Jodohku

Jodohku
Episode 8


__ADS_3

POV Khansa Almira


Aku duduk terdiam di sofa. Dengan gaun tipis ini aku berharap bisa melayani suamiku dengan baik. Air mataku tumpah. Ingin sekali aku menjerit. Pernikahan macam apa ini. Aku benar-benar tak mengerti.


Aku terisak dalam keheningan malam. Berharap pernikahanku akan bahagia. Tapi apa yang kudapat, aku seperti perempuan murahan dihadapan suamiku. Bukankah laki-laki itu adalah pemimpin bagi seorang wanita? Lantas bagaimana jika sang pemimpin itu mengabaikan kewajibannya? Akankah bahtera ini akan berujung pada sebuah pulau yang indah? Ataukah akan hancur di tengah samudra?


Kuhapus air mata dipipi. Aku harus kuat. Aku tak boleh menjadi wanita yang lemah."Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga padahal belum diuji... "petikan surat cinta Nya membuatku sadar, bahwa aku harus lulus dengan ujian ini.


Aku segela melangkah kekamar, kuganti gaun tipis ini dengan baju tidur yang berbahan tebal. Segera ku tarik selimut, tak lupa kubaca doa sebelum tidur, dan akhirnya aku terlelap dalam buaian mimpi.


*****


Suara alarm dari ponselku terdengar begitu nyaring. Jarum jam menunjukkan angka 3. Aku segera bangkit menuju kamar mandi.


"Dingin," gumamku sambil berwudhu.


Aku luruh diatas sajadahku. Kuadukan semua permasalahanku kepada sang pemilik malam. Tentang sikap seorang laki-laki yang sekarang bergelar suami. Allah pemilik hati. Maka Allah yang akan membolak-balikan hati seseorang.


*****


Aku marah dan kesal. Namun kemarahanku tak boleh mengalahkan kewajibanku sebagai seorang istri untuk selalu mengingatkan suami. Ku ketuk pintu kamarnya, berharap dia segera bangun untuk menunaikan sholat subuh. Namun usahaku sia-sia. Tak ada jawaban. Akhirnya kutinggalkan kamar itu.


Aku duduk di teras villa. Angin yang dingin menerpa jilbabku. Kubuka al qur'an kecil milikku. Kubaca pelan-pelan beserta artinya. Sungguh terasa sejuk rasanya dada ini.

__ADS_1


Hampir 2 jam aku membaca alquran, dan tanpa kusadari mentari pagi sudah bersinar dengan cerahnya. Ku lirik laki-laki yang duduk di bangku sampingku. Sejak kapan dia disitu, bahkan aku tak sadar dia sudah disitu.


"Kamu masih marah denganku," ucap mas Arkan padaku. Aku hanya tersenyum kecut.


"Apa gunanya aku marah, toh semuanya tak akan mengubah keputusanmu bukan," jawabku.


"Mintalah apapun yang kamu mau, tapi asal jangan itu. Aku benar-benar tak bisa melakukan nya," ucapnya.


"Bukankah mas sudah tahu hakekat pernikahan? Pernikahan dibangun bukan hanya karena harta, tapi saling percaya, mengerti, menyanyangi untuk mendapatkan ridhoNya," ucapku. Kulihat mas Arkan hanya diam.


"Dan bukankah salah satu tujuan pernikahan adalah untuk memiliki keturunan agar ada penerus keluarga. Bahkan Rosulullah bangga dengan umatnya yang memiliki banyak keturunan. Lantas, bagaimana kita bisa memiliki keturunan jika mas tak mau menyentuhku," lanjutku


"Aku bukan Maryam ibunda nabi Isa yang bisa memiliki putra tanpa disentuh laki-laki. Aku hanya wanita biasa," ucapku sambil berlalu meninggalkannya sendirian.


*****


"Pagi bik, bibik bawa apa?" tanyaku.


"Sarapan mbak cantik, tadi bibik dirumah masak pecak ikan nila sama tumis paku," jawab bik Mimin.


"Tumis paku bik? " tanyaku heran.


"Eh mbak cantik jangan salah sangka ya, bukan paku yg buat bangun rumah, tapi tanaman pakis, tapi bibik suka bilangnya tanaman paku," jawab bik Mimin sambil tertawa.

__ADS_1


"Oh, Khansa belum pernah makan tumis paku bik, emangnya enak ya bik?" tanyaku sambil menyiapkan piring dan mangkok.


"Wih mantap mbak, mbak pasti ketagihan, ayuk cobain," pinta bibik. Aku segera mengambil nasi. Tak lupa pecak ikan nila dan tumis paku. Setelah baca doa segera kulahab masakan bik Mimin.


"Wih, mantap bik," pujiku pada bik Mimin.


"Mas ganteng nggak makan?" tanya bik Mimin pada mas Arkan yang asyik berselancar dengan gawainya ditemani secangkir kopi.


"Nggak bik, belum lapar, " jawab mas Arkan.


*****


Malam ini aku langsung masuk ke kamarku. Aku tak akan mengganggu mas Arkan dengan tingkahku yang dianggap konyol olehnya. Aku hanya ingin segera tidur. Aku merasa lelah, lelah dengan sikapnya. Hingga hampir saja mata ini terlelap tiba-tiba pintu kamarku diketuk. Aku segera bangkit untuk membuka pintu. Di depanku terlihat mas Arkan yang begitu tampan sedang berdiri.


"Ada apa mas?Mau apa malam-malam kesini?" tanyaku sedikit kesal karena telah mengganggu tidurku.


"Apakah salah seorang suami datang ke kamar istrinya?" tanyanya balik. Tiba-tiba ada ketakutan dalam diriku. Kemarin ketika aku berusaha ikhlas dan ridho memberikan diriku, malah dia tolak. Sekarang ketika aku nggak siap, malah dia datang.


"Nggak ada yang salah, masuklah. Mas berhak masuk kekamarku, " jawabku.


"Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja. Besok pagi kita akan balik ke Jakarta, jangan lupa berkemas-kemas." ucapnya


"Baik, InsyaAllah ba'da subuh aku akan berkemas,"ucapku.

__ADS_1


"Tidurlah, jangan lupa kunci pintunya!" pintanya kemudian berlalu meninggalkan aku. Aku hanya tersenyum, aku pikir mas Arkan akan langsung berubah ketika mendengarkan ucapanku tadi pagi, tapi nyatanya dia tetap sama.


__ADS_2