
Aku hanya bisa memandang Khansa dari jauh. Khansa yang terlihat begitu sabar mengajari gadis kecil di sampingnya sehingga tak menyadari kehadiran seorang pria dibelakangnya. Kemudian secara tiba-tiba pria itu memberikan setangkai mawar untuk Khansa. Khansapun akhirnya menerima bunga tersebut setelah mendapat dukungan dari gadis kecil disampingnya.
Dadaku semakin bergemuruh menyaksikan pemandangan itu. Sudah hampir 1 bulan aku berpisah dengan Khansa. Tapi entah kenapa ada yang bergejolak dalam dada. Apakah ini yang dinamakan jatuh cinta? Apakah aku benar-benar jatuh cinta pada Khansa setelah aku berpisah dengannya? Oh, tidak. Aku harus segera pergi jika tak ingin terjadi apa-apa denganku. Aku segera melangkah meninggalkan taman menuju sebuah cafe.
Aku duduk di meja yang terletak di sudut ruangan. Segera ku pesan minuman dan sedikit makanan ringan. Hampir 1 jam aku duduk sendiri hingga akhirnya pak Angga muncul. Kami membicarakan masalah yang dihadapinya. Aku pun mencoba memberi solusi dari persoalan yang dihadapi. Setelah semua penjelasan itu aku berikan, akhirnya pak Angga itupun mengerti. Kamipun meninggalkan cafe dengan perasaan lega.
Aku berjalan menuju tempat parkir. Segera kulajukan mobil menuju rumah. Perumahan menengah ke atas dikawasan Jakarta. Pintu gerbang segera dibuka oleh security. Aku segera masuk ke rumah.
"Tumben jam segini sudah pulang, biasanya selalu malam," ucap mami yang tiba-tiba muncul keruang depan. Aku duduk disofa. Badan ini terlalu lelah. Aku mencoba meregangkan otot-otot tangan dan kaki.
"Iya mi, tadi ada pertemuan sama pak Angga. Selesai pertemuan aku langsung balik saja kerumah," jawabku. Kulihat kak Kevin dan papi lagi asyik bercanda dengan Zio di ruang tengah tanpa memperdulikan kehadiranku.
"Om Arkan sudah pulang," sapa Zea berjalan ke arahku dengan membawa sebuah buku.
"Sudah, gimana tadi sekolahnya?"
"Baik om. Zea seneng bisa sekolah di sini. Temennya baik-baik." Zea duduk di sampingku. Zea anak yang periang. Sama seperti ibunya.
"Zea lagi bawa buku apa?" Kuperhatikan Zea begitu suka membaca. Dia tak lagi begitu suka dengan mainan ataupun boneka. Tapi dia lebih sering membawa buku cerita.
"Ini buku kisah nabi om, tante Khansa yang memberikannya padaku. Aku suka sekali buku ini," ucapnya padaku.
"Oya om, aku baca tentang kisah nabi Luth. Umatnya nabi Luth itu dihukum dengan bencana rumah dan tanah mereka dijungkirbalikkan karena laki-laki suka sama laki-laki. Berarti kalau opa suka sama papa dan om Arkan, apa opa juga akan dihukum?" lanjutnya. Aku hanya tersenyum mendengarkan perkataan Zea.
__ADS_1
"Bukan begitu maksudnya Zea. Kalau opa suka sama papa dan om, itu karena papa dan om anak opa. Opa sayang sama anak-anaknya. Itu malah akan dapat pahala. Bukan dihukum." Aku mencoba menjelaskan pada Zea.
"Trus, maksudnya ini apa om. Laki-laki suka sama laki-laki." Zea terus bertanya tanda tak mengerti.
"Ini maksudnya laki-laki menikah dengan laki-laki. Itu tak boleh. Di zamannya nabi Luth, umatnya yang laki-laki menikah dengan laki-laki. Makanya dihukum," jelasku.
"Kok bisa sih om laki-laki menikah dengan laki-laki. Bukankah nikah itu laki-laki dengan perempuan."
"Maka itulah Allah marah. Jadinya kaum nabi Luth dihukum."
"Terus kalau zaman sekarang apakah ada yang seperti itu om?" lanjut Zea bertanya.
"Ada, di luar negeri sana ada laki-laki menikah dengan laki-laki. Perempuan dengan perempuan."
"Tidak semua luar negeri mengijinkan Zea."
"Apa di tempat papa tinggal di Australia juga ada om, aku takut papa dihukum. Nanti rumah papa dijungkirbalikkan."
"Kalau di Australia om kurang tahu Zea. Coba nanti Zea lihat di mbah goggle ya." lanjut ku.
*****
Aku merebahkan badan di atas kasur. Rasanya nyaman sekali. Kulihat sofa di terletak di pojok ruangan kamar ini. Biasanya ada Khansa yang baca alquran disana. Atau kadang dia membawa lembaran hasil tes anak-anak untuk dikoreksi. Tapi sekarang sofa itu kosong. Tampak rapi, tak ada apapun. Lamunanku buyar karena ponselku bergetar. Ada pesan dari Maria.
__ADS_1
[Mas, besok aku balik dari luar kota. Mas ke apartemenku ya] Maria.
[Ok, besok siang mas kesana]Aku
[Mas, kangen nih]Maria
[Sama] Aku
[See you, Good night]Maria
[Good night]Aku.
******
Aku duduk di meja makan. bik Iyem membuatkan aku nasi goreng kampung kesukaanku. Papi menikmati roti bakar dengan secangkir kopi susu. Sedangkan mami masih sibuk menyiapkan bekal untuk Zea sekolah. Kak Kevin juga menikmati sarapannya.
"Pa, boleh minta tolong nggak pa, sepertinya buku kisah nabiku ketinggalan dikamar. Papa tolong ambilin ya. Makanan Zea masih banyak nih," ucap Zea yang makan nasi goreng juga.
"Iya nanti papa ambilin,ucap kak Kevin. Kak Kevin terlihat begitu sayang sama Zea. Padahal jika surat tes DNA itu benar. Zea bukan anak kandung kak Kevin. Aku hanya mengamati aktivitas ayah dan anak tersebut.
"Pa, Zea kangen sama tante Khansa. Kapan-kapan kita ke rumah tante Khansa yuk." aku tertegun mendengar perkataan Zea. Zea mau mengajak kak Kevin ke rumah Khansa.
"Pa, coba aja om Arkan tak berpisah dengan tante Khansa. Tante Khansa pasti masih tinggal disini. Tante Khansa pinter banget loh ngajinya. Suaranya merdu."Lanjut Zea. Sementara kak Kevin menatapku sambil tersenyum. Aku tak tahu maksud dari senyum kak Kevin. Aku hanya diam.
__ADS_1
"Pa, bisa nggak ya kalau tante Khansa jadi mamaku. Kan papa sudah berpisah juga sama mama Maria. Biar tante Khansa bisa sama aku terus." Aku begitu kaget dengan ucapan Zea hingga tak sadar nasi dalam mulutku menyembur keluar ke arah kak Kevin.