Kamar No.11B

Kamar No.11B
Part. 100


__ADS_3

"Jelas Ajeng dan Gendis yang menjadi tumbal untuk kuntilanak merah itu. Menurut cerita yang saya dengar dari Kang Ujang, kedua adik Pak Thamrin memang sangat membenci Nek Iyah kan?" ujarku.


"Hehehehehe. Awalnya mereka berdua memang membenci Badriyah, tapi Badriyah menyuruh Thamrin untuk berbaikan dengan kedua adiknya. Badriyah ingin semua baik-baik saja. Badriyah pun menyuruh Thamrin untuk membagi harta warisan orang tuanya sesuai dengan jatah mereka. Dan Thamrin mengikuti saran Badriyah. Ketiga saudara itu pun berbaikan, dan hidup harmonis, bahkan Ajeng dan Gendis pun bisa menerima Badriyah sebagai kakap ipar mereka yang baru." cerita Kakek Badrun.


"Jadi Nek Iyah yang menyuruh Pak Thamrin berdamai dengan kedua adiknya?" tanyaku.


"Iya. Sampai-sampai, Si Thamrin membuatkan rumah untuk kedua adiknya. Kau tahu Nak Adi, rumah kosong yang ada di depan rumah Badriyah?"


"Iya tahu kek, di rumah itu jenazah kawan saya di temukan. Me-memang itu rumah siapa kek?"


"Itu rumah Ajeng. Akhirnya ia bersama keluarganya pindah ke rumah itu. Di rumah itu pula, Ajeng hamil anak kedua. Yang nantinya, bayi itu akan menjadi anak angkat Badriyah."


"Mbak Wati maksudnya?"


"Iya, Wati."


"Tapi kenapa Pak Thamrin dan Nek Iyah tidak punya anak dari hasil perkawinan mereka kek? Padahal kan sudah mendapat restu dari kedua adik Pak Thamrin." tanyaku.


Kakek Badrun mengeluarkan rokok dari kantong bajunya, membakarnya sebatang. Aroma asap rokoknya tercium sangat menyengat.


"Badriyah yang tidak mau. Ia tidak ingin nasibnya seperti Nyai Asih. Padahal Thamrin sudah meyakinkan kalau semua akan baik-baik saja, tapi Badriyah keukeuh tidak ingin punya anak." terang Kakek Badrun.


Aneh, sangat aneh menurutku. Wanita mana yang tak mau punya anak? Mungkin hanya Nek Iyah yang punya pemikiran seperti itu.


"Kek, kalau akhirnya Badriyah bisa hidup tenang dan harmonis dengan kedua adik Pak Thamrin, lalu mengapa Mbak Ajeng dan Mbak Gendis yang menjadi tumbal? Kenapa bukan orang lain?" tanyaku.


"Kakek pun tak terlalu jelas alasan Badriyah menumbalkan Ajeng dan Gendis. Tapi menurut kakek, walaupn mereka sudah berdamai pasti Ajeng dan Gendis masih lebih memilih Nyai Asih ketimbang Badriyah. Bagaimana pun juga, Nyai Asih adalah istri sah Thamrin." jelas Kakek Badrun.


"Itu yang kakek sayangkan, karena memiliki mustika dan penjaga yang setia, Badriyah jadi gelap mata. Ia sudah lupa diri, ia seolah menikmati setiap kejahatan yang di lakukannya." lanjut Kakek Badrun.


"Menikmati? Apa banyak yang menjadi korban untuk tumbal Nek Iyah kek?"


Kakek Badrun menunduk.

__ADS_1


"Banyak dek. Korban pertama adalah Ajeng, Ajeng mati gantung diri. Keluarga dan orang-orang sekitar menganggap Ajeng bunuh diri, tapi di balik peristiwa itu, sebenarnya Ajeng mendapat bisikan hingga tak sadarkan diri, lalu gantung diri." jelas Kakek Badrun.


"Gantung diri? Jangan-jangan sosok setan yang saya lihat di kamar saya itu adalah arwah penasaran Mbak Ajeng." aku langsung tersadar dengan apa yang pernah menghantuiku.


"Bisa jadi itu arwahnya Ajeng." sahut Kakek Badrun.


"Kek, siapa lagi korban tumbalnya Nek Iyah kek? Siapa lagi kek?" tanyaku.


"Yang kedua adalah Gendis. Gendis di bikin gila, di buat stress. Warga sekitar mengira Gendis gila karena tak kunjung menikah. Karena gila dan meresahkan warga, akhirnya Gendis di pasung di gudang belakang rumah Thamrin."


"Meresahkan warga? Memang gimana Mbak Gendis membikin resah warga kek?" tanyaku.


"Gendis suka membunuh kucing. Ia bahkan sering memakan kucing hidup-hidup. Perilakunya yang sering marah-marah membuat warga sekitar menjadi geram dengan Gendis. Akhirnya Gendis di pasung. Saat di pasung pun, ia tak mau makan selain makan anak kucing."


Deg!


Memakan anak kucing? Sosok itu juga yang pernah kulihat di kamarku. Wanita memakan anak kucing hidup-hidup.


"Apa kau pernah melihat juga arwah Gendis Nak Adi?" tanya Kakek Badrun.


Kakek Badrun tersenyum.


"Lalu, siapa lagi korban lainnya kek?" tanyaku. "Jangan-jangan semua sosok arwah yang pernah saya lihat, adalah korban tumbal Nek Iyah." ucapku.


"Sudahlah nak, sudah banyak kejahatan Badriyah, tak usah di bahas lagi. Sekarang intinya kau harus fokus untuk merebut kembali mustika itu." ujar Kakek Badrun.


"Kek, tadi kakek cerita kalau kakek lah yang mendapatkan mustika dan kuntilanak merah itu di Gunung Komang. Lalu kakek berikan mustika itu ke Nek Iyah. Tapi waktu itu, kakek berikan mustika itu ke saya. Bagaimana kakek dapatkan kembali mustika itu dari tangan Nek Iyah?" tanyaku.


"Cerita ini yang paling aku sukai. Bagian inilah yang menjadi kegemaranku untuk menceritakannya. Hehehehehe." Kakek Badrun terkekeh.


"Saat Badriyah sudah gelap mata, sudah banyak juga korban tumbal untuk memberi makan kuntilanak merah itu, di saat itulah aku menegurnya. Diam-diam, ternyata Badriyah menuntut ilmu ke Gunung Komang tanpa sepengetahuanku. Ia menjadi semakin sakti dan bisa mempergunakan mustika itu secara maksimal. Ia bisa memerintah peliharaannya dengan semena-mena. Ia banyak mendapat peliharaan gaib. Ia jadi orang terpandang, pamor Thamrin sebagai orang kaya di daerah itu pun tergantikan oleh sosok Badriyah, istrinya" cerita Kakek Badrun.


"Tapi itu semua membuatku gerah. Karena apa yang Badriyah lakukan bertolak belakang dengan rasa belas asihku, rasa kemanusiaan. Yang Badriyah lakukan sudah di luar batas wajar. Akhirnya, kuberanikan diri menegurnya di suatu siang." terang Kakek Badrun.

__ADS_1


"Aku menegur perbuatan Badriyah yang sudah kelewatan, aku pun mengaku salah, telah memperkenalkan hal gaib kepadanya, memberikan mustika itu padanya. Tapi Badriyah menolak untuk menghentikan perbuatannya. Ia bilang ia sangat menikmati, ia bangga dengan dirinya yang sekarang, ia sudah tidak di anggap wanita lemah, ia bahagia di pandang sebagai wanita sakti, meskipun ilmu hitam yang di anutnya." lanjut Kakek Badrun.


Aku hanya diam mendengarkan, tanpa menyela sedikit pun.


"Aku yang sudah kehabisan kesabaran, akhirnya menantang Badriyah untuk berduel. Kami membuat perjanjian, siapa yang nantinya kalah, maka harus rela melepas semua ilmu kanuragan yang di anutnya. Dan menjadi orang biasa. Perjanjian kami di tandai dengan membubuhkan tiga tetes darah kami masing-masing di atas sebuah batu besar yang ada di tempat bertapa Gunung Komang."


"Akhirnya di tentukan hari berduel kami. Malam rabu wage, tepat jam dua belas malam, di puncak Gunung Komang, ladang safana." terang Kakek Badrun.


"Malam itu di puncak Gunung Komang angin bertiup cukup kencang. Ladang safana di penuhi demit dan jin penunggu Gunung Komang, mereka ingin menyaksikan perkelahian kami, bahkan Ratu Sekar Dara si penguasa Gunung Komang pun hadir. Kanjeng ratu memberi restu untukku dan Badriyah bertarung di puncak gunung."


Aku yang mendengar cerita Kakek Badrun gemetar, saking serunya. Tak ingin kulewatkan satu kata pun.


"Angin menggoyangkan rerumputan di ladang safana. Teriakan riuh ramai para demit dan jin penunggu gunung membuat bising. Bagi orang awam, malam itu mungkin hanya kami berdua yang ada di ladang safana. Akhirnya kami memulai pertarungan, pertarungan secara gaib. Hanya jiwa kami yang berkelahi meninggalkan masing-masing jasad kami. Kami saling pukul, saling sikut, dan saling tendang. Kami terbang memutari ladang safana. Sorak sorai para demit dan jin ramai terdengar." lanjut Kakek Badrun.


"Kek, sebelum di lanjutkan. Saya mau tanya, memang pertarungan secara gaib itu seperti apa?" tanyaku.


"Ya kami bertarung biasa, hanya saja roh kami yang saling berkelahi. Kami mengeluarkan jurus dan ilmu yang kami punya." jawab Kakek Badrun.


"Singkat cerita, Badriyah terpojok di sebuah lembah. Ia sudah kehabisan tenaga. Semua ilmu sudah di kerahkan, semua jurus sudah di keluarkan. Saat itu aku yakin akan menang. Tapi ada setitik jumawa dalam hatiku, itulah yang membuatku lengah. Aku tak sadar kalau ia memegang mustika Batu Dewa Dawana. Pada satu serangan mendadak, ia mengeluarkan ilmu dengan tambahan kekuatan dari mustika yang di pegangnya. Serangan itu yang membuat setengah ilmu kanuraganku lenyap. Tubuhku memuntahkan darah cukup banyak." cerita Kakek Badrun.


"Kakek kalah dengan Nek Iyah?" tanyaku.


"Pertarungan belum selesai, kini aku yang terpojok di sudut jurang. Badriyah terkekeh angkuh. Ia bilang kalau aku tak akan bisa mengalahkannya, ia bilang bantuan dari mustika Batu Dewa Dawana sangat berarti untuknya. Ia menjadi sangat angkuh, nada bicaranya menyepelekanku." lanjut Kakek Badrun.


"Kau tahu Nak Adi, aku yang lebih dulu bermain-main dengan hal gaib. Aku lebih dulu bertapa di Gunung Komang. Badriyah hanya bocah kemarin sore. Dia pikir aku bodoh, aku lebih banyak punya peliharaan demit ketimbang dirinya. Hahahahahaha. Dasar wanita sialan. Hahahahahaha." Kakek Badrun tertawa terbahak.


"Hahahahahahaha. Wanita bodoh! Hahahahahahaha. Dia pikir aku kalah! Hahahahahahaha." Kakek Badrun tak henti-hentinya tertawa.


"Lalu, bagaimana cara kakek merebut mustika itu?" tanyaku.


"Hahahahahahaha. Sebentar nak, lucu kalau aku ingat kejadian itu. Hahahahahahaha. Badriyah Badriyah! Hahahahahahaha." Kakek Badrun tertawa sembari memukul-mukul pahanya.


Seru sekali cerita Kakek Badrun ini. Ternyata semua kejahatan yang Nek Iyah perbuat berawal dari balas dendam. Mungkin saja kalau Bi Tati tidak menyantet Nek Iyah lebih dulu, semua ini tidak akan terjadi. Andai saja kedua belah pihak menerima suratan takdir yang telah Tuhan atur. Tapi di balik semua peristiwa yang terjadi, pasti ada hikmah dan pelajaran yang dapat kita ambil.

__ADS_1


Kakek Badrun masih terbahak mengingat ceritanya sendiri. Aku senyum melihatnya, sembari menunggu tawanya selesai dan ia lanjutkan kembali cerita perkelahiannya dengan Nek Iyah. Rasa laparku sudah hilang, berganti dengan rasa penasaran yang menggeliat memenuhi relung-relung tubuhku.


__ADS_2