
Aku dapat tertidur pulas malam ini dengan bantuan dua pil obat tidur yang kuminum sebelum mandi.
Aku masih sempat mendengar Mandala memanggilku. Tapi mata ini sungguh berat, aku tidak menjawab dan menanggapi Mandala.
"Sayang, kamu baik-baik saja".
(Aku tidak baik Kapten, hatiku sakit)
Aku juga masih merasa Mandala memelukku, mencium keningku dan membelai punggungku lembut.
(Jangan kapten, jangan berbuat begini padaku)
Aku seperti menangis dalam tidurku. Mataku bengkak, sulit bagiku untuk membuka mata pagi ini.
Ketika aku berhasil membuka mataku. Kulihat Mandala duduk di samping ranjang sambil terus memandangku.
"Sayang, tidak berangkat kerja?"
"Jam brp?"
"Hampir jam delapan"
Aku mengambil handphoneku, dan menelpon dokter Herman.
"Pagi dokter, bisakah saya ijin hari ini? Baik dokter, terima kasih".
Aku mematikan panggilan, melihat beberapa pesan yang masuk pada handphoneku. Kemudian tanpa sadar aku mengganti kode sandinya. Entah kenapa aku berpikir, Mandala akan memeriksa handphoneku.
"Kamu kenapa sayang?"
Mandala duduk disampingku.
"Ngantuk, kenapa belum berangkat kerja?"
Aku berbicara tanpa melihat ke Mandala dan menarik selimut hampir menutupi kepalaku.
"Sikapmu aneh, aku mengkhawatirkanmu"
"Aku baik-baik saja"
"Kamu tidak baik-baik saja. Selama kita menikah, aku tidak pernah melihatmu seperti ini. Ada apa sayang"
Air mataku hampir keluar. Aku berusaha untuk menahannya.
"Hari ini aku pun akan ijin, tidurlah lagi. Setelah kamu bangun nanti, kita jalan-jalan."
Mandala membelai kepalaku.
Aku memejamkan mata, tidak merespon tindakan Mandala.
"Apa kamu mau kita pergi dari sini? Tinggal kembali di Asrama?"
Aku tetap tidak menjawab. Mandala terus mengelus kepalaku.
"Sayang, jika marah padaku, bicaralah. Katakan ada apa? Semalaman aku tidak bisa tidur, aku yakin ada yang salah denganmu"
Aku menarik selimut sampai menutupi kepalaku.
"Sayang..."
Mandala menarik selimutku. Memaksaku untuk melihatnya.
Tenang Ega, tenang. Jangan sekarang.
"Kita pindah hari ini juga?"
Aku menatap Mandala.
"Itu yang membuatmu marah?"
"Bagaimana jika aku berkata Aku ingin punya anak?"
Pertahananku hampir jebol. Mataku sudah berkaca-kaca.
Mandala memelukku.
"Kita akan punya anak suatu hari nanti sayang"
"Caranya?"
"Apa maksudmu dengan caranya? Sayang, ada apa ini?"
Mandala sepertinya sadar bahwa aku pasti mengetahui sesuatu.
Aku tersenyum.
"Apa kita harus mengadopsi anak? Apa kita membawa Putri tinggal bersama kita?"
Kulihat Mandala menarik nafas panjang.
"Tidak, anak kita sendiri"
Aku terus memandang Mandala.
"Kapan itu bisa terjadi? Aku sudah semakin tua".
"Suatu saat nanti, bersabarlah".
Kulihat pandangan mata Mandala jauh menatap ke depan. Tidak menatapku, tapi seperti menatap halaman kosong pada sebuah buku tulis.
"Aku perlu buku nikah kita"
"Untuk apa?"
"Pengurusan SK baru di rumah sakit".
"Akan aku ambilkan. Mandilah, kita makan di luar saja. Apa yang mau kamu makan hari ini, aku akan menurutimu".
Aku kembali menatap Mandala.
Mandala pun menatapku. Mencium kedua pipiku.
__ADS_1
"Yang kamu lihat dan dengar, belum tentu itu kebenarannya. Bersabarlah sayang".
Kami kembali saling menatap. Mandala mengecup bibirku sekilas.
"Mandilah, aku sudah lapar menunggumu dari tadi, apa kamu mau aku memakanmu pagi ini?"
Aku bergegas untuk bangun dan menuju kamar mandi.
Perkataan Mandala tadi masih terlintas di kepalaku.
(Yang kamu lihat dan dengar, belum tentu itu kebenarannya. Bersabarlah sayang".)
Apa maksud Mandala ini?
Keluar kamar mandi kulihat Mandala sudah merapikan tempat tidur.
Aku pun langsung berpakaian dan bersiap.
Mandala memelukku dari belakang.
Kami saling berpandangan di cermin.
"Mau kemana?" Mandala mencium pipiku.
"Pindah dari sini"
"Sayang, ama ingin kita berkumpul di sini"
"Kalo begitu, aku pergi sendiri".
"Sayang..."
"Apa ama ingin membuatku terus sakit hati?"
"Sayang??".
"Apa ama ingin bulan depan aku mendengar langsung kabar kehamilan istri barunya Melky?"
Mandala memelukku erat. Meletakkan dagunya di bahuku.
"Kita jalan-jalan dulu ya sayang"
"Jangan mengalihkan pembicaraan, iya pindah atau tidak?"
Aku menatap Mandala dengan tajam.
"Jangan membuatku memilih antara kamu dan keluargaku di sini".
"Kamu memang harus memilih sekarang. Jika kamu memilih tetap di sini, aku yang pergi".
"Sayang..."
"Tidak ada kompromi, mana buku nikahku".
"Kamu meminta buku nikah seolah olah akan bercerai denganku".
Mandala meninggalkanku menuju ruang kerjanya. Aku memandangi punggung Mandala yang berjalan menjauh.
Itulah caranya Kapten jika aku ingin memiliki anakku sendiri.
Bercerai denganmu dan menikah kembali.
Mandala kembali dari ruang kerjanya dengan membawa buku nikah milikku dan menyerahkannya padaku.
Aku mendapatkan dokumen paling berharga yang kumau. Hatiku sedikit lebih tenang.
"kamu tidak takut Kapten?"
"Apa yang aku takutkan? kamu istriku".
"Tidak takut aku menggunakan ini untuk meminta cerai darimu?"
Mandala memandangku dengan tatapan serius.
"Kamu mengatakan seolah olah itu akan terjadi"
"Mungkin saja"
"Sayang..."
"Aku bilang mungkin kan??"
"Tidak akan pernah. Aku tidak akan pernah menyetujuinya".
"Aku mengajukannya di KUA tempat kita menikah, kamu tidak akan bisa datang"
"Aku akan datang dimanapun itu"
Kulihat rahang Mandala mengeras, wajahnya pun berubah menjadi lebih serius. Aku tahu Mandala marah.
"Sekarang kita bicara, ada apa ini?"
"Aku tidak ingin bicara di rumah ini".
"Kenapa?"
"Ini rumah keluargamu, bukan tempat yang netral. Aku harus waspada kan?"
"Kamu takut ada yang menyakitimu? Apa selama ini aku pernah menyakitimu? Aku menyayangimu, Aku mencintaimu. Menyakitimu sama saja dengan menyakiti diriku sendiri".
Mandala berkata dengan tegas dan keras. Setegas wajahnya sekarang yang memandangku dengan serius. Terus terang aku takut melihat Mandala saat ini.
"Ayo kita pergi, pilihlah tempat netral yang kamu mau di mana. Aku ingin tahu, apa yang terjadi pada dirimu. Apa yang membuatmu seperti ini"
Mandala menarik tanganku. Aku pun mau tidak mau mengikuti Mandala karena pergelangan tanganku terasa sakit jika aku melawan.
Kami memasuki Lift, turun ke lantai satu dan langsung menuju mobil. Tidak menyapa siapa pun yang berpapasan dengan kami. Dan Mandala pun terus memegang pergelangan tanganku.
"Kamu mau kemana? pilihlah tempatnya. Aku tidak ingin memilih. Pilihanku kamu anggap tidak netral".
"Kita ke hotel. Disana banyak CCTV".
__ADS_1
"Baiklah, aku ikuti apa maumu".
Aku memilih hotel yang akan kami tuju. Aku pula yang memilih kamarnya. Aku ingin berbicara dengan Mandala. Jika terjadi sesuatu padaku, aku yakin akan mudah sekali menemukanku di hotel ini.
Mandala terus mengenggam tanganku dari kami masuk hotel dan menaiki lift menuju kamar.
Kami tidak membawa tas atau barang apa pun. Orang-orang yang melihat kami pasti berpikir bahwa kami sedang berselingkuh di hotel ini.
Mandala membuka pintu kamar. Memberi kode agarku masuk lebih dulu, kemudian menutup pintu.
"Ayo kita bicara"
Mandala duduk di sofa dan memandangku.
"Apa Kapten tidak merasa bersalah padaku?"
"Aku? katakan apa yang sudah ku lakukan?"
"Aku ingin hamil"
"Sudah ku katakan kita harus sabar untuk itu".
"Apa kamu yakin bisa membuatku hamil?"
"Sayang? perkataan apa itu?"
"Apa kamu tidak merasa bahwa aku berkata yang sebenarnya?"
Mandala memandangiku.
"Kamu mengetahui sesuatu?" tanya Mandala dengan ekspresi was was melihatku.
Aku mengangguk.
"Aku ingin penjelasanmu Kapten".
Mandala menghempaskan pundaknya ke sofa, memandangku dengan tatapan sedih dan takut akan kehilanganku.
"Sudah ku bilang, apa yang kamu lihat dan kamu dengar, belum tentu itu kebenarannya".
"Aku melihatnya Kapten, aku melihat laporan medismu, apakah itu juga tidak benar? apakah para dokter di antologi itu berbohong? mereka juga diambil sumpah".
Mandala diam tanpa kata.
"Maaf, aku tidak bisa menjelaskannya sekarang"
"Tapi aku perlu penjelasanmu sekarang Kapten"
Air mataku mulai keluar.
Mandala mendekatiku.
"Sayang.."
Aku menolak sentuhan Mandala.
"Kamu menipuku, kamu menyakitiku, kamu tidak menyayangiku, kamu tidak mencintaiku".
Aku mengeluarkan semua kata-kata itu sambil berbaring di atas tempat tidur. Hatiku sangat hancur.
Lagi-lagi Mandala mencoba untuk memelukku.
dan aku kembali menolak sentuhannya.
"Aku ingin bercerai"
"TIDAK !"
"AKU INGIN PUNYA ANAK !"
"Bersabarlah sayang"
"APA YANG HARUS AKU SABARKAN? KAMU TIDAK BISA MEMBUATKU HAMIL. APA KAMU AKAN MENJUALKU PADA LAKI-LAKI LAIN?"
Aku berteriak pada Mandala.
"Sayang, cobalah untuk tenang".
"BAGAIMANA AKU BISA TENANG?"
"Sini ku peluk"
"TIDAK ! JANGAN SENTUH AKU. AKU BENCI PADAMU! AKU BENCI !"
Aku berteriak sambil menangis.
Mandala terdiam mendengar teriakanku.
Mengusap kasar kepala dan matanya.
Apa Mandala juga menangis??
"Sayang, aku pergi dulu. Istirahatlah di sini. Aku akan membawakan pakaianmu nanti. Kamu belum makan, aku akan memesan makanan untukmu"
Suara Mandala sedikit bergetar.
"Jangan lupa makan, jangan menyiksa dirimu. Aku akan kembali lagi nanti".
"Aku benar-benar mencintaimu. Dan itu bukan suatu kebohongan. Untuk yang lain, aku belum bisa memberikan penjelasan. Tapi semua yang kulakukan adalah untuk kebaikanmu".
Mandala meninggalkan kamar hotel.
Aku mencoba mencerna perkataan Mandala.
Tapi apa pun yang Mandala katakan hari ini, aku tetap tidak bisa mengerti. Aku hanya perlu satu hal.
Aku perlu penjelasan dari Mandala.
--------------‐-------------
Jangan lupa votenya yaa
__ADS_1
LOVE YOU 😘😘😘