
Syukurlah, Kak Nia mengerti kalau aku dan Yuda butuh ruang privasi. Kubilang Kak Nia memang berbeda dengan Bang Dede. Aku pun jadi penasaran, kenapa Kak Nia sudah tak bersama Bang Dede lagi di Satu Arah. Malah ia membuka kedai kopi sendiri. Ada alasan tentunya, tapi biarlah nanti coba kutanyakan. Yang penting sekarang aku bisa menceritakan semuanya pada Yuda.
Adzan ashar berkumandang dengan kerasanya, memang kedai kopi milik Kak Nia tak jauh dari masjid besar di seberang kampus. Dan suasana jalan di samping masjid semakin ramai oleh mahasiswa dan karyawan perkantoran.
"Da, gue shalat dulu ya ke masjid. Sebentar." tuturku pada Yuda. "Ayo lo ikut shalat juga! Yuk!" ajakku.
"Ayo. Memang sudah saatnya gue berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi." balas Yuda.
"Naaahh gitu dong!" sahutku. "Kak Nia, gue sama Yuda shalat sebentar ya ke masjid. Gue titip tas ya." ujarku pada Kak Nia.
"Alhamdulillah Ya Allah, akhirnya kau sadarkan teman-teman hamba." balas Kak Nia. "Hehehehehehe. Iya Di. Gue titip doa ya, biar kedai gue rame." lanjut Kak Nia.
"Siaaapp. Sebentar ya kak!" ucapku seraya berangkat ke masjid bersama Yuda.
Kak Nia hanya mengangkat jempolnya, tanda oke.
* * *
"Lo duluan deh ke kedai, gue beli rokok dulu Di." tutur Yuda setelah kami selesai shalat.
Aku pun berjalan menuju kedai. Banyak orang lalu lalang di jalan samping masjid. Penjual makanan dan camilan pun masih ramai berdagang. Harum semerbak otak-otak goreng crispy tercium. Kemudian wangi asap dari ayam bakar pun terendus oleh hidungku.
Aku berjalan sembari melihat sekeliling. Sampai satu ketika langkahku terhenti. Aku berdiri mematung tak bergerak di tengah jalan. Pundakku tersenggol oleh pundak para pejalan kaki. Namun mataku tak bergeming dari seseorang.
Mahasiswi berkerung merah, memakai kemeja merah, rok merah marun, serta sepatu merah.
Sosok itu yang membuat langkahku terhenti. Siapa dia? Dari pagi sosoknya selalu menghantuiku. Masih dengan senyumnya yang menyeringai, dan mata yang melotot menyeramkan. Ia berdiri di bawah pohon jambu air, tepat di sebelah penjual gorengan. Matanya tajam menatapku tak bergerak. Kutantang ia, aku balas menatapnya. Aku tak takut, manusia atau pun demit sudah tak membuatku gentar sedikit pun.
"Woi, kalau diam jangan di tengah jalan dong!" gerutu seorang mahasiswa yang menyenggol pundakku. Aku tak menggubrisnya.
Aku terus beradu tatap dengan mahasiswi aneh itu.
Tiiiiiiinnn tiiiiiiinnn. Klakson motor terdengar keras di belakangku, namun aku tetap diam tak bergeser.
"Heh, gila lo ya! Diri di tengah jalan." bentak seseorang padaku.
Lagi-lagi aku diam.
"Woi bang! Kalau mau mati jangan di sini. Mending lo lompat dari jembatan penyebrangan!" ucap seorang penjual kebab.
Tep.
"Di, lo ngapain sih?" Yuda menepuk pundakku. Aku menoleh ke arahnya.
"Heh, lo ngapain diri di tengah jalan? Lo nggak sadar orang-orang pada maki-maki lo? Yuk ah!" ajak Yuda.
Aku tak menjawab. Aku melihat kembali ke arah pohon jambu air. Hilang. Mahasiswi aneh itu sudah tak nampak lagi. Aku jelalatan mencari sosok mahasiswi itu, namun tak ada yang memakai kerudung berwarna merah menyala seperti dia. Aneh.
"Di, lo ngapain sih tadi?" Yuda kembali bertanya.
"Da, lo ingat nggak pas di kampus tadi gue bahas soal mahasiswi berkerudung merah?" ucapku pada Yuda.
"Emmm. Ooh iya iya. Ingat gue. Kenapa memangnya?" tanya Yuda.
"Barusan gue lihat mahasiswi itu lagi." balasku.
"Ciiiieeee, ada yang punya secret admirer nih ceritanya. Hehehehehehe." ledek Yuda. "Yang mana sih orangnya Di?" tanya Yuda.
__ADS_1
"Secret admirer apaan, orang wajahnya serem gitu." balasku.
"Apa? Serem? Maksud lo gimana Di?" Yuda terkejut.
Kami berjalan beriringan menuju kedai kopi milik Kak Nia.
"Ya serem aja gitu." ucapku.
"Iya serem, definisi seremnya gimana? Kan bisa di jabarkan." Yuda sungut-sungut.
Aku tengak-tengok, masih tetap mencari sosok mahasiswi aneh itu.
"Cari siapa sih Di? Mahasiswi yang lo bilang serem itu?" Yuda kembali bertanya.
Aku mengangguk.
"Ada?" tanya Yuda.
Aku menggeleng.
"Yaudah jelasin seremnya gimana? Apa wajahnya hancur, berdarah-darah. Apa giginya taring semua. Apa lehernya tergorok. Jelasin dong!" Yuda mendesak.
"Mahasiswi itu pakai kerudung warna merah menyala. Dia pakai kemeja berwarna merah, serta rok panjang merah marun. Dan pakai sepatu berwarna merah juga." jelasku.
Yuda mendengarkan penjelasanku, kemudian berpendapat, "Terus seremnya dimana Adiii?"
"Belum selesai penjelasan gue. Lo dengar dulu!" sahutku.
"Yang bikin aneh dan serem, ia senyum menyeringai gitu. Matanya melotot, lebar. Dia terus menatap ke arah gue, nggak mengedip sedetik pun. Wajahnya begitu aja, nggak berubah-ubah." sambungku.
"Hmm, aneh juga sih kalau ada cewek begitu. Tapi pas di kampus tadi gue sama sekali nggak lihat mahasiswi itu Di." ujar Yuda.
Aneh, Yuda tak melihatnya. Apa karena aku memakai cincin mustika ini? Memang akhir-akhir ini aku jadi lebih peka dengan sesuatu yang berhubungan dengan hal gaib. Kubil contohnya, demit yang sempat merasuki Yuda waktu itu. Demit bocah yang kini tinggal di atap kamarku. Sebelumnya mana pernah aku berinteraksi dengan makhluk halus seperti Kubil. Kalau pun sekedar melihat, sedari awal aku tinggal di kamar 11b sudah banyak penampakan demit yang kulihat, dan hanya sekilas dan sekejap saja.
Tak terasa, kami pun sampai di kedai Kak Nia. Kami kembali duduk dan menikmati minuman pesanan kami. Ada dua orang mahasiswa yang sedang asik berbincang di kursi luar.
"Udah shalatnya?" tanya Kak Nia. "Gue di doain nggak Di?" tuturnya.
"Di doain kak, semoga kedai kopi lo banjir pelanggan. Terus bikin kedai yang lebih besar, sampai tiga tingkat. Bangku dan mejanya besar-besar, biar pelanggan bisa tidur juga di kedai lo. Hehehehehe." jawabku.
"Hahahahahahaha. Kalau sampai tidur, jadi hotel dong kedai kopi gue." sahut Kak Nia.
"Di! Ayo mulai cerita!" Yuda menagih.
"Oh iya. Oke oke. Mau mulai dari mana nih Da?" tanyaku.
"Bebas! Terserah Mas Adi aja, Yuda kan cuma jadi pendengar yang baik. Hehehehehe." balas Yuda.
"Oke. Gue mulai dari awal. Sejak kepindahan gue ke kost itu, semua berawal dari sana." aku memulai kisah.
Yuda membetulkan posisi duduknya, menyedot minumannya, kemudian membakar sebatang rokok.
"Awalnya semua terasa biasa aja, layaknya anak kost pada umumnya. Tapi ada hal ganjil yang gue alami sebelum gue pindah ke kost itu. Gue melihat sosok kakek tua yang selalu muncul tiba-tiba. Kakek tua itu selalu melihat gue dengan tatapan tak senang. Gue cerita soal kakek itu ke Mas Gun, dan Mas Gun pun selalu meyakinkan gue untuk pikir-pikir dulu sebelum pindah ke kost itu. Mas Gun bilang daerah belakang kampus memang tak banyak kost-kost-an, dan daerah yang terkenal banyak pencuri dan maling. Lo tau kan daerah belakang kampus masih banyak kebun kosong dan tanah kosongnya?"
Yuda mengangguk.
"Nah, di situlah Mas Gun menyuruh gue untuk pikir-pikir lagi. Tapi gue tetap keukeuh untuk pindah ke Kost Pak Thamrin. Gue ingin hidup mandiri, ingin punya kamar kost sendiri. Gue ingin teman-teman kampus gue datang dan main ke kamar kost gue. Seru aja kayaknya." ceritaku.
__ADS_1
"Hari itu gue pindah ke kamar 11b. Mas Gun membantu gue beres-beres kamar, dan membeli beberapa perlengkapan untuk memenuhi kebutuhan gue di kamar kost." lanjutku.
"Malam pertama gue tidur di kost itu, gangguan mulai terjadi. Nggak salah kalau lo kasih julukan ke gue telinga kelinci, karena memang benar Da, malam itu gue terbangun karena dengar suara tangis bayi. Sampai malam-malam berikutnya, suara tangis bayi selalu gue dengar tiap jam tiga malam. Gue pernah cerita kan ke lo?"
"Iya pernah. Gue ingat kok lo cerita dengar bayi nangis." jawab Yuda.
"Dan nggak cuma itu, ada beberapa keanehan yang gue alami lagi. Pertama, dalam beberapa hari di ruang tengah kamar gue selalu muncul cairan hitam kental berbau busuk, muncul dari sela-sela ubin, ada jejak kaki juga berukuran kaki perempuan. Sampai sekarang gue belum tahu itu asalnya dari mana. Kedua, kucing-kucing yang berbaris di garasi mobil, menatap gue penuh amarah, nggak seperti kucing pada umumnya. Ketiga, gue melihat penampakan Bagas yang berubah jadi menyeramkan Da." ceritaku.
"Hah? Bagas jadi serem? Kok lo nggak cerita ke gue sih Di?" tanya Yuda.
"Gue takut Da. Gue juga takut, kalau gue cerita nanti lo nggak mau mampir lagi ke kost gue." jawabku.
"Memang berubah seremnya gimana Di?" Yuda kembali bertanya.
"Malam itu gue dengar suara memanggil nama gue. Suaranya serak, tapi gue kenal betul suara itu. Suaranya Bagas. Gue buka pintu dan keluar. Saat itu gue kaget banget Da lihat Bagas, dia berdiri di garasi. Masih pakai kaus dan celana pendek kotak-kotaknya. Mukanya kotor, baju dan celananya kotor. Raut mukanya sedih banget. Dia minta tolong ke gue, cuma bilang 'Tolong Diii. Tolooong.' Dan pemandangan mengerikan pun gue lihat."
"Pemandangan mengerikan gimana Di?" tanya Yuda.
"Tiba-tiba, mulut Bagas menganga. Lalu ujung mulutnya robek, kulitnya robek membelah pipinya, darah muncrat dan mengalir. Robek sampai ke telinga. Matanya melotot, bola matanya menonjol keluar. Nggak sampai di situ, Bagas angkat tangan, lalu tiba-tiba lehernya patah. Kepalanya sampai menggelayut di dadanya. Darah terus muncrat dari pipinya yang robek. Dia tetap minta tolong, namun suaranya berubah menjadi besar, mirip suara monster di film-film, dia terus minta tolong dan terus panggil nama gue." terangku.
Yuda meringis mendengar ceritaku.
"Hiiiyy, kok lo tahan lihatnya Di? Kalau gue sih udah kabur begitu tahu yang panggil gue itu Bagas." sahut Yuda.
"Tapi kenapa Bagas jadi arwah penasaran gitu ya?" Yuda bertanya.
Aku mengangkat bahu tanda tak tahu, lalu kusedot es kopi gula aren.
"Terus yang lo bilang saling berkaitan apa Di?" tanya Yuda.
"Sabar dong. Ini gue cerita dari awal biar lo nggak gagal paham. Dengarin aja dulu." balasku.
Yuda terkekeh.
"Yaudah lanjutin!" pinta Yuda.
"Ini gue lompat ya ceritanya. Malam itu, sepulang dari Satu Arah gue jalan kaki pulang ke kost. Masuk ke dalam gang yang gelap, dan begitu sampai di tiang lampu ada seseorang memanggil gue, suaranya berat. Gue ketakutan setengah mati, tapi kaki gue nggak bisa di gerakin. Tiba-tiba muncul kakek tua dari kegelapan, kakek yang gue lihat sebelum gue pindah ke kost itu. Dia bilang nggak ada niat jahat ke gue, justru dia mau bantu gue. Tapi karena pendekatannya yang misterius, gue jadi ketakutan. Gue pikir dia setan, ternyata dia bilang dia manusia biasa, sama dengan gue."
"Memang dia mau bantu apa Di?" tanya Yuda penasaran.
"Dia mau menyelamatkan gue, menjauhkan gue dari ancaman kekuatan jahat yang mengincar gue. Kakek itu menyuruh gue untuk angkat kaki dari kost itu. Lagi-lagi yang di bahas soal kost. Kang Ujang menyuruh gue untuk pindah, kakek itu pun sama. Nyali gue pun muncul, gue tanya kenapa gue harus pindah? Kakek itu jawab agar gue terhindar dari ancaman kekuatan jahat. Gue tantang, kalau gue nggak mau pindah gimana? Eh, kakek itu malah kasih gue kalung, sebagai pelindung sementara dia bilangnya."
"Ooohh, jadi itu kalung pemberian kakek tua itu!" tutur Yuda. "Kakek itu siapa sih Di?" tanya Yuda.
Aku membakar rokok. Menyedot es kopiku.
"Kakek Badrun." jawabku.
"Hah? Kakek Badrun? Kakek Badrun yang ikut menyelamatkan gue Di?" tanya Yuda seolah tak percaya.
Aku mengangguk dengan pasti.
"Ooh jadi kalung itu pemberian dari Kakek Badrun. Terus, kalung itu untuk melindungi lo dari apa?" Yuda kembali bertanya.
Aku menatap Yuda. Yuda diam menunggu jawaban dariku.
"Ancaman kuntilanak merah." jawabku.
__ADS_1