
Mandala menungguku di parkiran rumah sakit. Begitu melihatku turun dari taksi, Mandala langsung menarik tanganku. Aku berontak, berusaha melepaskan tanganku.
Dokter Herman yang juga baru datang langsung mendekati kami.
"Dokter Chintya ada apa?"
"Maaf dokter, ini urusan kami. Saya ingin berbicara dengan istri saya".
"Baiklah, tapi tidak nyaman di lihat orang lain. Kalian bisa bicara di dalam ruangan"
"Maaf dokter Herman. Terima kasih. Saya akan mengajak istri saya pergi sebentar".
Mandala menarik tanganku dengan paksa dan memintaku masuk ke dalam mobil. Aku sempat melirik dokter Herman terus memperhatikan kami.
Kami berdua duduk di kursi penumpang bagian tengah. Asisten Mandala keluar mobil dan menunggu di luar.
"Apa tanganmu sakit, sayang?"
Mandala meraih pergelangan tanganku dan mengelusnya lembut.
"Kamu menariknya dengan kasar,Kapten".
"Akan terlihat pura-pura jika aku menariknya dengan lembut"
"Bagaimana sekarang?"
Kami memperhatikan keadaan di luar mobil. Dokter Herman sudah masuk ke dalam rumah sakit. Tapi Mandala menunjuk beberapa orang yang duduk di post tidak jauh dari gerbang rumah sakit.
"Mereka orangnya Ama?"
Mandala mengangguk.
"Sekarang kamu harus mulai menangis. Keluar dari mobil ini matamu harus sembab dan merah".
"Apa aku harus akting menamparmu juga?"
Aku membuat senyuman konyol pada Mandala.
"Kamu senang melakukan itu?"
Mandala mengecup keningku lembut.
"Sekarang aku harus memikirkan sesuatu agar aku bisa menangis"
"Pikirkan tentang almarhum bapak. Tentang keguguranmu. Tentang Ama dan tentang perpisahan kita ini"
Mandala berhasil membuatku meneteskan air mata. Aku menggosok gosok mataku agar terlihat merah.
"Jangan terlalu kuat, nanti matanya iritasi"
"Aku akan menghadap direktur rumah sakit hari ini. Suratnya sudah kubuat"
"Baiklah, aku akan menelponmu menggunakan nomor teleponnya Rini atau Rita. Sekarang keluarlah. Ingat untuk terus menangis"
Aku memeluk Mandala.
"Akan segera berakhir sayang. Bersabarlah"
Aku hanya mengangguk kemudian keluar dari mobil Mandala dan memulai aktingku.
Aku berjalan sambil menunduk dan sesekali menyeka air dari hidungku. Aku terkejut karena tiba-tiba dokter Herman sudah berdiri di depanku.
"Kamu baik-baik saja?"
Aku mengangguk.
"Saya akan ke ruangan direktur. Apa beliau sudah datang?"
"Ayo kesana. Aku akan temani"
"Dokter Herman, tolong kali ini jangan halangi lagi. Saya harus benar-benar pulang kampung"
"Baiklah, aku mengerti"
Aku dan dokter Herman pun berjalan menuju ruangan direktur rumah sakit yang terletak di areal depan gedung. Terbalik dengan ruangan kerja kami yang terletak di bagian belakang gedung.
Pihak direksi meminta waktu dan akan memberikan jawaban dalam dua puluh empat jam. Yang artinya besok baru aku akan mendapatkan keputusan dari pihak manajemen rumah sakit.
Aku pun mengikuti langkah dokter Herman menuju ruangan kami. Hari ini aku tidak ke kampus lagi.
Rita menyapa kami ketika kami sudah sampai di ruangan.
"Dokter Chintya, ada yang mencari dokter. Sekarang menunggu di dalam"
"Siapa?"
Aku pun bergegas masuk ke dalam ruanganku.
"Ama?"
Aku terkejut ketika membuka pintu ruanganku dan melihat Ama duduk di depan meja kerjaku.
Ama terlihat semakin letih dan tua. Tidak ada yang akan percaya bahwa Ama lah otak dari semua ini.
__ADS_1
"Ega, apa kabarmu nak"
Ama melihat ke arahku.
Aku masih bersikap hormat dan mencium punggung tangan Ama.
"Ama sehat? Kenapa Ama kemari?"
"Ama tidak bisa menghubungimu. Karenanya Ama kemari"
"Handphone Ega tertinggal di rumah"
"Ama tahu, Melky memberitahu Ama. Kamu marah pada Mandala? Ama pun marah. Ama tidak tahu kenapa Mandala melakukan ini. Kenapa dia membuat keputusan besar seperti itu tanpa berdiskusi dulu."
Aku berusaha tersenyum.
"Mungkin ini jalan kami Ama. Jodoh kami habis. Kami harus berpisah. Untunglah kami tidak punya anak sehingga perpisahan ini sangat mudah".
"Kamu sudah mengajukan tuntutan?"
"Ega selesaikan semua urusan di sini, baru kemudian Ega kembali ke kalimantan dan mengurus semuanya"
"Ega, Ama tidak ingin ini terjadi pada kamu dan Mandala. Tapi Ama tidak bisa berbuat apa-apa. Kesalahan berada pada Mandala. Apa yang kamu inginkan dari Mandala. Pembagian harta gono gini?"
"Tidak Ama. Ega tidak menginginkan apa pun. Mobil pun Ega tinggal. Ega hanya ingin berpisah secara baik-baik".
"Ama akan menasehati Mandala agar melepasmu dan tidak mempersulitmu"
"Apa Mandala akan mempersulit Ega?"
"Melky memberitahuku bahwa Mandala berkata sampai kapan pun dia tidak akan menceraikanmu"
"Apa yang harus Ega lakukan?"
"Ama akan membuat Mandala mengerti. Kamu tenang saja, Ama akan membantumu"
"Terima kasih Ama. Terima kasih sudah mengerti Ega".
Aku berusaha tersenyum manis.
"Ega, uang dari Amantua akan tetap menjadi milikmu. Itu wasiat amantua. Biarkan itu tetap menjadi milikmu"
"Terima kasih Ama. Ega hargai itu"
"Masalah klinik, aku pun akan meminta Mandala untuk menyerahkannya padamu"
"Tidak Ama. Klinik akan Ega kembalikan pada kalian semua. Ega tidak ingin terkait lagi dengan klinik"
"Apa kamu membenci kami juga?"
"Ama merasa kamu pun membenciku dan Melky. Kamu tidak berpamitan pada kami ketika keluar dari rumah".
"Maaf Ama. Semua terjadi tiba-tiba. Ega bingung"
"Ama mengerti. Bisakah kamu pulang dulu kerumah. Kita bicarakan dengan Mandala dan membuat perjanjian sebelum kamu membuat gugatan cerai".
"Maaf Ama, Ega tidak bisa"
"Kamu tidak lagi menghormati Ama?"
"Sekali lagi Ega minta maaf Ama"
Handphoneku yang baru saja diberikan Mandala tadi pagi berdering.
"Angkatlah" Ama mempersilahkanku untuk menerima panggilan.
"Ibu? Di sini? Di hotel mana? Baiklah, Ega akan kesana dan menjelaskan semuanya"
"Apa ibumu datang?" Ama bertanya ketika aku menutup telepon.
"Ibu hanya transit sebentar sebelum berangkat bersama rombongan ke Turki besok"
"Apa Ama harus bertemu ibumu?"
"Tidak Ama, jangan dulu. Ega belum memberitahukan ibu semua ceritanya"
"Baiklah, terserah padamu. Ama berharap kamu berubah pikiran dan kembali pada Mandala"
Aku kembali tersenyum.
"Biarkan takdir yang berbicara Ama. Selama ini bukannya takdir yang mempersatukan kami setelah sekian tahun"
Ama terlihat tertekun dengan perkataanku.
"Baiklah, Ama pulang dulu. Ama sudah sangat tua dan lelah. Hanya berharap bisa melihat anak-anak Ama berbahagia sebelum ajal menjemput Ama".
Aku kembali mencium punggung tangan Ama.
"Kamu tetap putri Ama". Ama membelai kepalaku.
Aku kembali tersenyum. Mengantar Ama sampai ke pintu ruanganku dan membiarkan Ama berlalu semakin menjauh dari hadapanku.
Lagi-lagi aku berpikir. Benarkah laki-laki tua itu otak dari semuanya? Bagaimana tadi Ama bersikap manis padaku.
__ADS_1
Apa Ama memiliki dua kepribadian?"
Aarrgghhh kepalaku pusing terlalu banyak berpikir.
Aku kembali masuk ke dalam ruanganku. Duduk manis sambil mengingat kembali panggilan masuk tadi.
Itu sebenarnya dari Mandala. Memintaku ke hotel X malam ini untuk bertemu.
Bagaimana jika ada yang membuntutiku?
Mandala pasti sudah merencanakan semuanya. Aku pun kembali duduk manis di ruanganku sambil mengemas beberapa barang yang harus kubawa pulang nantinya.
--------------------
Malam hari, aku pun bersiap menuju hotel yang di minta Mandala.
Rita dan Rini mendatangiku.
"Bu dokter, taksinya sudah siap"
"Terima kasih"
"Nanti di sana, ibu harus bertanya kamar para ibu-ibu yang ikut tour ke Turki di penjaga lobby. Sehabis itu ibu harus menelpon saya, saya akan menemui ibu dan membawa ibu ke kamar".
"Kalian juga akan di sana?"
"Iya, tapi dengan penampilan berbeda. Ibu jangan terkejut. Bersikaplah bahwa ibu mengenal saya lama".
"Tenang saja, beberapa hari ini aku sudah pintar berakting".
Keduanya tertawa kecil.
"Aku pergi dulu yaa. Sampai ketemu di sana"
"Baik bu, hati-hati"
Aku keluar kost kemudian menaiki taksi yang sudah menunggu.
Aku tidak tahu adakah orang yang mengikutiku atau tidak. Tapi aku tetap merasa aman dan tidak terancam. Aku menyerahkan semuanya pada takdirku.
Sampai di lobby hotel. Aku bertanya pada petugas di pintu. Mereka membenarkan bahwa ada rombongan ibu-ibu tour Turki yang menginap di hotel itu.
Aku pun kemudian menelpon nomor yang sudah di berikan Rita.
Tak lama kemudian, muncullah sosok wanita tua yang berjalan ke arahku sambil tersenyum. Inikah sosok barunya Rini? Mengubah tatanannya menjadi wanita tua?
Aku tersenyum melihat Rini. Rini pun tersenyum padaku dan memelukku erat. Dari jauh, Rini selintas memang mirip ibuku.
Hei, mereka memang pintar melakukan semua aksi.
"Ayo kita berbincang di kamar"
"Baik bu"
Aku pun mengikuti Rini berjalan memasuki lift. Rini memencet beberapa angka di tombol.
"Aku lupa lantai berapa kamarnya"
Aku tersenyum, aku tahu Rini melakukan itu hanya untuk mengecoh orang lain yang mungkin sedang membuntuti kami di bawah.
Kami sampai entah di lantai berapa. Rini mengajakku keluar. Kemudian memberikan kartu kamar.
"Ini kamar ibu, kami berada di lantai ini juga. Selamat bersenang-senang bu"
Rini tersenyum penuh arti padaku.
Aku pun membuka pintu kamar. Dan terkejut ketika di dalamnya terdapat beberapa dekorasi dan sebuah meja penuh makanan. Mandala berdiri di samping meja dengan memegang sebuah bunga.
Aku tersenyum. Hari ini ada apa? Tanggal berapa hari ini hingga Mandala bersikap romantis.
"Kamu lupa sayang? Happy Anniversary"
"Astaghfirullah. Pikiranku terlalu banyak hingga aku melupakannya. Maafkan aku Kapten"
"Dengan aku mengingatnya, itu sudah cukup sayang".
Mandala memberiku bunga dan mencium bibirku.
"Enam tahun yang lalu kita menikah. Hari ini aku kembali berjanji padamu bahwa aku akan selalu setia, menemanimu di saat suka dan duka. Selalu mencintaimu sampai maut memisahkan kita"
Air mataku menetes. Di saat masalah berada di depan kami. Mandala tetap ingat tanggal pernikahan kami.
Aku pun memeluk mandala.
"Terima kasih selalu menjagaku. Selalu membuat diriku aman dan nyaman. Aku berharap masalah ini cepat selesai dan kita bahagia selamanya".
"Amiiinnn... I Love You honey"
Kami saling berpelukan. Enggan melepaskan satu sama lain. Jika bisa biarkan kami terus berpelukan sepanjang masa sampai salah satu dari kami pergi menghadap Ilahi terlebih dahulu.
------------
Jangan Baper yaa
__ADS_1
Votenya dooongggg
LOVE YOU 😘😘😘😘