Jodohku

Jodohku
Episode 11


__ADS_3

Aku sedang di kantor berkutat dengan berkas-berkas laporan proyek perumahan Permata Indah. Tiba-tiba Rizal asistenku datang.


"Bos, ada wanita cantik di depan lagi nyariin bos," ucap Rizal.


"Wanita cantik? Siapa? aku nggak ada janji hari ini dengan siapapun," ucapku.


"Katanya namanya Maria bos, gimana? apa boleh masuk?" tanya Rizal lagi.


"Maria, ngapain dia kesini. Ya sudah, suruh masuk aja Zal," ucapku.


"Siap bos," jawab Rizal lalu berlalu meninggalkan ruangan.


"Masuk aja, pintunya nggak dikunci," pintaku pada Maria.


"Pagi mas Arkan," sapanya sambil duduk di kursi.


"Ngapain kamu kesini?" tanyaku jutek. Aku memang masih ada rasa sama dia, tetapi penghianatannya dengan kak Kevin sulit kulupakan.


"Kantor mas Arkan makin bagus yah, kudengar dari mami kalau proyek perumahan yang mas tangani berkembang pesat," ucapnya.


"Jika kamu cuma mau bilang itu, pergilah! aku masih banyak pekerjaan," perintahku.


"Aku tahu mas Arkan masih cinta sama aku. Jadi apa salahnya jika aku datang ke sini," celotehnya yang membuatku semakin muak.


"Jangan sok tahu," protesku.


"Mas jangan munafik. Akui saja kalau masih cinta. Bukankah mas menikah sama Khansa karena permintaan mami. Mas masih mengharapkan akukan," ucapnya dengan nada tinggi.


Aku hanya terdiam. Hatiku bergolak. Antara senang dan benci.


"Kenapa diam mas? aku akui kalau aku telah salam memilih. Aku terjerat rayuan kak Kevin saat kamu masih di Amerika. Tapi ternyata kak Kevin berselingkuh dengan Lela, baby sitter yang aku bawa dari Indonesia. Aku menyesal mas," ucap Maria sambil berurai air mata.


"Pergilah! aku tak mau membicarakan itu lagi. Itu semua hanya masa lalu," ucapku.


"Kita bisa mulai dari awal lagi mas. Aku masih mencintaimu," ucap Maria


"Pergilah, jangan ganggu aku," perintahku.


"Baik, aku akan pergi. Tapi aku akan menunggu jawabanmu," ucap Maria sambil meninggalkan ruanganku. Aku hanya bisa mengacak rambutku. Kesal dengan situasi seperti ini. Jika perkataan Maria benar, sungguh aku semakin benci dengan kak Kevin. "Laki-laki tak berguna," teriakku.


*****

__ADS_1


"Bos, bos baik-baik saja," suara Rizal mengagetkanku


"Kenapa masuk tak ketuk pintu?" tanyaku sambil marah.


"Sudah ketuk bos, tapi bos diem bae. Entar kesambet loh bos," lanjutnya.


"Ada apa?" tanyaku agak kesal.


"Ini macam mana bos, kok tanda tangannya kebalik begini," ucap Rizal.


"Aish, kenapa jadi begini," umpatku.


"Bos sih, udah ada istri solehah seperti mba Khansa malah bermain api," celetuk Rizal. Segera aku melotot kearahnya.


"Sorry bos," ucapnya sambil nyengir.


*****


Khansa duduk di sofa sambil membaca alquran. Sudah jadi kebiasaannya setelah sholat maghrib selalu membacanya. Awalnya telingaku terasa panas mendengarkannya. Mungkin banyak syetan yang bersarang di telingaku. Namun karena hampir tiap hari kalau tak ada jadwal kuliah dia membacanya, aku pun mulai merasa nyaman.


Aku menatap layar leptopku. Sesekali kutatap wajah wanita yang sudah sah menjadi istriku itu. Mungkin aku telah dzalim padanya karena hampir 1 bulan menikah dengannya, aku tak pernah menyentuhnya. Hati kecilku masih menginginkan Maria. Apalagi Maria sekarang sudah sendiri lagi. Tapi aku juga takut melukai hati papi dan mami jika harus berpisah dengan Khansa.


Tiba - tiba pintu kamar kami diketuk.


"Siapa?" tanyaku.


"Maria," ucapnya dari balik pintu. Kulihat wajah Khansa agak cemberut mendengar nama Maria. Segera ku berjalan untuk membukakan pintu.


"Ada apa?" tanyaku pada Maria


"Turunlah, mami meminta kalian untuk makan malam. Sekalian malam ini aku mau pindah ke apartemen. Jadi aku minta mas bisa mengantarku," ucap Maria.


"Ok, kami akan turun sebentar lagi," ucapku.


"Cepatlah, nanti keburu malam," ucapnya sambil pergi meninggalkan kamar kami.


"Khansa, turunlah. Mami meminta kita untuk makan," pintaku pada Khansa. Khansa hanya mengangguk lalu meninggalkan sofa.


*****


"Oma, opa, Zea dan Zio tinggal disini saja ya. Zea nggak mau tinggal sama mama. Zea suka disini. Disini ramai. Apalagi ada tante Khansa yang suka bacain buku kisah para nabi," rengek Zea keponakanku yang kini berusia 10 tahun itu. Ternyata Khansa adalah sosok tante yang menyenangkan dimata Zea.

__ADS_1


"Tapi nanti kasihan mama sayang, mama akan kesepian kalau Zea dan Zio tinggal disini," ucap mami merayu Zea.


"Tapi Zea maunya disini oma," rengek Zea sambil menangis. Mami mengelus rambut Zea kemudian menatap Maria.


"Jika mami nggak keberatan, biar Zea dan Zio tinggal disini. Maria nggak apa kok tinggal sendiri. Nanti Maria akan cari kerja jadi Maria ada kesibukan," ucap Maria.


"Kalau mamamu mengijinkan, oma senang Zea dan Zio tinggal disini," ucap mami.


"Asyik Zea tetap disini," ucap Zea dengan girang kemudian memeluk oma, opa dan Khansa. Begitu juga dengan Zio.


"Arkan cepetan anterin Maria, nanti keburu malam," ucam mami.


"Khansa, kamu ikutan sana temenin suamimu. Papi tak ingin terjadi apa-apa," ucap papi.


Segera aku melangkah menuju mobil. Barang-barang keperluan sudah dimasukkan ke bagasi oleh bik Iyem.


"Maria, kamu duduk dibelakang. Biar Khansa di depan," ucapku. Mobilpun segera meluncur menembus kemacetan menuju apartemen Maria. 30 Menit kemudian kami sudah sampai di apartemen. Aku dan Khansa membantu membawakan barang-barang Maria.


"Terima kasih sudah mengantarku mas Arkan, " ucap Maria sambil tersenyum. Sementara Khansa hanya diam.


"Oya mas, aku menunggu jawabanmu," lanjut Maria. Aku hanya tertegun dengan ucapannya. Sementara Khansa menatapku penuh tanda tanya.


"Kami balik, hati-hati.Jangan lupa kunci pintu," ucapku. Tiba-tiba Maria mendaratkan ciuman ke pipiku. Sontak Khansa langsung melotot kearahku. Dan Maria langsung masuk menutup pintu.


Aku segera melangkah dengan cepat menuju parkiran. Khansa mengejarku dengan sedikit berlari.


"Tunggu mas, apa maksud semua ini?" tanya Khansa dengan kesal.


"Masuklah! " perintahku.


Khansa duduk disampingku masih dengan mulut yang ngomel.


"Apa mas Arkan pacaran sama mba Maria?" tanyanya, sementara butiran bening terus mengalir di kedua pipinya.


"Kalau iya kenapa?" jawabku sekenanya. Padahal aku juga kaget dengan perbuatan Maria.


"Jadi mas lebih suka berzina daripada beribadah denganku?"


"Aku tak berzina, bahkan aku tak pernah menyentuhnya," sewotku tak terima dikatakan berzina.


"Mendekati wanita yang bukan makhramnya itu sama saja mendekati zina. Bahkan sampai mbak Maria mencium pipi mas itu jelas-jelas berzina. Sementara jika mas menyentuhku itu adalah ibadah karena kita sudah sah sebagai suami istri," ucap Khansa sambil menahan air matanya. Aku hanya terdiam mendengarkan semua ucapannya.

__ADS_1


__ADS_2