Jodohku

Jodohku
BAB 183


__ADS_3

Doni dan Tami akhirnya sampai di Bali pukul 10 waktu Indonesia bagian tengah, mereka sampai di resort yang sudah di booking oleh Lisa dan Rafa.


Tami yang baru pertama kali naik pesawat seumur hidupnya, merasa sedikit grogi sepanjang perjalanan, hingga harus selalu berpegangan tangan dengan Doni sepanjang penerbangan, namun saat sampai di resort dan melihat pemandangan hamparan pantai yang begitu indah, membuat rasa groginya seketika menghilang.


" Waaaah...., menakjubkan!", ujar Tami terpesona dengan hamparan pasir putih bersih yang terkikis diterpa oleh ombak pantai yang beriak.


" Ini hadiah pernikahan dari Rafa dan Lisa untuk kita berdua, kau suka Tam?"


Tami menganggukkan kepalanya begitu semangat. Sudah sejak lama Tami mempunyai angan untuk melakukan honeymoon di tempat yang dekat dengan pantai jika dia telah menikah, dan hari ini keinginan itu telah terkabul, betapa bahagianya Tami sampai ingin berteriak dengan keras saking bahagianya.


Mungkin juga Lisa memesan resort ini karena dia mengingat Tami pernah curhat dengannya ingin bulan madu di tempat yang dekat dengan pantai, di kota mana saja bukan masalah, yang penting dekat pantai.


Saat ini Tami sudah melupakan ketegangannya saat di pesawat tadi.


" Ayo kita taruh koper ke dalam kamar terlebih dahulu, setelah itu kita langsung bermain ombak dan pasir putih ke tepian pantai", ajak Tami sangat berantusias.


Doni terus mengikuti kemana Tami pergi, tapi saat berjalan menuju ke tepian pantai,


" Tam, di sana lumayan ramai orang, kita cari tempat lain saja bagaimana?"


" Di sana saja Kak, nggak papa ramai kan jadi lebih seru", ujar Tami.


" Tapi kakak malas kalau harus pergi ke tempat yang ramai seperti itu".


" Ayo lah Kak, boleh ya kesana, sekali ini saja?", bujuk Tami tanpa menyerah.


" Baiklah, tapi ingat Tam, main sewajarnya saja, jangan berlebihan begitu !".

__ADS_1


Doni memperbolehkan Tami untuk bermain ke tepian pantai. Tapi dia sendiri tetap berdiri agak jauh dari posisi Tami yang ada di bibir pantai, Doni sengaja agar tidak terkena terjangan ombak.


" Sini !".


Tami melambaikan tangannya ke arah Doni, berharap Doni akan mendekat, tapi sayangnya Doni tidak tertarik dan masih berdiri pada tempatnya.


" Ya sudah kalau nggak mau, aku main ombak dan pasir sendiri saja ", gumam Tami merasa kesal karena di acuhkan.


Tami berusaha menikmati moment yang sudah Lisa berikan padanya, Tami berlarian ke tengah laut mengejar ombak yang surut, kemudian berlari ke tepian pantai saat ombak pasang mengejarnya. Dia terus bermain-main sendiri bersama ombak, yang sesekali menerjangnya membuat tubuhnya jatuh dan basah kuyup.


Doni hanya berdiri dan terus mengamati Tami dari tempat yang agak jauh.


Saat ini kaos putih dan celana jeans selutut yang dikenakan Tami sudah benar-benar basah kuyup. Doni yang bisa melihat dalaman Tami yang menerawang dari luar merasa kurang nyaman dan tidak rela jika ada orang lain yang melihatnya.


Doni berlari kecil menghampiri Tami, " ayo kita masuk ke kamar, ganti bajumu dengan warna yang lebih gelap !. Apa kau tidak menyadari kalau pakaian dalamu sangatlah menerawang ?"


Doni mengangkat tubuh Tami dan menggendongnya ala bridal style menuju kamar mereka, meski sepanjang jalan Tami minta di turunkan karena merasa malu dilihat banyak orang. Tapi Doni tetap menggendong Tami sampai di dalam kamar.


Langsung terpampang pemandangan yang sangat menggiurkan bagi Doni. Lekuk tubuh Tami yang indah dengan gundukan kedua gunung kembarnya yang terlihat padat dan keny*l, menyembul melebihi tempatnya.


Seketika itu Doni tidak bisa menahan lagi g*irah yang muncul dengan menggebu-gebu, Doni memeluk tubuh Tami yang basah dan lengket terkena air laut, sedikit me*jil*at leher Tami yang terasa asin, membuat Tami seketika merinding dan reflek tanpa sadar mendorong tubuh Doni ke lantai.


Bug.....


Doni terjerembab di atas lantai. Wajahnya memerah karena g*irah yang memuncak di campur rasa kesal atas perlakuan Tami.


" Maaf, maaf Kak, Tami reflek, sungguh Tami tidak sengaja", ucap Tami sambil memegang lengan Doni untuk berdiri. Tapi justru Doni menarik tangan Tami hingga Tami jatuh tepat di atas tubuh Doni yang kekar.

__ADS_1


Karena merasa perut dan dada Doni yang begitu keras, membuat Tami meraba bagian perut dan dada Doni yang sangat kencang dan berotot itu.


" Waaah.... ternyata tubuh kakak begitu sixpack dan kencang, apa kau rutin melakukan fitnes?", tanya Tami, tanpa berpikir panjang jika sentuhan tangan Tami membuat salah satu bagian bawah tubuh Doni menegang dan semakin terasa sesak di dalam celananya.


Doni menelan salivanya saat Tami masih terpesona dengan bentuk tubuh Doni itu.


Tanpa berpikir panjang Doni membalik posisi mereka , mengungkung tubuh Tami di bawah tubuhnya, tanpa permisi dan aba-aba Doni m*l*mat bibir Tami dengan begitu semangat.


Memainkan lid*h*ya di dalam mulut Tami.


Tami membalas permainan Doni dan sesekali saling bertukar saliva. Tami tahu sudah menjadi kewajibannya melayani Doni yang sekarang sudah sah menjadi suaminya.


Tami teringat suatu malam yang sudah cukup lama, beberapa bulan yang lalu saat mereka berdua berada di apartemen Doni, dan Doni membujuk serta merayunya, tapi Tami menolak dan membanting tubuh Doni dengan begitu keras dengan satu gerakan karate nya.


Saat itu Doni meringis kesakitan dan mengatakan baru kali pertama ada seorang gadis yang menolak pesonanya. Sebenarnya saat itu Tami juga sungguh terpesona dan tergoda dengan belaian lembut tangan Doni seorang casanova yang sudah sangat berpengalaman dalam hal meluluhkan hati para wanita. Tami beruntung Tami bisa menahan keinginannya yang sama dengan keinginan Doni kala itu. Tami juga memilih untuk pergi dari apartemen dan menenangkan hati dan pikirannya sendiri, Tami tidak marah dengan apa yang Doni hendak lakukan waktu itu, karena saat itu Doni sudah secara resmi datang ke desa menemui ayahnya dan melamarnya. Tami hanya tidak mau mengecewakan kedua orang tuanya yang sudah memberikan kepercayaan penuh terhadapnya.


" Tunggulah 4 bulan lagi, sampai kita sudah benar-benar menikah, 4 bulan bukan waktu yang lama, jika saat itu sudah tiba, aku janji akan menyerahkan seluruh jiwa dan ragaku hanya untukmu".


Ucapan itu masih melekat di otaknya, dan diingatnya dengan baik sampai saat ini, dimana hari ini dia sudah menjadi istri sah Doni dan dengan suka rela akan menyerahkan mahkota yang selama ini sudah dijaganya dengan sangat baik.


Bukankah itu tujuan mereka berdua datang kemari?, hal ini lah tujuan dari Lisa dan Rafa memberikan hadiah pernikahan berupa perjalanan bulan madu.


Tentu agar Doni dan Tami bisa menikmati setiap moment penting setelah pernikahan mereka, moment 'malam pertama' bagi Tami, dan malam entah ke berapa ratus untuk Doni yang sudah melalang buana menjadi Casanova.


Tapi itu malam-malam yang tidak bisa di bandingkan dengan saat ini, dimana ini malam pertama yang sesungguhnya, meski dilakukan di siang hari, tapi bukankah ini tetap di sebut dengan 'malam pertama'?.


Tami melepas lum*t*n bibir Doni, " Kak, ini masih siang, apa kau sungguh tidak bisa menunggu hingga malam?, kalau di lakukan siang hari, berarti jadi 'siang pertama' dong, bukan ' malam pertama' " , ucap Tami, yang membuat Doni tertawa begitu keras.

__ADS_1


" Nanti malam kita lakukan lagi, saat ini pemanasan dulu saja", ucap Doni , kemudian mengangkat tubuh Tami dan merebahkannya di atas kasur.


" Are you ready?", seringai Doni sambil menatap Tami penuh cinta.


__ADS_2