Jodohku

Jodohku
Di rumahku


__ADS_3

Aku sudah duduk di dalam pesawat. Melihat keluar melalui jendela. Akankah aku kembali lagi ke kota ini?. Bagaimana dengan rumah tanggaku setelah pesawat ini take off dan landing di kota kelahiranku.


Dadaku kembali terasa sesak. Rasa ingin menangis.


Rini ikut mengiringiku pulang. Kami berada dalam satu pesawat tapi tempat duduk yang berbeda. Rini duduk di deretan seberangku. Sehingga dengan mudah Rini bisa melihatku. Tapi aku terus memandang ke luar jendela. Berharap Rini tidak melihat kegelisahan hatiku.


Aku terakhir bertemu Mandala ketika kami pergi ke Villa. Mandala hanya mengirim sebuah chat padaku lewat Rini tadi pagi.


"Sayang, hati-hati di jalan. Salam buat ibu. Rini akan mengabariku jika kalian sudah sampai. LOVE YOU"


Ingin rasanya aku bertanya.


"Kamu dimana Kapten? Tidur dimana kamu? Bersama siapa kamu sekarang?"


Tapi semua itu tidak pernah terucap dari bibirku. Aku hanya berusah untuk mempercayai Mandala. Lelaki yang sudah enam tahun ini menjadi suamiku.


"Ibu, mau minum apa?"


Suara pramugari menyadarkanku. Aku pun menoleh dan meminta segelas soft drink. Kulihat Rini juga menatapku. Ada tatapan cemas di wajahnya Rini. Kami belum mengenal lama, tapi Rini dan Rita sangat baik padaku. Mungkin karena aku adalah objek yang harus mereka jaga, sehingga mereka mengkhawatirkanku.


Dua jam perjalanan yang kurasakan sangat lama. Sedikit pun aku tidak memejamkan mataku. Pikiranku menjelajah kemana-mana. Entah sudah berapa pulau dan negara yang kupikirkan di dalam kepalaku hehehehehe.


"Ibu baik-baik saja?"


Rini menyentuh tanganku ketika kami sudah berada di dalam ruang tunggu bagasi di bandara kota kelahiranku.


Aku berusaha untuk tersenyum pada Rini.


"Ibu, apa ibu mau berbicara dengan big boss?"


"Tidak, jika dia mau berbicara padaku. Biar dia yang menghubungiku"


Aku berjalan menuju tempat bagasi barang, meninggalkan Rini yang menatapku dengan heran.


----------


Di rumah ibu terlihat kaget begitu aku muncul di hadapan beliau.


"Sayang, kenapa tidak memberi kabar ke Ibu?"


"Bukan kejutan kalo Ega mengabari ibu"


Ibu memelukku erat. Sebagai seorang ibu yang melahirkanku. Ibu pasti tahu ada sesuatu yang terjadi padaku.


"Kamu baik-baik saja sayang?"


Mendengar ibu berkata seperti itu. Ingin rasanya aku menangis di pelukan wanita yang sangat kusayangi ini. Tapi aku tidak ingin membuat ibu khawatir.


"Kenapa kamu pulang sayang?"


"Kangen ibu"


"Anak ibu sudah pintar berbohong. Ada apa? ceritakan pada ibu"


"Ega akan cerita, tapi biarkan Ega makan dulu. Ega lapar bu"


Ibu mengelus pipiku yang memang semakin tirus. Berat badanku memang berkurang. Membuat pipiku terlihat lebih kurus.


"Ayo, ibu siapkan makannya dulu"


Aku mengikuti ibu menuju dapur. Sekejab aku mengedarkan pandanganku pada seluruh rumah. Rumah yang penuh kenangan masa kecilku. Masa kecil yang indah, yang penuh kebahagiaan. Kenapa setelah dewasa aku malah tidak bahagia?

__ADS_1


Apakah ini karma karena perbuatan kakekku di masa lalunya? Karma karena telah membuat seorang wanita menderita. Kini cucunya sendiri mengalami hal itu.


"Mandala tidak ikut?"


"Tidak bu"


Ibu kembali memandangku yang sudah dengan lahapnya menyantap masakan ibu.


"Kalian bertengkar?"


"Ega akan ceritakan nanti ke ibu"


"Makanlah, ibu akan menunggumu untuk bercerita pada ibu"


Aku hanya mengangguk dan kembali asyik dengan makananku.


Sehabis makan, aku membantu ibu bersih-bersih di dapur. Di rumah ada seorang asisten yang membantu ibu. Tapi ibu lebih senang melakukan semuanya sendiri. Sekalian olahraga kata ibu.


"Capek? ayo kita istirahat di kamar"


"Ega di kamar ibu yaa?"


Ibu mengangguk sambil mengelus kepalaku.


Aku memasuki kamar ibu. Teringat kenangan bersama bapak di kamar ini. Aku sering masuk kekamar menganggu bapak tidur. Berbaring di tengah antara bapak dan ibu.


Arrrgggggg doraemon. Keluarkan mesin yang bisa mengembalikanku ke masa itu.


"Ega, kemari sayang"


Ibu menepuk tempat tidur dan memintaku untuk duduk di samping ibu.


Ibu membelai rambutku. Air mataku mulai keluar dan menetes satu demi satu.


Kata demi kata, dengan air mata dan suara yang terputus-putus aku menceritakan semuanya pada ibu. Aku tidak perduli lagi pada semua hal. Ibu adalah satu-satunya yang kupunya. Aku ingin meluapkan semua emosi dan perasaanku saat ini pada ibu.


Ibu harus mengetahui kisahku. Sehingga jika terjadi sesuatu padaku. Ibu sudah mengetahui kebenarannya.


Aku bercerita tentang Dewa, Ama, Melky dan Vasektominya Mandala. Tak lupa juga aku memberitahukan tentang rencana perceraianku.


Ibu pun meneteskan air mata mendengar ceritaku.


"Sayang.."


Hanya itu kata-kata yang keluar dari mulut ibu sebelum ibu memelukku erat. Tangisku semakin menjadi ketika berada di dalam pelukan ibu.


"Tentang masa lalu kakekmu, ibu sudah mengetahuinya. Waktu itu, kakek menceritakannya pada ayahmu. Meminta Ayahmu untuk mencari tahu dan meminta maaf"


"Kakek tahu kalo wanita itu hamil?"


"Iya, tapi kakekmu takut untuk menemuinya"


"Bapak sudah pernah bertemu wanita itu?"


"Belum, informasinya sangat terbatas. Sulit bagi Bapak untuk mencari tahu"


"Ibu, jika Mandala memberitahuku dari awal tentang ini semua. Rasanya pasti tidak akan sesakit ini."


"Sayang, inilah yang dikatakan orang-orang itu suratan tangan. Jadi, apa yang terjadi hari ini padamu. semua sudah tertulis di tanganmu sebelum kamu lahir".


"Ibu, tidak bisakah Ega bahagia?"

__ADS_1


"Bukankah kamu sudah bahagia sewaktu kecil? sekarang Alloh memberimu kesedihan karena Alloh sayang padamu"


"Ibu, jika aku bercerai dengan Mandala. Bagaimana pendapat ibu?"


"Bukannya Mandala berkata kalian tidak akan benar-benar bercerai?"


"Ega merasa banyak kebohongan. Ega tidak bisa hidup seperti ini. Penuh kepura puraan. Kalo berpisah dengan Mandala bisa mengakhiri semua cerita sedih ini, Ega ikhlas"


"Kamu tidak sedih?"


"Sedih itu pasti bu. Tapi dengan seiringnya waktu, Ega masih bisa menata hati Ega kembali"


"Kamu serius ingin bercerai?"


"Ega tidak ingin ada skenario lagi di dalam hidup Ega. Semua penuh settingan. Seperti ada sutradara yang mengatur setiap gerakan Ega. Tidak ada lagi kebebasan".


"Ibu akan selalu mendukung setiap keputusanmu sayang. Lakukan apa pun yang menurutmu baik. Minta petunjuk pada Alloh. Alloh akan memberikan jalan-Nya"


"Terima Kasih Ibu"


Aku kembali memeluk ibu. Ibu terus membelai rambutku hingga aku tertidur di dalam pelukan ibu.


----------------------


Handphoneku berdering. Rini menelponku.


Rini tidak ikut menginap di rumah karena Ibu belum mengenal Rini. Rini juga hanya bertugas menjagaku selama perjalanan. Tidak ketika aku sudah di rumah.


"Ada apa Rin?" Aku menjawab dengan malas.


"Ibu, saya harus bertemu ibu. Pak Mayor ingin berbicara"


"Maaf Rin, aku lagi butuh waktu bersama ibuku. Pak Mayormu memiliki nomor handphoneku dan nomor telepon rumah. Dia bisa menghubungiku sendiri"


"Tapi bu.."


"Aku lelah Rin hidup dalam settingan kalian. Sekarang aku sudah berada di rumahku. Aku bersama ibu yang mencintai dan menyayangiku. Aku tidak takut terjadi sesuatu padaku lagi karena aku sudah berada di rumahku sendiri"


Rini terdiam untuk sesaat.


"Ibu, apa ibu menyerah?"


"Entahlah ini di sebut menyerah atau tidak. Yang jelas aku lelah. Aku ingin bebas melakukan sesuatu tanpa ada yang menguntitku, mengawalku atau menjadi tamengku"


"Saya kagum dengan ibu. Jika ibu perlu bantuan saya, ibu bisa menghubungi saya"


"Walaupun bantuan yang kuinginkan itu mengkhianati big boss mu?"


"Saya kagum dengan ibu. Saya akan membantu ibu tanpa ketahuan Pak Mayor"


"Terima kasih banyak Rin. Untuk sementara, biarkan aku menikmati kebersamaanku dengan ibuku dulu. Biarkan aku tenang untuk beberapa hari. Sampai aku memutuskan apa langkahku selanjutnya"


"Baik bu. Saya tutup dulu teleponnya"


Pembicaraan kami terhenti. Aku pun kembali ke tempat tidurku. Memandang keluar jendela kamar. Berharap hari-hariku selanjutnya akan secerah cuaca di luar sana.


------------


Lebih baik bercerai kan dari pada hidup dalam kekangan??


Jangan lupa votenya yaa

__ADS_1


LOVE YOU 😘😘😘😘


__ADS_2