu di ujung rumah sakit milik pemerintah daerah ini.


-------------


"Kalo aku melamar di rumah sakit ini, keterima gak ya?"


Sambil menunggu mie ayam datang, aku memperhatikan rumah sakit umum milik pemerintah daerah yang berada tepat di depan penjual mie ayam.


"Cari kenalan lah. Ibu pasti masih kenal teman-teman dekat bapak dulu"


"Tidak, aku ingin mencobanya sendiri. Rumah sakit di ibukota memberiku waktu tiga bulan. Tapi aku ingin segera mengurusnya sebelum aku sibuk mengurus perceraianku nanti"


"Buatlah surat lamarannya. Akan kutanyakan nanti dengan dokter kandungan tempatku bekerja. Siapa tahu bisa membantu"


"Tidak usah Yu, aku akan coba sendiri keberuntunganku. Kalo tidak berhasil, aku akan duduk manis di rumah menemani ibu"


Aku tersenyum sambil tertawa kecil.


"Bagaimana dengan Klinik?"


"Aku kembalikan pada Mandala. Aku tidak akan membawa apapun milik mereka"


"Jika Mandala memberikannya padamu?"


"Harus melalui pengadilan. Aku tidak ingin ada masalah di kemudian hari".


"Aku setuju"


Mie ayam pesanan kami datang. Kami pun menyantap sambil mengobrol ringan. Setelah itu aku mengantar Ayu pulang karena Ayu harus masuk bekerja siang ini.


-------------------


"Egaaa, ada yang cari. Katanya sudah janjian"


Ibu mengetok kamarku sambil sedikit berteriak.


"Iya bu, sebentar"


Aku pun langsung meraih jilbab instanku, mengenakan cardigan kemudian keluar menemui tamu yang kuyakini itu adalah Pak Jaksa temannya Ari.


Benar saja, ketika aku tiba di ruang tamu, kulihat seorang lelaki tinggi kurus berkaca mata menggunakan pakaian berwarna coklat sedang duduk mengobrol bersama ibu.


Keduanya menoleh ketika sadar akan kehadiranku.


Lelaki itu berdiri dan mengulurkan tangannya padaku.


"Ega. Gak usah panggil Mbak. Ega saja"


Rama sedikit mengangguk.


"Silahkan duduk"


Rama duduk kembali dan aku pun duduk di hadapannya bersama ibu.


"Ini berkas yang harus diisi. Sekalian sama minta fotokopi KTP dan Kartu Keluarga"


"KTP saya alamatnya bukan di sini. Kartu Keluarga juga masih sama suami saya"


"KTP saja kalo begitu. Dan Kartu keluarga ibu saja sebagai alamat yang di sini"


"Sebentar ya ibu ambilkan"


Ibu pun berdiri masuk kedalam meninggalkan kami.


"Ega, jika butuh pengacara, saya ada kenalan"


Rama berkata setelah ibu tidak terlihat.


"Apa saya memerlukannya?"


"Apa pihak suamimu tidak mengganggumu lagi?"


"Sementara ini tidak. Aku pun tidak di ikuti lagi"


"Jika memerlukan bantuan saya, katakan saja. Ari dan saya sudah seperti saudara. Sahabat Ari tentu saja akan saya bantu".


"Terima kasih banyak. Senjata Api ini pun sarannya Ari. Sebenarnya saya takut juga menggunakannya"


"Hanya untuk keadaan darurat. Yang penting ada surat ijinnya"


Aku mengangguk.


"Sekali lagi terima kasih banyak. Aku isi dulu data-datanya"


Rama kali ini yang mengangguk. Ibu kembali hadir bersama kami sambil memberikan foto kopi Kartu Keluarga.


"Ibu ambil minum dulu ya"


"Tidak usah repot-repot bu"


Rama berusaha menolak.


"Tidak repot. Tunggulah sebentar"


"Terima kasih bu"


Aku masih asyik menulis. Aku tahu jika Rama memperhatikanku menulis.

__ADS_1


"Ini minumnya nak Rama"


"Terima kasih bu"


Rama mengambil gelas yang di berikan ibu dan meminumnya seteguk kemudian meletakkan gelas kembali ke atas meja.


"Nak Rama sudah menikah?"


"Sudah bu. Anak saya sudah dua"


"Oo, istrinya di sini juga?"


"Istri saya sudah meninggal dua tahun lalu bu. Anak-anak ada sama ibu saya di kampung halaman"


"Maaf nak Rama. Maafkan ibu"


"Tidak apa-apa bu. Tidak masalah"


"Umur berapa anaknya?"


"Yang besar mau lima tahun. Yang kecil dua tahun"


"Masih kecil-kecil ya"


"Istri saya meninggal setelah seminggu melahirkan anak kedua saya"


"Kasian si kecil"


"Iya bu. Tapi waktu itu adik saya juga melahirkan. Jadi sepesusuan sama anaknya adik"


"Nak Rama sudah lama tugas di kota ini?"


"Satu tahun yang lalu bu. Di pindahkan ke kejaksaan yang disini. Sebelumnya saya satu kota sama Ari. Kami satu team. Saya jaksa penuntut setiap kasus yang di tangani Ari"


"Ari sering menyusahkanmu?"


Aku akhirnya bicara karena sudah selesai mengisi data.


Rama tertawa.


"Ari memang seperti itu kan. Bentuk dan wajah perempuan. Tapi tingkah dan sikapnya seperti laki-laki"


Aku pun tertawa juga.


"Tapi sekarang sudah jadi kepala kriminal dia. Satu-satunya perempuan. Tidak pernah ada kasus yang tidak di selesaikannya".


Rama membanggakan Ari.


Aku ikut mengangguk.


"Benar, dia membuktikan kalo perempuan pun bisa menangani kasus di kepolisian. Ini sudah selesai"


Aku menyodorkan kembali berkas yang tadi di berikan Rama padaku. Rama memeriksanya dengan teliti.


"Okey, udah lengkap. Nanti ada wawancara untuk kepemilikannya. Aku akan menghubungimu lagi nanti"


"Baik, Terima kasih banyak ya Ram"


"Tidak usah sungkan. Aku sudah bilang akan membantu".


"Silahkan minum lagi."


Rama menghabiskan minumannya. Kemudian pamitan padaku dan Ibu.


"Sekali lagi terima kasih ya Ram"


"Sama-sama Ga, Pamit dulu ya bu. Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Aku dan Ibu menjawab serempak.


Begitu Motor Rama keluar dari pagar, Aku dan Ibu masuk kembali ke dalam rumah, ibu mengunci pintu dan aku membersihkan gelas-gelas di meja.


"Sepertinya nak Rama baik"


"Kenapa? Ega belum bercerai bu"


"Cuma bilang baik saja kok ibu"


Aku merangkul bahu ibu.


"Ega trauma sama abdi negara termasuk Jaksa. Banyak musuhnya bu. Ega takut. Ega mau hidup tenang mulai sekarang berdua dengan ibu"


"Serahkan jodohmu selanjutnya pada Alloh nak. Siapapun itu, itulah pilihan Alloh"


"Kalaupun itu Mandala kembali bu?"


"Mandala atau siapapun itu, Ibu akan menerimanya dengan lapang dada"


"Terima kasih bu, selalu mendukung Ega"


"Kamu anak ibu tentu saja ibu dukung"


Kami berpelukan seperti teletubbies. Ada rasa haru di dada kami masing-masing.


Sekarang kami hanya berdua. Kami harus saling mendukung dan saling menguatkan.


Ibu, terus dukung dan temani Ega. Ega pun akan menemani ibu di masa tua ibu.


"Ega sayang ibu"


Aku memeluk ibu dengan erat.


----------------


Ibu saya sudah meninggal 16 tahun yang lalu. Jadi, yang ibunya masih hidup, Sayangilah ibu kalian, mumpung masih ada waktu untuk itu.


Jangan lupa Votenya yaa

__ADS_1


LOVE YOU 😘😘😘


__ADS_2