
POV Arkan Pratama
Pagi yang cerah, mentari bersinar dengan terang. Aku segera keluar kamar setelah membersihkan diri.
"Pagi mas ganteng," sapa bik Mimin yang tiba-tiba muncul.
"Pagi bik, bik tolong buatkan secangkir kopi ya! " pintaku.
"Siap mas," ucap bik Mimin.
Aku duduk di diteras. Menikmati keindahan alam. Pepohonan yang menghijau. Bunga -bunga matahari di depan villa tampak bermekaran.
"Kopi dan gorengan sudah siap mas," ucap bik Mimin.
"Terima kasih bik," ucapku.
"Oya bik, pagi ini aku mau balik ke Jakarta. Tolong bantu Khansa untuk berkemas ya," lanjutku.
"Cepat amat mas baliknya," ucap bik Mimin.
"Iya bik, masih banyak kerjaan," ucapku.
"Ya udah, bibik bantu mbak Khansa dulu ya mas," ucap bibik, aku hanya mengangguk.
Kunikmati secangkir kopi beserta gorengan buatan bik Mimin. Sesekali aku berselancar di medsosku, kulihat status Maria di FB nya. Serangkaian kata-kata perpisahan dengan kak Kevin. Mereka telah resmi bercerai. Ada rasa kesal, namun ada sedikit harapan untukku. Jujur, sampai sekarang bayangan Maria masih ada dalam pikiranku. Akankah aku dan dia bisa bersama, tapi sekarang ada Khansa disisiku.
"Mas, aku udah siap," ucap Khansa yang sudah rapi berdiri dihadapanku.
"Kamu nggak sarapan?" tanyaku.
"Sudah tadi, bik Mimin membuatkan aku roti bakar," ucap Khansa.
Aku segera pamit sama bik Mimin. Kulihat Khansa memeluknya.
"Hati-hati ya mas ganteng, sering-sering ke sini ya," pinta bik Mimin.
"Siap bik," ucapku sambil mencium punggung tangan bik Mimin. Bik Mimin sudah lama sekali bekerja pada keluarga kami. Sejak aku masih duduk di bangku SD. Keluargaku sudah menganggapnya seperti saudara sendiri.
__ADS_1
Aku segera masuk ke mobil. Disampingku, Khansa begitu anggun dengan jilbab biru berpadu dengan gamis yang berwarna biru juga. Usianya masih belia namun pemikirannya lebih dewasa dariku. Harusnya aku bersyukur mempunyai istri sepertinya. Tapi entahlah, aku belum bisa menerimanya.
Mobil segera berjalan meninggalkan villa keluarga. Aku harus fokus karena samping kanan dan kiriku jurang. Jangan sampai hal yang buruk menimpa kami.
Satu jam sudah perjalanan kami lalui. Tanpa ada pembicaraan diantara kami. Khansa hanya diam sambil menatap suasana di samping jalan.
"Mas, kita berhenti di tempat oleh-oleh ya," pintanya.
"Mau ngapain?" tanyaku.
"Aku mau beli tape. Bapak sama ibu suka sekali tape goreng," jawabnya. Saat terlihat tempat oleh-oleh di pinggir jalan segera kubelokkan mobilku.
"Mas nggak turun? " tanyanya lagi.
"Nggak, pergilah. Jangan lama-lama!" perintahku. Khansa segera turun dari mobil menuju tempat penjual tape. Aku hanya menunggu di mobil. 30 menit kemudian Khansa sudah kembali. Dan segera mobil kami melaju dengan kecepatan sedang menuju ke arah Jakarta.
******
"Cepat sekali kalian balik," ucap mami saat kami baru sampai di rumah.
"Aish, kerjaan terus di pikiran kamu," gerutu mami.
"Arkan capek mi, Arkan langsung ke atas ya," ucapku. Sementara Khansa lagi asyik ngobrol dengan bapaknya. Segera aku masuk kekamar. Rasanya lelah sekali. Kurebahkan sejenak badan ini di atas kasur. Terasa nyaman.
*****
Hari beranjak gelap. Aku segera turun kebawah untuk makan malam. Kulihat bik Iyem dan Khansa sibuk menyiapkan makanan untuk kami. Papi dan mami sudah berada di meja makan.
"Sudahlah mi, nggak usah sedih. Memang itu sudah jalannya," ucap papi
"Gimana mami nggak sedih pi, denger rumah tangga anaknya hancur. Kenapa anak papi itu selalu bikin ulah," ucap mami sedih. Pasti mami sedih memikirkan rumah tangga kak Kevin dan Maria.
"Emang anak papi sendiri, kan anak mami juga," kilah papi.
"Sudahlah mi, nggak usah dipikirkan. Nanti darah tinggi mami naik lagi," ucapku.
"Betul itu kata Arkan. Lagian mereka sudah dewasa. Mereka bisa ambil keputusan sendiri, "ucap papi
__ADS_1
" Ya nggak bisa begitu pi, mami kan mikir nasib Zea dan Zio. Pasti Zea dan Zio akan terpukul dengan perpisahan orang tuanya,"ucap mami.
"Ya kalau sudah terjadi mau bagaimana, kita sebagai opa dan oma nya cuma bisa menghibur dan berdoa," ucap papi.
Aku segera melahap makananku. Disampingku Khansa hanya diam sambil menikmati makanannya juga.
*****
Seperti biasa kulihat Khansa sudah besiap dengan mukenanya hendak sholat isya. Berulang kali dia mengajakku, namun aku tolak. Aku memang islam. Tapi islamku sekedar di KTP. Sudah lama aku tak melaksanakan sholat.
"Mas nggak sholat?" tanya Khansa padaku
"Nggak usah tanya-tanya padaku, jika mau sholat, lakukanlah sendiri," ucapku ketus. Segera ku buka leptopku. Tadi siang Rizal sudah mengirimkan email laporan proyek baru. Sesekali ku lirik Khansa yang duduk di sofa sambil membaca buku kecil.
"Mas, pasti bahagiakan mendengar kak Kevin dan mbak Maria bercerai," ucap Khansa tiba-tiba.
"Apa maksud pertanyaanmu itu?" jawabku
"Mas, masih berharap dengan mba Mariakan?" lanjutnya
"Sok tahu,"
"Jika mas tak mengharapkan mba Maria, kenapa mas tak bisa menerimaku sebagai istri? sampai kapan kita akan seperti ini?" tanyanya lagi.
Aku segera menutup leptopku. Jika ucapannya terus ditanggapi. Bisa-bisa mami dan papi tahu kalau aku belum bisa menerimanya sebagai istri.
Aku mendekati Khansa. Aku duduk disampingnya. Dia tiba -tiba diam setelah dari tadi mulutnya tak berhenti ngoceh.
"Apa yang kamu inginkan? Jika kamu ingin aku menyentuhmu, akan aku lakukan malam ini," ucapku dengan marah. Tiba-tiba Khansa menggeser duduknya.
"Aku, aku tak ingin mas melakukan dengan terpaksa," suara Khansa bergetar.
"Aku hanya ingin mas bisa menganggapku sebagai seorang istri," lanjutnya.
Aku segera berdiri, aku hanya menggertak Khansa. Karena sampai sekarang aku benar-benar tak bisa menyentuhnya.
"Pakai selimutmu!" segera kutinggalkan dia.
__ADS_1