Jodohku

Jodohku
BAB 162


__ADS_3

Tami mendengar kabar Lisa yang tengah di rawat di rumah sakit dari Doni, setelah kejadian di kedai pizza beberapa hari yang lalu, Tami dan Doni memang jadi sering berkirim pesan, awalnya hanya berkomentar tentang postingan di status WhatsApp, lama-lama mereka sering berkirim pesan yang selalu ada saja yang bisa menjadi bahan diskusi atau obrolan mereka berdua.


Lisa memang belum kepikiran untuk mengabari Tami jika dirinya tengah dirawat di rumah sakit. Sejak kejadian hari itu, saat Lisa hampir kehilangan janin yang ada di perutnya, Lisa semakin berhati-hati dan benar-benar menjaga kesehatan fisik dan mentalnya. Lisa tidak ingin mengecewakan suami dan ayah bundanya. Saat ini prioritas utama di hidup Lisa adalah membahagiakan orang-orang yang sangat menyayanginya.


Hari-hari Lisa di habiskan hanya tiduran di kasur, makan, sholat dan ke kamar mandi.


Hobi baru yang Lisa dapat untuk mengisi waktu santainya yang begitu panjang yaitu dengan membaca novel, komik , main game di ponselnya dan juga nonton film.


Meski kebiasaan seperti itu 'bukan Lisa banget', tapi Lisa berusaha menikmati rutinitas barunya. " Orang-orang yang sedang bekerja keras saja ingin hidup santai, jadi kenapa aku yang harus hidup santai malah ingin bekerja keras?, aku harus menikmati setiap keadaan yang sedang aku hadapi", gumam Lisa menyemangati dirinya sendiri.


Setelah tiga hari di rawat di rumah sakit Lisa sudah mulai terbiasa melakukan apapun sendiri, Lisa menyuruh Rafa untuk kembali bekerja dan tidak perlu mengkhawatirkannya, Lisa berjanji makan menjaga dirinya sendiri dengan baik dan lebih berhati-hati saat melakukan segala sesuatu.


Akhirnya Rafa yang tidak mau berdebat dengan Lisa, menuruti kemauan Lisa untuk kembali bekerja. Tami yang seringnya menemani Lisa di rumah sakit di siang hari setelah dia selesai kuliah.


Dan hari ini hari Sabtu, Tami yang libur kuliah hari ini dan esok, datang ke rumah sakit pagi-pagi sekali, setelah mengabari orang tuanya jika dia tidak bisa pulang kerumah, karena ingin menemani Lisa di rumah sakit, Tami langsung merebahkan diri di kasur yang berada di kamar rawat inap Lisa.


" Lis, hari ini dan besok kan aku libur, jadi aku akan menemanimu dan tidur disini, lihat aku sudah membawa baju ganti untuk besok dan juga bawa piyama untuk tidur nanti malam" , ucap Tami sambil beranjak dari posisinya dan menunjukan beberapa baju yang dia bawa.


Tapi kadang rencana tinggal rencana, karena setiap hari pulang dari kantor Rafa selalu mandi dan ganti baju di rumah sakit, bi Rumi yang ganti profesi jadi kurir yang setiap hari mengantar makanan dan baju ganti untuk Rafa dan Lisa.


" Hari ini aku juga libur", ucap Rafa yang keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya yang masih basah.


" Apa kau mau tidur di sofa Tam?, kalau mau boleh saja nanti malam kau menginap disini, kasur yang kau tempati itu adalah tempat tidurku", ucap Rafa sambil menyisir rambutnya.

__ADS_1


Tami langsung beranjak dari kasur dan pindah duduk di sofa. " Wah sofa ini memang terlihat nyaman juga, tapi aku tidak suka menjadi orang ketiga di antara kalian, karena kata ibuku jika ada laki-laki dan perempuan berduaan yang ketiganya adalah setan, hahahaha. Jadi lebih baik aku bawa pulang lagi baju ganti yang sudah ku bawa, tapi pasti di asrama sepi karena ini weekend, kebanyakan pada mudik, atau aku pulang saja ke desa ya?, tapi tadi aku sudah bilang pada bunda nggak pulang, jadi aku disini saja, tapi nanti malam aku balik ke asrama", Tami ngobrol sendirian, dia bertanya dan menjawab pertanyaan sendiri.


" Sahabatmu sepertinya sudah mulai gila, dia ngobrol sendirian", ucap Rafa sambil meletakkan teh botol dan beberapa snack di meja untuk Tami.


Tok tok tok


Suara pintu kamar di ketuk, kemudian nampak Doni dan Winda masuk ke dalam kamar beriringan.


" Bagaimana keadaanmu Lis?", tanya Winda sambil bercipika-cipiki dengan Lisa, kemudian meletakkan buket bunga cantik di samping bantal Lisa. " Semoga cepet sehat dan bisa pulang kerumah segera ya", ucap Winda mengelus pundak Lisa.


Doni berjalan dan meletakkan parsel berbagai macam buah untuk Lisa di meja, kemudian duduk di sofa di samping Tami duduk.


" Buat ngemil ibu hamil, ngemil sehat ya ngemil buah" ,ucap Doni sambil melirik ke arah Tami.


" Duduk dulu kak Winda, mau minum yang dingin atau panas?" tanya Rafa menawarkan.


" Dingin saja, suasana di luar sangat panas", ujar Winda. " Oh iya, apa urusan tuan Johan dan Nyonya Meisi di luar kota belum beres Raf?", tanya Winda.


" Belum, semalam mereka juga menelepon menanyakan keadaan Lisa, tapi hanya itu, ayah tidak mau membahas urusan bisnis", jawab Rafa.


" Oh iya Don, tolong bilang sama pihak hotel kita batalkan booking, kalau DP nggak balik nggak papa", ujar Rafa.


" Tapi Raf, kita sudah kasih DP lumayan banyak, 100 juta", ucap Doni.

__ADS_1


" Cuma 100 juta kan?, nggak papa Don.


Lisa nggak boleh kecapekan sekarang, bagaimana bisa kita mengadakan acara pesta yang akan membuatnya capek?, aku nggak bisa", jelas Rafa.


" Bukan begitu maksudku, kemarin aku hubungi pihak hotel, jika booking mundur sampai berbulan-bulan juga nggak papa, dan kalau menurut pendapatku, bukankah acara pesta pernikahan itu bisa diganti dengan pesta syukuran kelahiran anakmu lima bulan lagi. Sekalian kau kenalkan Lisa sebagai istrimu sekaligus ibu dari anakmu, bagaimana?", tanya Doni.


Lisa, Tami dan Winda mendengarkan diskusi Rafa dan Doni, kemudian Lisa mulai menyampaikan pendapatnya.


" Menurut Lisa apa yang dikatakan tuan Doni ada benarnya juga, kita nggak melakukan pesta pernikahan juga nggak papa, tapi kan sayang jika DP 100 juta itu hilang begitu saja, benar kata tuan Doni, kita ganti pesta pernikahan menjadi pesta syukuran kelahiran", ucap Lisa dengan ekspresi wajah memohon.


" Kalau kau yang meminta, aku tidak bisa berkata tidak sayang, apa saja yang bisa membuatmu merasa nyaman", Rafa mengusap kepala Lisa lembut. Lisa pun tersenyum lega dan berterimakasih.


" Oke , sesuai keinginan Lisa, kamu bilang ke pihak hotel acara mundur sekitar 5 bulan lagi", ucap Rafa pada Doni.


" Nanti aku sampaikan ke pihak hotel, tapi apa aku boleh mengajak Tami bersamaku, biar ada teman, soalnya Winda tidak bisa menemaniku ke hotel, dia kan lagi di tungguin putranya di rumah, kamu mau kan nemenin aku Tam? " ,tanya Doni pada Tami.


Tami salah tingkah, tapi berusaha bersikap biasa.


" Ajak saja, Tami itu sudah ijin sama orang tuanya nggak pulang weekend ini, ajak dia jalan-jalan biar nggak jenuh disini terus", ucap Lisa.


" Kalau mau kalian begitu, aku si ngikut saja, dari pada bingung mau ngapain", ucap Tami.


" Oke nanti kita antar Winda ke rumah dulu, baru ke hotel Dream night untuk membahas ulang tentang booking tempat di sana", Doni menjelaskan.

__ADS_1


__ADS_2