Jodohku

Jodohku
Syarat dari Bunda.


__ADS_3

Karena padatnya acara di Lingkungan Angkatan Udara baik di Asrama tempat kami tinggal ataupun di pangkalan udara, dalam rangka menyambut Hari Kemerdekaan.


Aku dan Mandala baru bisa berkunjung ke rumah Bunda Arin tiga hari setelah pertemuan kami di Istana waktu itu.


Kami tiba di sebuah rumah, di salah satu komplek perwira Angkatan Laut.


"Masuk sayang, Ayo kita makan dulu. Ayahmu sudah menunggu di dalam Mandala."


"Baik Bunda".


Ketika tiba di ruang makan. Aku melihat seorang laki laki yang duduk dengan tenang dan elegan. Dari wajahnya terlihat sosok yang tegas dan berwibawa.


Tapi ketika melihat Mandala, dan di saat Mandala mencium punggung tangan beliau. Wajah yang tegas itu berubah menjadi lembut dan mengeluarkan aura seorang ayah yang penyayang.


"Ayah, apa kabar?"


Laki-laki itu memeluk Mandala.


"Aku baik, bagaimana denganmu? mana istrimu?"


Mandala menoleh padaku, Aku pun mendekat dan mencium punggung tangan beliau seperti Mandala.


"Beberapa tahun ini sibuk di PBB, bundamu juga sibuk. Untung tahun ini bisa pulang. Terakhir bertemu di pernikahanmu waktu itu saja".


"Iya Ayah, setelah pernikahan saya tidak pernah bertemu ayah dan bunda lagi."


"Ayo makan dulu, setelah ini kalian berdua bebas mengobrol. Aku pun masih ada urusan dengan istri Mandala. Ayo kalian berdua duduk".


"Baik bunda".


Kami pun makan malam bersama. Ciri khas para prajurit, tidak saling bicara ketika makan. Walaupun aku tahu Mandala tidak menerapkan itu di rumah bersamaku. Tapi ketika berhadapan dengan senior yang lebih pengalaman baik dari umur, pangkat dan jabatan di Angkatan, mau tidak mau Mandala harus mengikuti aturan yang ada.


Selesai makan, Mandala sudah lebih dulu beranjak dari meja makan bersama Ayah angkatnya. Dan aku membantu Bunda Arin membersihkan meja makan.


"Ayo, kita bicara di dalam kamar. kamu bawa apa yang aku minta waktu itu?"


"Iya Bunda".


Aku pun mengikuti Bunda menuju sebuah kamar.


Ternyata itu adalah sebuah ruang kerja yang merangkap menjadi sebuah ruang praktek kecil.


"Duduk lah".


Bunda Arin duduk di meja kerjanya dan memintaku duduk di depan beliau.


Bunda membaca dengan serius rekam medis tentang kehamilanku. Dari keguguranku yang pertama lima tahun lalu sampai pemeriksaanku yang terakhir bersama dokter Yasmine.


"berbaringlah di sana, aku akan memeriksamu sebentar. Eh Maaf, tidak sedang haid kan?"


"Tidak bunda".


"Baiklah, tunggu sebentar".


Kulihat Bunda mencuci bersih tangan beliau, mengenakan sarung tangan baru mendekatiku.


"Berbaringlah yang santai".


Aku hanya mengangguk.


Bunda melakukan USG pada perutku. Meneliti lebih lama. Aku pun ikut memperhatikan layar.


Sebagai dokter, aku hanya mengetahui ilmu ilmu dasar dari spesialis kandungan ini. Jadi kurang lebihnya aku banyak tidak paham dengan apa yang terlihat di layar hehehehheh.


"Ega".

__ADS_1


"Iya bunda".


"Bunda harus memeriksa bagian dalam kewanitaanmu dengan alat, apa kamu bersedia?".


"Maksud bunda, dimasukkan kedalam organ kewanitaan saya?".


Bunda mengangguk


"Tidak sakit, seperti saat melakukan hubungan dengan suamimu. Alatnya cuma kecil, lebih besar punya suamimu".


Aku tersenyum mendengar perkataan bunda.


"Kalo memang itu yang Bunda perlukan. Saya bersedia".


"Okey, kamu perlu membuka pakaian bawahmu sekarang".


Aku mengikuti semua intruksi Bunda.


"Rileks ya.. Tarik nafas yang dalam".


Aku merasa ada sesuatu yang masuk kedalam organ kewanitaanku. Semakin dalam masuknya.


"Santai, kalo sakit tarik nafas. Jangan menoleh kesana kemari. Nanti akan saya rekam dan perlihatkan hasilnya."


Aku hanya mengangguk kecil tanpa bersuara, berusaha mengatur nafas dan jantungku agar berdetak lebih tenang.


Lima belas menit kemudian setelah adanya keheningan antara aku dan Prof Arin.


"Sudah selesai, akan saya tarik kembali. Santai yaa".


Lagi-lagi aku hanya mengangguk.


"Itu kamar mandi, kamu bisa kesana jika merasa tidak nyaman".


Aku pun menuju kamar mandi yang di tunjuk bunda.


Aku merasa lebih nyaman setelah aku membersihkan dan mengeringkan dengan tisu yang ada di kamar mandi.


Bunda Arin kembali memintaku untuk duduk di depan beliau.


"Ega, jika kamu ingin aku membantumu, maka kamu harus mengikuti program yang kubuat dan mematuhinya".


"Iya bunda.".


"Selain itu, Aku juga mengajukan tiga syarat padamu sebelum memulai program ini".


Aku mendengarkan Bunda Arin dengan serius.


"Satu, jangan stres. Jangan jadi orang yang selalu berpikiran aneh-aneh".


Aku tersenyum malu. Bunda Arin ternyata tahu kalo aku suka bertemu si Hitam dan Si putih dalam pikiranku.


"Dua, Makan makanan yang sehat. Kamu dokter, masa tidak bisa membedakan mana makanan yang sehat dan tidak".


Lagi-lagi aku tersenyum malu.


Aku memang lebih suka membeli makanan siap saji dari pada aku repot memasak 😁


Sering kali Mandala yang banyak berinisiatif memasak untukku.


"Ketiga, berhenti bekerja karena program ini tidak bisa mengikuti jam kerjamu yang sibuk yang membuatmu menjadi lelah".


Aku kali ini diam tanpa ekpresi.


Berhenti bekerja??

__ADS_1


"Hanya untuk satu tahun. tidak mungkin kamu cuti bekerja selama satu tahun. Setelah satu tahun, kamu bisa kembali bekerja."


"Saya akan pikirkan Bunda".


Aku berkata dengan pelan.


"Ternyata keinginanmu untuk memiliki anak tidak lebih besar dibanding keinginanmu untuk bekerja".


Aku terkejut dengan kata-kata Bunda Arin.


"Bukan seperti itu Bunda."


Aku menyadari kesalahanku.


"Baiklah, putuskan dengan cepat. Aku akan berada di Singapura selama satu bulan ini. Jika ingin cepat, kunjungi aku di sana. Jika tidak, tunggu aku satu bulan lagi".


"Baik Bunda."


Aku mengangguk dengan pelan.


Bagaimana jika Bunda Arin bercerita pada Mandala bahwa aku lebih berat bekerja daripada hamil.


Aaarrrgggghhhh seharusnya tadi aku langsung setuju untuk berhenti bekerja, agar Bunda Arin langsung percaya padaku.


Tapi biarlah, semua sudah terjadi.


Aku sudah memiliki klinik di daerah, aku mendapatkan penghasilan tiap bulan dari klinik. Aku juga selalu menerima gaji Mandala dan pendapatan dari perusahaan yang di kelola Melky.


Seharusnya itu semua sudah cukup bagiku untuk tidak berpikir lagi jika memang aku ingin cepat hamil.


Tapi tadi Bunda Arin terlalu mendadak memberiku syarat, sehingga aku tidak menduganya sama sekali.


Kami berpamitan pulang pada Ayah dan Bunda Angkatnya Mandala.


"Berapa lama sudah anak mereka meninggal?"


Aku bertanya pada Mandala ketika kami sudah berada di dalam mobil.


"Delapan tahun yang lalu, Pesawat TNI yang jatuh dihutan. Copilot waktu itu adalah Rendy".


"Kalian sangat dekat?"


"Kami satu angkatan, satu kelas, walaupun Ayah di Angkatan Laut, tapi Rendy memilih Angkatan Udara. Kami sering bermalam di rumah Rendy jika libur".


Aku melihat wajah Mandala sedikit sedih.


"Kami sudah seperti saudara, tidak ada yang kusembunyikan darinya begitu pula dengan Rendy. Jika waktu aku bertemu denganmu Rendy masih hidup, pasti dia orang yang pertama bahagia untukku".


Aku mengelus lembut tangan Mandala.


Ikut merasakan kesedihan Mandala karena aku pun pernah merasakan sedih di tinggal seseorang.


"Bagaimana pemeriksaan dengan Bunda tadi? apa hasilnya?"


"Bunda akan ke singapura dulu. Setelah itu aku akan memulai programnya"


Aku kemudian melihat ke Mandala..


Aku tidak akan menceritakan sekarang tentang syarat dari Bunda Arin.


Setelah aku membuat surat pengunduran diriku pada Rumah Sakit baru aku akan memberitahu Mandala.


Ya, aku sudah memutuskan. Bahwa aku akan berhenti kerja dulu untuk sementara waktu sampai aku berhasil hamil dan memberikan anak buat Mandala.


----------

__ADS_1


Jangan lupa Votenya yaa


LOVE YOU 😘😘😘😘


__ADS_2