
Seminggu setelah kepergian Tiara, aku merengek pada Mandala agar kami kembali ke Asrama.
Tapi Mandala lagi-lagi membujukku dengan alasan Melky masih berduka dan tidak ada yang merawat Putri dan Utami.
"Kamu belum kerja kan? Biarlah kita di sini dulu. Kasian Melky dan anak-anaknya".
Aku menuruti Mandala, walaupun menurutku lebih nyaman kami tinggal di Asrama daripada di rumah besar ini.
Setiap hari aku berusaha untuk menyenangkan hatiku di sini. Aku menyayangi Putri dan Utami. Tapi setiap kali melihat keakraban Mandala dan mereka berdua, hatiku menjadi bertambah hancur. Aku sedih melihat Mandala bermain bersama anak orang lain. Aku merasa setiap orang mengataiku sesuatu setiap mereka melihat betapa sayangnya Mandala pada Putri.
"Sama keponakannya sayang betul, apalagi sama anak sendiri".
"Gak punya anak, itu keponakannya"
"Mereka belum punya anak".
"Itu bukan anaknya".
Kata-kata itu selalu kudengar setiap kali ada yang datang berkunjung kerumah.
Hatiku perih Kapten.
Rasanya aku ingin berteriak pada mereka bahwa aku pun ingin hamil dan memiliki anakku sendiri.
Karenanya aku ingin segera pulang ke asrama. Menikmati kesendirian ku. Menikmati kebersamaanku dan Mandala. Hanya kami berdua.
-------------------------------
Waktu terus berlalu. Mandala masih enggan untuk meninggalkan rumah ini. Sudah satu bulan sejak kepergian Tiara.
Ibunya Melky membawakan seorang wanita buat Melky. Gadis asal kampung mereka yang dulunya akan di jodohkan dengan Melky.
Melky mengikuti kehendak ibunya untuk menikah lagi. Aku pun berharap agar istri barunya Melky bisa menjaga kedua anak ini sehingga aku bisa bebas dari beban untuk menjaga mereka.
Aku senang menjaga mereka. Tapi aku tidak sanggup mendengar setiap perkataan yang keluar dari mulut orang-orang yang tidak mengerti tapi sok berkomentar.
Program kehamilanku pun gagal. Di bulan ketiga, aku berniat untuk kembali bekerja. Aku harus mencari kesibukan agar aku tidak terlalu berfikir banyak.
Aku pun meminta ijin Mandala untuk kembali kuliah. Aku ingin mengambil spesialis bedah kecantikan. Aku ingin suatu saat jika aku kembali berhenti dari ruang jenazah, aku bisa duduk tenang di dalam ruang praktekku untuk merekonstruksi wajah seseorang.
Mandala mengijinkanku. Aku pun mendaftar pada universitasku dulu sambil kembali masuk kedalam ruang jenazah.
Aku berusaha untuk selama mungkin berada di rumah sakit. Entah kenapa, aku jenuh berada di rumah. Aku merasa jika aku di rumah aku seperti berada di dalam penjara.
Mandala pun sekarang lebih sibuk. Akademi penerbang yang terletak di luar kota jauh dari rumah membuat Mandala harus berangkat lebih pagi dan pulang lebih larut.
Aku sedih Kapten. Perhatianmu padaku tidak berubah, tapi aku selalu merasa sedih. Aku merasa ada sesuatu yang salah pada kita berdua.
Akhirnya kuliahku di mulai. Aku kembali mengajukan pengunduran diri yang kedua kalinya pada rumah sakit dengan alasan ingin fokus pada kuliahku.
__ADS_1
"Ada apa dokter Chintya?". Dokter Herman sesama dokter di ruang jenazah memandangiku.
"Saya ingin ambil spesialis lagi dokter, saya ingin pensiun dari ruang jenazah dan duduk manis di dalam ruang praktek".
"Tapi aku merasa ada yang salah pada dokter Chintya".
Aku menghela nafas panjang. Dokter Herman lumayan dekat denganku karena memang kami selalu bekerja bersama.
"Program kehamilan saya gagal. Saya tidak tahu dokter, bagaimana kedepannya rumah tangga kami. Saya bersiap untuk kemungkinan yang terburuk, saya akan kembali ke daerah dan membuka praktek di sana".
"Suamimu tidak mempermasalahkan hal itu kan?"
"Untuk sekarang tidak, tapi entah kedepannya".
"Bersabarlah dan banyak berdoa, Tuhan akan memberikan yang terbaik untukmu".
"Terima kasih Dokter, apa sekarang pengajuan saya di setujui?"
"Aku akan membantumu. Jangan berhenti. Aturlah jadwal kuliah dan bekerjamu dengan baik. Berkonsultasilah terus denganku. Aku akan membantumu".
"Dokter, saya tidak tahu apakah sekarang saya harus menangis atau bergembira. Saat ini saya hanya ingin menghibur diri saya dengan kesibukan, agar saya bisa melupakan kepahitan ini".
"Kita rekan sejawat, harus saling bisa mengerti dan memahami. Suatu saat pun jika saya memiliki masalah. Saya berharap kamu pun bisa membantu saya".
"Terima kasih banyak dokter".
Aku pun meninggalkan dokter Herman. Apakah keputusan dokter Herman untuk mempertahankanku dan aku menerimanya adalah keputusan yang terbaik.
------------
Melky menikah kembali setelah seratus hari kepergian Tiara. Betapa bahagia wajah ibunya Melky. Karena memang inilah wanita pilihannya untuk Melky.
Dan Melky sendiri kulihat bersikap biasa. Selalu mengendong Utami sambil melayani tamu yang datang pada acara sederhana yang dilaksanakan keluarga. Sedangkan Putri selalu menempel pada Mandala.
Aku berharap setelah menikahnya Melky, aku dan Mandala bisa pergi dari rumah ini. Aku tidak ingin di bulan-bulan berikutnya aku kembali mendengar bahwa istri barunya Melky sudah hamil.
Itu akan menjadi pukulan yang sangat berat untukku.
"Sayang, kenapa? kulihat kamu banyak diam".
Mandala menghampiriku sambil mencium pucuk kepalaku.
"Bisa kita kembali ke Asrama setelah Melky menikah?"
"Kenapa kamu ingin sekali pindah ke Asrama? dari sini ke rumah sakit juga dekat kan?"
"Aku lebih merasa nyaman tinggal di Asrama".
"Kita harus mengawasi istri barunya Melky dulu. Bagaimana dia memperlakukan anak-anak".
__ADS_1
"Disini banyak orang yang bisa mengawasinya. Jika kamu ragu, kita bisa membawa Putri bersama kita".
"Melky tidak akan mengijinkannya. Sulit bagiku sekarang untuk berpisah dengan Putri".
Tanpa sadar aku menarik nafas panjang. Mandala memperhatikanku.
"Sayang?"
"Jika kamu terus ingin di sini, aku sendiri yang akan pindah".
Aku pun berdiri, melangkah meninggalkan Mandala yang memandangku dengan heran.
Aku naik kelantai tiga meninggalkan acara yang masih berlangsung. Duduk termenung memandang langit-langit kamar. Apa yang sedang kupikirkan saat ini aku pun bingung.
Mandala sudah duduk di sampingku tanpa kusadari kehadirannya.
"Apa yang kamu pikirkan?"
"Entahlah apa yang kupikirkan, mungkin aku berpikir untuk merayakan pesta sederhana seperti Melky hari ini untuk pernikahan keduamu".
"Sayang, pikiran apa itu?"
"Aku mencoba untuk pasrah dan menyerah".
"Sayang..".
Mandala memelukku dan aku pun menenggelamkan kepalaku di dada Mandala.
"Menikahlah lagi, Aku ikhlas".
"Sayang, jangan pernah berkata seperti itu".
"Kamu akan memiliki anak sendiri setelah itu".
"Aku akan marah jika kamu terus mengatakan itu".
Aku diam dan memejamkan mataku.
Sungguh aku sangat lelah.
Tanpa sadar aku mulai tertidur di dalam pelukan Mandala. Berharap esok hari ketika aku bangun semua kelelahanku pun telah berakhir.
-------------------------
agak dikit ni yaa upnya hehehehehe..
tapi di usahakan untuk up tiap hari..
jangan lupa votenya ya
__ADS_1
LOVE YOU 😘😘