
Mandala menjemputku sepulang kerja...
membawa satu orang bawahannya untuk membawa mobilku kembali ke asrama...
Aku dan Mandala menggunakan mobil Mandala karena kami akan pergi ke Rumah Sakit tempat Sarah di rawat...
Rumah Sakit khusus kejiwaan...
Bisa kalian bayangkan bagaimana bentuk rumah sakit ini.. dan bagaimana para penghuninya....
sebagian dari kamar di rumah sakit ini seperti penjara.. memakai kerangkeng besi...
ini di peruntukkan buat para pasien yang memang suka mengamuk dan suka kabur...
Sarah di tempatkan di bangsal VIP... kamar tidak ber kerangkeng besi... hanya saja di bagian pintu tetap menggunakan pintu besi untuk menghindari hal yang tidak diinginkan... dan di bagian jendela pun di beri teralis besi...
Begitu Aku dan Mandala sampai di ruangan Sarah.. Ama sudah berada di sana bersama dokter yang menangani Sarah..
Mandala mengetok pintu sebagai formalitas...
Ama dan Dokter menoleh ke arah pintu.. sedangkan Sarah tetap memandang keluar jendela...
Dokter yang menangani Sarah tersenyum melihatku...
"Dokter Chintya... Apa kabar.."
"Ternyata dokter Irawan.."
Kami saling berjabat tangan...
Aku mengenal dokter Irawan karena kami sama sama sebagai pengurus junior di IDI...
Mandala mengangguk pada dokter Irawan kemudian menuju tempat tidur Sarah dan berbicara dengan Ama...
"Pantas, aku seperti pernah melihat Pak Kapten... ternyata benar dia suamimu..."
"Maaf, aku juga baru sempat kemari.."
"Iya, aku juga sudah mendengar apa yang terjadi pada Bapakmu.. aku ikut berduka cita.."
"Terima kasih, Bagaimana perkembangannya?"
mataku mengarah pada Sarah...
dokter Irawan mulai menjelaskan...
"Sudah dua hari tidak mau makan... kami pun tidak bisa memasang infus karena selalu di cabutnya.. kasian bayi dalam kandungannya.."
"Bagaimana keadaan bayinya?"
"Masih terus bergerak.. jantungnya pun normal, tapi akan sangat sulit jika terus seperti ini..."
Aku memandangi bagian belakang Sarah karena memang posisiku berada di belakangnya... dan Mandala mencoba membujuknya untuk makan...
"Sarah beruntung.. bertemu dengan suamimu dan pamannya... jika tidak, dia akan bernasib sama seperti korban bencana lainnya... mereka hanya akan di pertemukan dengan psikiater penanganan pasca bencana... selanjutnya tidak ada tindakan lain... kecuali ada LSM perempuan yang mengambil alih.."
Aku tersenyum.. masih memandangi Sarah dan Mandala...
"Semoga Sarah cepat bisa pulih kembali.. aku dengar dia dulunya bekerja di laboratorium di rumah sakit.."
"Apa kemungkinan terburuk buat bayinya dokter?"
Aku bertanya pada dokter Irawan...
"Jika kondisi Sarah stabil.. bayinya akan baik baik saja.. saatnya nanti kita akan melakukan operasi cesar... tapi jika Sarah terus berontak dan berusaha bunuh diri.. itu pasti juga berpengaruh pada bayinya.."
"Baiklah dokter, aku mengerti... suamiku dan Ama akan pergi beberapa waktu... jadi selama mereka tidak ada, aku yang bertanggung jawab atas Sarah"
"Iya, Asisten magangku juga sudah memberitahuku.. tapi aku tidak menyangka kalo orang itu adalah dokter Chintya..."
"Dokter...Kenapa Sarah tidak mau makan?"
"Karena Suamimu tidak datang memakai pakaian tentaranya"
dokter Irawan berkata sambil tertawa kecil..
"Apa??"
"Iya, jika suamimu datang memakai pakaian tentara, Sarah akan makan.. karena Sarah menganggap itu suaminya.. Sarah akan makan di suapi oleh suamimu yang dianggapnya suaminya."
Tenggorokanku sedikit tercekat..
Karena kecemburuanku... membuat Sarah tidak makan dalam dua hari ini...
"Maaf.. apa kamu tidak tahu itu?"
Dokter Irawan kembali bertanya padaku...
"Aku tahu, suamiku sudah menceritakan semua padaku.. baiklah dokter Irawan... aku akan mencoba membuat Sarah mau berbicara padaku dan mau makan.. terima kasih atas semua bantuannya..."
"Itu sudah merupakan tugasku... tidak usah berterima kasih... aku permisi dulu...
Pak.. saya keluar dulu"
dokter Irawan pamit pada Mandala dan Ama yang hanya di balas mereka dengan anggukan juga...
Aku mendekati Sarah.. melihatnya terus menatap keluar jendela...
Aku berdiri di depannya.. menutupi pandangannya...
sekian menit baru Sarah sadar dan memandangiku...
"Cantik"
__ADS_1
itu kata yang di ucapkannya kepadaku...
kami semua terkejut...
Sarah terus memandangiku...
Dia lupa padaku...
Lupa pada pertemuan pertama kami yang membuatku kabur dari Mandala 🙈🤪
"Peri Cantik?"
Sarah kembali membuka mulutnya...
Aku mengangguk dan tersenyum... sepertinya aku harus akting menjadi seorang peri di hadapan Sarah..
"Peri harus memberi kamu makan..."
Aku mengambil piring nasi dari tangan Mandala... dan mulai bersiap untuk memberi Sarah makan..
Tiba tiba Sarah menangis...
Aku terkejut... Sarah memeluk pinggangku yang memang aku tepat berdiri di depanya...
Aku kembali menyerahkan piring kepada Mandala... dan mulai mengelus punggung Sarah...
"Peri.. tolong aku, tolong suamiku, tolong ibuku.. mereka hilang di bawa hantu Air... tolong aku peri.. aku tidak mau pergi dengan hantu air..."
Sarah terus menangis dan mengulang ulang perkataannya tadi...
Aku sedikit mengerutkan alisku...
Hantu Air??? Peri??
khayalan apa ini?
hust Ega.. namanya juga orang depresi.. pasti pikirannya kemana mana...
Sedikit tersenyum.. tapi banyak kasihannya...
"Sarah...." aku masih mengelus pundaknya..
Ketiga kali aku menyebut namanya baru Sarah melepaskan pelukan dan memandangku..
"Ibu peri"
"Dengarkan saya... Peri mau kamu sekarang makan.."
"Hantu Air tidak akan datang?"
"Tidak, karenanya kamu harus makan"
Sarah mengangguk masih memegang ujung bajuku..
Aku melihat Mandala dan Ama yang tersenyum senang...
Mandala mendekati kami.. mengelus kepalaku..
Sarah melihatku dan Mandala...
"Suami ibu peri?"
Tanyanya sambil bergantian melihatku dan Mandala..
(iya, ini suamiku yang kamu akui menjadi suamimu)
ucapku dalam hati...
"Cantik... Cakep.. Pas.."
Sarah menunjukku dan Mandala dengan telunjuknya..
(Pas lah..)
Ega... kenapa kamu masih cemburu padanya... tidak kah kamu kasihan melihatnya yang seperti itu..
Entahlah... setan jahat masih belum keluar dari kepalaku...
"Makan yang banyak"
Mandala juga membelai kepala Sarah...
(eh ni orang, gak tau apa ada setan di kepala istrinya.. pake elus elus kepala Sarah lagi)
Tapi tentu saja aku tidak menunjukkan sikapku...
"Siap bapak peri"
Sarah membuat tanda hormat sambil tersenyum ceria... Mandala pun ku lihat tersenyum..
Alhamdulillah... Hari ini akhirnya Sarah bersedia makan... kami pun bernafas lega...
Sarah berjanji untuk selalu makan tapi aku pun berjanji akan datang menemuinya setiap hari..
Biarlah aku yang datang.. dari pada suamiku yang datang kemudian menjadi suaminya ðŸ¤
"Ayo ibu peri kita pulang"
Mandala meraih tanganku dan menggenggamnya ketika kami sudah keluar dari ruangan Sarah...
"Harus ada bayarannya nih untuk peran sebagai ibu peri"
"Aku akan membayarnya malam ini"
__ADS_1
Aku memandang Mandala.. Tahu akan akal bulusnya..
"No... Tidak !!! aku ingin yang lain"
"Kamu ingin menjadi bosnya malam ini?"
"Kapteeennnn"
Mandala tertawa sambil berjalan meraih bahuku..
"Apa maumu?" Tanyanya padaku..
Aku pun menunjukkan handphoneku yang sudah dua tahun lebih kugunakan...
"Minta di ganti.."
"Okey..."
"Sekarang??"
"Paku uangmu dulu.. nanti ku ganti"
"Ah sama aja bohong..."
"Kuganti dua kali lipat..."
Mandala menyentil hidungku...
Aku cemberut...
Sama aja aku beli handphone memakai uangku sendiri..
"Tunggu aku kembali saja kalo begitu.. "
Mandala berkata karena melihatku tidak senang..
"Baiklah.. "
"Ternyata istriku pelit..."
"Simpan simpan uang buat kabur kalo suaminya selingkuh"
Mandala tertawa mengelus kepalaku...
"Menurutmu bagaimana Sarah? apa dia bisa sembuh?"
Mandala berkata ketika kami sudah duduk di dalam mobil...
"Kamu nikahi dia.. pasti sembuh"
"Yang.. bicara apa sih.."
"Kalo sama dia di dalam.. kamu ngapain?"
"memberinya makan..."
"Terus?"
"cuma itu...."
"bohong.."
"Kadang Sarah minta peluk.. dia kan menganggap aku suaminya"
"Terus..."
"Yaaangggg...."
"TERUUUUSSSSS...."
"Aku pernah mencium pipinya...
"Cuma Pipi?"
"Iya, cuma pipi... kamu lihat kan... tadi dia tidak mengenalku kalo aku memakai pakaian biasa"
"Besok kesana pake baju tentara... aku ingin melihat reaksinya ketika melihatmu"
"Yaanggg... aku tidak ingin tidur di luar kamar"
"Ini bagian dari pengobatannya..."
"Kamu bukan dokternya..."
"Aku akan beritahukan dokter Irawan..."
Mandala menarik nafasnya... melihatku sekilas...
"Kita ke counter handphone sekarang..."
Aku tersenyum...
"Begitu dong, kan gak pake acara interogasi segala"
Aku pun duduk dengan manis di dalam mobil sambil tersenyum penuh kemenangan dan mengeluarkan handphoneku.
"Bye bye.. kamu akan digantikan malam ini.."
---------------
Jangan lupa vote dan likenya yaa
LOVE YOU 😘😘😘
__ADS_1