
Tangan Rafa mulai bergerilya menyentuh bagian tubuh Lisa saat bib*r mereka berdua saling mengulum satu sama lain, dan sesekali bertukar saliva.
Rafa sungguh menikmati c*um*n panas itu, apalagi saat tangannya sampai di bukit kembar Lisa yang kini sangat menggiurkan untuk di nikmati. Rafa melepaskan ci*m*nnya , beralih pada kedua bukit kembar Lisa dan mulai membuat tanda kepemilikan disana. Lisa mulai mengeluarkan suara desahan dari mulutnya, saat suara tangisan bayi tiba-tiba membuyarkan kenikmatan mereka berdua.
Eaaaaa......eaaaaa...eaaa...
Lisa dan Rafa menoleh bersamaan ke arah asal suara, dan tertawa bersamaan saat mereka kembali saling menatap.
Rafa berdiri dan menghampiri box bayi tempat Sultan sedang menangis.
" Aduh jagoan papa, kenapa menangis?", ucap Rafa sambil memeriksa bedong Sultan yang ternyata basah terkena ompol.
" Paling dede pipis, terus pengin *****, makanya nangis", Lisa melepas bedong yang basah dan mengganti popok dan bedong Sultan dengan yang masih bersih.
" Sekarang ***** dulu, biar nggak nangis-nangis lagi, sudah malam, waktunya Dede Sultan untuk bobo ya sayang", Lisa mengangkat tubuh Sultan dan memangkunya, setelah dirasa posisi sudah pas, Lisa menjejalkan p*ting s*su nya ke mulut Sultan yang tengah mencari-cari sumber kehidupannya.
Hap....
Sultan yang dari tadi terus menangis kini langsung terdiam sambil me*gh*sap ASI dengan rakusnya.
" Putra papa ternyata nggak mau kalah ya sama papanya, like father like son", ucap Lisa sambil terkekeh.
" Sultan buruan ***** nya, nanti gantian sama papa, hehehehe", bisik Rafa terkekeh sambil mencium pipi Sultan.
Sultan yang lagi ***** tiba-tiba menangis, karena merasa kegiatan me*gh*sap ASI nya di ganggu.
Eaa....eaaaa...
" Cup cup cup , ayo ***** lagi sayang, yang tenang ya, jangan nangis", Lisa menepuk-nepuk pantat Sultan.
" Papa jahil ya, gangguin Sultan lagi asik *****", ucap Lisa sambil melirik ke arah Rafa yang sedang nyengir nggak jelas.
" Ya sudah papa keluar dulu, Sultan ***** yang kenyang, terus bobok ya, nanti papa pinjem mamanya sebentar", Rafa melangkah keluar kamar, membiarkan Lisa mengAsihi Sultan.
Setelah Rafa keluar, Lisa menidurkan Sultan dan menyusuinya sambil memiringkan badan di kasur, namun karena sudah malam dan Lisa merasa lelah setelah seharian mengurus Sultan dan berdiri cukup lama di acara pesta, akhirnya dia pun ikut terlelap sambil menyusui Sultan.
Rafa kembali ke kamar setelah cukup lama mengobrol bersama ayah dan ibunya di ruang tengah. Mendapati Lisa dan Sultan sudah terlelap. Rafa mengendong Sultan dan memindahkannya di box bayi, dan menutupi tubuh Lisa dengan selimut.
__ADS_1
" Kau pasti kelelahan mengurus putra kita, sebaiknya aku ikut tidur saja, kasihan juga kalau membangunkannya ", batin Rafa sambil merebahkan tubuhnya di samping Lisa dan memeluk Lisa dari arah belakang.
***
Pak Farhan dan Bu Soraya mampir ke apartemen Doni terlebih dahulu usai menghadiri acara di hotel Dream night.
Karena Doni yang meminta agar mereka mampir.
" Sebaiknya ayah dan ibu istirahat dulu di apartemenku sebelum pulang ke desa, pasti lelah sudah seharian mengikuti acara Rafa dan Lisa", ajak Doni pada calon mertuanya.
Setelah berpikir dan menimbang, akhirnya Pak Farhan setuju untuk mampir ke apartemen Doni, sekalian mau melihat seperti apa tempat tinggal calon menantunya itu.
" Baiklah, kami mampir sebentar, ada yang ingin aku bicarakan juga dengan kalian", ucap Pak Farhan.
Mereka meninggalkan hotel setelah tamu yang lain sudah lebih dulu pergi, Pak Farhan mengikuti kemana mobil Doni melaju, lokasi apartemen tidak terlalu jauh dari hotel Dream night, sekitar 10 menit perjalanan dengan menggunakan mobil.
Bu Soraya menatap takjub gedung apartemen yang mereka masuki, " Yah, sepertinya apartemen milik Doni adalah hunian yang elite, lihatlah gedungnya begitu besar dan tinggi", ucap Bu Soraya di dalam mobil, mereka memang hanya berdua karena Tami ikut di mobil Doni.
Setelah parkir di lantai dasar gedung, Pak Farhan dan Bu Soraya menatap area sekelilingnya, banyak sekali mobil mewah yang terparkir di sana.
" Meski Doni cuma karyawan di perusahaan milik suami Lisa, tapi sepertinya dia mapan juga Yah", gumam Bu Soraya.
" Hus, ibu diam saja, jangan banyak bicara, sekarang kita turun saja, sudah di tunggu sama Doni dan Tami itu di luar", ucap Pak Farhan sambil keluar dari mobil mereka.
" Mari silahkan Yah, Bu" ,Doni mempersilahkan kedua orang tua Tami untuk masuk ke dalam lift, kemudian memencet angka 8, lantai dimana apartemennya berada.
Ting....
Pintu lift terbuka, setelah berjalan melewati dua pintu, akhirnya mereka sampai juga, Doni membuka pintu apartemennya dan mempersilahkan kedua calon mertuanya untuk masuk, " mari silahkan masuk", ucap Doni sopan.
Bu Soraya yang masuk lebih dulu, diikuti pak Farhan.
" Wah tempat tinggal mu bersih dan sangat Rapi, apa kau sendiri yang membersihkan?", tanya Bu Soraya.
" Tidak bu, ada yang beresin apartemen ini, seminggu dua kali, mungkin karena rumah ini cuma di tempati Doni untuk istirahat dan tidur, makanya tetap rapi dan bersih.
" Apa ini apartemen milik pribadi atau kau cuma sewa?", tanya Bu Soraya penasaran sambil menatap ruangan-ruangan yang lain.
__ADS_1
" Ibu, jaga batasanmu", ucap Pak Farhan mengingatkan.
" Nggak papa kan ya nak Doni kalau ibu tanya-tanya, kita kan bukan orang lain, anak kita akan menjadi istrinya, jadi nak Doni juga sudah seperti putra kita Yah", Bu Soraya membela diri.
" Yah, Bu, duduk dulu", Tami mempersilahkan kedua orangtuanya untuk duduk di sofa ruang tamu, " Ini Tami sudah buatkan teh manis hangat untuk kalian". Tami meletakan tiga gelas dan membuka tutup toples yang berisi beberapa kue kering yang ada dimeja.
" Doni tinggal ke kamar sebentar Yah, Bu", pamit Doni.
Doni membereskan tempat tidur yang tidak pernah di tempati, untuk istirahat kedua calon mertua nya.
Di ruang Tamu.
" Apa kamu sering kesini Tam ? ", tanya Pak Farhan langsung.
" Baru beberapa kali Yah, Kak Doni kan kerja, pulangnya kadang sampai maghrib baru nyampe apartemen, kalau Tami juga sibuk kuliah, dan jam malam asrama hanya sampai jam 9, kalau Tami ke sini hari biasa waktunya habis untuk bolak-balik, makanya jarang main ke sini", ungkap Tami menjelaskan.
" Bagus kalau begitu, kalian kan baru lamaran, jadi jangan berduaan di apartemen yang sepi seperti ini, takut ada setan yang lewat", ucap Pak Farhan mengkhawatirkan putrinya.
" Tami tahu kok yah, ayah yang tenang dan percaya saja sama kami berdua, meski berdua di tempat sepi seperti di sini, tapi Kak Doni itu sangat menghormati Tami", ucap Tami memuji.
" Bagus kalau seperti itu, memang harusnya begitu" seru pak Farhan sambil mengangkat gelas miliknya untuk di minum.
Doni keluar dari kamar, kemudian mempersilahkan ayah dan ibu Tami untuk beristirahat di kamar itu,
" Doni sudah siapkan kamar, kalau ayah dan ibu mau istirahat dulu, silahkan" ,ucap Doni sopan.
" Iya ibu mau istirahat, capek banget, ayah juga mending tidur siang sebentar, biar nanti pas nyetir nggak ngantuk", saran Bu Soraya, yang kemudian masuk ke dalam kamar yang sudah disiapkan oleh Doni.
Pak Farhan masih tetap duduk di sofa, tidak mengikuti istrinya masuk ke dalam kamar.
" Kamu istirahat saja dulu, aku mau ngobrol sama Doni dan Tami", ucap Pak Farhan sambil menatap istrinya yang memasuki kamar.
" Ya sudah, terserah ayah saja, ibu mau istirahat dulu", ucap Bu Soraya kemudian menutup pintu kamar.
Doni dan Tami mendekat ke arah pak Farhan dan duduk di sofa yang sama.
" Ayah mau membicarakan untuk acara pernikahan kalian tiga bulan lagi", ucap pak Farhan to the point.
__ADS_1