
"Assalamualaikum.. ibu.. ibu"
Aku mengucap salam dan terus membunyikan bel rumah.
"Apa ibu tidur?"
Mandala berkata sambil berusaha mengintip ke dalam rumah.
"Aku jadi khawatir. Ibu juga tidak menjawab panggilan dariku"
"Telpon ke Bapaknya Ayu. Aku akan bertanya pada tetangga kanan kiri"
Aku mengangguk sambil memencet handphoneku sementara Mandala keluar pagar menemui tetangga sebelah rumah.
Aku dan Mandala yang datang bersama tetangga sebelah bertemu di depan pagar rumah.
"Ibu di bawa ke rumah sakit" Aku berkata pada Mandala.
"Iya, bapak ini juga bilang ibu dibawa kerumah sakit"
Kami pun meminjam mobil tetangga karena kunci mobilku masih berada di dalam rumah. Kami segera menuju rumah sakit yang di sebutkan Bapaknya Ayu.
-------------
"Kenapa tidak mengabari saya pak?" Aku melihat ibu yang berbaring lemah di atas brankar
"Ibu bilang nanti saja, Nak Ega pulang juga hari ini. Ibu tidak mau Nak Ega khawatir"
"Ibuuu"
Aku pun memeluk ibu yang berbaring lemah.
"Apa yang terjadi Pak?"
"Kita bicara di luar Nak Ega. Biar ibu istirahat"
Aku, Mandala dan Bapaknya Ayu pun keluar kamar. Tinggal ibunya Ayu yang menjaga ibu di dalam.
"Ada apa Pak?"
"Semalam ada yang menyusup masuk rumah. Ibu kaget, terpleset dan jatuh"
"Maling Pak?"
"Sepertinya. Tapi kemudian orang itu di tangkap sama beberapa orang berbadan kekar."
"Berbadan kekar?"
"Iya, Pak RT pernah memergoki beberapa orang yang mengawasi rumah ibu, ketika di tanya pak RT mereka bilang kalo mereka tentara yang di beri tugas mengawasi rumah. Di pikir pak RT Nak Mandala yang beri tugas. Penyusup tadi malam di tangkap oleh mereka. Mereka juga yang memberi tahu pak RT kalo ibu jatuh. Kemudian pak RT menelpon bapak"
Aku memandang ke arah Mandala.
"Aku tidak pernah memberi tugas pada siapa pun. Aku akan menelpon sebentar"
Mandala kemudian menjauh dari kami.
"Anak buah saya akan mencari tahu pak, siapa tentara yang berjaga itu. Di rumah ada CCTV kan sayang?"
"CCTV ada yang merusak Nak, Bapak juga baru tahu tadi setelah bapak, pak RT dan para sekuriti mau mengecek"
"Ada apa ini?"
Aku kembali menatap Mandala yang juga menatapku.
"Tenanglah, kita akan cari tahu nanti"
Mandala meraih bahuku untuk menenangkanku.
Ibunya Ayu keluar kamar memberitahukan kami bahwa ibuku sudah bangun. Aku pun bergegas masuk ke dalam ruang perawatan ibu.
"Ibuuuu... " Aku langsung memeluk ibu dan menangis.
"Kenapa menangis? ibu baik-baik saja"
"Kaki ibu patah, apanya yang baik-baik saja"
"Cuma kaki, untung ibu tidak di bunuh maling itu"
"Ibu yakin dia maling?"
"Dia mengendap ngendap di dalam rumah. Membuka lemari TV. Apa itu bukan maling?"
"Ada barang yang sudah di bawanya bu?"
"Tidak sempat karena ibu berteriak"
__ADS_1
"Ibu berteriak?"
"Ibu berteriak karena jatuh terpleset, bukan karena melihat maling itu. Tadinya ibu akan membiarkan saja dia mengambil apapun. Mungkin dia butuh uang"
"Ibuuuu" Aku kembali memeluk ibu.
"Dala.." Ibu memanggil Mandala
"Iya bu" Mandala mendekati aku dan ibu.
"Terima kasih, orang-orang itu yang membantu ibu"
Mandala mengerutkan dahinya.
"Orang yang malam itu datang. Salah satu Asistenmu. Dia yang membantu ibu. Menggendong ibu kembali ke kamar kemudian menelpon pak RT"
"Ibu yakin itu dia?"
"Ibu ingatlah. Kan dua kali kami bertemu hari itu"
"Asisten yang pulang bersama Dala atau bersama Ayah?"
"Bersama Ayah angkatmu"
Mandala tampak berpikir sejenak. Kemudian berpamitan pada kami.
"Aku akan menelpon dulu sayang" Mandala berbisik di telingaku. Aku pun hanya mengangguk dan membiarkan Mandala keluar kamar. Aku tahu dia pasti akan menelpon ayahnya.
----------------
Sambungan telepon Mandala pada ayahnya tidak tersambung. Telepon ayah tidak bisa di hubungi. Mandala sedikit khawatir akan terjadi sesuatu pada ayahnya.
Mandala pun kemudian menghubungi asistennya sendiri.
"Mayor" Suara Asisten Mandala terdengar.
"Mereka orang-orangnya ayahku kan?"
"Pimpinan menginginkan Mayor segera pulang"
"Apa ada yang bisa kamu beritahukan padaku?"
"Maaf Mayor, Perintah pimpinan, Mayor harus segera pulang. Satu jam lagi di jemput helikopter di atas gedung A"
"Siap Mayor"
Sambungan terputus. Mandala kembali masuk kamar dan mencariku.
"Aku harus segera kembali sayang. Kamu tetap di rumah sakit ini bersama ibu"
"Ada apa lagi Kapten?"
"Aku belum tahu sayang, karena itu aku harus kembali untuk mencari tahu"
"Baiklah, hati-hati. Kabari terus aku"
Mandala memelukku, mencium keningku lama.
"Aku pergi dulu, ada helikopter yang menjemputku. Aku mencintaimu sayang"
"Kapten, jangan menyembunyikan apa pun dariku lagi"
"Aku berjanji sayang, tidak ada yang aku sembunyikan. Aku akan menceritakan semuanya padamu"
Kali ini aku yang memeluk Mandala erat seakan ini adalah pertemuan terakhir kami.
"Sayaaanngg... jangan seperti ini"
Mandala melepas pelukanku dan kembali mencium keningku. Sebelum aku kembali mengulang adegan drama lagi, Mandala langsung pergi melangkahkan kakinya melewati koridor rumah sakit. Tertinggal aku yang menatapi punggung Mandala yang semakin jauh seakan akan Mandala pun akan pergi jauh dariku.
----------------------------
"Apa yang ayah lakukan?"
Mandala duduk berhadapan dengan laki-laki tua purnawirawan angkatan udara yang duduk sambil tersenyum.
"Mengamankan rumah mertuamu"
"Tapi untuk apa?"
"Menjaga dari maling seperti kemarin"
"Dala yakin itu bukan maling"
"Kalo tidak ada orang-orangnya ayah. Ibunya Ega pasti akan terbunuh"
__ADS_1
"Tapi untuk apa ayah menyuruh orang berjaga?"
"Dala, kenapa kamu tidak percaya dengan Ayahmu?"
"Karena bukti di tangan Dala tidak seperti itu"
"Bukti apa? mereka sudah mencuci otakmu Dala"
"Siapa kamu sebenarnya?"
Laki-laki tua itu tampak terkejut dengan pertanyaan Mandala.
"Apa maksudmu Dala?"
"Aku tahu, kamu bukan ayahku. Kamu merubah wajahmu untuk menyerupai ayahku karena ada tujuan tertentu"
"Dala, siapa yang sudah meracuni kepalamu?"
Mandala menyodorkan beberapa buah foto.
"Ini wajah aslimu kan Letnan satu Saka"
Wajah tua itu terkejut. Memperhatikan beberapa foto yang di berikan Mandala.
"Kamu adalah asisten pribadi ayahku dulu. Karena itu kamu tidak ingin bertemu dengan ibuku. Karena kamu memang bukan ayahku. Bukti DNA ini menunjukan siapa kamu sebenarnya".
Laki-laki tua itu menarik nafas panjang.
"Aku menjadi anak buah ayahmu dari aku masih prajurit. Ayahmu sangat baik padaku. Beliau menceritakan semua apa yang terjadi pada keluarga beliau. Ketika beliau pergi karena kecelakaan itu, hatiku ikut hancur. Aku yang berhasil selamat meminta dokter Sapto yang juga sahabatku untuk merubah sedikit demi sedikit wajahku. Karena wajah yang di perban, orang-orang tidak mengenaliku yang sebenarnya dan mengizinkanku untuk tinggal di penampungan tentara ini"
"Apa tujuanmu sebenarnya?"
"Awalnya aku hanya ingin mengenang atasan yang sangat kuhormati melalui wajah. Tapi kemudian aku ingin membalas dendam, karena akhirnya aku tahu bahwa ayahmu sengaja di celakai. Bukan karena murni kecelakaan".
"Siapa yang mencelakai ayahku?"
"Orang-orang kakeknya Ega"
"Apa kamu punya bukti tentang itu?"
"Karena aku mendengar percakapan di black box pesawat. Pilot menegur seseorang yang masuk ke dalam kemudi pesawat. Kemudian orang itu menyebutkan siapa dirinya"
"Kenapa kakeknya Ega ingin mencelakai ayahku?"
"Karena ayahmu punya bukti kejahatan kakeknya Ega di masa lalunya"
"Kenapa kemudian kamu menargetkan ibunya Ega?"
"Aku tidak menargetkan siapa pun. Ibunya Ega murni jatuh karena kecelakaan. Aku menjaga rumahnya karena aku ingin mengambil foto laki-laki tua itu dan membakarnya. Aku benci melihat fotonya masih terpajang dengan pakaian lengkap tentaranya itu"
"Letnan satu purnawirawan Saka, bukti di tanganku tidak seperti yang kamu ceritakan"
"DALA!! Mereka mencuci otakmu"
Dala memanggil beberapa orang untuk masuk, termasuk asisten yang selama ini menjaga Ayah palsunya Mandala.
"Kamu adalah kaki tangan Amaku. Kamulah yang bergelar 'black shadow' karena kamu selalu menjadi bayangannya Amaku. Aku tahu sudah lama bahwa kamu adalah ayah palsuku. Aku hanya perlu waktu yang tepat untuk mengungkapnya. Aku juga tahu kecelakaan ayahku karena mu"
"Asisten ini adalah orangku. Dia kuberi tugas untuk mengawasimu. Asisten ini juga kamu beri tugas untuk membakar rumah Ega kan?. Beruntung rencana itu gagal"
"Kalian berkhianat padaku?"
Ayah palsunya Mandala marah dan berdiri sambil mengarahkan pistol ke depan Mandala.
"Jangan berbuat yang gegabah, perbuatanmu sudah di laporkan. Mereka sudah siap menangkapmu"
"Tidak! aku lebih baik mati dari pada di tangkap mereka"
Ayah palsunya Mandala mengarahkan pistol di kepalanya sendiri. Dan pistol itu meletus tanpa suara karena peredam yang terpasang bersamaan dengan tubuh yang roboh penuh darah di kepala.
Semua orang hanya diam menyaksikan itu semua. Mandala kemudian berdiri dan keluar rumah sambil menepuk pundak asisten ayah.
"Tolong urus jenazahnya"
"Siap Mayor!"
Mandala berada di depan pintu, kemudian tubuhnya terjatuh bersamaan dengan suara tembakan yang terdengar. Mandala roboh dengan luka tembakan di dadanya. Semua orang terkejut, mencari tahu dimana penembaknya. Namun semua kembali sepi, yang tampak hanya dua orang penuh darah yang terbaring di lantai.
Apa yang terjadi dengan Mandala????
---------------------
Jangan lupa votenya yaa
LOVE YOU 😘😘😘😘
__ADS_1