Jodohku

Jodohku
BAB 172


__ADS_3

Lisa masih berusaha memberi Asi pada putranya, karena kata Bu dokter ASI pertama yang keluar harus di berikan pada si kecil, dia memang belum terbiasa, karena ini kali pertamanya memberi Asi, meski sebelumnya sudah membaca buku panduan juga mempraktekan bersama Bu dokter cara memberi ASI yang benar, tapi saat di praktekan secara langsung dengan si kecil Lisa masih kaget-kagetan, kalau tiba-tiba si kecil menghisap put**gnya yang begitu besar.


Dan malam ini akhirnya ASI pertamanya keluar setelah dari tadi sore Lisa berusaha melatih si kecil untuk menghisapnya.


Bu Dokter tengah melakukan pengecekan saat Lisa tengah mencoba memberi ASI pada si kecil.


" Apa sudah mau keluar ASI nya Nyonya?", tanya Bu dokter.


" Sudah Dok, tapi belum banyak", jawab Lisa.


" Besok kalau sudah pulang ke rumah, sering konsumsi kacang-kacangan, makan makanan ber protein tinggi, lalu sayur-mayur, seperti daun katuk, bayam dan sayuran hijau yang lain yang bisa membuat produksi ASI semakin berlimpah", ujar Bu dokter menjelaskan.


" Baik Dok, akan Lisa sampaikan sama bibi saat besok sampai di rumah", ujar Lisa.


Lisa memberikan dede bayi pada Tami untuk di gendong karena habis ***** harus nunggu dede bersendawa baru di tidurkan lagi, biar nggak gumoh ( muntah ASI), itu yang di ajarkan bu dokter juga waktu praktek memberi ASI beberapa bulan yang lalu.


Suster melakuan cek kesehatan pada Lisa, dari tekanan darah, cek organ tubuh termasuk daerah kewanitaan Lisa, kemudian memberikan hasilnya pada Bu dokter.


Bu dokter memperhatikan daftar hasil pengecekan Lisa, setelah mengamati keadaan Lisa dan juga bayinya


" Hasilnya semuanya baik-baik saja, jadi besok nyonya Lisa dan bayinya sudah bisa pulang kerumah", ucap Bu dokter menjelaskan.


" Terimakasih banyak atas bantuannya selama ini Dok", ucap Rafa yang kini tengah berdiri di samping tempat tidur Lisa.

__ADS_1


" Itu memang kewajiban saya Tuan, tidak sampai melahirkan saja, karena setelah bayi lahir dia juga butuh di beri vaksin, Vaksin yang pertama sudah saya berikan saat dia baru saja lahir, vaksin selanjutnya nunggu sebulan lagi, nanti saat nyonya Lisa hendak pulang akan saya beri buku yang biasa dimiliki oleh ibu yang baru melahirkan, biasanya di sebut


' Buku kesehatan ibu dan anak', di dalam buku itu ada informasi tentang keadaan bayi saat baru lahir dan nanti tanggal berapa saja ibu harus melakukan vaksin untuk bayinya", ucap Bu dokter menjelaskan.


" Baik Dok, sekali lagi terimakasih banyak", ucap Rafa mengulang kalimatnya.


" Baiklah kalau begitu saya permisi dulu", Bu dokter dan perawat keluar dari kamar Lisa, bertepatan saat Doni hendak mengetuk pintu kamar.


" Eh ada yang mau jenguk nyonya Lisa ya, silahkan masuk Tuan", ucap suster muda dengan senyum mengembang sambil menatap Doni terpesona.


" Masuk Don, ucap Rafa saat mengantar kepergian Bu dokter dan melihat Doni berdiri di depan pintu kamar Lisa.


Doni membawa buket bunga matahari yang cantik, dan diberikan pada Lisa.


" Selamat ya Lis , sudah resmi jadi ibu", ucap Doni, dan berpindah menyalami dan memeluk Rafa memberinya selamat juga.


" Tenang sudah dalam proses, kan tiga bulan yang lalu ayah dan ibunya Tami janji mau melepas Tami jika Tami selesai semester ini dengan baik", ujar Doni tersenyum sambil melirik kearah Tami yang tengah menggendong putra Lisa.


" Lihat kan, Tami sudah sangat cocok untuk menggendong bayi, tinggal tunggu tanggal mainnya", ucap Doni sambil terkekeh dan menghampiri Tami dan mengecup keningnya.


Tami juga tersenyum melihat kedatangan laki-laki yang sudah menjadi calon suaminya itu. Laki-laki berperawakan tinggi kekar yang selisih usianya 10 tahun lebih tua darinya, tapi selalu berubah bersikap manja dan seperti anak kecil setiap mereka sedang berdua, yang minta makan di suapi, minta tidur di nina bobok meski hanya lewat telepon, dan kelakuan kekanak-kanakan lain yang kadang justru membuat Tami seperti lebih tua darinya.


Memang tiga bulan yang lalu Doni bermain ke rumah orang tua Tami di desa, dengan sangat pemberani meminta ijin untuk melamar Tami dan berniat menikahi Tami secepatnya, jika kedua orangtuanya setuju.

__ADS_1


Doni hanya di temani Winda sebagai walinya, karena ayah dan ibunya sudah tiada.


Pak Farhan dan Bu Soraya yang sudah sering bersama Doni, bahkan Doni pernah menginap di rumah mereka, memang sudah tau sedikit tentang latar belakangnya, tentang pekerjaannya dan juga prilakunya.


Pak Farhan menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada Tami , dia yang akan memutuskan jalan kehidupannya sendiri.


Tentu saja Tami menerima Doni, karena sudah dua bulan Tami berpacaran diam-diam dengannya, dan alasan-alasan lainy ( termasuk Doni yang sudah berani mengambil ciuman pertamanya).


Akhirnya pak Farhan menerima lamaran Doni malam itu, tapi dengan syarat, mau menikahkan Tami jika Tami sudah menyelesaikan kuliahnya di semester dua ini.


Doni setuju dengan syarat itu, dan mereka berdua mulai mengurus segala keperluan untuk pernikahan mereka yang akan diadakan usai Tami menyelesaikan kuliahnya di semester ini.


Doni juga mengatakan akan mengurus semua keperluan Tami dan meminta ijin untuk membiayai kuliah Tami kedepannya, karena setelah Tami menjadi istrinya, kewajiban ayah Tami berpindah pada Doni, termasuk kewajiban membayar biaya kuliah.


Merekapun akan tinggal bersama di apartemennya setelah menikah nanti.


Meski Bu Soraya merasa sedikit keberatan jika Tami tinggal di apartemen Doni setelah menikah, karena dia putri satu-satunya, tapi akhirnya Bu Soraya mengalah, toh Tami masih harus melanjutkan kuliah di kota X, Bu Soraya seolah menganggap Tami sedang tinggal di asrama, agar tidak merasa Tami meninggalkan mereka, karena sama saja mereka harus tinggal berpisah dan berjauhan.


Kuliah Tami di semester dua ini tinggal 3 bulan lagi, itu juga berarti semakin mendekati hari pernikahannya dengan Doni.


Tapi Tami masih santai dan tenang meski sudah tahu jika dirinya sebentar lagi akan menikah.


Undangan pernikahan mereka juga sudah di pesan , Foto pre-wed sudah dibuat beberapa minggu yang lalu, di pantai Muara Indah. Di pantai itu juga Doni menepati janjinya dengan melakukan ciuman keduanya pada Tami di tempat yang romantis.

__ADS_1


Hanya sebatas ciuman dari bi*ir ke bib*r, karena Doni tidak mau bertindak terlalu jauh pada Tami yang masih gadis, dia ingin merasakan malam pertama pernikahan yang sesungguhnya, meski sebelum itu di masa lalunya dia sudah berulang kali melakukan hubungan intim dengan wanita-wanita di club malam, tapi Doni tidak bisa menyamakan Tami dengan wanita-wanita gampangan itu.


Doni sangat menghormati Tami dan benar-benar ingin serius menjalin hubungan dengannya.


__ADS_2