Jodohku

Jodohku
Aku perlu penjelasan (2)


__ADS_3

Entah berapa lama aku tertidur, ketika aku membuka mata kulihat Mandala juga tertidur di sofa masih lengkap dengan sepatunya.


Aku bangun dari tempat tidur, memandangi wajah Mandala sebelum masuk ke kamar mandi.


Enam tahun kami bersama, bukan waktu yang sebentar. Sejak menikah, inilah pertengkaranku yang terhebat dengan Mandala. Aku pun tidak bisa menyangkal bahwa aku masih mencintai Mandala.


Kejadian ini, tidak serta merta membuatku langsung tidak mencintai Mandala lagi.


Keluar kamar mandi aku memeriksa handphoneku. Ada panggilan tak terjawab dari Melky karena aku memang memasang mode Silent. Ada panggilan juga dari dokter Heru dan dokter Herman.


Aku pun memeriksa chat atau pesan yang masuk.


Dari Melky :


"Kakak ipar dimana? Ada apa dengan abang hari ini? Abang terlihat sangat marah"


Dari dokter Heru :


"Dokter Chintya dimana? Suamimu mengamuk di Klinik antologi. Dia bilang akan menuntut kami karena membocorkan rahasia pasien"


Dari dokter Herman :


"Cepat hubungi dokter Heru. Dia bilang suamimu mengamuk di klinik"


Aku menarik nafas panjang.


Tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang. Dokter Heru bermaksud membantuku, tapi sekarang malah terkena masalah karenaku.


Aku membalas chat dari dokter Heru.


"Dokter tenang saja, suami saya tidak akan menuntut dokter. Dia tidak akan membuka aibnya sendiri di depan umum. Maafkan saya. Karena saya, dokter mendapat masalah"


Aku membalas chat dari dokter Herman.


"Terima kasih dokter, saya akan segera menghubungi dokter Heru. Maaf karena saya dokter berdua mendapat masalah"


Perutku berbunyi. Iya, aku memang lapar. Makanan hotel yang di pesan Mandala tadi siang hanya ku makan sedikit. Sekarang sudah mulai malam, pantas saja perutku terus berbunyi.


Aku melihat dua kotak nasi padang di atas meja. Mungkin Mandala tadi membelinya ketika datang.


Aku berniat untuk makan ketika kulihat Mandala bergerak dari tidurnya.


Mata kami langsung bertemu. Mata Mandala terlihat merah. Entah karena habis bangun tidur, habis menangis atau karena marah.


"Kamu lapar sayang, ini ada nasi padang. Ketika aku datang, kamu masih tidur. Makanlah sekarang"


Aku tidak menanggapi ucapan Mandala.


Mandala berdiri, melangkah ke kamar mandi.


Aku pun duduk di sofa tempat Mandala tidur tadi, mengambil nasi kotak dan mulai menyantapnya.


Masa bodo dengan amarahku pada Mandala, saat ini aku sangat lapar.


Mandala keluar dari kamar mandi dan langsung duduk di sampingku. Mengelus kepalaku lembut. Aku berusaha mengelak, tapi Mandala tetap mengelus rambutku.


"Kita harus pulang, akan timbul kecurigaan jika kita tidak pulang"


Aku hanya diam.


"Sayang, aku janji. Aku akan menjelaskannya padamu jika kamu mau pulang denganku malam ini"


Aku memandangi Mandala. Masih bisakah aku mempercayainya?.


Dapatkah aku memegang kata-katanya Mandala?.


"Kamu sudah tidak percaya lagi padaku?"


"Entahlah"


"Ama lagi sakit, akan menambah beban pikiran ama jika kita tidak di rumah"


"Katakan pada mereka kalo kita akan kembali ke Asrama"


"Malam ini kita pulang ke rumah besar dulu, aku janji akan bicara dengan ama untuk kembali ke Asrama"


Sekali lagi aku memandang Mandala dengan keraguan.


"Baiklah, ini yang terakhir. Jika kamu membohongiku lagi. Aku tidak akan pernah mempercayaimu sampai kapan pun".


"Baiklah"


"Aku akan mengirim pesan pada beberapa orang. Jika kamu tidak menepati janjimu. Mereka akan mencariku lusa".


"Sayang, haruskah semua orang jadi tahu cerita rumah tangga kita?"


"Kamu mengamuk di klinik. Bukankah jadi cerita semua orang di sana?"


"Jadi dokter Heru yang memberitahumu? Aku hanya marah di ruangan dokter Heru. Berarti dokter Heru yang melaporkan semua ini padamu".

__ADS_1


"Maksudnya baik, untuk apa kamu marah padanya"


"Aku hanya tidak ingin dia mencampuri urusan rumah tanggaku. Aku adalah pasien dokter Faisal, bukan pasien dokter Heru".


"Tapi karena dokter Heru kebohonganmu terungkap dan aku tidak harus terus berharap dan merasa bersalah"


"Sudah kukatakan berulang kali untuk tidak mempermasalahkan tentang anak. Tapi kamu terus saja memikirkannya"


"Aku wanita yang iri melihat wanita lainnya menggendong anak mereka. Hatiku sakit melihat kamu bermain dengan Putri. Aku ingin memiliki anakku sendiri"


Aku kembali terisak. Mandala memelukku.


"Suatu saat sayang, bersabarlah. Sekarang kamu hanya harus percaya padaku".


"Ini kesempatanmu yang terakhir. Aku akan mempercayaimu yang terakhir kalinya. Jika kamu menyakitiku lagi, aku akan pulang ke kalimantan meninggalkanmu dan mengurus perceraian kita".


"Aku janji. Aku akan segera menyelesaikannya dan memberimu penjelasan"


Kami pun kembali ke rumah besar malam ini. Aku menuju ke dapur terlebih dahulu sebelum naik ke lantai tiga. Mandala menuju kamar Ama karena ada dokter yang datang berkunjung.


"Kakak ipar"


Kulihat Nia pun berada di dapur membuat teh. Mungkin buat orang-orang yang sekarang berada di kamar Ama.


Aku hanya tersenyum.


"Kakak, bisakah menungguku sebentar. Aku akan mengantar teh ini lebih dahulu. Tunggulah di dapur ini. Aku ingin bicara".


Aku hanya mengangguk.


Nia pun meninggalkanku dengan tergesa-gesa. Aku duduk di meja makan sambil menunggu Nia yang datang tak lama kemudian.


"Apakah dokter mengunjungi Ama setiap hari kak?"


Nia duduk di depanku sambil bertanya. Aku tahu itu hanya pertanyaan basa-basi.


"Aku juga kurang tahu. Dulu almarhum Tiara yang mengerti keadaan di rumah ini. Aku tinggal di Asrama, tidak tinggal di sini".


"Kakak, apa kamu membenciku karena menggantikan mommy nya anak-anak?"


"Tidak, kenapa kamu berpikiran seperti itu?


"Kakak tidak berbicara padaku. Kakak seperti mengabaikanku".


"Aku terlalu sibuk bekerja dan kuliah. Di saat pulang aku sudah sangat lelah. Aku bersyukur ada kamu di sini yang bisa mengatur rumah. Menemani anak-anak"


"Jangan berpikiran yang aneh-aneh. Aku tidak pernah berpikir untuk membencimu. Bagaimana hubunganmu dengan Melky?"


"Baik kak, Melky memperlakukanku dengan baik. Kami adalah teman di saat kecil".


"Kamu belum menikah karena menunggu Melky?"


"Tidak kakak, memang jodohku yang belum datang. Ternyata kembali ke Melky".


"Kalian dulu di jodohkan?"


"Iya kak, tapi Melky menolak. Dia bilang hanya menganggapku sebagai seorang teman. Hatiku sakit pada saat itu kak. Tapi aku coba untuk menerimanya".


"Kalian berniat untuk memiliki anak?"


"Tidak kak, Melky bilang tidak ingin punya anak lagi".


"Mungkin karena Putri dan Utami masih kecil. Setelah mereka agak besar sedikit, kamu bisa punya anak".


"Melky bilang, jangan punya anak sebelum abang dan kakak punya anak".


"APAA??"


"Melky sangat menyayangi kakak dan abang. Dia merasa sedih setiap melihat kakak yang memandangi Putri dan Utami. Karenanya Melky memintaku untuk menunda punya anak".


"Jangan seperti itu. Jangan karena aku dan abangmu. Aku akan berbicara dengan Melky nantinya".


"Jangan kakak, Melky akan marah padaku".


Aku tersenyum dan memberi kode pada Nia lewat mataku bahwa dokter sudah keluar dari kamar Ama bersama Melky dan Mandala.


Nia pun berdiri lalu keluar dari ruang makan untuk ikut mengantar dokter sampai ke parkiran mobil.


Aku tetap duduk di kursiku. Hanya cukup memandangi mereka dari kejauhan.


Mereka bertiga masuk kembali ke dalam rumah. Aku pun berdiri ketika Mandala memberiku kode dengan kepalanya agar kami bisa naik ke lantai tiga.


Kulihat Melky menatapku. Melky sama dengan Mandala. Dia sangat mengerti aku.


"Kakak, kamu baik-baik saja?"


Melky terus menatapku.


Aku tersenyum menepuk pundak Melky.

__ADS_1


"Jangan khawatir. Aku baik-baik saja".


Kami pun naik lift bersama. Melky dan Nia keluar di lantai dua. Sebelum keluar, Melky memandangku kembali. Aku tersenyum kecil padanya.


"Melky, jangan lupa"


"Baik Bang"


Mandala membuka kode lift setelah sampai di lantai tiga.


Kami masuk ke dalam kamar.


"Aku mandi lebih dulu"


Mandala langsung masuk ke dalam kamar mandi.


Aku memandangi kamar ini. Seperti ada sebuah rahasia yang aku tidak ketahui dimana harus mulai mencari rahasia itu. Seandainya ada peta yang menjadi petunjukku.


Mandala keluar dari kamar mandi.


"Mau pesan makanan?"


"Aku tidak lapar".


"Mandi kemudian istirahatlah, aku akan turun lagi. Ada hal yang akan ku bicarakan dengan Melky dan Ama"


Aku hanya mengangguk.


"Jangan turun kebawah, jika ingin sesuatu telpon aku. Aku membawa handphoneku turun"


Lagi-lagi aku hanya mengangguk.


Mandala menuju ruang kerjanya. Entah apa yang dikerjakannya di sana sebelum kemudian keluar kamar dan turun ke lantai satu.


Aku kembali memandangi langit-langit kamar. Aku malas untuk kekamar mandi membersihkan diriku. Aku pun berbaring dengan manis di atas sofa.


-----------


Aku terbangun karena dingin yang menusuk tubuhku.


Aku masih terbaring di sofa dengan pakaianku yang sama seperti tadi siang. Mandala belum kembali. Aku melangkah ke ruang kerja, Mandala tidak ada di sana.


Aku pun menuju kamar mandi. Membersihkan diriku dan mengganti pakaian. Kemana Mandala? Apa masih berbicara dengan Ama? Kenapa selama ini?


Aku pun keluar kamar dan berniat untuk ke dapur mengambil beberapa buah.


"Apa yang terjadi dengan kalian berdua?kalian anak-anak durhaka!!"


Kalimat itu terdengar dari kamar Ama ketika aku keluar dari lift. Aku pun melangkahkan kakiku menuju kamar ama. Tidak menuju dapur.


"Minggu depan peringatan lima belas tahunnya Dewa. Apa kamu lupa Dala apa yang terjadi dengan Dewa?"


"Dala tidak lupa ama. Dala ingat semua."


"Jadi kapan kamu menepati janjimu? Kapan kamu mengusir wanita itu dari kehidupanku selamanya?"


"Ama sudah janji akan membiarkan kami tetap menjadi suami istri asalkan kami tidak memiliki anak. Dala sudah menuruti itu kan Ama. Dala sudah mengikuti kemauan Ama untuk tidak punya anak".


"Tapi aku ingin wanita itu lenyap selamanya. Biar Dewa tenang di alam sana"


"Ama berjanji tidak akan menyakiti Ega jika Dala mengikuti kemauan Ama".


"Itu dulu, sekarang aku berubah pikiran. Aku akan mencari orang untuk melakukannya jika kamu tidak sanggup"


"Ama, Dala mencintai Ega. Tolong jangan sakiti Ega"


"Cinta jugalah yang membuat Dewa menjadi pergi dariku selamanya".


"Ama tolonglah.. biarkan kami tetap bersama. Aku akan membawa Ega jauh dari sini. Jauh dari hadapan Ama."


"Dan kamu juga ikut menjauh dariku? Aku ingin kamu dan adikmu Melky terus bersamaku".


"Baiklah, Dala akan terus bersama Ama. Tapi biarkan Ega pergi. Dala akan mengantar Ega kembali ke ibunya. Kami akan berpisah seperti maunya Ama. Tapi jangan sakiti Ega".


Air mataku menetes dengan deras. Aku menutup mulutku agar suara tangisku tidak terdengar. Aku tidak sanggup lagi untuk mendengarkan pembicaraan mereka. Aku kembali memasuki lift dan naik kelantai tiga.


Aku membanting tubuhku dengan kuat di atas ranjang. Aku meraung dengan keras. Aku tahu kamar ini kedap suara. Aku bebas untuk menangis dan berteriak sesukaku.


Ternyata Ama selama ini berpura pura baik padaku. Ternyata Ama tidak menyukaiku. Apa salahku pada Ama? Siapa Dewa? Apa hubungannya Dewa dengan kebencian Ama padaku?


Aku harus mendapatkan jawaban dari Mandala malam ini juga. Hatiku sudah sangat resah dan sakit.


Aku akan menunggu Mandala kembali kekamar. Aku harus mendapatkan penjelasan darinya sekarang ini juga.


----------


Jangan lupa votenya yaa


LOVE YOU 😘😘

__ADS_1


__ADS_2