Jodohku

Jodohku
RAHASIA Part 1


__ADS_3

"SAYANG..."


Aku mendengar suara keras dan kagetnya Mandala ketika memasuki kamar melihatku menangis meraung-raung.


Mandala mendekapku. Tapi berada dalam dekapannya Mandala membuat aku kembali histeris. Aku berteriak dan memukul mukul badan Mandala.


"Sayang ada apa? Kenapa kamu belum tidur? Sayang, katakan padaku"


Aku dengar Mandala pun menangis dengan terus mendekapku.


"Sayang, jangan seperti ini. Aku tidak bisa melihatmu seperti ini. Tenanglah".


Aku masih terisak sehingga aku tidak bisa menjawab Mandala. Belaian Mandala di kepalaku dan usapan lembutnya di pundakku membuatku nyaman.


Mandala masih mampu membuatku menjadi tenang.


"Istirahatlah, aku akan menceritakan semuanya padamu. Sekarang lebih baik kamu tenangkan dirimu dulu. Ayo kita tidur. Aku pun harus menenangkan diriku".


Mandala terus mengusap kepalaku sampai aku tidak sadar mulai terlelap dalam dekapan Mandala.


------------


"Sayang, sayang, ayo bangun"


Mandala membangunkanku. Aku mengucak mataku dan melihat Mandala yang sudah berpakaian dinas lengkapnya.


"Kenapa?"


Aku merasa kepalaku sedikit pusing.


"Ayo bangun, ikut denganku. Aku akan membawamu ke suatu tempat"


Aku pun bergegas bangun dan menuju kamar mandi.


"Jangan lama mandinya sayang, kita harus cepat".


Aku bingung dengan Mandala pagi ini. Ketika keluar kamar mandi, aku melihat jam masih menunjukan pukul setengah enam pagi. Kenapa harus buru-buru.


"Mau kemana?"


"Ikut saja, barang-barang sudah di mobil"


Aku pun mengikuti Mandala. Di lantai satu masih sepi. Belum ada seorang pun yang bangun. Mandala membawaku masuk mobil dan memintaku untuk duduk dibawah ketika melewati pos satpam. Seolah olah Mandala hanya sendiri di dalam mobil.


"Ada apa?"


"Aku akan membawamu ke tempat aman. Tetap duduk di situ sampai aku memintamu untuk bangun"


Aku hanya mengangguk. Entah kenapa aku masih percaya pada Mandala. Apakah karena aku mendengar sendiri bagaimana Mandala memohon pada Ama untukku. Dan aku juga mendengar Mandala berkata bahwa dia mencintaiku.


Mobil berhenti pada suatu tempat.


"Bangunlah, kita akan berganti mobil".


Aku berdiri dari dudukku didalam mobil dengan di bantu Mandala.


Kulihat sebuah mobil tentara di depan mobil Mandala. Dua orang tentara membuka bagasi dan mengeluarkan barang-barangku.


Mandala menyerahkan kunci mobilnya pada salah satu tentara. Kulihat dari dekat, mereka adalah Tentara Angkatan Darat.


"Bawa ke Akademi penerbang, serahkan pada asistenku. Dia sudah tau semua".


"Siap,laksanakan"


Tentara tersebut memberi hormat pada Mandala, kemudian masuk kedalam mobil. Berputar arah dan menjauh dari kami.


"Ayo masuk"


Mandala memintaku masuk kedalam mobil tentara.


"Sudah ada tempat untukmu berbaring. Berbaringlah dengan tenang, sebelum aku sendiri yang datang, jangan keluar dari sini"


Aku memandang tempat duduk di belakang mobil yang diatur sedemikian rupa agar aku bisa bersembunyi di dalamnya.


"Aku duduk di depan, jangan khawatir. Ingat, jangan keluar sebelum aku yang menjemputmu"


"Kuliahku? Rumah sakit? Mereka akan curiga"


"Sudah ada orang yang mengurus semuanya, tenang saja".


"Kali ini aku percaya padamu. Jadi jangan bohongi aku lagi".


"Aku tidak akan menyakitimu sayang. Sekarang masuklah".


Aku masuk kedalam mobil dan berbaring.


"Pakai selimutnya. Nanti dingin di jalan"


Lagi-lagi aku hanya mengangguk.


Aku tidak tahu kemana tujuan kami. Aku hanya mendengar suara deru mesin mobil. Karena masih mengantuk dan lelah menangis semalam, aku pun kembali tertidur. Biarlah, jika memang terjadi sesuatu padaku hari ini, aku pasrah. Aku serahkan semuanya pada kehendak yang Kuasa.


---------------------


Aku merasa ada yang membuka tempat persembunyianku sehingga matahari langsung mengenai mataku.


Aku menutup kedua mataku dengan telapak tangan.


"Sayang.." Aku mendengar suara Mandala dan tangannya menyentuh tanganku.


Aku membuka mataku. Silau matahari tertutupi oleh badannya Mandala.


"Ayo bangun, kita sudah sampai".


Mandala menarik tanganku. Aku duduk dan melihat sekelilingku.


"Ini dimana?"


"Ini Asrama atau kamp milik Angkatan Darat. Turunlah, aku akan menceritakan semuanya. Aku akan mempertemukanmu dengan seseorang"


"Kenapa tidak di asrama AU? Sama-sama Asrama tentara kan?"


"Ada seseorang yang menjagamu di sini. Aku akan tenang meninggalkanmu di sini"


Aku berjalan mengikuti Mandala. Mandala terus menggenggam tanganku.


Kami sampai di sebuah rumah yang semuanya berwarna hijau. Seorang prajurit sudah menyambut kami di depan pintu dan mempersilahkan kami untuk masuk.


"Assalamualaikum.."

__ADS_1


Mandala mengucapkan salam. Seorang laki-laki tua yang duduk di depan komputer memalingkan wajahnya dan memandang Mandala dengan wajah ceria.


"Waalaikumsalam.."


Laki-laki tersebut menjawab salam dari Mandala. Aku yang terkejut ketika wajah tua itu bertatapan dengan kami. Itu adalah Ayahnya Mandala. Yang selama ini di kabarkan sudah meninggal dunia.


"Ayah.."


Mandala berlutut di depan ayahnya, mencium tangan Ayahnya, kemudian keduanya berpelukan. Aku yang masih terkejut hanya terdiam penuh kebingungan.


"Sayang.."


Panggilan Mandala padaku membawaku kembali ke alam nyata.


"Akhirnya kita bertemu, sudah lama aku meminta Mandala untuk membawamu bertemu denganku. Tapi itu semua tidak mungkin. Kemarilah sayang, aku ingin melihat wajah menantuku dari dekat"


Tangan tua itu membelai wajahku. Seolah olah meyakinkan diriku bahwa beliau nyata ada di depan diriku.


"Maaf atas semua ini. Kamu pasti bingung. Duduk dan beristirahatlah. Kami akan menjelaskannya padamu".


Aku tetap diam. Mandala memberiku segelas air putih.


"Kita makan dulu. Ayah yakin kalian berdua lapar".


Ayah yang menggunakan kursi roda lalu masuk lebih dulu ke dalam ruangan lain.


"Ayo.."


Mandala menarik tanganku lembut.


"Benar dia Ayahmu?"


Mandala mengangguk.


"Makan dulu, nanti akan aku ceritakan".


Kami bertiga makan dengan dilayani seorang prajurit. Mandala lebih banyak melayaniku. Karena Mandala tahu, aku masih terkejut dan shock atas apa yang terjadi hari ini. Kehidupan Mandala ternyata benar memiliki banyak rahasia.


----------------------


Aku berada di sebuah ruangan yang sepertinya ini adalah kamar kerja Ayah Mandala. Terdapat foto mereka berempat, diambil ketika kedua orang tua Mandala masih bersama dan Mandala masih duduk di bangku menengah pertama. Ada juga foto pernikahan Kakak Dali dan suaminya juga foto pernikahanku dengan Mandala.


Aku berjalan mengelilingi ruangan yang mirip seperti perpustakaan kecil. Melihat beberapa koleksi buku yang ada di sana.


"Kamu suka membaca buku?" Ayah Mandala sudah berada di belakangku.


Aku mengangguk.


"Buku tentang pembunuhan dan detektif ini sudah lama saya cari"


Aku mengambil sebuah buku tentang seorang detektif yang menyelidiki sebuah pembunuhan.


"Ayah juga suka itu, ayah mengkoleksinya dari dulu. Ada beberapa seri. Kamu bisa membacanya".


"Terima kasih Ayah"


Aku tersenyum. Ini adalah senyumku yang pertama hari ini.


"Senang lihat istriku sudah tersenyum".


Mandala memelukku dari belakang. Aku berusaha untuk menepis pelukan Mandala. Tapi Mandala terus memelukku erat dan meletakkan dagunya di bahuku tanpa peduli ada Ayahnya bersama kami.


"Pergilah, Istrimu aman di sini".


Mandala memutar badanku menghadap ke arahnya.


"Aku harus bekerja seperti biasa. Akademi penerbang tidak jauh dari sini. Aku akan melihatmu setiap hari. Untuk sementara waktu, kamu akan tinggal di sini bersama Ayah. Ini nomor barumu. Jangan hubungi siapa pun kecuali aku."


Aku mengangguk dan menerima ponsel baru dari Mandala.


"Kamu bisa menggunakan laptop atau komputer milik ayah jika ingin membuka internet. Komputer di sini tidak bisa di lacak".


Lagi-lagi aku hanya mengangguk.


Mandala kembali memelukku erat.


"Aku akan merindukanmu"


Mandala menggoyang-goyangkan badanku seperti biasa jika aku tidak bereaksi di peluknya.


"Hati-hati" Keluar juga dua buah kata dari mulutku.


Mandala mencium ujung kepalaku, keningku, hidungku, kedua pipiku dan berakhir di bibirku.


Ciuman seperti itu selalu di lakukan Mandala jika akan bepergian dinas. Tapi sekarang Mandala tidak sedang berdinas. Apa kami akan berpisah untuk waktu yang lama? Kenapa dadaku terasa sesak. Air mataku keluar dengan sendirinya.


Mandala menghapus air mataku.


"Bersabarlah sayang, hanya sebentar dan sementara"


Kali ini aku yang memeluk Mandala erat. Mandala membalas pelukanku.


"Dala.. hari semakin siang"


"Iya Ayah... Aku pergi dulu sayang, jangan lupa makan dan tolong jaga Ayahku. Love you"


Mandala kembali mencium bibirku dengan cepat dan berbalik menuju pintu tanpa lagi menoleh ke arahku.


Aku merasa ada yang hilang dan pergi dari kehidupanku ketika melihat punggung Mandala hilang dari balik pintu.


"Duduklah sayang, Ayah akan mendongeng hari ini"


Ayah Mandala menunjuk sebuah sofa yang ada di ruangan itu. Aku pun duduk di atas sofa dengan air mata masih mengalir.


"Kalian adalah korban dari keegoisan Adik saya, Amanya Dala"


Aku menghapus airmataku.


"Tolong jelaskan pada saya Ayah"


"Ini adalah cerita masa lalu. Berawal dari waktu kakekmu masih aktif di tentara. Kakekmu juga seorang angkatan darat kan?"


Aku mengangguk.


"Mandala pernah cerita Amantua terlibat pemberontakan?"


Aku mengangguk kembali.


"Itu semua tidak benar. Itu fitnah yang dilakukan oleh beberapa orang di jaman orde lama dan orde baru. Kakekmu dan Akinya Yudhis adalah salah satu para penjilat itu".

__ADS_1


Aku terdiam, mendengarkan dengan seksama.


"Beruntung masih ada orang yang membantu Amantua, sehingga amantua di sembunyikan ke luar negeri. Bukan di buang, tapi di sembunyikan di luar negeri. Tapi di dalam negeri, diumumkan sudah di tembak mati".


"Aku dan Ama kalian sudah melupakan semua itu. Walaupun aku menyaksikan bagaimana Ayah kami di seret paksa dari dalam rumah. Ama kalian bersembunyi di bawah tempat tidur dan menyaksikan ibu kami di perkosa oleh salah satu dari mereka"


Ayah Mandala kulihat menerawang jauh kedepan. Seperti mengingat kejadian lalu.


"Setelah Amantua ke Afrika. Ibu hamil. Dialah Ibunya Melky. Jadi kami tiga bersaudara satu ibu".


"Ibunya Melky?"


Ayahnya Mandala mengangguk


"Ibu kami sangat membenci anak perempuan yang baru di lahirkannya. Tapi kami menyayangi adik kami. Kami lah yang merawat adik kami sedangkan ibu mencari nafkah untuk kami".


"Seorang tentara berpangkat tinggi yang juga rekan Amantua menjadikan ibu istri keduanya setelah istri pertamanya meninggal dunia. Ibu tidak punya pilihan lain untuk menghidupi ketiga anaknya. Dari situlah aku dan Adikku dapat masuk ke sekolah tentara. Identitas Ayah kandung kami di hapus, sehingga tidak ada jejak masa lalu kami di sana".


Ayah Mandala menarik nafas sejenak dan meminum air putih.


"Aku menikah dengan seorang pramugari asing dan mendapatkan dua orang anak. Kamu sudah tahu sendiri kan sayang? Aku bertugas di mata-mata khusus negara. Semua tentangku tidak pernah nampak oleh orang lain selain aku adalah seorang pilot pesawat tempur. Aku bertugas saat pesawat jatuh. Kematianku harus di umumkan untuk kepentingan negara. Padahal aku berhasil di selamatkan. Hal ini menyiksaku karena harus berpisah dengan keluarga. Tapi semua kujalani sebagai seorang tentara yang berbakti pada Negara".


Ayah kembali minum setenguk air putih.


"Ama kalian memiliki kelainan. Dia ingin memiliki adik kami sendiri. Dia bersama dengan ibunya Melky saling mencintai"


"Kami menikahkannya agar hubungan itu berhenti. Tapi sayang, istrinya mengidap kanker rahim sehingga tidak bisa memiliki anak"


"Ternyata cinta Ama dan Ibunya Melky masih berlanjut diam-diam. Mereka masih berhubungan sampai lahirlah Dewa".


"Dewa??"


"Iya, Dewa. Umurnya sama dengan Dala. Tapi Dewa memiliki keterbelakangan mental. Kami menganggap itu adalah karma yang harus di terima Ama kalian".


"Ibunya Melky tidak pernah menikah. Ama adalah satu-satunya laki-laki yang di cintainya. Tapi Ama kalian ingin memiliki anak yang normal dan sempurna. Sehingga ibunya Melky berselingkuh pada seorang turis asing. Dan kemudian lahirlah Melky. Ama kalian mengakui bahwa Melky adalah darah dagingnya sendiri".


Aku membuka mulutku tanda tidak percaya dengan apa yang kudengar.


"Ama kalian sangat menyayangi Melky. Beruntunglah Melky menjadi anak yang penurut dan dapat di atur".


"Itu adalah aib keluarga kami. Tidak akan kami bocorkan pada siapa pun. Hanya kami yang mengetahuinya. Sampai masa di mana kalian berada saat ini. Rupanya takdir terus membuat ceritanya sendiri"


"Ingat ketika kamu tenggelam dipantai sewaktu liburan SMA? Dewa juga berada di sana bersama Mandala. Dewa yang memiliki keterbelakangan mental selalu mengikuti kemana pun Mandala pergi."


"Dewa juga menyukaimu seperti Mandala saat itu. Dewa selalu bercerita pada ibunya tentang seorang gadis cantik yang di lihatnya di pantai. Semua orang hanya tersenyum menanggapi celotehannya Dewa"


"Dala lah yang memotretmu di pantai. Tapi Dewa yang melukismu. Walaupun memiliki keterbelakangan mental. Dewa pintar melukis"


"Dewa sedang melukismu dibuku kecilnya ketika dia melihatmu tenggelam. Dewa langsung berlari ke laut. Dala yang melihat Dewa berlari ke arah laut langsung menyusulnya. Dewa tidak bisa berenang. Penyakitnya Dewa akan kumat di dalam air. Dala tidak dapat menemukan Dewa. Tapi dia menemukanmu. Dia menyelamatkanmu, tapi kehilangan Dewa"


Kali ini aku yang menarik nafas panjang.


"Dewa di temukan dua hari kemudian dalam keadaan tidak bernyawa lagi. Ama kalian sangat marah. Dala di hajar habis-habisan. Karenanya Dala berjanji pada Ama bahwa dia akan mencarimu untuk membalaskan kematian Dewa".


"Takdirlah yang menuntun kalian bertemu. Sekian tahun lamanya, kamu sendiri yang mengantarkan dirimu ke hadapan Ama sebagai dokter intership di tempat Ama bekerja. Ama mengenalimu dari foto dan sketsa wajah yang dibuat Dewa".


"Ama menghubungi Dala. Memberitahukan Dala bahwa berhasil menemukanmu. Dala senang berhasil bertemu denganmu, tapi juga resah dan takut karena niat Ama padamu"


"Dala menghubungiku. Aku memberitahu Dala, bahwa satu-satunya cara untuk membuatmu aman adalah dengan menikahimu. Menjadikan kamu istrinya Dala, sehingga Dala dapat menjagamu"


"Ama menentang keinginan Dala untuk menikahimu. Tapi istrinya Ama menyukaimu. Ama tidak berani menolak keinginan istrinya yang sedang sakit parah. Dala menggunakan itu untuk menikahimu"


"Ketika berkunjung kerumahmu untuk melamar, Ama melihat foto kakekmu disana. Kenangan masa lalu kembali terlihat di depan mata Ama. Kemarahan Ama semakin menjadi. Ternyata kamu adalah cucu dari orang yang selama ini di bencinya"


"Secara diam-diam Ama mengambil sampel rambut Ayahmu buat pengujian DNA dan hasilnya adalah Ayahmu dan ibunya Melky satu Ayah. Laki-laki yang memperkosa ibu kami dulunya adalah kakekmu"


"HAAH???"


Aku lagi-lagi membuka mulutku tidak percaya.


"Kebencian Ama pada keluarga kalian semakin menjadi. Ama tidak ingin keluarga kalian berada di dekatnya. Tapi Ama juga tidak bisa menolak keinginan istrinya. Akhirnya kalian menikah"


"Ketika kamu hamil, Ama marah besar. Ama tidak ingin ada anak yang lahir dari rahimmu. Ama berjanji akan membunuh setiap anak yang kamu lahirkan sebagai balasan untuk kematian Dewa. Karenanya Dala memutuskan untuk tidak memiliki anak asalkan Ama berjanji untuk tidak menyakitimu".


"Karena itu Ama meminta Dewa melakukan Vasektomi?"


"Dala tidak melakukan vasektomi. Itu hanyalah berkas yang di tulis dokter Faisal untuk mengecoh Ama. Tapi supaya kamu tidak hamil, Dala melakukan suntik hormon untuk menurunkan kadar testosteron. Semuanya bisa kembali seperti semula"


"Ayah serius?"


"Dala selalu berkomunikasi denganku. Dia selalu mengatakan apa pun yang di lakukan Ama dan Dala lakukan"


Aku menarik nafas lega. Inilah arti perkataan Mandala.


Tidak semua yang di lihat dan di dengar itu adalah kebenarannya.


"Dala akan menjelaskan sendiri nanti padamu tentang vasektomi dan suntik hormon itu. Bisakah Ayah berhenti dulu bercerita. Ayah mau istirahat. Jika Dala belum kembali. Ayah akan menceritakannya lagi padamu. Sekarang biarkan Ayah untuk tidur sebentar"


Ayah Mandala menjalankan kursi rodanya keluar ruangan sambil berkata.


"Kamu istirahat juga. Jangan berpikir yang aneh-aneh. Otakmu sudah terlalu lelah menerima semua ini. Jangan kamu tambah dengan beban pikiranmu"


Aku tersenyum kecil. Ayah Mandala juga tahu bahwa otakku suka berpikir yang aneh-aneh.


Sebelum benar-benar keluar ruangan, Ayah Mandala berhenti di depan pintu dan kembali memandangku.


"Satu hal yang benar adalah apa yang di lakukan Dala saat ini semua untuk keselamatanmu karena Dala putraku itu sangat mencintaimu"


Aku tersenyum sambil mengangguk.


"Kamu percaya pada putraku kan?"


Aku kembali mengangguk.


"Pikirkanlah untuk hamil. Aku ingin melihat cucuku. Tempat ini tidak ada orang yang tahu. Aman bagimu untuk hamil dan melahirkan di sini"


Aku melongo mendengar perkataan Ayah Mandala yang sudah menghilang di balik pintu dan masih terdengar suara tawa kecilnya beliau.


Setelah Mandala datang nanti. Aku akan membicarakan hal ini pada Mandala. Mungkin Ayah benar, aku bisa tinggal di sini bersama Ayah dan bisa hamil dengan tenang.


Aku tersenyum sambil mengelus perutku.


Aarrrgggg Mandala benar. Bersabarlah sayang, suatu saat nanti aku akan menjadi seorang ibu.


--------------


Jangan lupa votenya yaa


LOVE YOU 😘😘

__ADS_1


setelah Mandala bertemu Ega. Akan banyak rahasia lain yang akan di ungkapkan Mandala. Tunggu cerita selanjutnya yaa... 😘😘😘😘😘😘


__ADS_2