
Jum'at 8 Agustus 20-- , hari yang sudah di nanti-nanti oleh semua orang, dimana Doni akan mengucapkan janji suci dengan Tami, sebuah ikrar yang akan mengubah status mereka berdua hingga seterusnya.
Terdapat tenda berwarna putih di depan rumah Tami dan dekorasi pengantin di sebelah kanan tenda yang ada di atas panggung, yang akan di gunakan untuk acara akad nikah nanti, sedang di depan panggung yang dihiasi dekorasi bunga-bunga berwarna-warni, terdapat ratusan kursi dan meja untuk tempat duduk para tamu undangan.
Lisa dan bi Rumi yang menggendong Sultan duduk di bangku terdepan diantara tamu undangan yang hadir, begitu juga Akbar yang memilih duduk di samping Lisa agar bisa menyaksikan dengan jelas pernikahan adiknya.
" Kak Akbar dapet ' pelangkah '( hadiah untuk kakak karena adiknya lebih dulu menikah) apa dari kak Doni?", tanya Lisa saat mereka semua tengah duduk menunggu kehadiran penghulu.
" Nih ", Akbar menunjukan sepatu barunya yang di pesan dari luar negri dan limited edition.
" Ini cuma ada 10 pasang di seluruh dunia dan Christiano Ronaldo juga punya sepasang", ucap Akbar merasa bangga.
" Baguslah jika kak Akbar baik-baik saja dengan pernikahan Tami yang dilakukan terlebih dahulu, sepertinya Kak Akbar memang belum punya keinginan ataupun rencana untuk menikah", batin Lisa.
" Oh iya Lis, selamat ya atas pernikahan kamu dan Tuan Rafa. Aku tidak tahu apa tujuan kedua orang tuaku merahasiakan pernikahan kamu, tapi aku yakin ada alasan dibalik itu semua", ucap Akbar sambil menatap Lisa lekat.
Rafa hendak mendekat ke tempat Lisa duduk setelah dia mengambil sesuatu dari mobilnya di parkiran depan, tapi tiba-tiba menghentikan langkahnya saat melihat Akbar tengah menatap istrinya dengan tatapan yang sangat dalam. Apalagi saat Rafa mendengar kalimat yang keluar dari mulut Akbar setelah itu.
" Aku pernah menyayangimu Lis, sebagai seorang laki-laki yang menyayangi seorang perempuan. Sudah sangat lama sejak pertama kali kau menginjakkan kaki di rumah ini, tapi itu saat aku belum tahu jika ternyata kau sudah menikah. Sekarang aku sudah menata hatiku untuk bahagia atas kebahagiaan yang kau rasakan, karena mencintai yang sesungguhnya adalah disaat kita bahagia dengan kebahagiaan orang yang kita sayangi", kalimat Akbar membuat Lisa tidak bisa berkata-kata. Lisa bingung harus menjawab apa, tapi tiba-tiba Rafa datang dari arah belakang dan merangkul pundak Lisa.
" Eh, Kak", Lisa tersenyum menyambut kedatangan Rafa yang tadi tengah mengobrol bersama Doni di depan.
" Aku kira tadi kakak di depan sama kak Doni, kenapa tiba-tiba muncul dari belakang?", tanya Lisa masih dengan sikap canggung.
" Hai tuan Rafa", sapa Akbar dan mereka bersalaman.
Rafa sengaja menyuruh Lisa geser ke kursi sebelah, sedangkan dia duduk di kursi yang tadi di duduki Lisa, tepat di samping Akbar.
" Kok duduk sendirian ?, apa nggak ngundang calon istri atau pacar di acara penting keluarga?" , tanya Rafa yang memilih kata-kata yang sedikit menyindir.
" Masih nyaman sendiri, karena masih banyak yang harus di capai", ucap Akbar singkat.
__ADS_1
" Kalau aku, justru butuh teman hidup seperti Lisa untuk membuatku lebih semangat menggapai mimpiku, ternyata cara berpikir kita sedikit berbeda", ucap Rafa sinis.
" Seandainya ada dua Lisa, mungkin cara berpikir kita akan sama", ucap Akbar yang kemudian beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Lisa dan Rafa, dan masuk ke dalam rumahnya.
" Aku juga akan siap menikahi Lisa saat ini juga seandainya dia belum menjadi istrimu be*ng*ek !", batin Akbar dengan menahan emosi, sambil berjalan kedalam rumah.
Pak penghulu datang membuat suasana yang canggung menjadi lebih rileks.
Semua tamu terdiam dan fokus pada panggung yang terdapat tempat duduk untuk ijab qobul.
Pak Farhan sudah duduk di kursi yang bersebrangan dengan Doni, hanya terhalang meja kaca. Doni duduk berdampingan dengan Tami yang mengenakan pakaian kebaya berwarna putih sama dengan warna pakaian Doni. Tuan Johan dan pak kades juga duduk di kursi di samping kanan dan kiri meja menjadi saksi dari pernikahan Doni dan Tami.
Pak Farhan mengulurkan tangan dan Doni menyambutnya.
" Latihan ijab qobul sekali dulu, meski sudah belajar tapi kita uji coba dulu ya", ucap Pak penghulu. Uji coba pertama langsung lancar, sehingga Pak penghulu mempersilahkan untuk melakukan ijab qobul yang sesungguhnya.
Doni sebenarnya sangat tegang, tapi dia bisa menutupi ketegangannya dengan baik.
" Nak Doni , sudah siap?", tanya pak penghulu
"Baik silahkan di laksanakan saat ini juga", ucap Pak penghulu.
Pak Farhan dan Doni mulai melakukan ijab qobul pernikahan .
" Doni Fauzi bin Jamil Fauzi, saya nikahkan dan kawinkan ananda dengan Cika Utami putri kandung saya dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas seberat 30 gram dibayar tunai".
" Saya terima nikah dan kawinnya Cika Utami putri bapak dengan mas kawin tersebut dibayar tunai". Doni menahan nafasnya hingga kalimatnya selesai.
" Bagaimana saksi ?" tanya pak penghulu,
dan serentak dijawab sah...sah...sah.
__ADS_1
" Alhamdulillah hirobbil'alamin.......", pak penghulu membacakan do'a pernikahan dan semua tamu undangan meng-amini.
Usai ijab qobul selesai, Doni dan Tami yang sudah resmi menjadi suami-istri masuk ke dalam kamar untuk berganti pakaian adat Jawa berwarna hitam, kemudian keluar lagi melakukan ritual pernikahan dengan ritual adat sesuai keinginan ayah Tami.
Di prosesi pernikahan adat Jawa ini, kedua pasangan akan saling melempar gantal ( sirih yang diikat benang putih).
Doni melemparkan gantal ke arah dada Tami sebagai tanda bahwa ia telah menaklukan hati sang pasangan. Lalu Tami melemparkan gantal ke arah lutut Doni sebagai tanda bahwa ia akan berbakti kepada sang suami.
Kemudian lanjut ke prosesi injak telur atau yang disebut ngidak endhog. Doni menginjak telur mentah, lalu Tami membersihkan kaki Doni dengan posisi berlutut. Prosesi ini mengartikan kesopanan istri kepada suami.
Setelah itu, sang suami akan membantu sang istri bangkit berdiri yang memiliki makna penghargaan terhadap istri.
Setelah menginjak telur, prosesi pernikahan adat Jawa berikutnya yaitu mengenakan kain sindur kepada Doni dan Tami yang berjalan menuju pelaminan sambil berpegangan tangan.
Sesampainya di kursi pelaminan, Doni dan Tami diarahkan untuk duduk di atas pangkuan Pak Farhan (ayah mempelai wanita).
Prosesi selanjutnya adalah kacar kucur, dimana Doni mengucurkan uang receh serta biji-bijian yang diterima oleh Tami sebagai lambang bahwa sang pria akan bertanggung jawab menafkahi keluarganya, serta menjadi tanggung jawab istri untuk mengelolanya.
Setelah kacar kucur, Doni dan Tami saling menyuapi. Prosesi ini menaruh harapan bahwa kedua pasangan bisa saling rukun, pengertian, dan tolong-menolong dalam menjalani kehidupan pernikahan.
Acara sungkeman lah yang akan mengakhiri prosesi pernikahan ini, Doni dan Tami berlutut di hadapan Pak Farhan dan Bu Soraya, kemudian berpindah berlutut di depan Winda dan om nya yang mewakili sebagai orang tua Doni.
Prosesi rangkaian pernikahan secara adat Jawa sudah selesai dilakukan, para tamu dipersilahkan menikmati semua suguhan yang sudah disediakan tuan rumah.
Rafa menatap wajah Lisa yang tengah menitikan air mata karena terharu.
" Kenapa sayang?", tanya Rafa lembut, kini Rafa sudah lebih tenang dari sebelumnya.
" Saat melihat prosesi pernikahan Tami, tiba-tiba saja Lisa teringat pada bapak dan ibu. Proses upacara pernikahan seperti itu juga yang dari dulu Lisa inginkan, tapi itu tidak mungkin bisa, karena bapak dan ibu yang sudah tiada, jika dipaksakan dengan orang tua pengganti pun tetap hanya akan membuat Lisa bersedih karena bukan bapak dan ibu yang Lisa sungkemi", ucap Lisa sambil sesegukkan.
Rafa memeluk Lisa dan menepuk-nepuk bahunya berharap Lisa akan lebih tenang dengan posisinya saat ini.
__ADS_1
" Maaf Non, sepertinya Sultan haus, mau di kasih ASI dimana?", tanya bi Rumi membuat Lisa tersadar jika saat ini ada Sultan yang sangat membutuhkannya.
" Sini Bi, biar Lisa ajak ke mobil dulu", ucap Lisa sambil membawa Sultan menuju mobil, dan Rafa mengikuti di belakangnya.