Jodohku

Jodohku
Episode 15


__ADS_3

Aku sedang di kantor. Rencananya nanti siang akan ada pertemuan dengan Pak Angga yang kuamanahi dalam urusan pembebasan lahan proyek perumahan baru. Namun, semua rencana batal karena Maria memintaku untuk menemaninya ke butik. Ya, walaupun tanpa restu papi dan mami, aku akan tetap menikahi Maria.


"Zal, tadi aku sudah telpon pak Angga kalau aku nggak jadi datang. Aku bilang kalau kamu yang akan menggantikan. Jadi kamu handle sebaik-baiknya ya," pintaku pada asistenku.


"Bos mau kemana? Dari kemarin pertemuan selalu dibatalkan," protes Rizal padaku. Akhir-akhir ini aku memang sering meninggalkan pekerjaan. Aku lebih sering jalan dengan Maria. Hidupku jadi bergairah lagi saat Maria kembali lagi padaku.


"Aku ada janji dengan Maria," jawabku.


"Ya bos, dikasih permen yang masih terbungkus rapi malah dibuang, diambil yang tak pake bungkus." Suara Rizal ngedumel dengan lirih itu masih bisa terdengar olehku.


"Apa kamu bilang?" Aku langsung melotot kearahnya.


"Ah, nggak ada bos." Rizal mencoba berkilah. Aku segera pergi meninggalkan Rizal karena ponselku dari tadi sudah berdering. Nama Maria nampak pada layar. Segera ku angkat ponselku dan meluncur menuju ke tempat parkir.


Mobil pajeroku segera melesat membelah kemacetan kota Jakarta menuju apartemen Maria. 45 menit kemudian mobil telah sampai di apartemen. Kulihat Maria sudah menunggu. Wajahnya begitu cantik. Dengan baju lengan pendek dan rok selutut yang menampakkan kedua tangan dan kakinya yang putih bersih.


"Lama banget sih mas," protes Maria padaku.


"Biasa, macet," jawabku. Kami langsung menuju ke mobil. Segera kulajukan mobil menuju butik ternama di Jakarta. 25 meniti kemudian kami sampai di sebuah butik. Para SPG menyambut kami dengan ramah.


"Mas, cantik ya...," ucap Maria sambil menunjukkan gaun pengantin berwarna putih yang berlengan pendek yang menampakkan belahan dada.


"Jangan yang itu, itu terlalu seksi," protesku.


"Coba lihat ini, ini juga cantik," lanjut ku sambil menunjukkan gaun pengantin lengan panjang dengan hiasan mutiara pada dadanya. Kemudian Maria menghampiri gaun pengantin yang aku tunjukkan.


"Bagus juga, cantik. Aku juga suka. Ya udah aku pilih ini aja," ucap Maria. Kemudian seorang SPG cantik mengambil gaun itu untuk Maria coba. 15 menit kemudian Maria keluar dari ruang ganti dengan gaun pengantin yang aku pilih. Aku terkesima dengan kecantikannya.


"Bagaimana? Cantik?" tanyanya padaku.


"Sangat cantik," ucapku sambil tersenyum.

__ADS_1


Selesai dengan gaun pengantin, aku dan Maria pergi ke Mall untuk membeli keperluan lain. Maria tampak bahagia, begitupun denganku. Lama berjalan, perut ini terasa keroncongan. Akhirnya kuajak Maria untuk ke resto yang ada di Mall itu.


"Telpon dari siapa?" tanyaku pada Maria karena dari tadi sibuk menelpon. Sedangkan aku menikmati makanan yang sudah terhidang di meja.


"Dari teman mas, teman menawariku untuk menjadi model baju-baju dari desainer ternama, " jawabnya.


"Terus, kamu terima?" tanyaku lagi.


"Ya iyalah mas, ini kesempatan baik buat karir aku. Mungkin nanti aku bisa go internasional," jawabnya.


*****


Seharian jalan dengan Maria membuat aku benar-benar happy. Rasanya malas sekali mau pulang. Melihat sikap papi yang dingin. Mami yang cerewet. Tapi apa boleh buat, aku harus tetap pulang. Aku yakin suatu saat papi dan mami akan mendukung semua keputusanku.


Saat kubuka pintu, mataku terbelalak melihat kak Kevin duduk di sofa bersama papi dan


mami di ruang tamu. Sejak kapan laki-laki pecundang itu balik kerumah.


"Seperti yang kak Kevin lihat," jawabku.


"Sorry ya, aku keatas dulu. Sudah lengket. Mau mandi," ucapku.


"Ok," jawab kak Kevin.


*****


Sampai di kamar aku duduk sebentar di sofa. Kamar ini terasa sepi sejak aku berpisah dengan Khansa. Gadis kecil yang bawel yang pengetahuan agamanya luar biasa itu telah membuat kamar ini begitu heboh saat waktu sholat. Walaupun kehebohannya tak membuat aku bangkit menuruti kemauannya. Terkadang bayangan Khansa yang sederhana, tanpa make up itu melintas di pikiranku. Namun bayangan Maria yang cantik dengan pakaian branded nan seksi itu memaksa Khansa keluar dari pikiranku.


Aku segera mengambil handuk dan masuk kamar mandi. kuguyur kepalaku. Ah, betapa nikmatnya. ku basuh rambutku dengan air dan shampoo. Ah, terasa ringan kepala ini saat bersih. 20 menit sudah aku dalam kamar mandi. Jika bukan karena mendengar pintu di gedor dari depan, mungkin aku masih betah berlama-lama di kamar mandi. Segera kuakhiri ritual mandi dan berganti baju. Kemudian aku buka pintu.


"Zea ada apa?" tanyaku pada keponakan yang bawelnya sama seperti Khansa. Ah, kenapa Khansa terus berkelebat dalam pikiranku.

__ADS_1


"Papa meminta om segera turun, kita mau makan bareng. Zea sudah laper, " ucapnya.


"Ok, om akan turun. Sebentar om mau nyisir rambut om dulu," ucapku.


"Jangan Lama-lama ya om," pinta Zea padaku.


*****


"Ayolah bro, lama amat. kita keburu kelaperan ini," ucap kak Kevin padaku. Aku segera duduk di hadapannya. bik Iyem menyajikan makan malam untuk kami. Sedangkan mami sibuk menyuapi Zio.


"Dalam rangka apa kak Kevin pulang?" tanyaku pada kakak laki-laki yang telah membuat hidupku kacau.


"Liburan lah bro, nengok orang tua, nengok anak-anak, yang penting nggak nengok mantan, " jawabannya membuat dadaku terasa sesak.


"Apa maksud perkataanmu?" tanyaku dengan marah.


"Nggak ada bro, santai aja. "


*****


Aku duduk di teras depan sambil melihat email yang Rizal kirim tadi sore. Mengerjakan laporan di teras sambil menikmati bintang dan bulan rasanya begitu tenang. Di tambah lagi dengan kopi kapal api buatan bik Iyem, tambah mantap.


"Sibuk bro?" Tiba-tiba kak Kevin berdiri di sampingmu.


"Seperti yang kamu lihat," jawabku.


"Kudengar dari papi, katanya kamu mau menikahi Maria," ucapnya sambil duduk di sampingku.


"Iya, bahkan seharusnya dari dulu aku menikahinya," jawabku kesal.


"Cinta benar-benar membuatmu buta Arkan, kau buang permata demi seonggok batu," ucapan kak Kevin benar-benar membuatku naik darah.

__ADS_1


"Jaga ucapanmu. Dasar pecundang. Apa maumu ikut campur urusanku?" bentakku sambil memegang kerah baju kak Kevin. Aku tak takut dengannya. Walaupun dia kakakku. Tapi sudah lama aku tak menganggapnya sebagai kakak.


__ADS_2