Jodohku

Jodohku
Koma


__ADS_3

PRANGGG!!!.....


Tiba tiba piring yang kupegang terlepas dari tanganku. Aku terkejut sambil menghindari pecahan kaca di kakiku.


"Ada apa Nak Ega?"


Ibunya Ayu langsung menghampiriku di meja makan.


"Terjatuh dari tangan saya bu"


Aku pun langsung duduk di meja makan dan mengatur nafasku.


"Nak Ega??"


"Pikiran saya gak tenang bu. Saya tiba-tiba ingat Mandala"


"Telponlah Mandala"


"Saya bersihkan pecahan piring ini dulu bu"


"Tidak usah, telponlah dulu Mandala. Biar kita semua tenang"


Aku pun bergegas ke kamarku untuk mengambil handphone. Kulihat sudah banyak panggilan tak terjawab dari Mandala. Aku pun langsung melakukan panggilan ulang. Berkali kali aku melakukan panggilan, tapi tak satu pun terjawab.


Setelah aku merasa putus asa untuk menghubungi Mandala, ibunya Ayu memanggilku.


"Nak Ega, ada tamu yang mencarimu. Dari angkatan udara"


Aku pun bergegas keluar kamar dan mendapatkan dua orang berseragam Angkatan udara duduk di kursi tamu. Seketika nafasku terhenti. Aku merasa ada sesuatu yang terjadi pada Mandala.


Ketika melihatku datang, kedua orang tersebut berdiri dan menundukkan kepala memberi hormat padaku.


"Silahkan duduk, apa terjadi sesuatu dengan Mayor kalian?"


Sebagai seorang istri prajurit, kami sudah diberi bimbingan psikologis tentang kejadian tiba-tiba yang akan terjadi pada suami kami. Tapi tetap saja hatiku tidak tenang.


"Kami menjemput ibu. Mayor tertembak semalam. Sekarang ada di rumah sakit"


Aku terdiam membeku. Air mataku menetes dalam diamku. Inilah firasatku tadi.


"Saya akan bersiap dulu, tunggulah sebentar"


Aku pun bergegas memberitahu ibunya Ayu untuk menitipkan ibuku dan menceritakan apa yang terjadi.


Ibunya Ayu memelukku dan berjanji untuk selalu menjaga ibuku.


Aku pun segera mengemas pakaianku dan ikut pergi bersama dua orang tentara yang menjemputku.


---------------------

__ADS_1


Aku berada di rumah sakit Tentara.


Mandala terbaring tidak sadarkan diri setelah dokter militer mengeluarkan peluru yang tertancap di dadanya. Para dokter pun terkejut, karena Mandala masih bisa bertahan hidup dengan luka tembak itu walaupun sekarang dalam keadaan koma.


Aku terus menggenggam tangan Mandala. Air mataku sudah kering. Aku berusaha untuk tidak menangis lagi. Tidak ada penjelasan yang bisa kudapatkan dengan kondisi suamiku sekarang. Semua adalah rahasia negara. Aku tidak berhak bertanya lebih lanjut. Mereka hanya berkata bahwa Mandala terluka di dalam tugasnya.


Tapi aku tahu, tidak seperti itu yang terjadi sebenarnya. Aku hanya diam, pasrah pada apa yang terjadi. Aku terus berdoa agar Mandala segera sadar. Hanya dari Mandala lah aku bisa mendapatkan semua penjelasan.


Aku tidak meninggalkan Mandala sedikit pun, sebagai seorang dokter aku mengontrol semua obat-obatan yang diberikan pada Mandala.


Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Mandala, karenanya aku harus waspada jika mereka ingin melenyapkan Mandala.


Jika aku harus ke kamar mandi, aku pun mengunci pintu kamar hingga tidak ada satu orang pun yang bisa masuk menemui Mandala tanpa sepengetahuan mataku.


--------------------------


Satu bulan berlalu. Aku tetap setia di sisi Mandala. Aku sudah mengajukan permohonan untuk memindahkan Mandala ke rumah sakit Umum. Tapi mereka menolak, mereka bahkan memutuskan untuk melepas alat-alat yang di gunakan Mandala. Aku protes dan memaksa pindah saja jika mereka juga tetap bersikeras.


Di sela kesibukanku menjaga Mandala. Seseorang datang menemuiku.


"Selamat siang bu. Saya temannya Mandala. saya seorang arsitek"


Aku mengerutkan dahiku tapi tetap tersenyum dan memintanya untuk duduk.


"Ini bu"


Dia menyodorkan beberapa lembar foto padaku.


"Dua tahun yang lalu, Mandala meminta saya untuk membuat penginapan yang lengkap dengan klinik juga swalayannya bu. Ini ada di pulau W di propinsi ibu juga. Semua ijinnya sudah di dapat Mandala waktu mendiang bapaknya ibu masih hidup"


"Jadi?"


"Semuanya sudah selesai bu. Saya berusaha menghubungi Mandala. Tapi saya di beritahu kalo Mandala ada di rumah sakit ini"


"Penginapannya sudah selesai?"


"Iya bu, tinggal menjalankannya saja. Ini semua surat-surat kepemilikannya"


Aku membaca dengan seksama surat-surat yang di berikannya padaku.


Tiba-tiba saja monitor jantung Mandala berbunyi. Aku seketika langsung memeriksa Mandala dan menekan tombol darurat.


Dokter dan perawat berdatangan. Mereka memintaku untuk keluar dan melakukan tindakan pada Mandala. Seketika tubuhku melemah, aku merasa berbagai bintang bertebaran di kepalaku. Seketika semua menjadi gelap.


----------------------


Ketika aku membuka mata, aku juga berada di atas brankar dengan tangan terinfus. Aku berusaha untuk bangun. Tapi seseorang menahan bahuku.


"Ibu harus istirahat"

__ADS_1


Aku menatap perawat yang menjagaku.


"Suami saya?"


Perawat itu menggelengkan kepalanya.


"Ibu istirahat dulu. Ibu hamil. Ibu harus bisa menjaganya"


"Hamil? kamu bilang saya hamil?"


"Iya bu, Hamil lima minggu. Janin ibu kondisinya bagus. Tapi ibu terlalu lelah, jadi harus istirahat"


Aku seketika menangis.


"Aku hamil Kapten.. Aku hamil"


Aku mengucapkan kata-kata itu sambil terus menangis. Perawat tadi memelukku erat.


"Ibu harus tenang, tidak boleh stres"


"Saya ingin bertemu suami saya"


"Ibu habiskan dulu infusan ini, setelah itu saya akan membawa ibu pada suami ibu"


"Apa suami saya baik-baik saja?"


"Suami ibu masih berada di ruangannya"


Aku menarik nafas lega. Ingin rasanya secepat mungkin menemui Mandala. Memeluknya dan memberitahunya bahwa sekarang aku hamil.


Hamil anaknya. Anak yang sudah lama kami tunggu-tunggu.


Aku berharap dengan berita ini Mandala menjadi sadar dan bangun dari komanya.


Aku mengelus perutku yang masih datar.


"Harus kuat ya nak.. kita jaga Ayah sama-sama. Jangan rewel. Bunda akan selalu menjagamu"


Air mataku kembali menetes. Perawat kembali mengingatkanku untuk tidak boleh terlalu banyak pikiran.


Aku pun berusaha memejamkan mataku. Menunggu infusanku selesai dan terus mengelus perutku.


Kapteeennn.. Cepatlah bangun. Aku ingin menjaga anak ini berdua denganmu.


-------------------


Apa Mandala baik baik saja?


(Reader akan menembak saya jika Mandala meninggal 😄😃)

__ADS_1


Jangan lupa votenya yaa.. karena cerita ini akan segera berakhir.


LOVE YOU SEMUA 😘😘😘😘


__ADS_2