Kamar No.11B

Kamar No.11B
Part. 133


__ADS_3

"Saya harus isi air dulu dek. Setelah selesai saya bantu cari teman Dek Adi." balas Kang Ujang.


"Oke kang." sahutku.


Kang Ujang pun berlalu, masuk ke dalam rumah Nek Iyah melalui pintu belakang. Aku masuk ke dalam kamar. Kuambil segelas air, kuhabiskan dengan cepat. Energiku terbuang saat mencoba mendobrak pintu rumah kosong itu. Foto wanita yang kuambil dari rumah kosong itu, kuletakkan di lantai. Aku duduk diam, memikirkan kondisi Mas Gun dan keberadaannya.


Ah! Baru teringat. Kubil.


"Kubil! Kubil!" panggilku pelan. Kubil, demit bocah yang kusuruh tinggal di atap kamarku.


Sepi. Tak ada tanda-tanda kehadiran Kubil.


"Kubil! Kubil! Sini kau!" aku memanggil kembali.


Tiba-tiba tercium bau amis di kamarku. Dan sesosok bocah mengintip dari balik tembok. Ah, itu pasti Kubil.


"Hei! Sini kau!" panggilku.


Kubil tampak sedikit ragu mendekatiku, ia tampak takut. Wajahnya hitam legam. Hanya terlihat kedua bola matanya.


"A-ada apa tuan?" tanya Kubil.


Aku menahan tawa. Mendengar Kubil memanggilku tuan, rasanya terdengar aneh bagiku.


"Aku mau tanya sesuatu. Kalau kau tahu jawabannya, kau harus jujur padaku untuk memberi tahu. Oke!"


Kubil mengangguk dengan pelan.


"Apa ada yang mengganggu temanku di kamar ini?" tanyaku.


Mata Kubil jelalatan, ia melirik ke seluruh ruangan. Raut wajahnya sedikit ketakutan.


"Kubil, ingat! Kau harus jujur menjawab jika kau tahu." ucapku.


"Eng, eng. Anu tu-tuan. Eng, anu." Kubil tampak ragu dan gagap.


"Apa? Ayo cepat jawab! Apa yang kau takutkan?" tanyaku.


"A-a-aku t-takut di pukul." ucap Kubil terbata-bata.


"Hei! Aku sekarang tuanmu, aku akan melindungimu. Cepat jawab pertanyaanku! Kau tak perlu takut." tuturku menenangkan.


"A-apa benar tuan akan melindungiku?" tanya Kubil.


"Pasti. Sekarang kau tak perlu takut, kau bukan lagi bagian dari demit penghuni rumah itu. Aku, yang akan melindungimu dari demit yang ingin berbuat jahat padamu." aku mencoba bernegosiasi dengan Kubil.


"Sekarang kau jawab pertanyaanku. Apa ada demit yang mengganggu temanku malam ini?" aku bertanya kembali.


Lagi-lagi Kubil memasang raut wajah ketakutan.


"Gen-gen-genderuwo tuan." jawab Kubil gugup.


"Apa? Genderuwo?" aku terkejut. "Jadi yang mengganggu temanku Genderuwo?" aku memastikan.


"I-i-iya tuan." sahut Kubil.


"Apa Genderuwo itu menghuni rumah kosong juga?" tanyaku lagi.


Kubil makin ketakutan. Gerak-geriknya nampak tak tenang.


"Kubil, kau masih saja ketakutan. Ingat, aku akan melindungimu."


Kubil mengangguk pelan.


Kubil mengangkat tangannya, jempolnya menunjuk ke arah belakang. Ruang belakang? Apa Genderuwo itu yang menghuni ruang belakang kamarku?


"Dia tinggal di ruang belakang kamarku?" tanyaku.


Kubil menggeleng dengan pelan.


"Lalu?"

__ADS_1


Jempolnya masih menunjuk ke arah belakang. Jangan-jangan kebun kosong belakang kost.


"Jadi demit itu penghuni kebun kosong belakang kost?" tanyaku memastikan.


Lalu Kubil mengangguk.


Brengsek! Berani-beraninya demit itu mengganggu Mas Gun.


Tiba-tiba adzan subuh berkumandang. Terdengar sayup dan menenangkan. Seketika Kubil pun menghilang dari hadapanku. Seiring hilangnya Kubil, bau amis pun hilang. Tak bisa di biarkan. Kau mengganggu sahabatku, sama saja menggangguku. Awas saja kau!


Setelah shalat subuh dan berdoa, aku pun bersiap menuju kebun kosong belakang kost. Kukencangkan cincin mustika yang melingkar di jari tengahku. Hatiku dongkol, amarahku meledak, darahku mendidih.


Tok tok tok. Pintu kamarku di ketuk.


"Dek Adi. Dek!" Kang Ujang memanggilku dari luar kamar.


Kubuka pintu.


"Jadi ke kebun belakang?"


"Ayo kang! Saya udah kesel banget nih sama demit yang mengganggu teman saya." jawabku.


"Apa? Demit? Maksudnya gimana dek?" tanya Kang Ujang terkejut.


"Ternyata teman kost saya di bawa oleh demit penunggu kebun belakang." balasku.


"Lho, dari mana Dek Adi tahu kalau temannya di bawa demit?" Kang Ujang kembali bertanya.


Aku diam. Tak mungkin kuceritakan soal Kubil pada Kang Ujang.


"Sudahlah, pokoknya saya tahu kang. Yuk!" ajakku. Wajah Kang Ujang masih menyiratkan penasaran, pertanyaannya tak terjawab.


Kami pun berjalan melewati samping kamar 11a menuju kebun kosong, melewati makam Mbak Wati dan Bang Oji. Tampak bunga yang di tabur di atas makamnya sudah mengering dan berwarna coklat. Lalu sampailah kami di pinggir kebun. Pepohonan tampak memadati kebun. Besar dan tinggi. Hari masih gelap, karena waktu subuh baru saja lewat.


"Dek, gimana caranya buat cari teman Dek Adi?" tanya Kang Ujang.


Aku diam tak menjawab pertanyaan Kang Ujang.


Aku maju selangkah, kubaca doa dan ayat kursi dalam hati.


Kang Ujang mencolek pundakku.


"Dek, saya takut kalau Dek Adi ngomong seperti itu. Jangan menantang atuh dek." ucap Kang Ujang.


Tak kugubris ucapan Kang Ujang.


"Kuminta kembalikan temanku sekarang!" aku kembali teriak dengan lantang.


Wuuuussss wuuuuuusss. Tiba-tiba angin bertiup. Tak terlalu kencang. Namun menggoyang dahan dan dedaunan cukup kuat.


"Dek, pasti penunggu kebun ini marah. Saya takut dek! Saya pulang aja ya." ujar Kang Ujang bergidik lalu pergi meninggalkanku.


Seketika angin berhenti bertiup.


.


.


.


Suasana menjadi hening.


.


.


.


Sepi.


.

__ADS_1


.


.


Aku diam, menunggu yang akan terjadi selanjutnya.


.


.


.


"Tolooooonnngg!" teriakan Mas Gun terdengar.


"Mas! Mas Guuuuunn!" aku memanggil Mas Gun dengan keras. Aku berlari masuk lebih dalam ke kebun kosong.


"Adiiii. Tolongin gue Diiiii." balas Mas Gun.


"Maass! Sampeyan dimana mas?" tanyaku.


"Mas Guuuunn!" teriakku.


"Ini di atas Diiii. Gue di atas pohon." lantang Mas Gun menjawab.


Wajahku mendongak ke atas pohon, mencari sosok Mas Gun. Tapi hari masih gelap. Yang terlihat hanya siluet dedaunan berwarna hitam. Aku sulit menemukan Mas Gun.


"Pohon mana maaass?" tanyaku lagi.


"Ini Diiii. Pohon nangka. Pohon nangka paling besar." jawab Mas Gun.


Sial, aku tak membawa ponsel. Senternya yang kubutuhkan saat ini.


"Mas, coba lo goyangin dahan yang ada di dekat lo! Gue nggak bisa lihat. Gelap."


Kresek kresek kresek. Suara dedaunan yang saling bersentuhan terdengar. Telingaku kupasang lekat-lekat.


"Terus mas! Goyangin terus dahannya!" suruhku.


"Waaaaaaaaaaa!" Mas Gun berteriak.


Lalu.


Gedebugg!! Sesuatu terdengar kuat menghantam tanah.


"Mas Guuuuunn!" aku berteriak memanggilnya.


Kudengar suara rintihan pelan. Itu pasti Mas Gun.


"Mas! Lo dimana mas?" tanyaku yang tak bisa melihat sekelilingku karena pekat.


"Aaahh. Adiii. Sini Diiii." Mas Gun memanggil.


Kudengar dengan seksama suara Mas Gun. Kuikuti asal suara. Sampai akhirnya kutemukan Mas Gun tergeletak dengan posisi tengkurap. Ia merintih kesakitan.


"Diiii, tolong Diiii." ucapnya.


"Iya mas. Ayo bangun mas, kita balik ke kamar." ucapku seraya membantunya untuk bangun.


Aku kesulitan membantu Mas Gun berdiri, tubuhnya yang besar membuatku harus mengeluarkan ekstra tenaga. Kurangkul Mas Gun, dan berjalan menuju kamar kost. Mas Gun berjalan dengan pincang.


Kami sampai di depan kamar Tika, kamar 11a. Lampu yang terang menyinari kami. Baju Mas Gun kotor penuh noda tanah. Wajahnya kuyu, matanya sayu, di pipinya banyak menempel bulir-bulir tanah. Astaga, aku terkejut melihat tangan kiri Mas Gun. Pergelangan tangannya memutar, tampak telapak tangannya berada di atas. Ah, aku bergidik melihat kondisi tangan Mas Gun. Pergelangan tangannya patah.


"Mas, tangan lo mas!" ucapku memberi tahu Mas Gun.


Ia hanya tersenyum.


"Iya, nggak apa-apa. Nanti kita cari tukang urut." balas Mas Gun.


Kami masuk ke dalam kamar. Aku membantu membersihkan wajah dan bagian tubuh Mas Gun yang kotor, dengan handuk basah. Mas Gun meringis kesakitan. Kubantu mengganti baju dan celana. Postur tubuhnya yang besar membuatnya kesulitan untuk mengganti pakaian.


"Ayo kita cari tukang urut." ajak Mas Gun. Aku tak berani melirik pergelangan tangannya. Mas Gun terlihat tegar dan kuat, hanya sesekali meringis kesakitan karena pergelangan tangannya yang mulai membengkak dan berwarna kebiruan.

__ADS_1


Kunyalakan mesin motor, Mas Gun duduk membonceng. Dan kami pun pergi mencari jasa urut patah tulang pagi ini.


Langit pagi mulai terang. Awan terlihat berarak membentuk gumpalan besar berwarna putih keabuan. Udara pagi ini terasa sejuk. Layak untuk di nikmati dengan secangkir kopi sebenarnya, namun kejadian pagi buta ini berkata lain. Mas Gun harus segera di obati. Aku harus membantunya, berada di sampingnya, dan menguatkannya.


__ADS_2