
Winda, Tami, dan Doni keluar dari kamar Lisa setelah 2 jam mereka mengobrol membahas berbagai macam hal.
Suasana kamar kembali sepi karena tinggal Rafa dan Lisa yang berada di kamar, mereka tengah saling menatap dalam di kasur Lisa.
Memang sudah seminggu lebih Rafa tidak menengok si dede bayi di dalam perut ( tidak berhubungan badan dengan Lisa) , tepatnya sejak mereka terbang ke Singapura sekitar seminggu yang lalu.
Keinginan tentu saja ada, tapi keinginan Rafa memuaskan hastarnya bisa di tepis karena keinginan Rafa menjaga dan melindungi Lisa dan janin di dalam perutnya lebih besar dari keinginan apapun saat ini.
Rafa mengulum bibi Lisa pelan dan santai, sesekali melepasnya agar Lisa bisa bernafas, tapi hanya sebatas itu, Rafa kembali menatap lekat wajah istrinya yang sudah mulai terlihat merona itu .
Dokter dan dua orang perawat mengetuk pintu kamar untuk melakukan pemeriksaan terhadap Lisa. Rafa beranjak dari kasur Lisa dan mempersilahkan mereka untuk masuk.
" Selamat siang Nyonya Lisa, wah kelihatannya keadaan Anda sudah lebih baik dari kemarin, wajah anda sudah lebih segar, mari kita lakukan pengecekan kondisi tubuh anda, jika semuanya sudah baik-baik saja, hari ini juga anda bisa pulang ke rumah", ujar Bu dokter menjelaskan, sambil membaca hasil pengecekan yang di berikan oleh perawat yang bersamanya
" Semuanya normal, bagus, janin anda juga sehat, apa anda mulai merasa gerakan dari dalam perut?", tanya Bu dokter.
" Iya dok, baru terasa kemarin , itupun masih pelan", ucap Lisa yakin.
" Baik kalau begitu nanti tuan Rafa temui saya di ruangan saya, 15 menit lagi untuk membahas apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan setelah di rumah nanti, saya harus melakukan pengecekan ke kamar sebelah terlebih dahulu, semoga nyonya Lisa dan janin dalam perutnya sehat selalu ya, yang penting terus jaga kondisi dan jangan kecapekan", Bu dokter dan kedua perawat keluar dari kamar Lisa.
" Alhamdulillah, akhirnya pulang juga, Lisa sudah sangat rindu suasana di rumah", ucap Lisa tersenyum lega.
" Sayang, aku mau kabari ayah dan bunda dulu ya, sama nyuruh Bi Rumi kesini, buat beresin barang-barang kita", ucap Rafa sambil menghubungi telepon rumah terlebih dahulu menyuruh Pak Jono mengantar bi Rumi ke rumah sakit untuk bantu mengemas pakaian dan barang-barang, baru kemudian Rafa menghubungi orang tuanya mengabari jika Lisa pulang hari ini juga.
Lisa langsung teringat pada Tami dan segera mengirim pesan padanya,
~ Tam, hari ini aku boleh pulang kerumah, jadi kalau mau temenin aku jangan pergi ke rumah sakit lagi, besok kamu main ke rumah ya, aku tunggu ~
__ADS_1
***
Doni dan Tami masih di dalam mobil saling diam setelah mereka menurunkan Winda di depan rumahnya, ponsel Tami yang bergetar membuat Tami menyalakan ponselnya dan membaca pesan masuk dari Lisa.
" Alhamdulillahham, Lisa sudah boleh pulang hari ini juga, baguslah kalau begitu, aku besok di suruh main ke rumahnya", ucap Tami bersyukur.
" Benarkah?, bagus lah kalau begitu, pasti karena aku tengokin tadi, jadi mood Lisa membaik, hehehehe", canda Doni sambil cengengesan.
" Ye...ke PeDe an, emang Lisa itu seperti itu, dia pejuang tangguh yang penuh dengan semangat untuk cepat sembuh dan menjadi lebih baik. Dulu tiga tahun sekolah bareng, dia tidak pernah libur satu hari pun, meski setiap hari pertama dia datang bulan selalu sakit, tapi dia tetap berangkat, dia bilang sayang kalau ketinggalan pelajaran", ucap Tami mengenang masa lalu.
Kemudian Tami melanjutkan kalimatnya,
" Waktu cepat sekali berlalu, sekarang aku sangat yakin sebenarnya Lisa sangat tidak nyaman dengan keadaannya yang tidak boleh melakukan banyak hal, tapi mau bagaimana lagi, memang keadaannya harus seperti itu, demi keselamatan janin dalam perutnya, apa orang hamil se-repot itu ya?, aku jadi takut bayangin kalo hamil gimana", gumam Tami lirih, tapi Doni masih bisa mendengarnya.
" Nggak semua orang hamil seperti itu Tam, kamu ingat kan sama kak Winda, dulu pas kalian PKL di perusahaan kan dia lagi hamil besar, dia masih tetap bekerja dan melakukan kegiatan sepeti biasanya, jadi kalau menurut pengamatanku, orang hamil itu punya keadaan yang berbeda-beda, meski mereka sama-sama perutnya membesar, tapi ada juga yang merasa biasa saja, tidak kesulitan sama sekali dengan keadaannya", ucap Doni menjelaskan.
" Kau benar juga, aku berharap kelak saat aku hamil , keadaanku baik-baik saja, semoga aku bisa bertemu seseorang yang sangat baik yang akan menjadi suamiku dan semoga aku mendapatkan suami yang sangat pengertian seperti sikap tuan Rafa pada Lisa, aamiin",
" Kalau becanda lihat situasi dan kondisi dong, kalau ada orang yang mendengar, mereka kira kau sedang melamarku", ucap Tami menutup pintu mobil Doni dan berjalan mengikuti Doni menuju ruang manager hotel.
" Kalau aku serius bagaimana?", tanya Doni menghentikan langkahnya di koridor menuju ruangan manajer hotel, sambil menatap wajah Tami lekat.
Tami terdiam dan bingung harus bicara apa,
" ayolah buruan, kita temui manajer hotel, habis itu traktir aku makan di kedai pizza yang waktu itu ya?, aku sudah sangat lapar", ucap Tami mengalihkan pembicaraan.
Doni akhirnya berjalan kembali dan mengetuk pintu ruang manajer hotel, mereka berdua masuk ke ruangan dan keluar lagi setelah 15 menit di dalam ruang manajer membahas tentang perubahan jadwal booking tempat.
__ADS_1
" Kita sudah melakukan misi hari ini, jadi kau lapar?, kita makan di coffee shop yang ada disini saja, jadi nggak kelamaan", ucap Doni sambil mengajak Tami ke lantai dua, dimana coffee shop berada.
Mereka berdua duduk di salah satu bangku ydi bagian pojok coffee shop dan memesan beberapa menu yang bisa mengenyangkan.
" Spaghetti bolognese, puding coklat dan jus alpukat", Tami menyampaikan pesanannya pada si pelayan.
" Pesan makanan yang sama, minumnya hot capuccino ya", ucap Doni.
Si pelayan meninggalkan meja mereka,
15 menit kemudian pesanan mereka sudah terhidang di meja.
Tami makan dengan lahapnya karena sudah merasa sangat lapar. Piring spaghetti tinggal menyisakan kotoran dari saos yang tertinggal, sedangkan isinya sudah disantap habis oleh Tami.
" Masih lapar?, mau lagi?", tanya Doni menawarkan.
" Sudah cukup, ini masih ada puding, takut kekenyangan", ucap Tami sambil menyeruput jus alpukat miliknya .
Doni menggulung spaghetti dari piringnya menggunakan garpu dan meletakkan pada pring Tami, " Makan ini kalau kau mau terus bersamaku, dan mulai menjadi seseorang yang lebih dekat denganku, tapi jika kau tidak mau jadi seseorang yang spesial, kau biarkan saja", ucap Doni menatap Tami serius.
" Apa kau sedang memintaku menjadi kekasihmu dengan memberiku sisa spaghetti yang sudah kau makan?, wah aku baru tahu ternyata ada juga orang yang menyatakan perasaannya dengan cara seperti itu, hahahaha", Tami tertawa terbahak dengan apa yang Doni lakukan.
" Jangan di tertawakan, kalau kau tidak mau juga tidak papa, biar aku makan sendiri", Doni mengambil kembali garpunya, tapi Tami menahan tangannya.
" Aaa...", Tami membuka mulut menyuruh Doni untuk menyuapkan spaghetti di garpu itu padanya.
Doni tersenyum lebar melihat Tami menyuruhnya menyuapkan spaghetti itu ke dalam mulut Tami. Dengan hati-hati Doni pun menyuapi Tami.
__ADS_1
" Karena kau memakannya, berarti mulai detik ini kau sudah menjadi milikku", Doni langsung memberikan kecupan manis di dahi Tami.
Mereka berdua sama-sama menahan senyum bahagia mereka.