Kamar No.11B

Kamar No.11B
Part. 110


__ADS_3

Aku menghela nafas panjang. Jantungku masih berdebar. Kakek Badrun sudah mencoba menenangkanku, tapi perasaan rileks tak kunjung menyertaiku. Mungkin ini kali pertama aku berurusan langsung dengan hal gaib seperti ini.


"Kita mulai!" ucap Kakek Badrun. "Nak Adi, pejamkan mata dan kosongkan pikiranmu. Fokus ke cincin yang kamu pakai. Selanjutnya akan kakek bantu untuk melepas raga." sambungnya.


Kupejamkan mataku setelah helaan nafas terakhir yang cukup panjang. Kutenangkan pikiranku, aku hanya membayangkan bentuk cincin yang kukenakan. Tenang. Rileks. Santai.


.


.


.


.


.


.


Entah berapa lama kukosongkan pikiranku. Dalam benakku hanya bentuk cincin yang kukenakan. Dan jari manis yang kusematkan cincin ini mendadak terasa dingin, seperti tadi.


.


.


.


.


.


.


Swiiiinnggg.


Aku merasa seperti terombang ambing. Layaknya menaiki kora-kora di dunia fantasi. Kepalaku sampai terasa pusing. Perutku mual. Dan sekujur tubuhku terasa hangat. Ada angin sepoi-sepoi yang menerpa wajahku, tiupannya sangat lembut.


"Buka matamu nak!" suruh Kakek Badrun. Suaranya menggema, layaknya di dalam ruangan kosong.


Perlahan kubuka mataku.


Deg.


Aku terbang! Aku melayang! Kulihat jasadku persis di bawah, sedang duduk bersila dengan jasad Tika dan Kakek Badrun. Aku menoleh ke arah Tika dan Kakek Badrun. Astaga, mereka seperti roh yang kulihat beterbangan di atas ranjang Yuda tadi. Mereka seperti asap tipis berwarna putih, namun tergambar sangat jelas wajah mereka. Aku sempat terkaget. Tika dan Kakek Badrun melempar senyum. Mereka senyum melihatku yang kebingungan.


Apa aku juga berwujud demikian?


Kulihat tanganku dan tubuhku yang melayang. Ya, aku pun sama dengan mereka. Tubuhku seperti kepulan asap tipis. Terasa sangat ringan.


"Kita sudah melepas raga Nak Adi." ujar Kakek Badrun, lagi dengan suara yang menggema.


"A-apa sekarang kita ini berbentuk roh?" tanyaku.


"Iya Di. Ini roh kita yang keluar dari jasad. Tenang saja, Kakek Badrun akan membimbing kita sampai semua ini selesai." sahut Tika.


"I-iya baiklah. Lalu sekarang bagaimana kek?"

__ADS_1


"Sebelumnya, kita usir demit-demit yang ada di kamar ini. Mereka ini saling beradu dan berebut untuk merasuki tubuh Yuda. Bisa berbahaya jika salah satu dari mereka masuk ke dalam tubuh Yuda." jelas Kakek Badrun.


"Caranya?" tanyaku lagi.


"Tika! Kau urus demit-demit sial itu. Kakek akan pasang pagar gaib untuk melindungi tubuh kita dan Yuda." ujar Kakek Badrun.


Tika mengangguk. Roh Tika melesat terbang menabrak sekumpulan roh yang yang melayang-layang di atas ranjang Yuda. Terdengar suara dentuman saling bersahutan. Kilatan cahaya putih saling bekejaran. Ini seperti aku menonton film rasa-rasanya.


Lalu roh Kakek Badrun terbang menuju atap kamar Yuda.


Set.


Sebuah kubah besar tiba-tiba terbentuk, berwarna kemerahan. Perlahan-lahan kubah itu menutupi kamar Yuda, seolah-olah mengurung jasad kami berempat. Seperti animasi, namun terlihat begitu nyata.


Roh Tika sudah kembali di sampingku, ia tersenyum.


"Sudah Tik?" tanyaku.


"Sudah beres. Gampang kalau hanya demit kelas rendah seperti itu." jawabnya pede.


Kini kubah berwarna merah sudah sepenuhnya menutupi kamar Yuda. Kubah besar ini di sebut pagar gaib oleh Tika. Tika juga bilang, bentuk pagar gaib bermacam-macam dan ada beberapa warna. Tika memberi contoh bentuk segitiga dan berwarna biru, kegunaannya untuk membuat penghuni rumah tersebut merasa harmonis dan menangkal godaan yang tidak terlalu besar, karena bentuknya segitiga jadi serangan dan godaannya datang dari tiga sisi atau tiga penjuru saja. Karena warna biru identik dengan warna yang menenangkan dan menyejukkan. Warna yang membikin damai, teduh, serta nyaman.


"Lalu, kenapa pagar gaib kita berbentuk kubah dan berwarna merah Tik?" tanyaku.


"Warna merah melambangkan peperangan dan pertempuran, tentu kekuatannya jauh lebih besar. Kita berhadapan dengan kekuatan yang cukup besar, jadi aura merahlah yang di pakai oleh Kakek Badrun untuk menangkal serangan yang lebih besar pula." jelas Tika.


Aku mengangguk.


"Sedangkan pagar gaib berbentuk kubah ini melambangkan serangan yang di terima akan datang dari berbagai penjuru dan juga berbagai cara. Kubah kan menutup segala ruang. Makanya, Kakek Badrun berjaga-jaga agar jasad yang kita tinggal tetap aman dari segala serangan musuh." sambung Tika.


"Sudah selesai. Nah Nak Adi, sekarang kita akan pergi menuju ke tempat dimana jiwa Yuda di sekap. Sebelumnya kakek ingin memberi tahu, kalau putaran waktu di alam nyata dengan alam yang sedang kita masuki saat ini berbeda sangat jauh. Di alam ini kita bergerak sangat normal dan biasa, tapi di alam dunia semua bergerak lebih cepat empat puluh kali lipat. Jadi jangan heran nantinya ya." jelas Kakek Badrun.


"Baik kek." ucapku.


"Sekarang mari kita pergi bersama. Kakek di depan, Nak Adi kamu di tengah, dan Tika di belakang. Nak Adi cukup ikuti kakek bergerak maju, awalnya akan terasa sulit, tapi lama-kelamaan kau akan terbiasa untuk terbang melayang." ujar Kakek Badrun.


"Kita mulai! Bismillahirrahmanirrahim." Kakek Badrun mengucap basmalah.


Kakek Badrun bergerak maju dengan perlahan, wajahnya terus menoleh mengawasiku. Aku bergerak maju ke depan. Eh eh eh, tubuhku oleh ke kanan dan ke kiri. Astaga, sangat susah mengendalikan roh dengan baik. Rohku melayang kesana kemari, tapi beruntung Tika membantuku.


"Pelan-pelan saja Di. Nanti lama-lama terbiasa." ucapnya. "Nah, seperti itu." tambahnya.


Ya, aku mulai bisa mengendalikan tubuh berbentuk kepulan asap tipis ini. Aku bisa melayang tanpa oleng lagi. Hahahahahaha, aku sangat senang. Aku seperti Nobita yang terbang menggunakan baling-baling bambu. Hahahahahaha. Aku tersenyum saking senangnya. Kakek Badrun dan Tika hanya menggeleng sembari senyum melihatku terbang melayang sambil berputar-putar.


"Kau menikmatinya Nak Adi?" tanya Kakek Badrun dengan teriak.


"Hahahahahahaha. Ini seru banget kek! Bisa terbang gini rasanya kayak mimpi. Hahahahaha." jawabku.


"Wuhuuuuuuuu!" aku teriak kegirangan.


Yang kulihat hanya kilatan cahaya di samping kanan kiriku. Aku tak dapat menikmati pemandangan sekitar. Rasanya seperti masuk ke dalam sebuah lorong waktu, gelap yang tak berujung.


Cincin yang tersemat di jari manisku masih memancarkan sinar kebiruan yang menyilaukan. Aku merasa sangat bersemangat. Aku merasa kuat. Ingin sekali kumusnahkan semua demit yang selama ini menggangguku. Terutama si kuntilanak merah itu. Ia harus bertanggung jawab atas kematian sahabatku, Bagas. Hatiku pun mangkel, begitu tahu kalau Yuda pun di sekap olehnya. Malam ini, akan kukirim kau ke dasar neraka, kuntilanak jahanam!


"Sebentar lagi kita sampai! Persiapkan diri kalian!" ujar Kakek Badrun.

__ADS_1


Ya, inilah saatnya. Inilah waktunya. Kami terbang dengan pelan. Sampai akhirnya kami menapak di tanah. Tanah. Aku sempat ragu, ini benar tanah atau bukan. Kuinjak-injak dengan pelan. Ya, teksturnya yang keras ini pasti tanah. Tanah yang di penuhi hamparan dedaunan kering.


Kami berdiri di depan sebuah rumah reot nan gelap. Rumput halaman tampak sangat tinggi. Genting rumah yang bolong di sana-sini. Dinding yang sudah di penuhi tumbuhan yang merambat. Dan lagi, suasananya yang sangat menyeramkan. Di atas gentingnya, banyak demit yang beterbangan, rupanya yang tak keruan membuatku merinding.


"Nak Adi, ini adalah rumah kosong yang ada di depan kostmu." ujar Kakek Badrun.


"Apa? Rumah kosong depan kost saya kek?" sahutku.


"Iya. Di tempat inilah temanmu Yuda di sekap oleh peliharaan Badriyah." jawab Kakek Badrun.


"Lalu kenapa bentuknya berbeda kek? Saya sampai tak mengenalinya." tanyaku lagi.


"Kita di alam yang berbeda nak. Bentuknya pun tentu saja berbeda."


"Grrrooaaaaarrr!"


Belum sempat kusahuti penjelasan dari Kakek Badrun, tiba-tiba saja suara teriakan terdengar sangat mengagetkan.


Kami waspada mendengarnya.


"Waspada semuanya! Bersiap, akan ada serangan dari para demit-demit itu!" perintah Kakek Badrun.


Tika memasang kuda-kuda, begitu pun Kakek Badrun. Aku sedikit bingung, apa yang hendak dan harus kulakukan.


"Adi, baca ayat kursi dalam hati di tambah 'La hawlaa', bersiap gunakan kekuatan dari cincin itu untuk memusnahkan demit yang menyerang!" ujar Tika.


Aku mengangguk sekaligus kikuk.


"Ggrrrraaaaaaaa! Hahahahahahaha." suara teriakan di iringi tawa menggaung.


"Badruuuunnn! Berani-beraninya kau datang ke sini Badruuunn!" ucapannya menggema seantero langit.


Kakek Badrun diam. Tika diam dan waspada. Aku merinding menelan ludah.


"Kau pikir, begitu memusnahkan Ki Calang dirimu merasa kuat, hah! Hahahahahaha. Kau salah Badruuunn! Dengan hadir di sini, sama saja kau mengantar jiwamu untuk junjungan kami. Hahahahahaha." suara itu masih menggema.


"Tenangkan diri kalian. Ini salah satu cara mereka meruntuhkan mental dan tekad kalian." ucap Kakek Badrun.


Tiba-tiba, ada cahaya berwarna hijau kehitaman turun dari atas langit dengan cepatnya, layaknya meteor yang hendak menghantam bumi.


Duuaarrrr.


Cahaya hijau itu menghantam tanah, membuat tanah terlempar ke berbagai arah, dan debu mengepul dengan lebatnya.


"Hahahahahahaha." lalu terdengar suara tawa yang memekakkan telinga. Suaranya berat dan parau. Di balik kepulan debu, tergambar jelas tubuh besar dan tinggi, namun samar-samar terlihat.


"Hahahahahahaha." suara tawa itu masih saja terdengar.


Kepulan debu kini semakin menipis. Tampak jelas sosok makhluk yang terbang menukik menghantam tanah dan tertawa tadi. Tubuhnya tinggi besar, otot-ototnya mengembung. Kulit tubuhnya berwarna hijau tua. Hidungnya bangir. Matanya merah menyala. Diatas kepalanya ada sebuah tanduk yang tajam. Mulutnya menganga dengan dua taring yang keluar mencuat amat panjang. Kuku-kuku di jemarinya panjang berwarna hitam. Di pinggangnya melingkar bulu-bulu keriting berwarna coklat keemasan, panjang hingga ke paha.


Satu kata di benakku saat melihat sosok itu. Menyeramkan.


"Tenang nak! Penampilannya tak setinggi ilmunya." ucap Kakek Badrun mencoba menenangkanku, Kakek Badrun tahu kalau aku terkejut melihat sosok tinggi besar itu. Ia seolah bisa membaca isi hatiku saat ini.


Aku mencoba tenang. Aku berusaha tak gugup. Aku meyakinkan diriku untuk tak merasa takut. Tapi bertolak belakang dengan yang kutatap. Hanya dengan melihat rupanya saja, aku merasa menggigil ketakutan. Ternyata aku belum terbiasa dengan hal baru ini. Aku belum bisa beradaptasi dengan apa yang kulihat dan kurasakan saat ini.

__ADS_1


__ADS_2