
Kuliah Tami di semester dua tahun ini telah usai, Tami dan Doni tengah sibuk mempersiapkan pernikahan mereka berdua. Sesuai keinginan Pak Farhan jika pesta pernikahan mereka harus dilaksanakan di desa, dengan sederhana, karena memang Tami yang masih kuliah dan usianya yang masih muda, belum genap 20 tahun, ada beberapa tetangga yang mulai bergosip jika Tami menikah karena dia melakukan pergaulan bebas di kota X dan tengah hamil, sehingga harus dinikahkan secepatnya.
Sebenarnya kemungkinan seperti itu sudah diprediksi oleh ayah dan ibu Tami, tapi mereka berdua tidak mau ambil pusing. Toh kenyataannya Tami tidak hamil dan tidak melakukan pergaulan bebas seperti yang dibicarakan beberapa tetangga yang sirik pada mereka.
Ada salah satu tetangga yang sangat semangat menggosipkan Tami yang tiba-tiba menikah di saat masih kuliah, dia yang ternyata mempunyai putri berusia 31 tahun dan belum menikah, karena dulu pernah hamil saat pacaran dan menggugurkan kandungan nya agar tidak ketahuan, tapi seperti kata pepatah ' sedalam-dalamnya mengubur bangkai, lama-lama tercium juga bau busuknya', justru karena keputusannya melenyapkan janin di perutnya membuat si pacar kabur meninggalkan putri ibu itu yang telah menakutkan, karena tega melenyapkan darah dagingnya sendiri.
Hidup memang tidak selalu mulus dan sesuai dengan keinginan, meski kita sudah berbuat baik pada orang lain masih tetap ada saja yang tidak suka pada kita.
***
Seminggu sebelum pernikahan Tami,
Lisa sengaja pulang ke desa bersama Sultan dan bi Rumi, mereka di antar langsung oleh Rafa.
Karena masih begitu banyak pekerjaan di kantor dan Doni sudah mengajukan cuti, membuat Rafa mau tidak mau harus mengurus dan mengawasi perusahaannya sendiri.
" Sayang kamu nggak papa disini sama bi Rumi saja?, kakak masih banyak pekerjaan yang harus di selesaikan, juga sedang kejar target biar dua hari sebelum pernikahan Doni dan Tami, kakak bisa stay disini nemenin kamu", ucap Rafa.
" Mas Juna dan mba Susi, Rafa besok pagi harus balik ke kota X dulu, banyak pekerjaan di kantor, tapi hari kamis malam Rafa usahakan sudah disini lagi, biar jum'at dan sabtu bisa ke rumah Tami nemenin Lisa yang katanya mau bantu-bantu di sana", pesan Rafa pada Juna dan Susi.
" Baik Tuan ", jawab Juna.
Susi juga sudah masak lumayan banyak makanan hari ini, sengaja karena kemarin Lisa sudah lebih dulu mengabari jika dia hendak pulang ke desa.
" Wah, apa ini Azka putra kalian?", tanya Lisa mencium pipi Azka yang tengah duduk di kasur lantai yang ada di ruang tengah.
" Benar Lis, cuma selisih dua bulan sama dede Sultan, tapi lihat badannya sama besar, malah besar Sultan daripada Azka", jawab Susi mengamati putranya dan putra Lisa.
" Kelak mereka akan tumbuh besar bersama, semoga semuanya diberi kesehatan dan keselamatan, aamiin"
" Aamiin".
" Aamiin".
__ADS_1
***
Karena ini hari minggu, Rafa dan Lisa juga berkunjung ke rumah Tami, tentunya bersama Sultan dan bi Rumi yang menemani mereka.
Setelah makan siang di rumah, baru mereka pergi berkunjung. Pak Farhan dan Bu Soraya menyambut kedatangan mereka dengan bahagia.
Bu Soraya mengulurkan tangannya untuk menggendong Sultan yang tengah di gendong bi Rumi, dan Sultan dengan senang hati menyambut uluran tangan Bu Soraya.
" Aduh, cucu nenek sudah gede, baru tiga bulan nggak lihat, sekarang sudah tambah pinter saja",
" Pa..pa..pa...pa.."
" Ma...ma...ma...ma..."
" Nen..nen....nen.....nen..."
" Sultan pinter banget, udah pinter ngomong Papa sama Mama, coba bilang Tante..", ujar Tami meminta Sultan agar memanggilnya.
" Wah bisa juga, Sultan nanti Tante kasih hadiah karena sudah pinter panggil tante", ucap Tami sambil mengambil squishy punya Tami yang masih baru di kamarnya.
" Ini hadiahnya, pasti Sultan suka", ucap Tami memberikan squishy berbentuk es krim stroberi yang sangat lucu.
Sultan langsung meraih squishy dari tangan Tami dan meremas-remasnya sambil tertawa keras.
" Tuh kan Sultan suka", ujar Tami.
" Oh iya ayo silahkan duduk, jadi lupa nggak di suruh duduk, dari tadi terus ngobrol sambil berdiri", ucap Bu Soraya mempersilahkan.
Rafa, Lisa, Pak Farhan dan Bu Soraya duduk di ruang tamu, Tami mengajak Sultan ke ruang tengah untuk bermain bersamanya dan bi Rumi.
" Jadi Tami menikah hari Jum'at nya, tapi kalau bisa nak Rafa dan Lisa bisa nemenin disini dari hari rabu, soalnya undangan ke tetangga di mulai hari rabu dan kamis", Pak Farhan mulai membuka pembicaraan.
" Kalau Lisa mungkin bisa karena mulai hari ini Lisa tinggal di rumah nya di desa S , tapi kalau Rafa besok harus kembali ke kota X terlebih dulu, masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Mungkin kamis sore baru balik ke sini, dan jum'at bisa menghadiri acara pernikahan Tami dan Doni, itu juga semoga bisa ngebut menyelesaikan pekerjaan, karena Doni sudah mengajukan cuti, pekerjaan jadi semakin banyak, hehehehe...
__ADS_1
Kemarin ada proyek dengan pemerintah daerah, jadi harus diselesaikan dengan baik dan benar", ucap Rafa menjelaskan.
" Ooh begitu, ya nggak papa kalau memang sedang sibuk, kami maklum, ya kan Bu?". ucap Pak Farhan.
" Ayo di cicipi kuenya", Bu Soraya mempersilahkan Rafa dan Lisa untuk menikmati suguhan yang sudah ada di meja.
Seorang tetangga yang sedang bantu-bantu di rumah Tami juga menyuguhkan teh manis untuk mereka.
" Sudah mulai rame ya Bu?, maaf Lisa bantunya sebisanya, sambil urus Sultan, jadi nggak bisa full", ucap Lisa.
" Nggak papa Lis, yang penting kamu disini nemenin Tami, nggak usah bantu-bantu di belakang, sudah banyak tetangga yang bantuin", ucap Bu Soraya.
Mereka pun terus mengobrol hingga tak terasa hari sudah semakin sore.
Lisa mengeluarkan amplop coklat dan menyerahkan pada Pak Farhan dan Bu Soraya.
" Ini sedikit untuk bantu-bantu belanja ke pasar, tolong di terima, Lisa akan marah kalau kalian menolaknya", ucap Lisa.
" Baiklah Lis, kami terima bantuan dari kalian, terimakasih sudah datang kemari, besok juga pas acara kamu datang kesini sama Sultan ya, kamu kan sudah seperti saudara perempuan Tami", ucap Pak Farhan
" Tentu, Lisa akan datang, kalau begitu Lisa dan kak Rafa minta pamit dulu, sudah sore, Sultan juga harus mandi, takut kesorean mandiinnya", ujar Lisa beralasan.
" Kami permisi dulu Pak, Bu", ucap Rafa.
Lisa menghampiri bi Rumi yang berada di ruang tengah bermain bersama Sultan dan Tami.
" Kita pulang sekarang Bi Rumi".
" Tam, aku pulang dulu ya, besok pas acara aku kesini lagi kok", Lisa berdiri di depan Tami, kemudian mereka berdua berpelukan.
" Aku do'akan, semoga semuanya berjalan lancar", bisik Lisa di telinga Tami.
Mereka melepaskan pelukannya dan Lisa keluar menyusul Rafa dan bi Rumi yang sudah lebih dulu berada di mobil.
__ADS_1